Senin, 04 Agustus 2014

Jogja in Love

Stasiun Gubeng tampak ramai dengan kerumunan orang dengan beberapa tujuan kota. Kali ini Sarah perempuan yang sedang kuliah jurusan kebidanan ini ingin melakukan kepergian ke Jogja. Kota yang selalu ingin dia datangi dari jaman Sekolah Dasar dulu. Kali ini dia tak berpergian sendiri, dia pergi dengan kakak sepupunya Luma yang sudah bekerja sebagai perawat dan kak Ria yang kuliah jurusan akutansi.


Liburan kali ini, memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Apalagi dengan jadwal kak Luma yang sangat padat sebagai seorang perawat di Rumah Sakit. Bisa dilihat banyak sekolompok orang dari anak kecil hingga orang tua. Semua sibuk memadati stasiun, di karenakan liburan anak sekolah dan mahasiswa bersamaan.


"Ah laaaamaaaaa" keluh Sarah yang sedang duduk di kursi tunggu di dalam stasiun.


"Iya nih kak Lum, tau gitu berangkatnya entar-entar aja" sahut Ria ikutan mengeluh.


"Dasar anak kecil ya, kereta itu gak bisa nunggu kita. Jadi prepare dikit lah" jawab kak Luma


Mereka berdua terdiam mendengar perkataan Luma. Sampai akhirnya panggilan untuk penumpang kereta tujuan Yogyakarta bergema agar seluruh penumpang segera masuk ke dalam gerbong.


Kereta berangkat pukul 15.00 WIB. Perjalanan selama kurang lebih 5 jam akan sampai di Jogja sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka duduk berdampingan di kursi 3 bangku. Mereka segera memejamkan matanya karena terasa mengantuk setelah sibuk beraktifitas paginya dengan tugas kuliah dan laporan kerja.


"Hei hei bangun" Ria mencoba membangunkan Luma dan Sarah, karena melihat matahari terbenam dengan indah.


“Sumpah bagus banget” celetuk spontan Sarah dengan mata berbinar-binar. Dia langsung meraih handphone nya untuk mengabadikan gambar dan memposting di sosial media miliknya.


“Kok kamu alay ya dek? Perasaan biasa aja deh” sahut Luma.


Karena melihat dari jendela tak cukup, Sarah berniat ingin melihat dari pintu gerbong yang mungkin dilarang keras untuk dibuka. Akhirnya dengan rayuan mautnya dia berhasil mengajak Luma untuk menemaninya.


"Kak ayo. Nanti ketahuan petugasnya. Pumpung gak ada yang liat" ajak Sarah sambil menarik tangan Luma.


Luma pun mengikutinya dari belakang. Dia membuka gerbang pintu gerbong. Dia terkaget saat ada seorang laki-laki yang sedang berdiri didepan pintu gerbong.


“Apakah dia petugas kereta api?” Batin Sarah “kalau aku tak bisa melihatnya bagaimana?” Tanyanya terus dalam hati.


Tiba-tiba lelaki itu tersadar akan kehadiran Luma dan Sarah yang berdiri di belakangnya. Laki-laki itu melihat ke wajah Sarah yang menunduk dan kesal.


"Kamu juga ingin melihat Matahari Terbenam?" tanya Laki-laki itu.


Mereka berdua terkaget. Suaranya begitu tenang dan halus. Dan wajahnya sangat tampan tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Mereka sampai kehilangan kata-katanya.


"Noh rah, ditanya" ujar Luma membangunkan lamunan adik sepupunya itu. Dia tau Sarah kalau sudah melihat laki-laki tampan.


Sarah meringis, mukanya merah padam, jantungnya berdetak sangat cepat “iya, bisa gantian gak?" jawab Sarah malu-malu.


"Boleh. Silahkan. Udaranya sejuk loh lumayan" jawabnya dengan senyum indah dan menenangkan hati.


"Ah thanks” ucapnya singkat kehilangan kata-katanya.


Sarah memejamkan matanya untuk menikmati udara sejuk yang berhembus menerpa wajahnya. Sampai dia tidak menyadari bahwa kakak sepupunya sedang berbicara dengan lelaki yang membuat jantungnya berdebar itu.


"Sar udah liatnya?" tanya Luma yang sudah mulai bosan menunggu.


"Ayo kak udah gelap juga" jawab Sarah melihat kearah laki-laki itu.


"balik duluan ya" pamitnya Luma pada lelaki itu. Lalu berjalan kembali ke tempat duduknya.


"Kak, mas tadi ganteng ya? Kenalin dong kak” ucap Sarah sambil nyengir kuda.


“Kenal juga tadi dek, tadi pas disana kenapa gak kenalan sendiri?” Tanya balik Luma.


“Malu kak, sumpah aku kehabisan kata-kata. Wajah tampannya bikin aku susah buat ngomong” jawabnya sambil membayangkan kejadian tadi. “Namanya siapa kak?” Tanyanya lagi.


“Novan” sahut pendek Luma. Sarah hanya mengangguk-anggukan kepala.


Pukul 20.30 WIB tibalah kereta mereka di Yogyakarta. Mereka bertiga berjalan mencari tempat duduk sekalian menyempatkan makan malam terlebih dahulu. Karena cacing di perut juga butuh asupan makanan.


"Makan sini ajah" tunjuk Ria di warung Soto dekat stasiun. Sarah dan Luma sepakat untuk makan disana dan masuk ke warungnya.


Mereka memesan makanan dan segera memakannya karena hari sudah malam. Tampak musik tradisional musisi jalanan bergema mengiringi mereka makan malam.


“Luma! Sarah!” Sapa seseorang laki-laki.


Semuanya menoleh kearah suara itu. Sarah hampir menyemburkan makanannya melihat Novan memanggil namanya dan menyapanya.


“Bagaimana dia tau namaku?” Tanya dalam hati, wajahnya kembali memerah. “Ah tadi kak Luma memanggilku, bukan?” Jawabnya sendiri dalam hati.


"Hai. Makan juga disini?" tanya Novan lalu duduk disamping Luma. Sarah mengangguk dengan semangat.


"Oya Lum, udah tau mau kemana?" tanya Novan tersenyum manis kearah Luma.


"Gatau sih, tapi nanti mungkin mau ketemuan sama temen Ria atau Sarah yang disini" sahut Luma sambil melihat wajah Sarah yang nampak kesal terhadapnya.


"Kenapa kita gak bareng aja? Aku udah sering kesini nanti aku ajak muter-muter" ucapnya menawarkan diri.


"Oh gausah terimakasih, ngerepotin aja" sahut Luma sungkan, karena masih baru bertemu sudah merepotkan orang lain.


"Oh ngak kok, malah dengan senang hati" ucap Novan dengan tertawa cengigisan.


"Yaudah sih gausah dipaksa kali kalo gamau" jawab Sarah ketus. Luma hanya tersenyum sungkan.


Mereka berempat mulai menghabiskan makanannya tanpa percakapan. Sarah masih kesal terhadap Novan dan Luma. Ia memilih bungkam tak berbicara sambil melirik sinis kearah dua orang itu.


"Yaudah balik dulu ya" ucap Novan berpamitan, lalu pergi berjalan keluar dari warung. Semuanya hanya tersenyum memgangguk kecuali Sarah.


"Oya lupa. Senang kenal kamu Lum, kalau kita bertemu kembali, berarti kita berjodoh" bisiknya pada telinga Luma.


Terlihat garis senyum manis pada bibir Luma saat Novan mengatakan itu. Sarah sudah melirik sinis Luma “I hate this" teriak Sarah kesal dalam hatinya. Lalu novan pergi dengan menaiki taksi yang tadi sudah dia pesan.


"Ayo cari penginapan pumpung belum gelap" ajak Ria berdiri dari tempat duduknya.


Sepanjang perjalanan mereka berjalan dengan keheningan tak seperti biasanya. Sarah akan mengomel dan terus berbicara sampai Luma capek meladeninya. Mereka berhenti di sebuah halte dan duduk menunggu bis datang.


"Dek kamu marah ya sm kak Luma?" Tanya Ria pelan mendekat duduk kearah Sarah.


"Nope" jawab Sarah ketus.


"Ciyeeee cemburu" teriak Ria cukup keras.


"Apaan sih?" jawabnya ketus lagi


"Udah dong dek, kakak minta maaf ya. Lagian kakak gak ada hubungan apa-apa juga sama Novan” ucap Luma akhirnya angkat bicara, sebenernya dia tau kalau adeknya yang satu ini menyukai Novan. Dengan wajah yang memelas.


"Dih kak mukanya jangan gitu dong, gak tega liatnya. Lagian gak salah juga" sahut Sarah sambil tersenyum.


"Oya kalian bawa air softlens gak? Aku lupa bawa" tanya Luma mulai melihat matanya yang memerah.


Sarah dan Ria merogoh tas mereka mencari air softlens milik mereka. “KAK! AKU LUPA BAWA” Teriak mereka berdua bersamaan.


Semua tampak kebinggungan. Tak ada toko optik didekat sini. Mata Luma mulai memerah dan mengeluarkan air mata.


"Ini mbak" suara laki-laki itu berada di belakang Sarah, sambil memberikan botol air softlens.


"Eh” ucap Sarah kaget melihat laki-lali dibelakangnya tiba-tiba menyodorkan botol air softlens “Terimakasih" sahutnya langsung mengambil dan memberikannya kepada Luma.


Setelah meneteskan ke matanya, akhirnya Luma melepas softlens yang menempel di matanya. 


"Terimakasih banyak ya mas" ucap Luma memberikan air botol softlens itu. Laki-laki itu menganggukan kepalanya dan tersenyum sangat manis.


Semua tak menyangka laki-laki yang memberikan itu tampan, wajahnya khas sekali seperti artis-artis korea. Kenapa mereka selalu bertemu wajah-wajah tampan di Yogyakarta.


“mau tujuan kemana?" tanya Laki-laki itu.


"Entahlah" sahut Ria pasrah.


"Mungkin cari penginapan. Kamu tau penginapan yang sekiranya murah tapi fasilitasnya bagus?" ucap Sarah sambil tersenyum.


"Ada. Deket rumah budheku. Tapi itu punya budheku juga sih. Deket kok. Jalan kaki juga sampai" jawab laki-laki itu tersenyum.


"Boleh tuh" Sahut sarah tersenyum. "Sarah" dia memberanikan diri mengulurkan tangannya terlebih dahulu.


"Julian" laki-laki itu membalas jabatan tangan Sarah dan bersalaman juga dengan Luma dan Ria.


“Tempatnya dimana?” Tanya Luma.


“Dekat sini, jalan kaki juga bisa kok sekitar 1 km” sahutnya tersenyum manis.


“Are you sure jalan kaki?” Tanya Sarah kembali seperti biasanya, tukang ngeluh.


Mereka berempat menyusuri trotoar di jogja. Sesekali Sarah berusaha 'SKSD' kepada julian.


"Oya kamu kok bisa bawa air soflens sih?" Tanya Sarah yang berjalan disampingnya.


"Iya kemarin di Surabaya aku ikut event Costplay, tau sendiri animenya matanya aneh-aneh jadi udah persiapan sih" jelas Julian tersenyum lagi. Omg Eye Smile.


"Oh pantes" sahut Sarah "kamu asli orang sini?" Tanyanya lagi.


"Bukan. Asli surabaya kok. Disini juga lagi liburan. Nanti kalau kalian mau jalan-jalan bisa aku anterin” ucap Julian menawarkan diri.


"Wah boleh tuh" sahut Ria memegang pundak Sarah dari belakang.


"Oh gak usah. Terimakasih. Ngerepotin banget" ucap Sarah sungkan tersenyum sungkan.


"Oh gpp ikhlas. Tenang aja gratis" sahut Julian melakukan Eye Smile kembali. Jantung Sarah kembali berdetak cepat.


"Tau ini Sarah daritadi nolak mulu ajakan orang buat dianterin jalan-jalan" ucap Ria mulai kesal.


"Sudah sampai" ucap Julian memberhentikan langkahnya di depan sebuah Rumah khas Jawa yang cukup besar. Mereka memasuki ruang resepsionis.


Julian berjalan menghampiri mereka setelah berbincang dengan resepsionis yang merupakan budhe nya sendiri. “Jadi berapa sehari?" tanya Sarah.


"Gratis" jawab Julian tertawa melihat wajah mereka yang sedang khawatir.


"Serius? Jangan bercanda deh" tanya Ria memastikan.


"Haha iya sorry, bercanda lagi. Kalian sehari 100 perkepala" jawab Julian sambil tertawa cengigisan.


"Gila mahal amat, kita cari yang murah aja deh gak sanggup segitu" ucap Luma kesal.


"Haha bercanda kok kalian bertiga sehari cuma 100. Tenang disini kamarnya bagus ada kamar mandi dalam. Kenapa wajah kalian gelisah gitu sih?” Tanya Julian masih tertawa cekikikan.


"Tumben murah? Setauku biasanya 50rb perkepala. Apakah tak apa semurah itu?” Tanya Ria yang sedang binggung sendiri.


"Ya aku bilang aja ke budheku, kalian itu temenku ya dimurahin deh" jawab Julian dengan santainya.


"Oya? Terimakasih. Maaf ya merepotkan banget" ucap Sarah melompat kegirangan saking bahagianya.


"Kamu lucu" ucap Juliah kembali melakukan eye smile. Seketika itu Sarah langsung terdiam. Mukanya memerah dan menundukkan kepalanya.


"Ciyeeee" goda Luma tertawa cekikikan bersama Ria dan Julian.


"Yaudah aku anterin kalian ke penginapan. Nanti kalo ada apa-apa kalian bisa hubungi aku aja" ucap Julian berjalan menunjukkan kamar yang akan mereka tinggali.


"Ini penginapan kita? Yakin cuma 100rb buat bertiga?" Tanya Ria yang terkaget melihat itu kamar luas dan bagus.


"Iya silahkan masuk, di dalem juga banyak wisatawan juga mulai lokal sampai luar negeri" jelas Julian.


"Bagus nih bagus banget" ucap Sarah.


"Ini kamar kalian nomer 8, dan kalau kalian butuh bantuan aku ada dikamar 9" jelasnya lagi.


"Loh kok kamu nginep disini juga?" Tanya Sarah Polos.


"Supaya deket sama kamu" goda Julian tertawa cekikikan kembali.


"Ciyeeee Sarah" goda kedua kakak sepupunya


"Gak lah, bercanda. Dalem rumahnya budhe katanya udah penuh disewain juga" jelasnya.


"Tapi awas loh kebanyakan bercanda bisa cinta beneran" goda Sarah


"Amin. Semoga beneran" jawab Julian tersenyum


Sarah tertawa cukup keras "udah ah becanda mulu. Masuk duluan ya. Bye" pamit Sarah tersenyum.


Mereka semua merapikan tas dan koper yang mereka bawa. Kamar yang cukup besar dengan king bed setidaknya muat untuk tidur bertiga walaupun bed langsung menempel dilantai. Terdapat lemari kecil dan satu tempat colokan yang mungkin bisa buat berebut mengisi baterai hp.


Semua mulai tiduran diatas kasur. Sambil melihat langit-langit kamar. Hati mereka sungguh lega 

"akhirnya sampai jogja juga" semuanya berkata dalam hati.


Tiba-tiba pintu diketuk oleh seseorang dari luar. Semuanya kaget dan berdiri bersamaan.


"Siapa?" Teriak Luma dari dalam kamar.


"Julian" sahutnya dari luar.


"Sebentar. Aku bukakan pintu" ucap Luma berjalan membukakan pintu “Ada apa kesini?” Tanyanya.


"Oya lupa kasih tau, salah satu dari kalian harus ngasih ktp buat jaminan ke recepcionist" ucap Julian.


"Oh aku aja deh. Bentar" sahut Sarah sambil mengambil dompetnya.


Julian dan Sarah pun berjalan menuju ruang depan, ada laki-laki muda dengan rambut gondrong sedang duduk memainkan hpnya.


“Nih, katanya harus pake KTP” ucap Julian ketus memberikan KTP milik Sarah


“Gitulah, meski mereka temen lu juga harus pakai KTP” jawabnya sambil mengambil KTPnya. “Pelajar, Mahasiswa atau udah kerja?” Tanyanya sambil mengisi biodata penginap.


“Sejak kapan ada pertanyaan seperti itu? Ini sudah larut malam biarkan mereka beristirahat” teriak pelan Julian.


“Kuliah” ucap Sarah pendek.


Laki-laki itu langsung melihat kearah Sarah, lalu tersenyum gak jelas dan melihat kearah Julian. “Oh I See” sahutnya “temennya Julian apa? Kuliah juga? Liat KTM nya dong?” Tanya nya lagi.


Sarah mengeluarkan Kartu Tanda Mahasiswa lalu memberikan kepada laki-laki itu. Namun Julian merebutnya sebelum sampai ketangan laki-laki itu.


“Berhenti main-main, aku laporkan ibumu, Sam” ucap Julian malas.


“Sorry. Bercanda kali cari hiburan” sahut Samuel meringis “maaf ya mbak, saya bercanda” lanjutnya menatap sungkan Sarah.


Julian langsung menarik pergelangan tangan Sarah dan mengajaknya pergi dari saudaranya yang memang sering menggoda pengunjung yang datang.


"Oya kamu tau atm BCA deket sini gak? Aku barusan di sms kak Luma suruh ambil uang sekalian” ucap Sarah memberhentikan langkahnya.


"Kayaknya sih ada diseberang jalan” tunjuk Julian di sebuah minimarket.


"Oh yang diseberang jalan itu kan?" Tanya Sarah kembali memastikan lalu melangkah keluar rumah penginapan di ikuti oleh Julian di belakangnya.


"Iyap. Mau aku anter?" Tanya Julian.


"Gausah. Deket kok tinggal nyebrang aja"


"Yakin? Bisa nyebrang emang?" Tanyanya lagi menggoda Sarah.


"Ah merendahkan nih orang. Bisa kali. Jalan surabaya yang ramai aja sering" jawab Sarah kesal "yaudah duluan" pamit Sarah meninggalkan Julian dipinggir trotoar.


Tiiiiiiiin


Suara mobil itu terdengar jelas di telinga Sarah. Dia reflek memejamkan matanya. Kemudian sebuah tangan yang lembut memegang pergelangan tangannya. Menuntunnya sampai ke tempat tujuan. Sarah membuka matanya perlahan.


"Julian?" Tanyanya kebinggungan. Julian hanya tersenyum kemudian tertawa melihat ekspresi Sarah.


"Hei wajahmu keliatan lucu seperti itu" ucap Julian lalu melanjutkan tertawanya. Sarah kesal terhadap Julian, kemudian melepaskan tangannya dari Julian kasar.


"Kamu marah? Maaf ya Sar, bercanda" ucap Julian menyesal.


Sarah tak mempedulikan ucapan Julian. Kemudian dia pergi masuk ke minimarket untuk mengambil uang. Setelah selesai dia membawa tentengan kresek yg berisi beberapa makanan dan minuman.


Julian sedang duduk-duduk di depan minimarket dengan wajah yang sangat merasa bersalah dan menyesal. Sontak membuat Sarah tertawa sambil duduk menghampirinya.


"Kamu udah gak marah?" Tanya Julian lega. Sarah hanya menggeleng sambil tersenyum.


Kemudian mereka berdua kembali ke penginapan dan masuk ke kamar masing-masing.


Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB.

Tiba mereka bertiga terasa lapar dan ingin berjalan-jalan mengelilingi suasana malam Yogyakarta.


Luma menyuruh Sarah agar mengajak Julian untuk menemani menemani mereka berkeliling. Namun Sarah tak mau karena itu merepotkan orang lain. Setelah dirayu dan dibujuk akhirnya Sarah mau dan mengetuk pintu Julian.


"Siapa? Ada apa?” Tanya Julian membukakan pintu mengenakan celana boxer dan kaos putih tidak berlengan dengan mata yang tertutup.


"Kamu tidur ya? Maaf aku menganggumu. Silahkan tidur kembali” ucap Sarah tak enak hati menganggu orang yang sedang istirahat.


Suara itu sangat familiar ditelinga Julian. Dia membuka matanya dan terkaget melihat Sarah berada di depannya lalu menutup badannya dengan pintu.


“Ada apa Sar? Mau keluarkah? Kalian pasti laper ya? Kalian belum makan kan?” Tanya Julian sambil mengucek matanya. Sarah menganggukkan kepalanya. “5 menit” ucapnya lalu menutup pintu. Sarah hanya mematung di depan kamar Julian lalu kembali masuk ke kamarnya.


Julian kemudian berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka dan bersikat gigi. Baju polos putih tidak berlengan tadi langsung ia tutupi dengan jaket. Dan menggunakan celana jeans panjang dengan lutut sobek-sobek sudah melekat di tubuhnya. Julian mengetuk pintu kamar Sarah dan saudaranya. Tak ada jawaban. Kemudian suara langkah kaki terdengar.


"Ada apa Jul? Bukannya kamu tidur kata Sarah?" Tanya Luma


"Yaudah kalian mau minta anterin kemana? Kita bisa jalan kaki atau naik sepeda motor" jawab Julian bersemangat. Rasa kantuknya tiba-tiba hilang.


"Sar, Ria ada Julian disini katanya mau anterin kita. Kita mau kemana?" Teriak Luma


"Terserah kak, kemana aja" teriak Ria


"Sepertinya ada motor dibawah, aku tanyakan dulu ya jadi kita bisa naik motor biar gak capek juga jalan kaki” ucap Julian.


Julian pun pergi meninggalkan kamar mereka menuju ke ruang tengah tempat Samuel duduk menjaga penginapan. Setelah berbicara dengan  akhirnya dia diperbolehkan tapi membawa sepeda motor milik Samuel dan sepeda motor tua milik pak dhe nya.


From : 081xxxxx

To : Sarah

Sar, kalian bertiga aku tunggu di depan penginapan. Julian.


"Wah asyik naik sepeda malem-malem" teriak Ria kegirangan.


"Jadi cuma 2 sepedanya?" Tanya Sarah


"Iya. Gak ada lagi" jawab Julian


"Yaudah sih. Kamu sama Julian ya Sar, nanti aku sama Ria" bisik Luma kepada Sarah.


"Kaaak gamau. Malu kak" teriaknya pelan


"Kamu kan yang paling deket sih, kalo kita kenalnya cuma sekilas doang" ucap pelan Luma.


"Iya deh iya" jawabnya terpaksa


Akhirnya dengan terpaksa dan sedikit malu Sarah berboncengan dengan Julian. Luma dan Ria hanya tertawa melihat ekspresinya. Mereka berempat menyusuri jalan jogja yang dingin. Udara dimalam hari sangat bebas polusi hanya sedikit kendaraan bermotor yang lewat.


"Kita sampai berapa menit lagi?" Tanya Luma


"5 menit lagi" jawab Julian


"Daritadi 5 menit mulu" celetuk Sarah


"Sudah sampai" jawab Julian


Disana terlihat banyak sekali orang berjualan, pedagang kaki lima berhimpitan.


"Mau makan apa?" Tanya Julian


"Gudeg" celetuk Ria


"Gak suka ah. Nasi kek. Laper belum makan tau dari siang" sahut Sarah


"Yaudah kita cari nasi dulu. Tau tempatnya Jul?" tanya Luma


"Kesana aja" menunjuk sebuah tempat makan bertuliskan bebek goreng dan ayam goreng


Mereka semua tampak makan dengan lahap. Dan dengan wajah Julian yang lumayan tampan atau mungkin terlalu cute untuk laki-laki mengalihkan penglihatan Sarah "dih asli cute banget ini anak, laki tulen gak ya?" tanyanya dalam hati sambil tertawa kecil.


"Hayoloh lagi ngelamunin apa?" Tanya Ria mengagetkan lamunan Sarah. Dia hanya menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan makan.


"Sudah makan kan? Ayuk cari gudeg" ajak Ria antusias.


“Kalian tau gak sih Gudeg itu makanan seperti apa?” Tanya Julian. Ketinganya menggelengkan kepalanya. “Sudah kuduga, padahal gudeg juga ada nasi nya loh” lanjutnya tersenyum.


“Sumpah?” Teriak ketiganya. Julian mengangguk sambil tertawa


“Kenapa kita bodoh banget ya kak?” Celetuk Sarah.


“Yaudah gak papa sih, ada Gudeg Pawon daerah alun-alun utara, kalo naik sepeda lumayan lah. Tapi gak kerasa kalau kita liat pemandangan jogja dimalam hari. Tapi antri loh, warungnya baru buka jam 12” sahut Julian


"Gilaaa ada warung buka jam segitu?" keluh Sarah


"Ada, tapi gpp kan? Sekalian itu nanti kalian antri juga laper lagi pasti” sahut Julian.


Mereka bersepeda dengan santai menelurusi indahnya kota Yogyakarta di malam hari. Udaranya sangat sejuk tapi dingin menembus kulit. 


"Dingin. Seger udaranya" ucap Pelan Sarah.


"Mau jaket?" suara Julian mengagetkan Sarah yang tak menyangka mendengar ucapannya.


"Terimakasih, gak usah" sahutnya.


"Udara malem jahat loh nanti sakit"


"Kan sama aja, nanti kamu yang sakit kalau gak pake jaket"


"Laki kan aku, harus kuat lah. Ngalah sama perempuan” ucapnya sambil tersenyum.


Sarah melihat Eye Smile milik Julian lagi dari spion, itu benar-benar menyejukkan matanya daripada udara yang berhembus menerpa wajahnya “Gak usah Jul, ini aku kan udah pakai baju lengan panjang sama jilbab jadi udah protect kok" ucapnya menenangkan diri.


"Yasudah" jawabnya singkat.


Merekapun mengantri untuk mendapatkan gudeg. Walaupun harus berdiri sekitar 1 jam untuk mendapatkannya. Semuanya menyantap dengan lahap makanan gudeg yang merupakan ciri khas kota jogja.


Setelah menyelesaikan makanannya merekapun kembali ke penginapan dengan jarak tempuh setengah jam. Setelah sampai di penginapan mereka langsung kembali ke kamar masing-masing dan mengucapkan terimakasih kepada Julian karena sudah mengantar mereka bertiga.


*****


Matahari sudah ada diatas awan menyengat, namun tampaknya mereka bertiga belum terbangun. Kemarin adalah hari yang melelahkan bagi mereka. Suara ketukan pintu membangunkan mereka. Sarah berlari kecil menuju pintu dengan mata tertutup dan malas. Dia sudah tau yang datang adalah Julian.


“Ada apa Jul?” Tanya Sarah masih dengan mata terpejam.


"Kalian pasti capek banget ya?" tanya Julian merasa kasian melihat Ria dan Luma masih tertidur di kasur. Sarah hanya mengangguk pelan.


"Kita hari ini kemana?” Tanya Sarah spontan sepertinya dia tak sadar atas perkataannya.


“Kamu pengen aku anterin lagi?” Tanya Julian. Sarah langsung membuka matanya kaget atas pertanyaan Julian. “Kalian abis gini mau kemana?" Tanyanya lagi


"Mau nganterin lagi? Duh baiknya sih kamu. Kalau semua cowok baik seperti kamu pasti banyak cewek yang ngejar" celetuk Ria menghampiri mereka berdua lalu tertawa cekikikan.


"Gak lah. Kasian kalian perempuan. Gak tega biarin kalian luntang-lantung dikota orang" sahut Julian


"Duh bijak banget. Coba aku Sarah yang pasti langsung jatuh cinta deh sama kamu" goda Ria tertawa kecil. Sarah langsung melotot kearah Ria.


Julian hanya membalas tertawa “mau kemana?” Tanyanya lagi.


"Kemana ya? Yang pasti candi borobudur, candi prambanan, keraton jogja, pasar malioboro, benteng vredenburg, pantai parang tritis, dan sebagainya haha" jelas Ria "eh tapi bisa itu sehari?" lanjutnya


"Bisa, asal kalian sekarang berangkatnya. Tapi nanti pulang malem lagi kalo pengen itu semua terpenuhi" jawab Julian


"No problem" sahut Sarah


"Yaudah kalian siap-siap aja. 10 menit lagi aku tunggu di depan rumah budhe. Kita kali ini naik bis. Kalian semua bersiap-siaplah” ucap Julian sambil mengusap lembut kepala Ria dan Sarah. Wajah mereka berdua langsung memerah dan menutup pintu dengan cepat.


"Sumpah manis banget si Julian” ucap Ria tersenyum.


“Kak sumpah ini jantungku berdegup kencang” celetuk Sarah “Gila!!” Teriaknya pelan.


Semuanya pun sudah bersiap-siap tidak lupa memberi sunblock pada wajah dan badan agar tidak belang saat kembali ke surabaya. Mereka bertiga sudah siap untuk menjelajah kota Yogyakarta, ketempat yang Ria inginkan dalam sehari.


Setelah berkeliling di beberapa tempat, ada kekecewaan ketika mereka tak bisa berkunjung ke Candi Borobudur yang sesak oleh wisatawan. Yang harus mereka tunda keesokan harinya.


Penghentian terakhir mereka adalah Pantai Parang Tritis. Menikmati matahari terbenam setengah jam lagi. Mereka berempat berkumpul, berbicara, berlarian dan bermain air seperti anak kecil.


“Terimakasih sudah membantu kami, harusnya kamu liburan tapi kamu malah jadi tour guide kami” ucap Luma sungkan pada Julian.


“Tak apa kak, senang membantu kalian” sahutnya


“Oh ya, berhentilah bersikap manis pada mereka berdua” ucap Luma menunjuk Ria dan Sarah yang sedang bermain pasir. “Apalagi Ria, she had a boyfriend” lanjutnya tegas


“Maaf kak gak ada maksud seperti itu, aku hanya bersikap sewajarnya” jawab Julian merasa tak enak.


“Siapa yang kau sukai? Sarah atau Ria?” Tanya Luma melihat serius kearah Julian.


"Luma” Teriak laki-laki itu memecahkan suasana tegang mereka. Julian langsung menarik nafas lega.


"Novan?" Tanya Luma kaget. Dia langsung menoleh kearah Sarah yang masih sibuk bermain dengan Ria.


"Kau ingat yang aku ucapkan saat kita bertemu kembali?" Tanya Novan. Luma hanya tersenyum seadanya.


“Kak Novan!!” Teriak Ria dan Sarah bersamaan lalu menghampiri ketiga orang tersebut.


“Eh inget gak sih Sar, pas kita makan di pinggir stasiun, kak Novan bilang kalau ketemu kak Luma itu jodoh” ucap Ria terlalu bersemangat tanpa memikirkan perasaan Sarah.


Sarah mendengus kesal, lalu pergi begitu saja. Julian langsung panik melihat kearah mana Sarah pergi.


“Kejar aja Jul” celetuk Luma tersenyum.


Seperti yang diduga Ria, Julian berdiri mengejar Sarah. Mencari keberadaan Sarah yang entah berlari kemana. Sampai akhirnya dia menemukan perempuan yang sedang duduk termenung sendiri di tepi pantai sambil bermain air. Julian kemudian duduk disampingnya tanpa disadari.


"Kamu ngambek?" tanya Julian mencoba tersenyum manis.


"Julian?" tanya Sarah terkaget lalu menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa pergi?"


"Entahlah aku juga binggung"


"Kamu suka sama Novan?" Tanya Julian sambil menelan ludahnya. Pahit. Sarah menggelengkan kepalanya lagi.


"Aku juga gatau aku kenapa dan kenapa aku cemburu pada hubungan kak Luma dan kak Novan. Awalnya aku kira suka kak Novan, namun aku berpikir lagi sepertinya bukan” jelasnya berusaha tersenyum. Pernyataan Sarah barusan membuat hati Julian merasa lega. Dia hanya membalas senyuman.


"Kenapa kamu diam?" tanya Sarah melihat kearah Julian yang hanya diam menatap kelaut.


"Tak apa. Lalu aku harus apa?"


"Iya sih"


"Mau teriak gak? Pumpung disini gak terlalu ramai, buat melepas penat?"


"Gak ah malu tau" jawabnya malu sambil tersenyum. Julian lega melihat senyuman yang begitu tulus, dan tak tau mengapa dia juga ikut tersenyum.


"Gpp" Julian berdiri dan meraih telapak tangan Sarah "kita teriak bareng" lanjutnya, Sarah menurutinya "1 2 3" aba-aba dari Julian


AAAAAARGGGGGHHHHHHHH!!!!!!


Teriakan panjang itu membuat hati keduanya begitu lega dan lepas. Tak ada beban. Sarah merasa nyaman ketika bersama Julian. Julian selalu ingin melindunginya, membuat dia bahagia, kali ini dia membuatnya tersenyum dan hatinya merasa bebas.


"Kenapa kau begitu memperdulikanku?" tanya Sarah dengan polosnya. Julian kaget mendengar ucapan Sarah yang keluar barusan. Dia terdiam dan binggung harus menjawab apa lalu tersenyum dengan eye smile nya itu.


"Kenapa diam?" Tanya Sarah lagi.


“SARAH! JULIAN!!!” Teriak Ria dari kejauhan memecah pembicaraan mereka.


Sepertinya Julian hari ini harus berterimakasih pada Novan dan Ria karena sudah melepaskan dari tekanan batin. Mereka berdua langsung berlari sambil berpegangan tangan dan keduanya tidak menyadarinya.


Sang Matahari mulai turun dengan indahnya. Mereka duduk berdampingan, Novan, Luma, Ria, Sarah dan Julian.


"Indah" ucap dalam hati mereka.


Julian memberanikan diri menggengam telapak tangan Sarah, dan tak ada penolakan “Terimakasih” bisik lembut Julian pada telinga Sarah. Sarah tersenyum kecil dan wajahnya memerah.


Langit sudah mulai gelap, menandakan akan ada pergantian jam malam. Udara yang berhembus mulai terasa dingin. Mereka segera bergegas untuk merapikan diri dan menikmati kuliner malam Yogyakarta.


“Jul kita naik bus lagi?” Tanya Sarah. Julian mengangguk.


“Aku bawa mobil” sahut Novan


"Bukannya kamuorang surabaya juga?” tanya Luma


"Orang surabaya kok, ini mobilnya temenku. Aku sewa"


"Asik gratisan!” Celetuk Ria dan Sarah melakukan High Five.


Akhirnya mereka berlima sampai di alun-alun kota Yogyakarta. Tampak ramai dengan anak muda yang bercanda ria, serta banyaknya komunitas di sepinggir jalanan trotoar. Pedagang kaki lima pun tak kalah berjejer disekitarnya.


"Kita beli wedang ronde yuk, pengen banget" ajak Ria.


"Gak suka ah. Mau cari minuman yang dingin-dingin" sahut Sarah


"Terserah deh, pokoknya harus dapet wedang ronde" jawab Ria ketus


"Kalian ini ya dasar bocah, iya kita ke wedang ronde. Nanti Sarah aku anterin beli minuman dingin" sahut Luma mendamaikan.


Semuanya duduk dipinggir alun-alun jogja sambil menikmati wedang ronde. Tak halnya dengan Sarah yang hanya duduk diam binggung melakukan apa, karena baterai hp nya habis dan powerbank miliknya juga sudah habis.


“Aku mau beli minum nih, kalian titip apa?” Tanya Sarah ketus


“Air mineral” ucap semuanya


“Aku kesana ya, duitnya dong kak Luma” celetuk lucu Sarah seperti anak kecil yang meminta uang kepada mamanya.


“Mau aku temenin gak?” Tanya Julian


“Nope” sahutnya pendek “udah gede juga” lanjutnya. Julian tersenyum dan berdiri dari duduknya langsung menarik tangannya dan berjalan pelan menuju Warung dekat mereka duduk.


"Aku ingin pulang tidur" ajak Sarah setelah menghabiskan minumnya, perasaannya tiba-tiba gak enak.


"Yaudah balik yuk, kalian nginep dimana?" tanya Novan


Akhirnya dengan mobil Novan mereka kembali ke penginapan tepat pukul setengah sebelas malam. Beruntung mereka tak usah susah payah menunggu bus datang di halte.


"Astaga lupa beli dreamcatcher yang gede" ucap Sarah ingin menangis, inilah yang membuat hatinya tak enak daritadi.


Luma langsung memeluk Sarah “besok kita beli kalau sempat ya” ucapnya


"Besok ke malioboro lagi ya kak, pleaseeee" ajaknya seperti anak kecil yang memohon agar dibelikan eskrim


"Dek jangan gila, besok kereta kita berangkat jam 12. Kamu mau ke Malioboro atau Candi Borobudur?"


Dia sedih mendengar ucapan Luma "yaudah kak, ke candi borobudur aja" jawabnya yang langsung melengos pergi kepenginapan.


Julian ingin mengejarnya, tapi tangan Ria menghentikannya "udah biasa kok dia begitu, biarin. Emang sedikit manja. Besok juga balik lagi semangat" jelas Ria


Mereka bertiga pun berpamitan dengan Novan dan mengucapkan terimakasih kepadanya karena telah mengantarkan mereka.


=====


From: Novan

To: Luma

Hai berterimakasilah kepada Allah yang telah mempertemukan kita. Aku yakin kamu orang baik dan dari keluarga baik-baik. Kamu besok udah balik ya? Yaaah masa kita cuma bertemu beberapa jam sih. Aku mau ke penginapanmu besok, aku ingin bertemu kamu lagi. Mengantarkanmu ke Candi Borobudur dan mengantarkanmu ke Stasiun.


=====


From: Luma

To: Novan

Tak usah Van, disini sudah ada Julian. Dia yang biasa mengantar kita. Gak usah merepotkan begitu.


=====


From:Novan

To: Luma

Tak ada kata repot buat mengantarkan calon istri. Aku ikhlas kok. Percayalah memang aku tak bisa pulang besok berbarengan denganmu. Baru lusa aku harus balik ke surabaya karena ada kerjaan disini. Dan saat itu pula aku akan datang ke rumahmu membawa orangtuaku bertemu dengan orangtuamu untuk memintamu menjadi istriku.


=====


From: Luma

To: Novan

Haha secepat itu kah? Gerak cepet ya. Iya terserah kamu:)


=====


From: Novan

To: Luma

Terimakasih. Smile emoticonmu menunjukkan kalau kamu tak menolakku.


****


Keesokkan harinya....


"Kenapa kalian berdua senyum-senyum sendiri?" tanya Ria penasaran "ah aku tau nih, kalian lagi jatuh cinta yah?" lanjutnya "ah gila, bakalan jadi kacang nih aku nanti" gerutunya


"Gak dong sayang" sahut Luma memeluk adik sepupunya yang tak kalah manja dengan Sarah.


"Lah kenapa aku kak? Aku hanya menikmati hari ini dengan senyuman” ucap Sarah tersenyum kembali.


“Jangan bohong ya dek, mata kamu itu gak bisa bohong! Kamu ada perasaan kan sama Julian? Ngaku gak?” Tanya Ria melotot curiga kearah Sarah.


Lalu telepon Luma berdering menandakan Novan sudah ada di depan penginapan mereka. Mereka bertiga langsung bersiap keluar dari kamar dan Sarah menghampiri kamar Julian untuk mengajaknya ke Candi Borobudur


"Jul jul jul kita mau ke Candi Borobudur kan? Jadi kan?" Tanya Sarah sambil mengetuk pintu kamar Julian.


Julian keluar dari kamarnya dengan boxer dan badan telanjang yang hanya ditutupi handuk. Sarah langsung menelan ludahnya, tubuhnya sangat bagus, putih dan bersih batin Sarah.


“Apakah harus ikut juga? Padahal kan sudah ada Novan yang mengantar kalian” sahutnya.


Sarah langsung cemberut “maksudnya?” Tanyanya mengerutkan dahinya.


“Bercanda” ucap Julian kembali dengan Eye Smile nya lalu mengusap lembut kepala Sarah untuk kedua kalinya. Rasanya Sarah ingin mengumpat tapi ia urungkan karena usapan di kepalanya.


"Tunggu sebentar, mau nunggu diluar apa didalam?” Tanya Julian kembali menggoda Sarah.


Sarah langsung membalalakkan mata “I mean lebih aman diluar, cepatlah ganti pakaianmu!” Teriaknya pelan.


Sarah menunggu di ruang tamu penginapan. Sedangkan Luma dan Ria daritadi sudah menunggu di mobil.


"Gila! beda banget" celetuk Sarah yang melihat Julian mengenakan baju kaos putih lengan panjang, celana panjang robek lutut serta topi baseball. Simple dan itu membuatnya terlihat sempurna.


"Apanya yang beda? Tetap gini loh" sahutnya santai.


"Apakah kamu punya keturunan Korea? Jepang? China? Mirip banget sama idol korea ya ampun jantungku” celetuknya tak sadar mengatakan itu.


"Sudah mujinya? Yang penting kamu sempurna dihatiku" sahut Julian. Skakmat. Ucapan Julian barusan benar-benar membuat Sarah terbang melayang sambil senyum-senyum sendiri. “Tuhkan mukanya merah lagi" goda Julian tertawa cekikikan "yaudah yuk, ditungguin kita" lanjutnya kembali memegang tangan Sarah.


Mobil Xenia hitam milik teman Novan pun berangkat menyusuri jalan menuju Candi Borobudur. Mereka semua bersenang-senang disana. Foto-foto ria, bercanda tawa.


"Aku mau nunjukin kamu sesuatu" ajak Julian yang menarik tangan Sarah.


"Mau kemana?"


"Tenang. pasti kamu seneng deh"


Julian mengajak Sarah turun dari Candi Borobudur, dan mengajaknya ke pedangang kaki lima yang tak jauh dari Candi Borobudur.


"Sudah sampai. Silahkan liat ke kanan kamu" ucap Julian tersenyum.


"OMG, dreamcatcher!" Teriak bahagia Sarah langsung menghampiri lapak pedagang itu “tapi kok kecil" ucapnya kecewa "tapi gpp deh yang penting keturutan" lanjutnya berbica sendiri.


"Bu ini berapaan?" tanya Sarah pada penjualnya


"Kalo yang ini 10rb terus yang bagusan dikit ini mbak 15rb, nah kalo yang ini 25rb" jelas penjualnya


"Kalo beli banyak diskon ya bu?”


"Gampang mbak”


"Saya mau ambil yang 10rban 14biji jadi  100rb ya bu? Tapi modelnya kasih yang beda ya motif ya, 5samain, 4samain terus 5samain warnanya gak kembar juga gpp, yang penting sama motif" ucapnya "terus yang 15rban 2 sama 25rb 1 jadi 50 ya buk?" lanjutnya "jadi totalnya 150rb, gimana bu?" tanyanya


"Wah gabisa lah mbak, rugi dong nanti"


"Ayolah bu, beli banyak ini"


"Yaudah yaudah neng dibawa"


"Asiiiiiiik" teriaknya sambil membayar uangnya.


"Kamu beli banyak buat apa?" tanya Julian


"Buat temen SMA, buat temen kuliah, buat kak Luma sama kak Ria sama aku hehe maaf ya kalau udah suka sering kalap" jelasnya meringis. Julian hanya menggeleng. "oya buk gak ada yang besar ya?" Tanya Sarah kembali.


"Lagi kosong mbak, cari di malioboro aja mbak" ucap penjual itu. Tampak wajah kecewa dan cemberut dari wajah Sarah.


"Sudah? Balik yuk. Pasti mereka nyariin kita" ajak Julian merangkul pundak Sarah menenangkan hatinya dan membawanya berjalan mencari para kakak-kakaknya.


"Darimana kalian? Bikin repot aja" gerutu Ria kesal.


"Maaf kak, tadi si Julian ngajak beli ini" dia menunjukkan isi tas kreseknya "tenang aku belikan buat kalian berdua. Nih kalung dreamcatcher" memberikan kepada kedua kakak sepupunya masih dengan wajah sedih.


"Wooooh asik. Udah nemu yang gede belum dek?" tanya Luma. Sarah menggeleng lemas.


"Eh sudah jam setengah 11, kalian harus segera ke stasiun" ajak Novan. Semuanya mengangguk.


Novan pun mengantarkan mereka ke penginapan untuk packing persiapan balik ke surabaya.


"Jul ini uang penginapannya selama 3hari 300rb kan?" tanya Sarah menghampiri kamar Julian yang sedikit terbuka.


Julian menganggukkan kepalanya “Oya aku gak bisa bareng kalian ke stasiun. Aku harus pamit ke budhe dulu" ucapnya. Dia tau pasti Sarah akan kecewa atas ucapannya sangat terlihat sekali dari wajahnya.


Mereka bertiga berpamitan terhadap Julian dan budhenya. Serta mengucapkan terimakasih. Novan pun melajukan mobilnya cukup kencang karena jam menunjukkan pukul 11.10. Novan tak ingin orang yang dicintainya ketinggalan kereta.


*


Sesampainya di stasiun.

Mereka bertiga berpamitan terhadap Novan dan mengucapkan terimakasih kepadanya.


"Hati-hati ya" ucap Novan sambil memegang tangan Luma.


Ketiganya bergegas menuju gerbong kereta yang bertuliskan di tiket. Hp Luma berbunyi.


=====


From: Novan

To: Luma

Hai. Hati-hati ya. Sampai ketemu lusa. Siapkan mental. Dandan yang cantik.


=====


From: Julian

To: Sarah

Hati-hati ya sar. Maaf tak bisa mengantarmu ke stasiun. Jangan lupa tersenyum. See you next time.


=====


"Tuh kan lagi-lagi senyum sendiri-sendiri, pasti dapet sms dari Novan sama Julian. Seneng banget sih" omel Ria melihat dua saudaranya tersenyum sendiri menatap layar handphone "kalian kok dapet cinlok disini semua sih, kok aku ngak sih?" lanjut omelnya


"Woy sadar woy, ada yang lagi nunggu di stasiun. Gak mikir kali ini anak" sahut Sarah


"Ya ampun si Dhira lagi main futsal sama temennya. Aku dilupain huuuh"


"Ya namanya juga laki, gak inget udah berapa 5 tahun pacaran hah?"


"Yaampun iya kali biasa aja. Gausah diomelin gitu ngerendahin banget. Yang tua diomelin anak kecil"


Kak Luma tertawa mendengar perdebatan kedua adik sepupunya itu. Kereta sudah berangkat menuju Surabaya. Mereka sampai di Surabaya sekitar pukul 20.00 WIB dan beruntungnya mereka Dhira pacar Ria bersedia menjemput mereka.


*****


1bulan kemudian......


=====


From: Sarah

To: Luma

Kak maaf ya mungkin agak telat kesananya. Ini ada acara kampus. Selamat ya kak, akhirnya mau tunangan juga sama kak Novan. Congrats!❤️❤️


=====


Acara tunangan Luma terbilang cepat, sebulan setelah Novan meminta Luma dan disetujui oleh orangtuanya. Dan dengan umur mereka yang sudah mulai matang dengan Luma berumur 25 tahun dan Novan berumur 27 tahun. serta pekerjaan mereka yang sudah mulai mapan, kedua orang tua mereka menyegerakan pertunangan itu secepatnya dan tepat enam bulan setelah pertunangan mereka akan melaksanakan pernikahan.


"Maaf kak telat" ucap Sarah pada Ria di ruang rias kak Luma.


Ria mengenakan baju dress putih selutut, dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai jatuh dan dandan yang cantik memoleh wajahnya membuat dia semakin lebih cantik. Serta disampingnya Dhira yang mengenakan jas putih dan terlihat lebih dewasa. Mereka memang pasangan yang ideal pacaran sejak SMA sudah 5tahun lebih. Mereka berdua satu universitas, walaupun berbeda jurusan.


Sarah segera berganti pakaian, dia mengenakan  kebaya tutu berwarna peach dengan bawahannya membuka, serta pasmina satin berwarna hitam yang ia kreasikan, dan dengan dandanan seadanya tapi membuatnya merasa nyaman.


Suasana tampak hikmat. Sesi demi sesi acara pun terlaksana. Kedua pasangan itu tampak bahagia sekali. Keduanya terus tersenyum setelah penukaran cincin. Luma memanggil Sarah dan Ria untuk berfoto bersama.


"Selamat ya kak, nanti kita nyusul tahun depan" ucap Dhira sambil tertawa cekikikan.


"Ngawur ih kamu yang, sudah punya gaji berapa mau ngelamar? Kerja dulu yang bener baru nikah" sahut Ria menggoda kekasihnya.


“Sayang kok gitu sih, doain kek. Aku kan juga lagi kerja sambil kuliah ini” sahut Dhira tak terima. Ke empat orang di depannya tertawa.


"Oya Sar, Julian mana?" tanya Luma


"Loh dia diundang kak?” Tanya balik Sarah


Luma menganggukkan kepalanya “aku sih tadi sempet liat dia sebelum acara. Tapi gatau sekarang kemana" lanjutnya.


"Hei ukhti." sapa seorang laki-laki menepuk pundak Sarah, suara itu tak asing di telinganya.


"Julian?" Tanya Sarah kaget, matanya berbinar-binar.


"Kangen sama kamu ya gak ketemu sebulan" celetuk Julian dengan entengnya.


Sarah mematung “Lebay dasar” sahut dia seadanya. Jujur hatinya berdebar.


"Yakin gak kangen juga?" Goda Julian menunjukkan eye smile nya kembali.


Sarah selalu luluh dengan eye smile milik Julian “biasa aja ih" sahut Sarah menjulurkan lidahnya ke Julian. Julian tertawa lalu mengusap lembut kepalanya.


Mereka berenampun foto bersama. Jas yang dikenakan Julian yang berwarna hitam juga tampak serasi dikenakan saat berdampingan dengan Sarah. Serta Luma yang memakai kebaya berwarna abu-abu berkilauan disepanjang podium serta Novan yang memakai jas dan celana berwarna silver. Mereka berenam tampak senada dan menunjukkan pasangan paling bahagia.


"Sar ikut aku" ajak Julian saat Sarah sedang mengobrol dengan Luma dan Ria


"Kemana? Eh eh pelan pelan. Jalannya susah nih” sahut Sarah yang kesusahan jalan karena rok yang dipakainya model sepan. Julian memelankan langkahnya.


Julian membawa Sarah ke parkiran, tepat di depan mobilnya. Dia masuk kedalam mobilnya dan membawa sebuah kotak besar. Julian tak tau bagaimana dengan jantung Sarah yang berdegup kencang.


"Ini untukmu" ucap Julian menyerahkan sebuat kotak berwarna merah.


"Apa ini?" Tanyanya


"Bukalah" jawab Julian dengan eye smile nya.


Sarah membuka kotak berwarna merah itu "dreamcatcher?" Tanyanya kebinggungan “SUMPAAAAH?!?!” Teriaknya girang.


"Iya seperti yang kau inginkan" jawabnya tersenyum.


"Kapan belinya?"


"Pas malem-malem di jogja setelah kau merengek ke kak Luma, aku tak tega melihatmu saat itu. Hatiku sakit melihat wajahmu yang kecewa seperti itu"


"Kenapa sampai segitunya?"


"Karena aku mencintaimu" ucapnya sambil tersenyum dan memegang tangan kedua tangan Sarah


"Aku sudah menyadari kamu menyukaiku dari awal. Sejak bercandaanmu itu. Aku nyaman sama kamu, aku selalu merasa aman saat bersamamu. Tapi ingatkah yang waktu di jogja aku pernah bilang aku minder sama kamu karena wajahmu terlalu cute untuk laki-laki. Aku juga sempat berpikir kamu bukan laki-laki tulen karena penampilanmu itu. Tapi caramu menjagaku dan rela berkorban membuatku lupa akan itu. Dan laki-laki itu ada di depanku sekarang. Yang membuatku jatuh cinta sampai saat ini" jelas Sarah dengan mata berkaca-kaca


"I LOVE YOU SARAH INDRIS LARASATI" Julian langsung memeluk Sarah


"I LOVE YOU TOO JULIAN" sahut Sarah membalas pelukan Julian. Dia berharap Julian adalah laki-laki yang jadi persinggahan terakhirnya.

Kamis, 26 Juni 2014

Tak Semua Cinta Ada Jawaban

Pagi itu suasana di kampus ternama di Surabaya cukup sejuk. Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang mulai berjalan kesana kemari. Tak halnya dengan Visya gadis yang kuliah jurusan Fakultas Kesehatan Masyarakat ini hanya duduk di tepi danau kampus, melihat segerombolan angsa disana yang sedang berenang.


"Visya" suara laki-laki itu mengagetkan lamunan Visya. Visya menoleh sejenak, adik tingkat kuliahnya, dia Rafi.


"Ada apa?" Sahut Visya menatap malas, karena tak ingin menanggapi Rafi kali ini.


"Sekali lah berbuat manis kepadaku Visya" ucap Rafi merajuk "tatapanmu dan wajahmu itu sangat menyebalkan ketika melihatku" jelasnya


"Kenapa kamu yang tak terima, huh? Suka-suka aku kan? Kamu bukan siapa-siapa aku Raf" jelas Visya malas dan memalingkan wajahnya.


"Terserah kamu saja Sya, kamu tetep special buat aku, sampai kapanpun aku gak bakal menyerah buat hatimu luluh sama aku" sahut Rafi memegang lembut tangan Visya, meskipun hatinya terluka tapi sudah kebal baginya diperlakukan seperti itu oleh Visya.


Visya melepas genggaman tangan Rafi dengan kasar "Lepasin! Aku mau ke kelas Rafi, jangan ikuti aku hari ini" ucapnya berdiri dan meninggalkan Rafi dengan tatapan menyedihkan kearahnya.


Rafi hanya terdiam mendengar kata-kata itu. Laki-laki satu ini kuliah jurusan Farmasi, mereka bertemu karena satu klub UKM Teater. Rafi merupakan lelaki yang cukup tampan, tinggi, dengan kulit sawo matang sedikit putih. Dia adalah seseorang yang selalu ada buat Visya, walaupun terkadang Visya membentaknya, mengusirnya. Tapi itu bentuk cintanya kepada Visya yang tak mau menyerah. Dia sudah mencintai Vira sejak semester 1 pertama masuk klub teater sampai sekarang semester 2 akhir.


Visya mengikuti kuliah hari dengan simak, dengan cermat. Karena memang ini akhir-akhir kuliah dan akan diadakan UAS dia tak akan main-main lagi. Dia lebih serius mendengarkan dosen yang mengajar.


*****


UAS pun selesai.


Libur telah tiba untuk 3minggu kedepan. Cukup beruntung bagi Visya setelah aktifitas kuliahnya yang begitu padat. Selama liburan ia hanya di rumah melihat stasiun televisi dan terkadang memainkan gadgetnya. Dan kalau pun dia beruntung ada teman yang mengajaknya keluar walaupun jalan-jalan di mall langsung ia terima.


Drrrrt.

Hp Visya menandakan ada pesan masuk.


From: Rafi

Pagi guys, anak UKM Teater meet up yuk. Jam 3 oke? Ketemu di TP. Sebarkan yes:)


Hatinya sungguh senang, akhirnya UKM Teater mengadakan kumpul bareng. Tapi yang menghubunginya kenapa cuma Rafi, itu yang terus ditanyakan dalam hatinya.


To: Rafi

Ok.


From: Rafi

Apa ada jawaban yang lebih singkat lagi Sya?


To: Rafi

Terus mau dijawab apa-__-


From: Rafi

Ya apa kek, iya Rafi sayang nanti aku dateng kok gitu kan enak dilihatnya. Aku jemput ya kak, aku udah otw ke rumahmu. Cepet mandi sana!


To: Rafi

Aku bisa berangkat sendiri oy!


Drrrrt.

20 menit kemudian hp Visya bergetar kembali


From: Rafi

Aku sudah di depan rumahmu.


Visya langsung turun dari kamarnya yang berada dilantai atas, kemudian menemui Rafi yang berada didepan rumahnya.


"Kenapa sih kamu harus jemput?" Tanya Visya dengan ketus.
"Ya gpp berangkat bareng kan enak" jawab Rafi dengan entengnya.
"Tapi aku bisa sendiri" 
"Kamu itu ya, aku kesini jauh-jauh dari kos-kosan ke rumahmu malah di omelin" sahut Rafi dengan menatap sinis Visya.
"Aku gak nyuruh kan?" 
"Yaudah sih. Kamu udah siap kan? Ayo berangkat" ucap Rafi dengan nada yang lebih lembut dan tenang.


Visya memang tak suka pada Rafi, dia hanya menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Terkadang Visya merasa bersalah ketika harus membentak atau memarahi untuk kesekian kalinya. Dia kembali ke rumahnya untuk mengenakan sepatu dan berpamitan kepada orangtuanya dengan Rafi yang mengizinkannya.


"Udah siap kan? Ayo berangkat kita telat 15menit" tanya Rafi melihat Visya yang sedang cemberut. Visya hanya mengangguk.


Rafi sudah terbiasa diperlakukan seperti ini olehnya. Tapi sepertinya cintanya terhadap Visya terlalu besar, mengalahkan apapun. Bahkan saat Visya memarahinya dia tak berani melawan, dia hanya diam. Dia takut kalau Visya sakit hati jika marah dibalas dengan marah-marah dan ada perkataan yang membuatnya terluka.


Jarak rumah Visya dengan Tunjungan Plaza memang terbilang cukup dekat hanya 15 menit. Mereka segera masuk ke dalam dan menuju foodcourt yang berada di lantai 5.


"Hai hai sorry telat Dis" ucap Rafi mendatangi sekumpulan orang yang dikenal Visya, mereka memang anak Teater, Dista dan Rifki.


"Iyoi gpp, wah kesini sama kak Visya?" sahut Dista yang terkejut melihat Visya berdiri disamping Adit.


"Loh yang lain mana?" tanya Visya binggung.
"Yang lain siapa kak?" tanya Dista balik dan ikut binggung.


Visya langsung menyadari, pasti Rafi yang membohonginya "Rafi?" tanya Visya sinis melihat Rafi tajam.

Rafi menyengir kearah Visya dan menggaruk lehernya yang tak gatal "Sorry Sya, habisnya kamu diajak keluar gak pernah mau sih" ucapnya membela dirinya sendiri.


"Oh astaga jadi begitu. Modus banget" celetuk Rifki lalu terkekeh.


Visya tak memusingkan lagi jika Rafi membohonginya, karena ini bukan sekali dirinya dibohongi Rafi dan dia selalu percaya. Keempatnya mengobrol dan memesan makanan di Hoka-Hoka Bento. 


"Eh sorry telat guys" ucap Irena yang langsung terduduk disamping Visya dan melakukan High Five dengan teman-temannya.


Irena merupakan teman Dista, Rafi, dan Rifki. Mereka satu kelas dan juga tergabung di UKM Teater. Dia datang bersama dengan laki-laki berparas tampan, putih, badan cukup berisi seperti orang china dengan mata sipit dan kacamatanya.


"Oya kenalin ini saudara sepupuku, Vinrana" ucap Irena mengebu-ngebu.


Vinrana menyapa keempat orang disana dan bersalaman secara bergantian. Saat tangannya berhenti pada Visya, kenapa jantungnya berdetak cepat. Dia tak bisa melepas genggaman tangan Visya.


"Oh hai. Hai. Hai" sapa Visya sambil mencoba mengembalikan konsentrasi Vinrana dengan melambaikan tangannya didepan wajahnya.


Rafi yang sadar melihat Vinrana tak melepas tangan Visya langsung melirik sinis dan berpura-pura batuk "Bisa kali dilepasin bro, punya orang itu tangannya" ucapnya dengan ketus.


Vinrana terkaget "eh sorry" sambil melepaskan tangan Visya.


Semua kembali mengobrol satu sama lain sambil menunggu makanan. Hanya Visya dan Vinrana yang terdiam karena tak tau harus menyaut apa, Rafi, Irena, Rifki, Dista mereka satu kelas. Tapi Visya terkadang menyaut kalau ada yang ia tau. Tapi Vinrana hanya terdiam, hanya sesekali diajak bercanda.


"Hai" sapa Vinrana tersenyum menatap Visya.
"Kamu menyapaku?" tanya Visya.
"Iya" sahut Vinrana pendek.
"Oh" jawab Visya pendek "ada apa?" Tanyanya kembali.
"Kamu semester berapa?"
"Empat" sahut Visya enteng.
"Oh maaf kak, gak tau" ucap Vinrana tak enak karena sudah berani memanggil 'kamu' bukan 'kak'.


"Oh ya gpp, sudah biasa" sahut Vira enteng sambil memainkan hpnya.
"Maksudnya kak?" Tanya Vinrana kebinggungan atas jawaban Visya.


Visya tersenyum "Berarti mukaku masih muda belum tua-tua amat kan" ucapnya bangga.
"Bisa dibilang begitu sih" sahut Vinrana terkekeh pelan.
"Ya ya aku tau memang aku baby face kok" ucap Visya ikut terkekeh.
"Tapi iya sih muka kakak enak diliat, manis" celetuk Vinrana tertawa melihat dalam mata Visya.


Visya menggelengkan kepalanya "Iya dong, dari dulu itu mah" ucapnya terkekeh kembali.
"Ih sombong" sahut Vinrana tertawa cukup keras.


Mendengar tertawa Vinrana yang cukup keras mengagetkan Rafi yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya.


"Kalian ngomong apa?" tanya Rafi penasaran.
"Apasih kamu itu kepo" goda Visya
"Ran, kamu jangan macam-macam dekati kakak tingkat satu ini, bisa dibunuh sama nih anak" celetuk Irena sambil menunjuk kearah Rafi
"Loh kenapa? Salah?" Sahut Vinrana dengan tenangnya.
"Salah besar" sahut Rafi menatap tajam Vinrana.
"Oh kamu suka pada kak Visya? Ah gak takut dibunuh tuh. Ngapain takut" ucap Vinrana dengan tenang kembali dengan senyuman sinisnya kearah Rafi.


"Heeeei" teriak Visya pelan sambil memukul tangan Vinrana pelan.


Rafi merasa hatinya terbakar, matanya memerah, tangannya mengepal dibawah meja. Visya yang mengetahui itu langsung mengenggam tangan Rafi, setidaknya itu bisa memadamkan kemarahannya. Rafi mengambil nafas panjang dan menoleh kearah Visya, Visya menggelengkan kepalanya memohon agar tak bertengkar. Rafi tersenyum memandang Visya dan mengangguk.


Suasana tampak hening tak ada obrolan setelah kejadian itu. Kemudian Visya mulai meramaikan kembali sambil menanyakan kegiatan kuliah, gosip artis, share tentang apapun.


"Ayo pulang" ajak Rafi badmood, sambil menarik tangan Visya. Visya hanya mengangguk mengikuti kemana Rafi ingin pergi. Tampak di genggaman tangannya terasa keras. Sepertinya dia masih marah kepada Vinrana. Kemudian pamit kepada teman-temannya.


"Stop! Kau masih marah padanya?" ucap Visya yang memberhentikan langkahnya tiba-tiba.


"Engak" sahut pendek Rafi.
"Kau bohong padaku"
"Enggak"
"Yaudah gak mau pulang kalau kamu gak jawab jujur" ucap Visya melipat tangannya.
"Yaudah. kamu aku tinggal" sahut Rafi berjalan pelan meninggalkan Visya.
"Silahkan" ucap ketus Visya.


Rafi tak tega meninggalkan Visya kemudian berbalik dan menarik lembut tangan Visya "kita pulang, aku antar kamu pulang. Maaf" ucapnya.


"Kau itu harus bisa lebih bersikap dewasa" celetuk Visya.
"Aku sudah dewasa ya, aku masih tetap mencintaimu walaupun kamu berkali-kali mengabaikanku" sahut Rafi tak terima.
"Itu resiko kamu, kan udah bilang baik-baik aku tak mencintaimu" ucap Visya sarkatis. Rafi langsung terdiam mendengar perkataan itu dan melanjutkan langkahnya.


Visya yang tersadar akan ucapannya kali ini mengejar Rafi yang berjalan jauh darinya "Maaf aku ngomong kasar ke kamu ya" ucap Visya menyesal dan memeluk lengan Rafi.
"Gpp" sahut pendek Rafi tersenyum tak ikhlas.
"Jawabnya kok gitu sih?" Tanya Visya langsung melepaskan tangannya dan memberhentikan langkahnya. "Kalau kamu masih marah. Aku gak mau pulang" lanjut Visya yang cemberut.
"Iya engaaaak" jawab Rafi sambil mencubit pipi Visya dan mengacak rambut Visya. "Kita pulang sekarang" lanjutnya menggenggam tangan Visya.


*****


Semester baru sudah dimulai, UKM Teater disibukkan oleh kegiatan yang akan ditampilkan untuk penyambutan mahasiswa baru, untuk menarik perhatian agar bergabung dengan UKM Teater.


"Aku pinjem hpmu ya?" tanya Rafi saat melihat hp Visya tergeletak diatas meja setelah penampilan Teater mereka.
"Iyaa" jawab Visya pendek.


Rafi melihat galeri Visya, diam-diam dia mengirim foto Visya tanpa Visya sadari. Dan dia langsung tersenyum saat melihat foto bersama keduanya tak dihapus dari hp Visya.


Ting! #LINE


Vinrana added you as friend.


Vinrana : Kak Visya?

Vinrana : halo kak:)

Vinrana : Masih inget aku kan?


"Eh hpku bunyi ya? Line? Dari siapa?" tanya Visya tenang. Rafi langsung memberikan hp Visya.


Visya binggung dengan sikap Rafi yang raut wajahnya berubah. Dan mengecek hpnya, bagi Visya hpnya ada hak milik Rafi tak ada boleh laki-laki yang chat dengannya. Rafi langsung membalas jika ada yang chat masuk dari laki-laki 'Jangan macam-macam sama Visya - RAFI PACARNYA:)' dan langsung memblock atau mendelcont jika sudah dibaca. Visya juga tak mempermasalahkannya, justru dia beruntung tak ada yang mengganggunya, cukup Rafi saja dalam hidupnya.


DEKKKK!!!


Visya membulatkan matanya melihat notification line di hpnya. Dan sangat aneh Rafi tak membalas chat Vinrana kali ini.


"Aku balik ke kos, aku gak mood" ucap Rafi sambil berdiri dan merapikan barang-barangnya. "Guys, aku pulang duluan ya" pamit Rafi lalu keluar dari ruangan anak UKM Teater kumpul setelah tampil di depan mahasiswa baru.


Visya menatap kosong punggung Rafi saat keluar, kenapa dia tak membalas chat Vinrana? Kenapa dia berubah karena Vinrana? Dia menyesal atas dirinya sendiri bahkan dia gak tau apa yang akan dilakukan terhadap Rafi.


Drrrrt.

Sebuah pesan masuk di Hp Visya.


From: Rafi

Aku tunggu diluar. Aku antar kamu pulang. Maaf aku lupa kalau kamu kesini tadi aku jemput.


Visya langsung membereskan barang-barangnya dan segera keluar dari ruangan tanpa berpamitan dengan anggota UKM yang lain. Air matanya seakan mau keluar dan merasa sangat bersalah. Dia menghapus air matanya sebelum bertemu Rafi di parkiran.


Saat perjalanan pulang keduanya hanya terdiam, tak ada canda yang keluar seperti biasanya. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Terimakasih" ucap Vira tersenyum pilu, air matanya seakan mau keluar melihat Rafi yang menatapnya seakan tak akan peduli dengannya. Rafi hanya menganggukkan kepalanya dan melajukan sepedanya dengan kencang.


"Hati-hati Rafi" ucap kelu Visya saat Rafi berlalu tanpa tersadar air matanya menetes. Dan masuk kedalam rumahnya.


Rafi langsung membanting tubuhnya di kasurnya, kepalanya terasa pusing. Dia terus memijat keningnya, kenapa dia mendiamkan kepada Visya hanya karena chat Vinrana.


Drrrrt.

Hp Rafi bergetar, dia sudah menebak pasti dari Visya.


From: My Hope Sya❣

Kenapa kamu marah? Karena chat dari Vinrana? Bahkan aku gak tau dia tau id line ku darimana. Aku minta maaf, Rafi yang kukenal dulu mana? Kalau ada chat dari cowok lain pasti langsung marah dan menyita hpku? Kenapa Rafi berubah:(


Rafi menelan ludahnya sendiri, ada benar yang diucapkan Visya. Dia masih ingat wajah Vinrana yang menantangnya seakan dia benar-benar akan menantang untuk memperebutkan Visya. Rafi memejamkan matanya melihat kearah langit-langit dan langsung membanting hpnya ke lantai. Rusak dan berserakan kemana-mana.


*****


2 hari hari berlalu....


Visya terus menatap hpnya, tak ada pesan masuk dari Rafi. Ini bukan Visya, dia tak pernah segelisah ini menunggu balasan dari Rafi. 


"Kak liat Rafi?" tanya Irena yang tiba-tiba mendatangi kelas Visya yang sedang lenggang.


Visya menatap Irena kosong "Gak dek, ada apa?" Tanyanya
"Dia gak masuk dari kemarin" jawab Irena dengan wajah bersalah. Visya terdiam, dia juga merasa bersalah pada Rafi.


"Apa gara-gara sepupu aku kak? Kakak berantem sama Rafi?" Tanya Irena mendekat kearah Visya. Visya menggeleng tersenyum.


"Jangan bohong kak, karena Vinrana bilang chatnya gak dibales sama kakak sudah 2 hari, Rafi baca chatnya ya kak? Aku minta maaf ya kak" ucap Irena memelas mengenggam tangan Visya merasa bersalah.


"Bukan kok Ren, yaudah gak usah minta maaf juga, gak salah juga kamunya" ucap Visya berusaha tersenyum.


"Aku minta maaf udah ngasih id line kakak, ke Vinrana. Dia maksa aku terus mengambil paksa hpku. Dia bilang suka sama kakak, padahal aku sudah omelin dia, Rafi pasti marah kalau ada yang deket sama kakak, tapi dia gak peduli" jelas Irena dengan wajah memelas kembali.


Visya terkekeh pelan "iya dek? Astaga banyak brondong yang mendekat. Bukan karena sepupumu kok. Tenang aja" ucap Visya berusaha membuat Irena tak merasa bersalah padanya.


"Nanti kita ke kosnya aja gimana kak?" Tanya Irena dengan mata penuh harapan agar Visya mau ikut dengannya "aku mau minta maaf sama dia" jelasnya. Visya menganggukkan kepalanya.


Irena pergi meninggalkan Visya di kelasnya karena masih ada kelas dan Visya juga ada kelas sebentar lagi. Keduanya akan janjian nanti didepan gerbang kampus dengan Rifki agar diperbolehkan masuk kosnya dengan jika dengan perempuan.


Setelah sampai di Kos Rafi yang jauh dari kampusnya, entah apa yang dipikirkan Rafi ketika memilih kos yang berjarak jauh dari kampusnya. Bapak pemilik kos keluar saat Rifki memencet bel rumahnya, peraturan kos Rafi cukup ketat bagi laki-laki.


"Pak Ali, maaf mau tanya, apakah Rafi ada di kamarnya? Soalnya dia gak masuk kuliah sudah 2 hari, saya telpon juga tak diangkat" ucap Rifki


Pak Ali sepertinya tak merespon, dia hanya melihat 2 perempuan yang dibelakang Rifki "Kayaknya mas Rafi tidak keluar sama sekali dari kamar tuh mas Rifki, biasanya kalau malem kumpul sama temen-temen kamar sebelahnya terus main badminton di halaman belakang atau main catur sama saya" jelasnya.


Visya merasa sangat lemas mendengar penjelasan Bapak pemilik kos Rafi. Air matanya tidak boleh keluar di depan Irena dan Rifki, dia berusaha menahannya. Kemudian Rifki bernegosiasi agar bisa masuk dengan teman-teman perempuannya. Yes! Diperbolehkan.


"Apakah dia keluar? Perasaan tadi bapak kosnya bilang gak keluar kamar sama sekali" ucap Irena dengan wajah cukup lesu saat berada di depan kamar Rafi.


Rifki mencoba mengetuk pintu "Rafi kamu di dalem kah?" Tanyanya
"Siapa?" jawab Rafi pelan dari dalam
"Rifki nih"


"Sebentar" Rafi membukakan pintu dengan malas dan tak semangat, tubuhnya sangat lemas. Rafi kaget melihat Visya berada dibelakang Rifki. Dia segera menutup pintu kembali dan menguncinya.


"Ki, bilangin sama Visya lagi gak pengen ketemu" teriak Rafi dari dalam kamar. Visya tercengang mendengar perkataan dari Rafi.


"Rafi jangan bercanda" teriak pelan Visya sambil menggedor pintu.
"PERGI!" teriak keras Rafi.


Teriak Rafi barusan benar-benar membuat seluruh penghuni kos sebelah kamarnya keluar untuk melihat apa yang terjadi. Mereka bertiga hanya tersenyum meminta maaf.


"Rafi kita disini cuma dikasih waktu sejam" bujuk Irena
"Ayolah kamu keluar" sahut Rifki
"Terserah kamu fi! Kamu dulu yang bilang kan udah dewasa? Tapi kalo kayak gini kamu kayak anak kecil!" bentak Visya sengaja membuat Rafi marah agar keluar dari kamarnya.


Rafi tak terima mendengar perkataan itu dari Visya. Dari dulu Visya selalu bilang dia anak kecil. Dan dia sering mengelak atau membantah kalau Visya sudah menganggapnya anak kecil. Dia langsung membuka pintu.


"Aku gak terima kamu bilang aku anak kecil. Terserah kamu. Sekarang aku gak mau peduli sama kamu. Kamu selalu buat aku kecewa. Kamu gak pernah menghargai aku. Kamu bentak aku, aku diem. Sedangkan aku mau membalas bentak kamu, rasanya tak mungkin. Aku tak ingin kamu sakit hati karena perkataanku. Aku terus yang mengalah sama kamu. Aku capek" Ucap Rafi dengan nafas yang terengah-engah karena emosinya sendiri.


Visya terdiam mendengar perkataan Rafi "Sudah marahnya?" sahut Visya tersenyum perih melihat Rafi dengan mata cekung seperti kurang tidur dan kurang makan.


Kali ini Rafi yang terdiam, dia teringat kata-perkata yang diucapkannya tadi "Maaf" jawab Rafi singkat


"Katanya udah capek ngalah? Gak mau bantah? Nah itu barusan apa?" Sahut Visya. Rafi terdiam sekali lagi.


"Aku tau kamu baru bisa marah ke aku sekarang kan? Kenapa gak bilang dari dulu? Aku tak akan marah jika kamu membentakku. Justru yang kamu lakukan sekarang yang membuatku tak enak hati padamu"


Rafi masuk ke dalam kosnya dia tertunduk dipinggir tempat tidurnya. Visya menghampiri Rafi dan duduk didepannya. Dia memegang tangan Rafi penuh hangat.


"Sekarang apa yang kamu mau?" tanya Visya. Rafi menggelengkan kepalanya.


"Badanmu panas? Matamu cekung dan terlihat sayu? Kamu tak tidur? Kamu gak makan dari jam berapa?" tanya Visya khawatir.


"Setelah mengantar kamu pulang" Jawabnya memegang erat tangan Visya "Jujur hatiku sakit melihat ekspresimu yang senyum kepadaku saat terimakasih waktu kamu kuantar pulang, dan dengan bodohnya aku melesatkan sepedaku dengan kencangnya tanpa membalas ucapanmu. Aku minta maaf" lanjutnya. Visya tersenyum kearah Rafi.


"Justru aku yang minta maaf. Baru sekali ini aku diacuhkan olehmu. Tak ada orang yang menjadi bodyguardku seperti dulu" goda Visya terkekeh pelan dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Kamu mau nangis kan? Akhirnya kamu menangis juga untukku" jawab Rafi pelan dan tersenyum.


"Sekarang tidurlah, aku hidupkan AC-mu" ucap Visya melepas genggaman tangannya. Rafi langsung tidur di kasurnya dengan cekatan Visya menyelimuti tubuh Rafi.


Rifki dan Irena berpura batuk secara bersamaan. Seakan keduanya tak ada di kamar Rafi dari tadi. Visya merasa malu dan tak enak pada keduanya.


"Ciyeeeee" sahut Rifki dan Irena, kemudian mereka mendekat ke Rafi


"Fi, aku minta maaf ya. Gara-gara sepupuku kemarin kamu sama kak Visya berantem" ucap Irena memelas dengan wajah bersalah.


"Gpp dek, kan biar tau dia. Kali ini dia ada saingan yang gak takut sama dia" goda Visya lalu terkekeh diikuti dengan Irena dan Rifki yang ikut terkekeh.


Rafi reflek memukul pelan tangan Visya dengan mesra "Lagi gak mau bercanda tau gak sih" ucap Rafi langsung mengerucutkan bibirnya.


"Apa sih, Raf?" Sahut Visya lalu tertawa cekikikan.


"Eh dapur kos kamu dimana? Mau buat air hangat" tanya Irena

"Turun aja kebawah, minta sama Pak Ali nanti dibuatin, jangan buat sendiri nanti kamu di goda sama penghuni kos sini" jawab Rafi sambil tersenyum menggoda Irena.


"Yaaa! Aku sudah berbaik hati masih bercanda" teriak Irena

"Aku serius Irena, minta antarlah pada Rifki saat kebawah" ucap Rafi tersenyum melihat ekspresi Irena yang masih cemberut.


"Yaudah aku juga mau belikan makan dulu buat Rafi ya kak" sahut Rifki. Visya hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Ah sekalian belikan makan buat Visya, dia pasti kehilangan nafsu makannya karena memikirkanku" ucap Rafi tertawa pelan. Visya menatap sinis Rafi, ucapannya benar dia tak enak makan karena memikirnya.


"Lalu aku dan Irena? Gak disuruh makan? Tega sekali kamu Rafi pada temanmu sendiri, melihat kalian berdua makan" ucap Rifki menatap sinis Rafi.

"Kenapa kamu menanyakan pertanyaan bodoh, huh? Ya belilah sana!" Ucap Rafi dengan enteng.

"Totalan belakang ya bos? Nanti jangan lupa transfer ke rekeningku" celetuk Rifki tersenyum jahat menggoda sahabatnya yang sedang sakit.


Rafi menggelengkan kepalanya "Iya sana! Kalian pergilah berdua! Aku mau berduaan sama Visya!" Usirnya "Tapi btw terimakasih ya sudah jadi sahabat yang baik" lanjutnya dengan nada yang lebih lembut.


Irena dan Rifki keluar dengan menyumpah serapah atas nama Rafi. Lalu kemudian Irena datang dengan baskom berisi air hangat beserta handuk kecil yang dipinjamkan Pak Ali. Visya dengan telaten merawat Rafi.


"Tetaplah seperti itu, jangan lepaskan tanganmu. Aku ingin terus sakit jika kamu akan selalu disampingku dan memperhatikanku seperti ini" ucap Rafi dengan mata yang masih terpejam saat Visya menaruh kompres handuk di dahinya.


"Apa deh, ada Irena disini. Kamu gak malu?" Tanya Visya sungkan dan melihat kearah Irena.
"Halah gpp kak, biasa aja" sahut Irena
"Tuh kan sya gpp, kamu aja gitu terus ke aku. Jarang-jarang nih kepalaku dipegang kamu" ucap Rafi masih dengan memejamkan matanya. Visya hanya tersenyum.


Akhirnya Rifki datang membawakan 4 bungkus makanan. Visya dengan sigap mengambil makanan dan sendok untuk memberikan kepada Rafi.


"Suapin dong" ucap Rafi merajuk kepada Visya dan membuka mulutnya.
"Makan sendiri udah gede" jawab Visya
"Yaudah aku gak mau makan" sahut Rafi seperti anak kecil.


"Yailah bro, modus banget sih" celetuk Rifki tersenyum sinis.
"Yang penting situ kalah mulu lah" ucap santai Rafi.
"Kalah apa nih?" tanya Irena
"Urusan laki-laki haha" jawab Rifki
"YAAAAA!!'" teriak Irena


"Haha yaudah sini aku suapin biar cepet sembuh" jawab Visya tersenyum. Visya dengan telaten menyuapi Rafi. Rafi tampak begitu semangat, rasa tak enak badannya tiba-tiba menghilang. Visya benar-benar menjadi moodbooster baginya.


"Eh aku kalau gini kayak mama nyuapin ke anaknya ya?" goda Visya terkekeh.
"Kalau aku punya mama kayak kamu mau deh aku" sahut Rafi membuka mulutnya lagi, persis anak kecil.


Vira menyuapi Rafi kembali "Mau lah. Bisa nyiumin mamanya sendiri. Peluk mamanya tanpa di omelin. Telponin sama smsin terus. Duh mau deh punya mama kedua haha" ucap Rafi yang terus berbicara pada Visya sambil mengunyah makannya.


"Jadi kamu ke mamamu begitu? Udah segede ini?" Tanya Visya mengeryitkan dahinya.
"Why not?" Tanya balik Rafi.

Keempat orang itu tertawa terbahak-bahak di dalam kamar Rafi. Sampai lupa waktu yang diberikan Bapak pemilik kos saat masuk ke kos Rafi hanya satu jam.


"Yuk anak pinter sini makan. Nang ning nung ning nang ning nung" goda Rifki sambil memberikan makan kearah Rafi sambil tertawa cekikikan.
"Apaan lo? Masih normal aku. Sorry loh ya" jawab Rafi.
"Yaudah sini anak papa, papa suapin" goda Rifki kembali sambil memberikan makanan
"Idiiiiih ngarep banget jadi papa, saya gak rela mama Visya menikah denganmu" sahut Rafi


"Kalian ini apa sih? Dasar bocah" celetuk Visya
Rafi dan Rifki menyipit kearah Visya dengan tajam


"Kita bukan anak kecil" jawab keduanya bersamaan


"Tuhkan kompak. Yaudah kalian aja yang nikah" sahut Irena tertawa terbahak-bahak


"Udah Rif, ngalah aja. Aku kan yang dapetin Visya" ucap Rafi menyunggingkan senyum.
"Maksudnya?" tanya Visya
"Jadi gini kak, dulu itu yang naksir kamu dulu itu si Rifki, tapi dia gak berani deketin. Dia belum cerita sih. Tapi aku juga udah naksir sama kamu karena kamu kakak tingkat di ukm yang paling diem gak banyak omong. Aku suka perempuan seperti itu. Dan dengan entengnya aku curhat sama si Rifki kalo aku suka kamu, mau deketin kamu. Eh dia marah dan ngakuin suka kamu juga. Yaudah dari situ aku ngambil langkah cepat deketin kamu duluan. Alhasil beginilah dia kalah sama aku" jelas Rafi
"Jadi aku dibuat taruhan?" tanya Visya dengan mata tajam menatap Rafi dan Rifki bergantian.


"Ih anak ini ampun ya. Emang ada kata taruhan ya? Ngak kan?" Tanya Rafi balik


"Tapi tenang kak, aku liat perjuangan dia dari semester1 sampai mau semester3 buat dapetin kakak itu luar biasa. Jadi aku memilih mundur" sahut Rifki tersenyum
"Kok aku gak ngerti ya kalian ngerebutin kak Visya?" tanya Irena
"Hanya orang beriman yang tau hahaha" jawab Rifki tertawa


"Ih rese" gumam Irena
"Tuh kan nama daftar brondong yang suka sama aku nambah. Astaga kenapa denganku? Banyak banget brondong yang suka" celetuk Visya
"Karena kamu manis, mukamu baby face banget pengen cubit" sahut Rafi tersenyum meringis kearah Visya.


"Eh dek rif, mendingan kamu jadi anakku juga deh. Jaga nih anak biar gak godain mama Visya" ucap Visya terkekeh.
Rifki langsung tertawa" boleh kak boleh kak dengan senang hati" jawab Rifki
"Gak mau lah sodaraan sama dia" sahut Rafi "yaudah gpp kamu jadi anakku aku beralih jadi suami untuk mama Visya" ledek Rafi tertawa kemudian disusul yang lainnya.


"Ah ya, Sya. Aku minta tolong sms-in mamaku. Hpku rusak" ucap Rafi masih mengunyah makanannya.

"Emang hp kamu kemana? Pantesan di telpon gak nyambung" sahut Visya dengan nada kesal.

"Itu" jawab Rafi sambil menunjuk dibawah meja TV miliknya "gak sadar kebanting, salah kamu tuh Sya, kamu yang bilang ke mamaku pokoknya" lanjutnya sambil membuka mulutnya lagi agar diberi makan oleh Visya.


Visya menoleh kearah Rafi "Yaaa! Kenapa kamu bodoh sekali! Dengan entengnya membanting hp, kamu pikir cari uang gampang, huh?" Omel Visya langsung memberikan nasi bungkus dan sendok pada Rafi.


Rafi menyengir dan memakan makanannya sendiri "cepet gih sms-in ke mamaku, biar dikirim duit buat benerin apa beli hp baru dan juga biar kamu lebih deket kan sama mama mertua" ucap Rafi enteng sambil mengunyah makanannya.


Visya hanya menoleh sinis kearah Rafi dan mengambil hp Rafi dan memfotonya mengirim gambarnya via mms. Dan nada dering hp Visya berbunyi.


"Yaaaa! Mamamu telpon, angkat" seru Visya melemparkan hpnya ke Rafi.

"Kamu mau hpmu rusak juga, huh?" Tanya Rafi dan menerima telpon dari mamanya.


"Hm ma?"


"......"


"Iya ma, hpku rusak dibanting Visya pas marah sama aku" 


"......"


Rafi tertawa "Enggak, enggak Ma, jatuh dari kasur dan hancur terbelah. Kirimin duit dong Ma, hp juga penting. Atau hp Mama aja buat aku, Mama beli lagi, oke?"


"......"


"Nih Sya! Mama mau ngomong sama mantunya" ucap Rafi memberikan Hp Visya.


"Ada apa tante?"


"......"


"Ah iya Tante, nanti aku pitak kepalanya. Tenang aja"


"......"


Visya tertawa sinis "Enggak Tante, kita gak berantem kok. Lagian kan saya sama Rafi gak pacaran jadi ya gak ada putus kok"


Rafi yang mendengar ucapan Visya langsung merampas hpnya "Mama, sudah ya gak usah ikut campur urusan anak muda. Nanti Visya aku bawa sebagai menantu mama bukan pacar, oke? Baik-baik di semarang ya Ma. Bye" ucap Rafi menutup telpon sepihak.


Muka Visya menghangat pipinya merah saat Rafi bilang 'dibawa sebagai menantu' dan langsung menutup pipinya. Rafi yang melihat tingkah Rafi tersenyum dan mengelus lembut kepala Visya berbisik ditelinganya "Pipimu merah, tetaplah bersamaku". Visya menatap Rafi dan menganggukkan kepalanya tersenyum kearah Rafi.

Senin, 09 Juni 2014

Sahabat Selamanya

"Hei guys liburan semester bromo yuuuuks!" teriak Talita di rumahnya sendiri.
"Nah iya boleh tuh, belum pernah sama sekali kesana" jawab Dera semangat.
"Ya kamu sih diajakin gabisa mulu" sahut Adrian ketus.
"Kan tau sendiri jadwalku bagaimana, sibuk banget lah" jawab Dera juga ketus kearah Adrian.
"Yaudah fix ya ke bromo minggu depan, berangkat jumat malam. Bagaimana?" tanya Tia
"SETUJUUUUUU" jawab semuanya
"Eh aku ngajak ayam ya" celetuk Yuna pelan, melihat wajah keempat sahabatnya itu meminta izin.


Keempat sahabatnya langsung menyipit kearahnya.


"Aku ngajak Surya juga ya" celetuk Talita
"Ya kalian ajak aja semua laki-laki kalian" jawan Adrian ketus lagi.
"Omaigat yan, slowly. Kita berdua gak punya pacar. Ye gak Der?" ucap Tia sambil menyenggol Dera.
Dera menyengir "aku mau ngajak Pandu" ucapnya terkekeh dan menggaruk lehernya.
"Dih masih gebetan gak dapet-dapet dan gak ditembak-tembak aja mau diajak" sindir Tia ketawa.
"Apaan sih? Gak terima? Kamu kan gebetannya juga banyak ajakin dong" sahut Dera menyindir balik Tia.
"Oh No!!! Saya mau jadi teman sejoli si Adrian aja deh" sahut Tia


"Okelah okelah tak apa. Yang penting mobilmu kan Der?" tanya Adrian yang tadi dengan nada ketus sekarang menghalus karena ada maunya.
"Aku usahain" jawab Dera tersenyum.


Mereka adalah sahabat dari kelas 2 SMA sampai kuliah semester 4 sekarang. Walaupun belum ada nama resmi untuk perkumpulan, namun tak ada yang mampu memisahkan. Tuhan masih bisa mempertemukan mereka dengan jadwal kuliah yang berbenturan. Dera kuliah kesehatan, Tia anak agrobioteknologi, Talita anak hukum, Yuna anak bisnis internasional, dan terakhir laki-laki diantara semua adalah si Adrian anak biologi. semua punya ciri khas masing-masing dan itulah yang membuat mereka berbeda dan nyambung.


*****


H-1 sebelum keberangkatan.


From: Dera
To: Talita, Tia, Yuna, Adrian

Guys sorry, mobilku abis keserempet ini. Sekarang lagi dibawa ke pihak asuransi. Terus bagaimana ini? Masih aku usahain cari mobil ini, nanti aku kabari kalian lagi.


Dera kebinggungan dengan dirinya sendiri. Sms yang ia kirimkan ke sahabatnya membuat hpnya terus bergetar. Teman-temannya juga khawatir, karena mengumpulkan jadwal 5 orang kepala itu susah.


Tiba-tiba hp Dera berbunyi.....
Itu telfon dari Pandu.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam, ada apa ndu?"


"Teman-teman kamu bbm aku semua, nanya kamu dimana katanya"


"Iya duh aku binggung nih, ingat bsk kita kemana kan? Nah rencananya itu naik mobil ayahku. Tapi mobilnya abis nyerempet sekarang lagi dibawa ke asuransi"


"Oh jadi begitu ceritanya. Woles dong sayang"


"Apa? Apa? Sayang? Jangan becanda dong Ndu, serius ini"


"Iya iya maaf, nanti aku pinjemin mobilnya abangku"


"Emang kamu boleh nyetir? Katanya gak boleh nyetir gitu sama mamamu?"


"Ya gpp, nanti biar Adrian kesini aja"


"Atau gini aja, abangmu ajak aja sekalian biar ramai gpp"


"Ih ogah ya, tau sendiri abangku itu suka sama kamu. Aku gamau lah dia nanti deketin kamu atau genit-genit kamu"


"Panduuuuu ayolah. Pliiiiis"


"Iya deh nanti aku bilang. Ah males ini sumpah. Kalo gak demi kamu, gak akan aku pertemukan kamu sama abangku"


"Hihi terimakasih ya. Pandu ganteng deh"


"Dih kalo ada maunya aja muji-muji. Tapi emang aku ganteng dari dulu ya haha"


"Yaudah aku kuliah dulu ya ndu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Pandu. dia adalah gebetan Dera dari semester 2. Mereka berdua hanya saling menatap satu sama lain. Dan Pandu baru mengajak berkenalan Dera pertengahan semester 3. Pandu merupakan kakak tingkat dikampusnya, sama-sama anak kesehatan. Perkenalan mereka sudah hampir 8bulan. 


Pandu merupakan laki-laki idaman bagi Dera, walaupun tak begitu tampan, tapi manis dan enak dilihat. Selagi itu dia rajin ibadah merupakan suatu hal positif bagi Dera. Pandu memang tak berusaha untuk menembak Dera walaupun keduanya saling menyayangi satu sama lain dan hampir sering jalan berdua, makan dikantin berdua, sholat berdua di musholla. kadang Dera sering merasa kesal dengan hunungan mereka yang tiada hubungan status yang jelas. Tapi Pandu hanya menjawab "aku tak akan menjadikanmu pacarku, tapi aku akan menjadikanmu istriku" selalu itu yang diucapkan Pandu saat Dera mulai kesal padanya. Tapi Dera diam, dia tau maksud baik Pandu, tapi dia tak tahan dengan temannya yang mulai mengejeknya dan terus melakukan pembelaan.


Drrrrrt
Hp Dera berbunyi. Itu sms dari Pandu.


From: Pandu^^

Jadi pakai mobilnya abangku, seperti yang kuduga saat aku menceritakan kita mau ke bromo. Dia semangat sekali, pasti gara-gara ada kamu-_-


To: Pandu^^
Jangan suudzon gitu dong:)


From: Pandu^^
Iya enggak, tapi aku curiga dia mengiyakan begitu saja.


To: Pandu^^
Loh kok gitu lagi sih? Insyaallah abangmu memang pengen liburan. Positif thinking aja lah;)


From: Pandu^^
Haduh kalo sama abangku yang menyangkut kamu, bawaanya selalu nethink-_-


To: Pandu^^
Posthink dong:*


From: Pandu^^
Dikasih emoticon cium:3 Mau dong lagi:*


To: Pandu^^
Dih itu emoticon biar kamu semangat:) Kamu packing sana buat besok. Bawa jajan yang banyak:3


From: Pandu^^

Emot ciumnya mana?:( kalau ada maunya emoticonnya manis-manis. Yaudah ayuk belanja dulu ke Giant Rajawali dekat rumahmu. Oke?


To: Pandu^^
Ah males ah kamu aja yang beli deh kamu gak ada kuliah emang? Aku pulang jam 5.


From: Pandu^^
Ini mau pulang. Aku jemput nanti. Mau nebeng tidur dulu aja di kos temen. 3jam lagi bangunin oke?


To: Pandu^^
Siap pak bos:3


-


From: Dera
To: Talita, Tia, Yuna, Adrian

So sorry guys tiada kabar. Aku udah nemu mobil ini, pakai mobil abangnya Pandu. Kita ketemu dirumahku besok ya tetep jam itu juga. Hihi
Thankyouuu:****


Semua balasan sahabatnya hampir menjawab "alhamdulillah" dengan tambahan kata-kata lain. Dera ada kuliah kuliah beberapa menit lagi dan langsung bergegas sholat dhuhur di Musholla, kemudian melanjutkan makan siang di Pujasera dengan teman-temannya.


****


Keesokan harinya.....
Dera benar-benar badmood karena sahabatnya pasti sudah melanjutkan packingnya. Karena sahabatnya mulai libur dari 2 minggu kemarin. Dan dia mulai libur senin besok.


Tepat jam 4sore, Dera baru menyelesaikan mata kuliahnya. Dan baru mengabari teman-temannya.


From: Dera
To: Talita, Tia, Yuna, Adrian

Plis ontime ya guys. Abis sholat isya langsung kerumah. Jangan malem-malem kasian yang nyetir. Kalo bisa sholat isya nya nanti dirumahku aja. See you guys!{}


Adzan Magrib sudah berkumandang, Pandu dan Abanya-Rasta datang terlebih dahulu. Wajah kaget tergambar jelas di wajah orangtua Dera, putrinya keluar dengan 2 laki-laki. Dera tertawa dan mengenalkan kedua laki-laki itu pada Mama dan Ayahnya.


Satu persatu teman-temannya mulai datang, kecuali si Talita dan Surya. Adrian berusaha menghubungi Talita ataupun Surya. Surya merupakan teman mereka dari SMA. Dan menyukai Talita dari kelas 3 SMA, namun baru jadian semester 3 pas kuliah. Cara mereka pacaran cukup unik dan lucu, sifat Talita yang seperti kecil dan Surya yang suka bercanda dan sering menggoda.


"Kamu dimana lit?" Tanya Adrian via telpon.


"Sorry yan, ini lagi nunggu surya belum jemput juga"


"Cepet kali, udah mau isya" omel Adrian


"Iya iya sebentar lagi"


Talita benar-benar kesal terhadap Surya bisa-bisanya gak on time. Padahal ini sudah hampir jam 7. Tepat jam 7 lebih 5menit wajah Talita sudah tak enak.


"Kenapa telat sih?" Tanya Talita kesal.
"Sorry tadi ada masalah sedikit. Dan kamu tau juga rumahmu dan rumahku jauh beb" jawab Surya pelan merajuk ke kekasihnya itu. Talita hanya terdiam melihat sinis dan langsung menaiki motor Surya.


"Jangan ngambek gitu dong beb, nanti tambah cantik" ucap Surya sambil mencubit pipi Talita, namun Talita tetap tak bersuara.


Mereka pun berdua langsung melesat dengan sepeda motor Surya dengan cepat. Tak sampai 10menit sampai ke rumah Dera. Memang semua orang meledek kearah Talita saat dia telat datang. Dia terdiam, wajahnya menunjukkan raut tak enak.


"Dia lagi ngambek sama aku, makanya dia diem aja tuh" goda Surya
"Ciyee ciyeee" goda Yuna
"Eh itu ayam ya?" melihat laki-laki disamping Yuna "nama aslinya siapa bro?" lanjut tanya Surya.
"Aris" ucap laki-laki disamping Yuna lalu menjulurkan tangan ke Surya.
"Surya" menjabat tangan Aris
"Ayo berangkat guys" ajak Dera
"Eh itu 2 laki siapa Ra?" tanya Surya lagi yang melihat laki-laki yang berdiri disamping Dera.
"Nanti aja deh kenalannya di mobil. Nanti gantian ya Sur, Yan, yang nyetir" ucap Dera
"Siaaap bos" jawab keduanya


****


Jam 02.30 mereka sudah mulai berangkat mendaki ke gunung bromo. Dengan pakaian mereka yang mulai tumpuk baju, jacket, sweater, beanie hat dikepala masing-masing, sarung tangan, kaos kaki panjang, sepatu kets. Dan untungnya semua perempuannya memakai jilbab jadi hangatnya lebih aman. Para lelaki hanya terlindung dengan hoodie dan beanie hat yang dipakai mereka.


Mereka sampai jam 12 malam di bawah kaki gunung bromo, kemudian menyewa penginapan. Menyempatkan tidur sebentar. Menyimpan energi untuk mendaki nanti melihat sunrise.

Tampaknya Talita sudah tak marah lagi dengan Surya.


"Beb, dingin" ucap Talita manja
"Sini peluk beb" goda Surya sambil membuka tangannya.
"Siapa yang minta peluk? Pikirannya itu loh" sahut Talita kesal kembali.
"Abisnya kode banget sih beb" ucap Surya terkekeh.


Sahabat-sahabatnya hanya tertawa melihat tingkah mereka yang kadang ngambekan kadang sayang-sayangan. Mereka berdua memang jalan didepan sendiri karena hanya Surya yang sudah sering mondar-mandir dengan teman-teman pencinta alamnya.


"Kak, jangan dekat-dekat Dera dong. Dia udah milih jalan sama temennya. Jangan genit deh" teriak Pandu dari barisan paling belakang, melihat kakaknya yang berjalan mendekat ke Dera.


Sontak membuat semua sahabat Dera menoleh kearahnya. Dera hanya tersenyum menggeleng-geleng.


"Gila lo Der, direbutin kakak sama adik" bisik Adrian yang berjalan diantara Dera dan Tia.


"Apasih dek, gausah berlebihan gitu" jawab Rasta ketus


"Yaudah istirahat dulu aja, masih jam 3an. 10menit lagi ya" sahut Surya.


Semuanya beristirahat duduk melingkar sambil minum.


"Nih Ndu, minummu" ucap Dera memberikan air mineral pada Pandu. Langsung seketika itu langsung direbut oleh Rasta.


"Apaan sih kak? Males ya harus tengkar sama kakak disini" jawab Pandu ketus. Rasta hanya terdiam sambil meminumnya.


"Yaudah ini minum punyaku aja, Ndu" ucap Dera tersenyum sambil memberikan air mineralnya yang diminumnya tadi ke Pandu.


Rasta kaget melihat itu, ingin rasanya mengambil air mineral itu dari adiknya. "Bibir mereka bertemu jika minum dalam satu botol!" Makinya dalam hati. Ada rasa sesal dalam hatinya, kenapa dia tak bisa mendapatkan hati Dera dengan mudah.


Perjalanan dilanjutkan, masih dengan format jalan yang sama. Berjalan mendaki dengan pendaki yang lain. Semakin pagi semakin dingin cuacanya. Talita mulai merangkul Surya tak tahan dingin. Begitu pula dengan Yuna yang sejak tadi tenang dengan Aris. Mereka sudah berpelukan dari pertama berangkat, Aris benar-benar menjaga Yuna.


Sampailah dimana batas semua orang dapat melihat matahari terbit. Suasana tampak ramai, banyak muda-mudi yang datang karena bertepatan dengan liburan anak kuliahan. Matahari belum menunjukkan wujudnya dan sinarnya, tapi orang-orang semakin banyak berdatangan.


Pukul 05.13 WIB

Matahari mulai menampakkan dirinya, satu kata "indah". Semua orang sibuk mengabadikan peristiwa ini dengan kameranya tanpa menikmati sendiri dengan mata mereka. Pandu mendekati Dera yang sedang bersama Adrian dan Tia. Dia memegang tangan Dera dan menariknya kebelakang.


"Ada apa, Ndu?" tanya Dera kaget
"Kau lihat si Talita dan Surya?" tanya Pandu, Dera mengangguk "kau lihat Yuna dan Aris?" tanyanya lagi, Dera kini mengalihkan pandangan ke Yuna dan Aris.


"Memangnya kenapa?" Tanya Dera penasaran menatap lekat mata Pandu.
"Kamu selalu menginginkan kita seperti mereka kan? Kamu selalu meminta kejelasan hubungan kita kan?" ucap Pandu sambil memegang kedua tangan Dera.


Mereka saling menatap begitu dalam, wajah mereka sangat dekat. Dera melihat mata Pandu yang begitu menenangkan dan menghangatkan itu. Dera begitu binggung dengan yang diucapkan Pandu.


"Aku sayang sama kamu. Aku cinta banget sama kamu saat kita pertama kali bertemu. Aku ingin kamu selalu ada buatku, selamanya. Kamu mau jadi kekasihku?" tanya Pandu yang semakin erat mengenggam tangannya


Dera tak menyangka, kali ini dia tak memaksa Pandu untuk menyatakan cinta padanya. Dia sungguh kaget, seseorang yang didepannya, menyatakan cinta ditempat dan waktu yang indah seperti ini. Dera hanya mengangguk tersenyum.


"Kamu tau, aku bahagia sekali hari ini. Aku tak memaksamu untuk menyatakan cinta kepadaku. Semua ini keluar dari mulutmu tanpa aku suruh. Terimakasih" ucap Dera dengan mata yang berkaca-kaca.


Pandu hanya tersenyum kepadanya. Pandu langsung memeluk Dera dengan tubuhnya yang kecil. Hangat. Dera merasakan jantungnya berdebar begitu cepat dan ia juga merasakan tempo jantung Pandu yang sama dengannya.


KLIIIIIK!


Suara kamera SLR Adrian mengabadikan pelukan antara Dera dan Pandu. Sontak Pandu dan Dera melepaskan pelukannya.


"Asiiiiiik, pasangan baru nih. Bagus deh ada pemandangan mataharinya. PJ ya Ra" celetuk Adrian girang.
"Wah apaan lo, Yan. malu-maluin aja sih" teriak Dera.


"Boleh liat gak, Yan?" Tanya Pandu mendekat kearah Andrian. Adrian melihatkan hasil jepretannya "Bagus, nanti kirim ke aku ya" lanjutnya


"Yang pasti baguslah, fotografernya siapa dulu" jawab Andrian bangga


Dera kemudian teringat kalau disini ada abangnya Pandu, Rasta yang juga mencintainya. Dia merasa tak enak padanya. Dia melihat Rasta menjauh dari segerumbulan mereka.


"Ndu upload video instagram yuk" ajak Dera


"Hai, we're in bromo with my best friend and my first new boyfriend. Say hai dulu dong ndu" kemudian Pandu langsung mencium pipi Dera "omaigat panduuuu"

Durasi video habis. Kemudian Dera mengunggahnya dalam akun instagram dan pathnya.


"Ayo balik guys udah jam 6pagi. Kita turun" ajak Yuna dan mendapat anggukan setuju dari yang lainnya.


Semuanya turun dengan pasangan masing dan masih dengan format yang sama. Surya dan Talita didepan sedang Pandu dan Dera berada dibelakang sendiri.


"Ndu, aku punya ide deh. Deketin abangmu sama Tia aja gimana?" Bisik Dera.
"Dia gak punya pacar emang?" Tanya Pandu
"Gak kok, kamu inget gak pas aku ngajak Tia ke kampus mau kenalin dia ke kamu? Kamu bilang dia adekku, padahal ya tuaan Tia. Mungkin karena badan Tia yang lebih kecil dari aku" jelas Dera tersenyum.
"Terus?"
"Kan dia mirip sih sekilas sama aku, ya kali biar move on nya cepet" pekik Dera karena Pandu masih tak paham dengan maksundya.
"Jadi pelarian dong temenmu? Gak kasian?" Tanya Pandu


Dera langsung terdiam, menimbang kata-kata Pandu dan itu ada benarnya. Kemudian Dera dengan wajah memelasnya kearah Pandu, agar setuju dengan idenya.


"Lucu sekali kamu sayang" ucap Pandu mencubit pipi Dera "kalau ada apa-apa aku gak ikutan ya" lanjutnya
"Ih gak asik banget, masa pacarnya disuruh nanggung sendiri" sahut Dera mengerucutkan bibirnya.
"Haha iya iya bawel banget sih" ucap Pandu sambil mengusap kepala Dera


Di Penginapan....
Rasta duduk didepan teras penginapan dengan pikirannya sendiri. Dera menghampirinya sambil membawa teh hangat. Sebenarnya dia tak yakin harus mendekati Kak Rasta.


"Jangan ngelamun kak, nanti kesambet loh" goda Dera tersenyum kearahnya.


Rasta hanya menoleh datar "Kalau kamu kesini cuma ingin pamer, mending pergi aja" sahut Rasta ketus


Dera hanya tersenyum "Boleh duduk?" tanya Dera. Rasta hanya mengangguk, Dera duduk disampingnya hanya jarak 50cm.


"Mau minum kak? Ini tadi aku buatin buat Pandu tapi dia gak mau. Yaudah aku bawa kesini ajah" jelas Dera


"Jadi aku dikasih bekasnya Pandu?" Tanyanya lagi masih dengan nada ketus.
"Loh bukan begitu maksudnya, daripada mubadzir. Kalo gak mau minum juga gpp kok kak" ucap Dera.


Rasta langsung menyeruput teh hangat itu karena memang cuacanya dingin sekali. Apalagi dibuatkan oleh seseorang yang dicintainya yang kini menjadi kekasih adiknya sendiri. Sebenarnya Dera berbohong teh itu memang untuk Rasta bukan bekas Pandu.


"Boleh ngomong kak?" tanya Dera. Rasta hanya mengangguk.


"Kak, coba deh liat Tia" ucap Dera sambil menunjuk Tia yang sedang asyik berfoto dengan sahabatnya yang lain "banyak yang bilang dia mirip aku, termasuk Pandu" lanjutnya. Rasta langsung menoleh kearah Dera dan Tia mencoba menganalisa.


"Eh iya ya, gak nyangka kayak saudara kembar" jawab Rasta terkekeh.
"Nah kenapa kakak gak nyoba deketin dia kak? Dia cantik loh, cantikan dia daripada aku. Orangnya buaiiiiik banget" sahut Dera tersenyum. Rasta terkaget mendengar perkataan yang diucapkan Dera.


"Maksudmu apa?" tanyanya tegas
"Kakak kenalan lebih dalam aja sama dia, dia gapunya pacar kok. Anaknya juga mau kebuka, yang deketin juga banyak" jawab Dera tersenyum lagi, dia sudah tak tau mau bagaimana lagi.


"Apasih dek? Kok kamu jodoh-jodohin aku sama temenmu?" Tanya Rasta dengan malu-malu.
"Deraaaa kita foto dulu yuk" teriak Tia
"Bentar ya kak, diajak foto sama calon jodoh kakak" goda Dera cekikikan.


Dera pergi meninggalkan Rasta yang sedang duduk di teras. Rasta melihat punggung Dera yang semakin jauh. Tertawa bersama teman-temannya. Dalam hatinya "tuhan apakah aku dapat mencintai seseorang lagi selain Dera". Tuhan sepertinya langsung menjawab pinta Rasta, matanya tiba-tiba mengarah pada Tia. Gadis yang memiliki kemiripan dengan Dera, terlihat dia sangat cantik natural dari pandangannya.


Pukul 16.00 WIB
"Kita pulang abis isya aja ya ya please" ajak Yuna memelas ke teman-temannya.
"Eh iya kan kita nyewa penginapan juga 24jam, rugi kalau pulang cepet" sahut Tia
"Ayo jalan-jalan lagi" sahut Adrian
"Boleh-boleh liat matahari terbenam" sahut Dera kegirangan.
"CUS!" Seru Talita melakukan high five dengan teman-temannya.


Setelah bersiap-siap ke sembilan orang itu bersiap-siap untuk melihat sunset. Walaupun kakinya sudah sangat lelah karena tadi harus menaiki kawah tanpa naik kuda dan harus berjalan kaki. Tapi mereka masih semangat untuk melihat pemandangan matahari terbenam, ciptaan Tuhan yang begitu indah.


Mereka semua mencari warung jagung bakar di pinggiran bromo, untuk menghangatkan tubuh mereka. Jujur sangat dingin ketika malam hari. Setelah menemukan warungnya, mereka duduk melingkar.


"Eh liat deh abangmu sama Tia akrab kan?" bisik Dera pelan pada Pandu yang melihat Tia duduk bersebelahan dengan kakak kekasihnya itu.
"Hebat kamu sayang, ngomong apa aja kamu?" Sahut Pandu sambil tertawa pelan.
"Rahasia dong, salah sendiri gak bantu" ucap Dera lalu menjulurkan lidah meledek kearah Pandu.

"Tapi aku kasian sama Adrian jadi gaada temen ngomongnya" Celetuk Dera pelan saat menyadari Adrian terdiam sendiri menatap layar kameranya.
"Ada gitu loh, daritadi kita bercanda terus" Sahut Pandu yang melihat kekhawatiran kekasihnya ini.
"Tapi kamu liat deh jika semua sudah sibuk ngobrol sama pasangan masing-masing. Aku jadi gak enak sama dia" jawab Dera terus memandang Adrian.
"Yaudah kita ajak dia ngobrol juga, santai dong" sambil memeluk pundak Dera, menenangkannya.


"Kita liat sunset yuk" ajak Dera sambil menarik tangan Adrian dan Pandu
"Ayoooooooo" teriak semuanya


Merekapun keluar dari warung dan membayar tagihan. Semua bergegas mencari tempat yang viewnya bagus untuk melihat matahari terbenam. Dan harus mendaki sedikit keatas untuk menemukan tempat yang bagus walaupun bukan tempat untuk melihat sunrise.

Sampailah mereka pada tempat dimana banyak perkumpulan muda-mudi seusia mereka. Ada yang rombongan, ada pula yang pasangan. Ketika itu Surya mengajak Talita ke tempat berbeda, begitu pula dengan Yuna dan Aris yang mulai bubar masing-masing. Sempat Pandu mengajak Dera ikutan misah, tapi Dera lebih memilih stay duduk disamping Adrian.


Matahari mulai tenggelam pelan, Adrian mulai mengabadikan moment itu dengan kameranya. Dia sama sekali tak terganggu, padahal kedua tangannya dipeluk oleh Dera dan Tia sambil kepala mereka berdua bersender dipundaknya. Padahal disamping Dera ada Pandu, dan disamping Tia ada Rasta.


"Sudah lah guys, kalian itu jangan nempel aku mulu. Disamping kalian itu juga ada orang. Kalian boleh pergi kok, aku disini sendiri gpp kok. Pergi aja" jelas Adrian sambil tersenyum.
"Gak usah lah, aku tetep disini sama kamu. Memang tangan kananku melingkar ditanganmu tapi tangan kiriku memegang jari Pandu. Liat nih" ucap Dera sambil tersenyum menunjukkan tangan kirinya
"TIA, DERA! Pergi!" Pekik Adrian memelankan suaranya


"Yaudah kita pergi ya" pamit Rasta memegang tangan Tia. Tia hanya mengangguk pasrah.


Adrian hanya mengangguk "Dera? Pandu?" tanyanya, Dera menggeleng dipundak Adrian.


"Dera, ayo Adrian juga gpp kok" ajak Pandu
"Pandu!" bentak Dera. Pandu terdiam seketika saat dibentak Dera


"Dera, pergilah. Kamu gak boleh begitu dengan Pandu" jelas Adrian tersenyum.
"Aku janji cuma bentar. Nanti kesini lagi. Bye" pamit Dera melepaskan pelukan pada lengan Adrian.


Dera sangat marah, kesal dan tak enak terhadap Pandu akibat membentaknya tadi. Mereka duduk tak jauh dari Adrian.


"Der" "ndu" ucap keduanya bersamaan.
"Aku minta maaf" sahut Pandu tersenyum menyesal.
"Aku juga minta maaf" ucap Dera memeluk lengan Pandu.
"Kamu tak salah, aku yang salah. Aku tau kamu merasa tak enak pada Adrian" Sahut Pandu mengusap lembut kepala Dera. Dera menganggukkan kepalanya.


Matahari sudah tenggelam, sedari tadi awan berwarna oranye sudah gelap. Dan adegan yang sama terulang, semua orang sibuk mengabadikan sunset dengan kameranya, bukan melihat langsung. Dera dan Pandu menghampiri Tia dan Rasta, setelah melihat beberapa orang membubarkan diri.


"Cieeeee udah akrab cieeee" goda Dera
"Apaan sih?" Sahut Tia malu-malu
"Duduknya deketan lagi. Gerak cepat nih kak?" goda Dera sambil tertawa cekikikan. Rasta hanya tersenyum.


"Ayo ke Adrian, kasihan dia sendirian" ucap Dera


Mereka menghampiri Adrian. Wajahnya pucat, badannya menggigil, bibirnya membiru, kameranya jatuh ditanah. Dia memeluk kakinya.


"Yan" teriak Tia
"Peluk Adrian Tia" ucap Dera langsung berlari bersama Tia kemudian memeluk Adrian.
"Yan maafin kita" ucap Tia
"Astagfirulloh yan, maaf kita egois" sahut Dera yang mulai panik


Teriak Tia tadi benar-benar membuat kaget semua orang disekitarnya. Yuna dan Talita langsung berlari kemudian ikut memeluk Adrian.


"A... Ku... Gpp guys" jawab Adrian dengan bibir yang bergetar kedinginan.
"Apanya yang gpp sih yan" bentak Yuna

Talita mulai terisak sehingga mebuat Dera, Tia dan Yuna ikut menangis terharu.


"Terimakasih guys, sudah hangat sekarang" jawab Adrian "kalian gak kasian sama pacar-pacar kalian?" Tanya Adrian dengan keadaan seperti ini masih memikirkan hal itu.


Semua sahabat Adrian yang memeluknya menggeleng kompak, mereka merasa bersalah meninggalkan Adrian sendirian dan asik dengan sendirinya. Rasta, Pandu, Surya dan Aris disana hanya duduk binggung apa yang harus dilakukan.


"Guys, kasian pacar kalian. Jangan berlebihan begitu. Aku sudah gpp. Lepasin ya" ucap Adrian yang mulai meronta


Akhirnya mereka melepaskan pelukannya, tapi Dera dan Tia tetap melingkarkan tangan mereka pada lengan Adrian. Sedangkan Yuna dan Talita memegang telapak tangan kanan dan kiri Adrian. Sesekali Yuna menggosok kedua tangannya, kemudian menempelkan pada wajah Adrian.


"Terimakasih guys, aku tak menyangka kalian masih peduli terhadapku. Kita memang sahabat selamanya. Terimakasih sekali lagi" ucap Adrian dengan mata berkaca-kaca.


Semua sahabat perempuan Adrian malah menangis mendengar perkataan itu.


"Ris, tolong kamu turun ya, belikan teh hangat. plisss" suruh Yuna
"Iya kek, sama Surya aja belinya" ucap Talita


"Astaga dari dulu emang lebay lo!" Ketus Surya melirik sinis kearah Adrian.


"Surya" bentak Tia yang menyipit kerahnya termasuk Talita, Dera dan Yuna.


"Ndu, kamu juga ikut turun ya. Sekalian belikan minum. Haus" ucap Dera sambil nyengir kuda.
"Nah kan daripada nganggur kalian gak ngapa-ngapain mending gitu aja, turun kebawah" jelas Tia
"Iya iya duh repot deh" celetuk Surya
"Yang ikhlas Surya" celetuk Yuna
"Terimakasih semua sudah mau membantu" sahut Adrian pelan.


Semua lelaki itu pergi kebawah dengan wajah tak enak, pacar mereka lebih memperhatikan Adrian sampai sebegitunya. Tapi dibalik itu mereka sadar, Adrian lebih mengenal dalam perempuan mereka, Adrian mengenal lebih dahulu. Mereka juga tak enak pada Adrian. Ada rasa cemburu dihati mereka, tapi berusaha ikhlas.


"Guys, entahlah ini akan sampai kapan kita kayak gini. Aku harap ini selamanya ya buat kita, kalian masih memperdulikan sahabat kalian. Aku bangga sama kalian. Di tempat indah ini, untuk pertama kalinya kita berpelukan bersama dan menangis bersama karena sahabat. Bahkan kalian lupa kalau ada pasangan kalian disini. Terimakasih pengorbanannya. I love you guys" jelas Adrian.
"I love you to" jawab semuanya kompak lalu memeluk Adrian bersamaan.