Jumat, 28 Agustus 2015

Dua Hati

"Daraaaaaaa banguuuuun!!!" Teriak Mya yang langsung berlompat di kasur
Dara yang baru tertidur jam 2 pagi rasanya tak kuat membuka matanya.
"Daraaaa plis gawaaaaaat!"
"Hhhhh? Hhhh?" Sahut Dara seadanya
"Bangunlah sebelum dia kesini!"
"Apasih Mya?" Keluhnya masih terpejam

Mya adalah sepupu Dara, mereka hanya beda 8 bulan dengan Mya yang paling tua. Rumah mereka pun berhadapan, bahkan dari TK sampai kuliah pun selalu bersama walaupun beda jurusan kuliah. Pagi hari ini Mya kedatangan tamu, kaget bukan main atas alasan kedatangan tamu itu.

Sepasang suami istri dan anaknya laki-laki datang ke rumah Mya ingin menjodohkan anaknya dengan Mya.

"Gak mau Ma, aku belum lulus kuliah!" Bantah Mya
"Mya jangan malu-maluin deh" bisik Mama Mya sungkan
"Gak mau ya Ma! Gak mau pokoknya! Mending jodohin sama si Dara tuh yang abis gini wisuda!" Ucapnya
"Maaf maaf ya buk, pak" ucap Papa Mya
"Dara anak pak Mahmud?" Tanya pak Irfan
"Iya pak, seumuran si Mya juga. Maaf ya anak saya belum siap, nanti saya antarkan ke rumah pak Mahmud, insyaallah si Dara mau coba, dia kan ambil D3 setelah ini wisuda" ucap papa Mya
"Silahkan di minum dulu pak Irfan, Bu Irfan, Andra" ucap Mama Mya

Mya langsung berlari kearah rumah Dara, Bu Mahmud sempat menanyakan ada apa dengannya dan harus berlari seperti orang ketakutan. Dia hanya melengos saja.

Mya masih berusaha membangunkan Dara dengan mengoyang-goyangkan badannya.

"Daraa lu bangun dah sumpah!"
Dara membuka matanya sedikit "masih jam 8 oy! Setengah jam lagi" ucapnya terlelap lagi
"Abis dari mana sih lu Ra?"
"Aaaaah berisik tau gak sih!" Ucapnya menutupi tubuhnya dengan Selimut
"Ah padahal gw mau cerita yang menyangkut lu juga Dara!"
"Apa? Sini gw dengerin" ucapnya setengah sadar
"Tadi kan gw udah bilang kalau rumah gw ketamuan, lu tau temen kecil kita Andra? Masih inget gak?"
Dara mengangguk "hhhh insyaallah"
"Serius ini Dara! Dengerin gw!"
Dara mengangguk masih dengan mata terpejam
"Masa si Andra mau dijodohin sama gw! Ya gw tolak aja, soalnya gw mau kuliah dulu, terus gw bilang suruh dijodohin sama elu ajah" jelasnya
"Ohhhh" ucap Dara ngelantur "HAH? WHAAAT?" Kagetnya tersadar "ah lu gila ya Mya, sama kayak bunuh gw sedikit-sedikit" ucapnya
"Duh sorry ya Dar, gw gak ada pilihan lain"
"Terus orangnya dimana sekarang?"
"Masih di rumah gw kayaknya, atau mungkin sudah di ruang tamu lu" ucap Mya tersadar
"Yaudah gw mau lanjut tidur ya, kali aja dia ilfeel sama gw terus gak mau di jodohin sama gw. Bye! Mending lu temenin dia deh" ucap Dara menutupi dirinya kembali dengan selimut

Kedua orangtua Andra sudah memasuki rumah Dara, orang tua Dara pun sama kagetnya dengan maksud dan tujuan mereka datang.

"Kalau saya terserah Dara nya sendiri pak Irfan" ucap Papa Dara
"Dara nya kemana pak?"
Pak Mahmud tersenyum "Dara nya masih tidur pak Irfan, tadi pagi jam 2 baru pulang dari Malang sama abangnya" ucapnya sungkan
"Tapi kayaknya tadi Mya masuk ke kamarnya sih, mungkin sudah dibangunkan oleh Mya" sahut Mama Dara
"Boleh saya tau kamar Dara tante?" Tanya Andra tiba-tiba
"Pojok sendiri, dikamarnya ada tulisan Dara Room's"
"Terimakasih, saya boleh izin kesana?"
"Silahkan nak"
"Andra?" Tanya mamanya
Andra hanya tersenyum dan berjalan menuju kamar

"Dar! Dara! Sepertinya ada yang mau masuk kamar lu" ucap Mya
"Hhhhhhh" sahut Dara

Andra membuka pintu kamar Dara. Dia melihat-lihat foto Dara dan Mya yang tertempel di tembok kamar Dara, sambil melihat-lihat isi kamar Dara yang berantakan.

"Halo Andra" sapa Mya nyengir
"Dara?" Tanyanya
Mya hanya menunjuk selimut, dan dengan sigap Andra membuka selimut itu.
"Myaaaaa, jangan ganggu deh. Dia masih dirumah lu kan, gw ngantuk bener deh sumpah, 15 menit lagi deh" keluh Dara manja dengan mata terpejam dan menutupi dirinya kembali.

"Dara?" Sapa Andra
Suara itu berbeda dengan suara Mya, dia berusaha membuka matanya.
"Kamu siapa? Kok masuk-masuk kamar orang sih? Gak sopan banget jadi orang" ucap Dara setengah sadar dengan mata merem-melek
"Dara, itu Andra!" Bisik Mya
"Whats? Lu kok gak bisa sih? Wah lu bener-bener mau bunuh gw ya?" Celoteh pelan Dara
Andra tersenyum dan menggeleng
"Keluaaaar!!! Gw gak pake jilbab! Muka gw kucel" teriak manja Dara
"Gpp kali Dar, kan aku ntar jadi suami kamu juga"
"Hah? Lu gila ya? Jadi perjodohan ini beneran? Myaaa lu bener-bener ya!" Sanggah Dara
"Sorry" ucap Mya nyengir
"Kamu mandi gih" suruh Andra
"Hah? Iya iya. Tapi silahkan keluar dari kamar saya, gak mungkin kan kamu disini pas aku ganti baju"
"Ya aku disini lah" goda Andra
"Wah gesrek juga otak ini anak, pantes sama lu Dara!" Sahut Mya cekikikan
"Ya gak lah, aku keluar kok" ucapnya sambil keluar kamar

Dara pun segera masuk kamar mandi dengan setengah mengantuk, tapi rupanya wajah Andra membuatnya terbangun.

"Lumayan juga sih orangnya, gak jelek-jelek amat. Lagian udah bosen pacaran juga" ucapnya "eh kenapa gw ngomong gini ya? Daraa plis ya!" Lanjutnya mengoceh

Setelah selesai mandi, dia memakai rok panjang warna biru baju kaos standar dan cardigan warna hitam. Dia keluar dari kamarnya dan menemui orangtua Andra.

"Pagi Om, Tante" ucap Dara bersaliman
Orang tua Andra hanya mengangguk.
"Dara jilbabnya kemana?" Bisik papanya
Dara hanya tersenyum
"Sebelumnya saya minta maaf tante om karena saya gak pakai jilbab, ini saya lakukan karena Andra sudah melihat saya gak pakai jilbab. Dan saya juga minta maaf karena telat menemui, dan mungkin sudah dijelaskan oleh mama saya bahwa saya tertidur karena abis luar kota, kalau bukan Andra yang bangunin saya gak bakal bangun" lanjutnya
"Jadi begini Dara..." Ucap pak Irfan
"Saya sudah tau om" ucapnya memotong pembicaraan "maaf saya memotong pembicaraan om, saya sih terserah aja, ngikut alur yang ada. Tapi karena awalnya yang dijodohkan Mya dengan Andra, jadi kita tanya Andra mau gak sama saya?" Tanya Dara
"Andra?" Tanya Pak Irfan
Andra tercengang mendengar semua ucapan Dara "aku ngikut papa mama ajah" ucapnya
"Bagaimana Dara?" Tanya balik pak Irfan
"Saya sih mau aja. Tapi, saya mau dalam tanda kutip Om, saya mau menjalani dulu, ini bukan jaman Siti Nurbaya kan? Saya ingin kenal Andra lebih dalam dulu, bagaimana dia?"
"Eh..." Potong bu Irfan
"Tenang Tante, mungkin Tante akan bilang kan lebih baik mengenal saat sudah menikah nanti, saya gak sepenuhnya percaya akan pernyataan itu. Saya gak ingin pernikahan yang tergesa-gesa, saya masih muda, Andra pun sama. Saya gak ingin nanti saat sudah menikah ada ungkapan "gw nyesel udah nikah sama lu" menurut saya kata-kata itu lebih jahat dari kata "kita putus" jadi biar Andra kenal saya dulu, dan Saya kenal Andra dulu. Semacam taaruf tapi lebih dari itu"
"Gila lu ye ngomong panjang lebar, sampe mereka tercengang liat lu ceramah" bisik Mya
Dara hanya tersenyum
"SETUJU!" Celetuk Andra
Kedua orang tuanya langsung menoleh kearahnya
"Deal?" Ucap Dara memberikan tangannya
"Deal!" Sahut Andra menjabat tangannya

Kedua orang tua mereka akhirnya mengerti apa yang diinginkan mereka. Sudah saatnya perjodohan jaman sekarang berubah dengan anak yang berbicara untuk menentukan jodohnya, jodoh itu soal pilihan dan nasib yang akan diberikan tuhan.

"Ternyata Dara menurun jiwa politiknya pak Mahmud ya, ngomongnya pinter banget" ucap Pak Irfan
Pak Mahmud hanya tersenyum "iya pak, anak saya itu memang sering berdebat dengan dosen atau temannya. Jiwa politik dan sosialnya juga tinggi, dan lagi dia komting di kelasnya pas kuliah jadi sudah terbiasa ngomong" ucapnya
"Hehe iya Om, maaf ya jadi ngomong panjang lebar, abisnya saya syok aja tiba-tiba yang dijodohin saya kan aslinya Mya" sahut Dara

Semua orang disana tertawa cekikikan, bercanda bersama, mengenang masa lalu anak-anak mereka waktu kecil dsb.

*****

Seminggu kemudian....

Andra dan Dara sudah mulai dekat dan mengenal satu sama lain walaupun hanya melalui media sosial. Hari ini rencananya mereka akan bertemu dan mengobrol langsung.

#BBM
Dara, ntar kamu aku jemput apa gimana?
Kayaknya nanti mau ajak si Mya, nanti tak hubungin lagi ya
Ok

Jam 15.00
Dar bagaimana?
Si Mya lagi keluar, katanya mau nyusul.
Jadi?
Jemput ya hehe
Ok, 30 menit sampe rumahmu.
Siap! Mamaci:3
:)

30 menit kemudian...
Andra datang dengan mobilnya, picanto warna silver. Dia masuk ke rumah Dara dan meminta izin mengajak Dara keluar dengan orang tuanya.

"Lu orang kaya ya?" Tanya Dara
"Ngak kok"
"Lah plat nomer mobil lu, pakai nama lu sendiri"
Andra hanya tersenyum "Dara, kan aku sudah bilang jangan ngomong lu lu gw gw ya"
"Okay. Sorry" ucapnya nyengir 

Dara pun masuk ke mobilnya Andra. And well, Satu kata untuk mobilnya 'Rapi'. Mereka pergi ke Domicile Kitchen Longue And Restaurant.

"Are you sure kesini?" Tanya Dara
"Iya" ucapnya tersenyum
"Gila ini anak senyum terus" ucapnya dalam hati "tapi gw, ups sorry aku gak bawa duit banyak ini, tadi gak sempet minta, palingan ntar cuma bisa beli ice tea doang, cari lain deh yang murahan dikit dari sini"
"Sudah tenang, aku yang bayarin. Disini tempatnya bagus loh, romantis"
"Ya sih tau, tapi ya, ah yasudah terserah"

Andra pun memarkirkan mobilnya, dan mereka segera turun dari mobilnya. Andra memberanikan diri memegang tangan Dara saat berjalan.

"Andra?"
Dia hanya membalas dengan senyuman.

Sampai akhirnya mereka di meja makan, pelayan sudah datang membawa menu.

"Bisa ditinggal kak, nanti saya panggil saja" ucap Dara
"Kamu mau pesen apa?"
"Hm apa ya? Milk shake coklat sama steak aja deh, kamu gimana?"
"Aku espresso aja deh"
"Loh gak makan?"
"Liat kamu aja kenyang"
"Maksudnya?"
"Udah gpp kamu yang makan sendiri, nanti kan aku bisa minta suapin sama kamu" goda Andra
"Modus ih"
"Eh gini ini kan calon suami kamu"
"Ya kalau mau" Dara menjulurkan lidahnya "kak" sapa Dara kepada pelayan

15 menit kemudian....
Makanan sudah siap di meja, Dara masih sibuk memainkan hpnya.

"Dara dimakan makanannya" ucap Andra
"Iya, ini masih line an sama si Mya"
Andra hanya tersenyum
"Okay, sudah. Mya otw kesini dianterin gebetan barunya, kayaknya kita bakal double date kalau gebetannya mau sih" 
"Yaudah terserah"
"Oya, kenapa si kamu mau dijodohin? Kan kamu laki sih, biasanya paling gak suka sama hal kek gini"
"Kenapa ya? Kayaknya sih sudah males mencari"
"Tapi kenapa lu mau aja dari Mya ke gw"
"Dara?" Ucapnya membenarkan ucapan Dara
"Iya sorry"
"Ya gpp, kali aja Mya bukan jodohku, tapi jodohku kamu kan gak tau"
"Kalau ternyata bukan aku jodohmu gimana?"
"Kita pasrahkan sama yang diatas, tapi ya maunya sama kamu aja sih"
"Kok bisa?"
"Bisa dong, aku kagum sama kamu, kamu itu berani, tegas, blak-blakan, ya walaupun kadang agak gesrek otaknya"
"Haha iya? Terimakasih loh ya. Tapi aku juga kagum sama kamu"
"Oh ya?"
"Iya dong, kamu itu orang yang paling suabaaaar banget, suka senyum, bijak lagi. Belum nemu kekurangan sih, nanti gampang pasti keluar-keluar sendiri"
"Kekuranganku kan ditutupin kelebihan kamu, saling melengkapi kan kita" jawabnya tersenyum
"Ih so sweeet, bikin melting deh" goda Dara
"Yaudah yuk, lanjut makannya"

"Halo Dara, Andra" sapa Mya
"Hai Mya..." Ucap Dara terkaget melihat sosok laki-laki disamping Mya
"Halo Dara" sapa laki-laki itu
"Kenalin ini Ervan" ucap Mya

Keduanya lalu duduk. Dara tau ini salah, dia kenal sekali Ervan, dia mantan dari sahabatnya. Dara menatap tak enak kepada Ervan, begitupun hal yang sama dengan Ervan.

"Gw mau ngomong sama lu Dara, tapi gak disini" tarik Ervan
Andra langsung berdiri menahan Dara, tapi Dara menyakinkan tidak terjadi apa-apa dengannya.

"Gw mohon sama lu Dara, jangan cerita hal yang jelek tentang gw sama Gita ke Mya, lu tau sendiri kan gw gak pernah suka sama Gita tapi lu dan temen-temen lu yang nyuruh gw bertahan sampai 3 bulan, gw ngelakuin apa yang di mau kalian, tapi kali ini jangan buat gw kehilangan Mya, gw suka Mya, so far masih belum ke tahap sayang, tapi gw mohon jangan rusak hubungan gw, dan Gita jangan sampe tau dulu, dia bisa ngamuk ke gw, Mya ataupun lu"
"Iya iya beres, tapi awas lo yah nyakitin saudara gw!"
"Gak bakal. Suweer deh!"

"Hai" sapa Dara "lagi ngomongin apa? Seru banget keknya"
"Yang pasti bukan ngomongin lu lah" sahut Mya ketus
"Kamu gpp Dar?" Tanya khawatir Andra
"Everything its oke Ndra"
"Kamu kenal Ervan dimana Dar?" Tanya Mya sinis
"Wey santai dong, gw gak bakal ambil apa yang lu punya. Tenang aja deh"
"Dara itu temenku, dulu mantannya sahabatku jadi sering keluar bareng, bercandaan bareng, positif thinking ya Mya" ucap Ervan tersenyum
"Ohhh" sahut Mya "tapi serius kan?"
Ervan mengangguk
"Apakah aku pernah bercerita tentang laki-laki yang bernama Ervan kepadamu? Enggak kan Mya? Lu harus percaya sama gw Mya, kita udah bareng dari bayi" sahut Dara
"Iya iya gw percaya"
"Andra?" Tanya Dara yang melihat kearah Andra mulai bete
"Iya percaya" jawabnya

Keempatnya pun saling mengobrol dan bercanda. Terkadang adegan romantis yang dilakukan Mya dan Ervan membuat iri Dara dan Andra. Mereka berdua hanya bisa melihat dan tersenyum-senyum sendiri melihat tingkat Ervan dan Mya.

Saat di Rumah...

#TELEPON
"Dara kamu beneran gak ada apa-apa kan sama Ervan?"
"Jadi itu ya yang menganggu otakmu selama di perjalanan pulang tadi Ndra?"
"Iya maaf, gak ada apa-apa kan?"
"Gak ada Ndra, sebenernya dia itu mantannya sahabatku, dia cuma ingin aku gak ngomong yang jelek tentang dia ke Mya"
"Syukurlah kalau begitu"
"Kenapa? Kamu cemburu ya? Ciyeeee, apa jangan-jangan kamu sudah mulai suka sama aku?"
"Aku sudah suka kamu dari awal kita ketemu"
"Haha pasti lagi bercanda kan? Ya gak sih? Kita masih baru kenal 1 minggu loh"
"Ya kalau suka mau diapain juga suka, aku nerima kamu apa adanya kok, tergantung kamunya aja yang gimana ke aku?"
"Waduh, pertanyaan macam apa ini? Gak mau jawab ah"
"Harus dong jawab, aku juga pengen denger dari kamu"
"Oke. Oke. Sebenernya kalau yakin sama kamu itu masih belum, tapi kalau nyaman sama orang sabar dan baik hati kayak kamu itu udah 80%"
"Ya gpp, nanti kutunggu kok sampai kamu suka sama aku beneran"
"Iya deh amin haha"
"Yaudah aku mau ngerjain tugas dulu ya"
"Siap! Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"

****

Keesokan harinya....

"Daraaaaa!!" Teriak Mya membangunkan Dara
"Lu tuh berisik banget deh sumpah!" Ucap Dara
"Bangun kek, lu jangan molor terus, lu gak sholat subuh ye?"
"Berisiiiiiik! Sholat lah tapi tidur lagi" ujarnya nyengir
"Lu beruntung banget dapet Andra, asli dia anaknya asik banget, gaul, sayang aja orangtuanya minta nikahin dia, coba kalau pacar pasti mau deh gw" ucap Mya asal
"Terserah lu dah!"
"Daraaa, plis deh dengerin. Kalau gw deketin dia boleh gak ya?"
Dara langsung terbangun "otak lu dimana si? Ervan mau lu kemanain?"
"Entah mau gw jalanin sama mereka berdua aja gimana?"
"Terserah lu dah sumpah!"
"Kenapa lu jawabnya gitu si Dar? Lu belum suka sama Andra kan?"
"Hm.... Be..lum" sahutnya gengsi
"Syukur deh. Berarti aku masih bisa jalanin sama mereka berdua"
"Terserah-terserah dah! Gw mau tidur" ucapnya menutupi dirinya dengan selimut "lu mending keluar dari kamar gw, jangan ganggu gw" lanjutnya
"Iya. Iya. Kebiasaan deh" ucap Mya kemudian keluar dari kamar Dara

Dara hampir tak bisa tidur kembali karena perkataan Mya dengan ide gilanya itu. Dihatinya ia tak rela jika Andra dengan Mya, dia seperti takut kehilangan.

Hpnya berbunyi....

"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam, ada apa Ndra? Tumben telpon pagi?" Ucap Dara sambil tersenyum
"Gpp, kangen kamu aja, tumben sudah bangun jam segini?"
"Seandainya gw bisa bilang kangen lu juga Ndra" ucapnya dalam hati "hehe iya tadi itu si Mya bangunin"
"Selalu ya Mya yang bangunin, ya ntar mungkin taun depan aku yang bangunin kamu pas tidur"
"Amin. Oya kamu kuliah Angkatan Darat gitu kan? Kapan sidang? Aku aja udah selesai, tinggal nunggu wisuda sebulan lagi"
"Yaudah cepetin aja nikahnya kita gimana? Iya hari ini rencananya mau sidang"
"Yeee iya kalau aku mau, oya mau dibawain apa pas selesai sidang? Bunga atau coklat atau apa?"
"Emang selalu harus gitu ya kalau udah sidang? Gak lah gak usah, yang penting kamu doain aku aja dan jadi penyemangat buatku"
"Amin. Semoga lancar ya. Doaku menyertaimu"
"Terimakasih, yasudah aku mau breefing dulu ya. Assalamualaikum. I love you"
"Ih apaan sih. Iya walaikumsalam. Good luck my boy"

Dara hanya bisa senyum-senyum sendiri, tapi ia merasa telah menghianati saudaranya sendiri. Dia berbohong pada dirinya sendiri, bahwa dia tak suka dengan Andra, namun apa yang ada dihatinya berbeda, dia takut kehilangan Andra.

****

Acara wisuda Dara sudah dilakukan kemarin, hari ini ada rencana piknik di kebun teh bersama keluarganya termasuk Mya, Andra dan Ervan.

Dara yang memiliki adik kecil berumur 3 tahun, membuatnya sibuk bermain dan lupa akan adanya Mya, Ervan dan Andra. Dia terus berlari mengejar, Andra sibuk memperhatikan gerak-gerik Dara.

"Mya, kita gak capek hubungan tanpa status gini terus?" Tanya Ervan tiba-tiba
Mya langsung terasa tercekat
"Kenapa diam Mya? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?"
Mya menggeleng
"Iyasudah kalau kamu belum siap jawab gpp, aku akan nunggu kamu" ucapnya kembali

Mya semakin binggung dengan perasaannya, dia ingin sekali bersama Ervan tapi dia juga ingin bersama Andra. Dia memutuskan untuk pergi berjalan-berjalan mencari udara segar.

"Hay Mya" sapa Andra
"Oh hay" sahutnya salting
"Kenapa sendiri? Ervan mana?"
"Lagi pengen aja"
"Ada masalah?"
"Ngak juga cuma binggung aja"
"Mau cerita kali bisa bantu?"
Mya langsung menghentikan langkahnya
"Ada apa Mya?"
"Seandainya nih ya, kalau gw lagi deket seseorang dia itu orangnya baik banget dan gw nyaman sama dia, sedangkan gw juga suka sama orang lain juga yang mempunyai sifat sama. Bagaimana?"
"Hm. Orang kedua itu tau gak kalau kamu suka dia?"
"Kayaknya gak sih, sudah terlambat juga. Tapi pengen banget deket sama dia juga"
"Kalau boleh tau orang pertama Ervan?"
Mya mengangguk
"Kedua?"
Mya cukup berpikir panjang "kamu" ucapnya malu
"Hah? Bercanda ya Mya?"
"Ngak lah. Serius"
"Aku itu emang nyaman sama kamu, seneng kita deket, aku juga suka semua tentang kamu, tapi..."
"Andraaa. Bantuin mama nurunin ini" teriak mamanya
"Iya ma. Aku tinggal dulu ya" ucapnya senyum

Andra pergi meninggalkan Mya, dari kejauhan Dara melihat kejadian itu, tapi dia berusaha tak berprasangka buruk. Tapi hatinya terasa ingin menangis, ucapan Andra ketika wisudanya kemarin lewat video dan lagu yang dinyanyikan untuknya.

"Happy graduation my girl, maaf gak bisa dateng, tau sendiri yang lagi sibuk ngelarin sidang, ini ada lagu buat kamu, aku tau ini lagu favoritmu aku sering melihatnya ketika kamu update di path atau bbm. Cek cek cek 1 2 3"

Benar sekali Andra menyanyikan lagu dari Raef - You're The One, Dara hafal sekali liriknya, menurutnya itu lagu paling romantis sedunia. Dan suaranya indah sekali.

"Thankyou for wacthing my girl, and I hope you like this song! Sekali lagi happy graduation. Nanti pas sampai rumah ada kejutan buat kamu ditunggu ya"

Betapa senangnya Dara saat itu, dia hampir tak sabar ingin pulang kerumah dan melihat kejutan dari Andra. Sesampainya di rumah dia mencari-cari kejutan dari Andra. Yap! Kotak besar berisi sash "Sylvia Dara Mahmud Amd. Keb" serta bucket bunga mawar dengan warna kesukaannya pastel, serta boneka wisuda yang bersuara "happy graduation, i love you"

Kado wisudanya begitu indah, bahkan terlalu indah untuknya. Dia sampai menitihkan air mata, namun semua hadiah itu tak ia tunjukkan ke Mya seperti hadiah-hadiah yang diberikan sahabat-sahabatnya, dia takut membuat hati Mya kecewa dan sedih. Mya selalu bercerita tentang Ervan dan Andra setiap hari.

Dara mendekat kearah Andra, dia mengawasi setiap gerak-geriknya. Sekarang dijauh lubuk hatinya sangat takut kehilangan Andra.

"Dalaaaa" ucap adiknya robi yang berumur 3 tahun
"Apa sayang?"
"Itu itu itu" ucapnya menunjuk orang jualan ice cream keliling
"No ice cream okay? Nanti batuk uhuk uhuk gitu gimana?"
"Dalaaaa, ice cream ayoooo" ujarnya menarik baju Dara
"Ini" ucap seseorang memberikan es krim di depannya
"Makasih om"
"Samasama"
"Ervan? Ah lu kenapa dikasih sih? Lu tuh ye bikin bencana tau gak kalau Robi makan es krim terus"
"Dara jangan lebay deh, gak segitunya kali. Apa salahnya dibelikan sekali-kali? Yang penting kan gak tiap hari?"
"Iya iya ah bawel" ucapnya bete
"Ih lagi bete ya? Karena liat Andra sama Mya?"
"Ngh, ngak kok" ucapnya gugup
"Udahlah Dara lu gak bisa boong dari gw. Gw jadi tau alasan Mya kenapa belum jawab cinta gw, dia suka Andra"
"Emm, bagaimana lu tau?" Tanyanya keceplosan
"Jangan-jangan lu tau juga Mya suka Andra dan lu diem aja, lu gak cemburu emang?"
Pertanyaan itu seakan membuat Dara ingin pingsan.
"Nah lu sendiri gak cemburu?" Tanya balik Dara
"Hm. Gw sih terserah dia, dia ingin bahagia sama siapa"
"Harusnya gw kayak lu kali ya, tapi..."
"Tapi rasanya lu gak rela kehilangan Andra kan?"
Dara terdiam cukup lama, binggung mau menjawab apa.
"Yaudah yang terbaik ajalah buat kita, ya gak Dara? Tos dulu dong, semangaaat!" Ucap Ervan menyemangati Dara 
Mereka berdua saling tos dan Ervan meninggalkan Dara.

"Dar, Dara lu harus dengerin gw. Gw bahagia banget sekarang" ucapnya kegirangan "lu tau Andra bilang kalau dia seneng deket gw, nyaman sama gw, dan suka semua tentang gw, rasanya indah banget Ra" lanjutnya memeluk Dara

Dara tau dengan perasaanya, hatinya terasa hancur, matanya sudah mulai berkaca-kaca, ragu untuk membalas pelukan Mya. Ervan melihat Dara yang ingin menangis, dia mengisyaratkan agar tetap tersenyum dan tidak menangis. Dara mengangguk.

Setelah puas memeluk Dara dia pergi berjalan-jalan dengan gembiranya. Ervan datang dari kejauhan.

"And well, tebakan gw bener kan? Lu udah mulai suka sama Andra"
Dara sudah tak tahan menahan air matanya, dia menutupi wajahnya dengan tangannya.
"Hey sudahlah, aku rasa Andra tak akan senang melihatmu menangis seperti ini, tunjukkan yang terbaik dari Dara yang kuat dan tegar"
"Terimakasih" ucapnya sambil mengusap air matanya "aku mau cari angin" pamitnya lalu pergi

Hati Dara sungguh hancur, dia tak menyangka Andra mengucapkan itu pada Mya. Sampai akhirnya dia sampai di sebuah danau, dia berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan kesedihannya.

"Dara" sapa Andra
Dara hanya menoleh sejenak, rasanya dia tak sanggup melihat orang itu.
"Dara" sapa Andra mendekat dan berdiri disampingnya
Dara diam tak merespon.
"Kenapa diem? Tak seperti biasanya?"
Dara hanya menggeleng
"Dara" ucapnya lagi sambil memegang tangannya
"Lepasin tangan gw!" Bentaknya
"Kamu kenapa Dara? Kamu marah sama aku? Aku salah apa?"
Dara hanya melengos, dan memalingkan mukanya. Air matanya jatuh menetes dipipinya.
"Dara!" Bentak Andra "liat aku, tatap aku" ujarnya membalikan badan Dara
Dara hanya menunduk
"Kamu kenapa nangis? Ada yang buat kamu kecewa siapa dia? Aku gak mau ya orang yang aku cintai nangis kayak gini"
"Bulsyit tau gak si Ndra!"
"Dara?" Tanyanya masih keheranan
"Lu suka sama Mya kan? Mya barusan cerita ke gw, kalau lu nyaman and bla bla sama dia" lidahnya kelu mengucapkan kalimat itu "gw tau Mya udah bilang kalau suka sama kamu, tapi gw gak bisa ngapa-ngapain, gw gak ingin dia kecewa" ucapnya sambil mengusap air matanya "oke, kayaknya aku bisa belajar dari Ervan untuk jadi orang ikhlas, gw rela lu sama Mya" ucapnya lalu berjalan pergi
"Stop Dara!" Sahut Andra menarik tangan Dara "iya aku akuin, aku suka semua tentang Mya tapi itu hanya sebatas kakak-adik doang gak lebih dari itu, aku sayangnya sama kamu dan cintaku cuma buat kamu"
"Udahlah Ndra jangan nyakitin saudara gw, dia sudah berharap besar sama kamu"
"Tadi aku belum selesai ngomong sama dia, terus sih mama manggil jadi kepotong omongannya"
"Andra!" Bentaknya "gw mau pergi lepasin tangan gw"
"Gak akan! Kamu tau sendiri siapa yang menolakku pertama kali? Mya kan? Dan kamu dengan sukarela mau dijodohkan denganku tanpa ada penolakan. Aku kagum dengan kamu Dar, dengan segala persyaratan-persyaratan yang diajukan olehmu aku tau kamu wanita hebat"
"Tapi gw gak ingin buat Mya sedih Ndra" ucapnya terisak kembali
"Liat aku, liat mata aku" ucapnya "harusnya kamu ngomong sama Mya kalau kamu punya perasaan yang sama denganku" lanjutnya mengusap air mata Dara "ini hadiah wisuda terakhir, bukalah" 

Dara membuka kotak kecil itu, disana terdapat liontin bertuliskan DA serta dikelilingi tanda Love yang melingkarinya.

"D for Dara and A for Andra" ucap Andra tersenyum "aku sudah pengen ngasih ini ke kamu dari tadi, tapi nunggu waktu yang tepat" lanjutnya "kamu harus percaya, kalau bukan jodoh kita gak akan bisa sampai sekarang, ini cobaan kecil buat hubungan kita, aku sayang sama kamu"
"Aku bener-bener takut kehilangan kamu Ndra" ucapnya memeluk Andra
Andra terkaget akan pelukan Dara dan membalas pelukan hangat itu.

Namun mata Andra terasa keluh melihat Mya yang berdiri disana melihat mereka berdua entah sejak kapan.

"Gw benci lu Dara!" Teriak Mya kemudian berlari kencang
Dara terkaget langsung melepas pelukannya.
"Dara" sahut Andra menarik tangannya "biarkan dia sendiri dulu, biar dia nenangin dirinya sendiri" lanjutnya
"Tapi..." 
Andra hanya tersenyum "biarkan dia belajar lebih dewasa dan berpikir matang"
Dara hanya mengangguk.

Mya tampak sangat sedih, hatinya sungguh kecewa dengan Dara. Dia terduduk sendiri dibawah pohon yang rindang.

"Lu jahat Dar, lu munak Dar, gw benci lu Dar!" Teriaknya

"Apakah seorang sahabat, bahkan saudara dari kecil akan mengatakan itu hanya karena laki-laki?" Celetuk Ervan yang tiba-tiba datang
Mya hanya menoleh sinis ke Ervan
"Kenapa pertanyaanku tak dijawab?"
"Diamlah" ujar Mya tak berselera bicara
Ervan terduduk disamping Mya.
"Tadi Dara juga nangis seperti kamu sekarang ini, ya saat kau habis memeluknya tadi" jelasnya
Mya kaget akan ucapan Ervan, segitu jahatnya ia pada Dara.
"Tapi dia bilang kalau gak suka sama Andra"
"Kapan?"
"Yang pertama kali double date waktu itu"
"Dan katamu mereka baru kenal 1 minggu kan? Ya pasti dia jawab gak suka. Sekarang? Udah sebulan lebih. Kamu punya kontaknya Andra apa aja? Hanya bbm kan? Dara? Dia punya semua kontak Andra. Kira-kira kamu diceritain gak hadiah yang dikasih Andra pas wisudaannya Dara?"
Mya menggeleng
"Sekarang kamu tau gak alasana kenapa Dara ngelakuin itu? Karena gak ingin buat kamu kecewa dan sedih"
"Ya ampun Dara maafin gw" ucapnya terisak dan memeluk Ervan "gw jadi merasa banyak bersalah"

"Dan lu tau gak alasan kenapa gw gak mau dijodohin sama Andra selain masih kuliah?" Ucap Mya
"Apa?"
"Karena kenal sama kamu" ucapnya tersenyum
"Oya? Tapi kenapa kamu begitu bahagia saat deket dengan Andra"
"Lah itu yang aku gak tau Van, aku juga binggung. Apa itu hanya obsesiku terhadapnya? Ah entahlah. Tapi aku nyaman deket sama kamu dan kenal kamu. Dan oya kenapa kamu masih mau bertahan sampai sekarang?"
"Karena aku sayang sama kamu Mya, kamu mau mulai dari nol lagi? Buang rasa obsesi terhadap Andra kita mulai dari awal lagi. Biarkan dia bahagia sama Dara, dan kita juga bahagia"
Mya pun kembali tersenyum.

Senin, 17 Agustus 2015

Cinta dan Rahasia

"Halo halo semua peserta karantina  harap berkumpul di ruang pertemuan"

Semua peserta karantina yang diadakan sebuah institusi, seperti acara reunian begitulah. Hari ini hari yang berat untuk Diva karena harus menemani pacarnya ikut karantina, Yap! Dia berpacaran Nafi seseorang yang dikenalnya lewat temennya 2 tahun yang lalu.

"Hhhhhh ini Nafi kemana sih?" Ucap Diva yang memasuki ruangan pertemuan sendiri "ini siapa semua coba? Mana kenal aku, ini temennya sih Nafi semua" keluhnya dalam hati

Diva terus menoleh ke kanan-kiri sambil melihat adakah tempat duduk kosong 2 untuknya dengan Nafi. Sampai suatu saat matanya tertuju pada seseorang yang sangat ia hafal, dia memegang tangan perempuan.

"Itu pacarnya?" Tanyanya dalam hati "kuatku aku Tuhan, tolong jangan ada rasa ini lagi" doanya dalam hati

Seseorang itu melihat kearah Diva. "Ya Tuhan tatapan itu masih sama" ucapnya dalam hati. Mata mereka berdua bertemu, sampai seseorang itu melepaskan genggaman tangannya.

"Beb" sapa seseorang di belakang Diva "ngeliatin apa sih?" Tanyanya
Diva langsung tersadar dengan lamunannya "hmm... Ngak kok beb, kita cari duduk ya, sepertinya acara mau dimulai"
Nafi mengangguk dan tersenyum kearahnya.

Semua pembekalan selesai. selama masa karantina gak ada bedanya, karena cuma yang banyak karantina cuma peserta laki-laki saja. Yang perempuan jarang sekali aktifitas, palingan cuma belajar masak, dandan, dan kepribadian ala miss indonesia. Membosankan.

"Beb aku pergi jalan-jalan ya membosankan disini" pamit Diva
"Aku ikut ya sayang, nanti kalau kamu diculik gimana?" Lanjut godanya
"Haha bisa aja kamu itu, gak pergi jauh kok. Paling ntar ke sungai deket kalian latihan cowok-cowok. Masih bisa ngawasin kan kamu"
"Yasudah, tapi aku anterin sampe sungai nya yah, aku gak mau kamu digodain temen-temen aku"
Diva hanya membalas tersenyum

"Sampee, silahkan pergi sayang. Aku mau menghirup udara bebas disini sendirian" ucap Diva
"Iya iya, jahat banget sih pacar sendiri diusir" keluhnya
"Hehe maaf ya beb, yaudah sayangku cintaku selamat karantina" ucap Diva penuh semangat
"Terimakasih sayang" ucapnya sambil memeluk Diva
"Bukan mukrim tau gak sih!" Sebelnya
"Maaf maaf dikit aja loh sayang" ucapnya nyengir "yaudah aku kesana dulu, ati-ati beb jangan ngelamun ntar kesambet looh"
"Iiiiiiihhhhh kok nakutin sih beb, nyebelin"

Akhirnya Nafi pergi meninggalkan Diva di pinggir sungai, jernih airnya. Udaranya pun sejuk pula. Tapi seperti biasa dengan khayalan Diva dia mulai menulis-nulis untuk blognya. Kata-kata cinta, sajak-sajak ataupun cerpen yang selalu ia lakukan ketika bosan.

Sampai akhirnya segerombolan 5 orang laki-laki datang dan mungkin berniat ingin berenang di sungai.

"Lagi istirahat nih, berenang aja enak kali yah?" Tanya seseorang laki-laki pada temannya
"Boleh-boleh, airnya dingin gak ya?"
"Ah cemen banget sih lo jadi cowok gitu aja takut, mending pake rok aja"

Semuanya tertawa terbahak-bahak, sehingga membuat Diva mengalihkan pandangan ke mereka. 

"Liat dia lagi? Ya ampun" ucap Diva dalam hati "ya Tuhan demi apa dia liat aku? Maksudnya apa sih? Kenapa mereka gak turun berenang aja sih, risih diliatin kayak gitu" ucapnya pelan

"Eh medan nya susah nih kalau mau berenang, ati-ati guys" ucap salah seorang
"Iyaaaaa"

Mereka pun berenang dengan kericuhan mereka dan membuat keramaian sendiri. Sebenarnya Diva ingin melihat, tapi karena mereka telanjang dada dan hanya menggunakan boxer, dia mengurungkan niatnya.

"Eh mau ujan deh, gak ada yang mau balik kah? Udah gerimis nih"
"Ah cemen banget sih lo, takut sama ujan? Laki apa perempuan sih lo"
"Gak gitu bro, gw bawa perempuan gw kesini. Lah kalau gw sakit dia gak ada yang jagain dong"
"Oh so sweet" goda salah seorang
"Udah ye kita balik bertiga, kalau lu berdua mau disini yasudah"
"Oke hati-hati ya kalian berdua, lo tuh Raka ati-ati penyakit lu kambuh"
"Udah biasa gw, lu yang ati-ati dah"
"Oke oke bye. Balik dulu"

Ketiga orang itu menaiki jalan naik berlumpur, tersisa 2 orang disana masih asik berenang dan mengobrol.

"Beb mau ujan loh, gak balik kah?" Teriak Nafi
"Kamu balik duluan aja beb, pengen liat hujan" sahutnya
"Nanti kalau kamu ada apa-apa gimana? Balik yuk kesini"
"Aku sudah sedia payung" ucap Diva nyengir menunjukkan payungnya "sekali aja ya"
"Yasudah aku ke peginapan dulu ya, kamu hati-hati. Kalau hujan deres balik ya"
"Oke" ucap Diva tersenyum

Diva masih melanjutkan cerita dongeng khayalannya. Hujan sudah mulai rintik ia menyimpan hp yang selalu ia bawa untuk menulis dan menuangkan idenya ke dalam saku celananya. Dia membuka payungnya dan berputar-putar dengan girangnya.

"Kaaa ayolah naik keatas sebelum jalannya licin, liat tuh bibir lo udah biru, abis gini penyakit lo pasti kambuh deh, jangan nyusahin" ucap Fajar yang merupakan ketua panitia
"Bentar gw masih pengen disini"
"Tuhkan tuhkan muka lo tambah pucet nih, jangan bercanda ya Ka"
"Iya ayo naik, tapi bantu gw ya. Agak lemes badan gw"
"Iya ayo" 

Hujan bertambah banyak yang jatuh ke tanah, dan langit sudah mulai menghitam. Sudah saatnya Diva balik ke penginapan, dia tak ingin Nafi khawatir dengannya.

"Tolong-tolong-tolong" teriak seseorang

Diva menghampiri suara teriakan itu berasal. Dia terkejut saat melihat Raka, laki-laki yang sangat ia cintai dulu jaman SMA namun cintanya tanpa ada status dan berakhir dengan bertepuk sebelah tangan. 

"Kak Fajar, Kak Raka kenapa?" Tanya Diva polos, dia tau Raka gak tawar dengan cuaca ekstrem
"Biasa penyakitnya kambuh, bisa minta tolong naikin gak ya? Jalannya licin"
"Bisa kak, kayaknya dia kedinginan banget" sambil membantu menarik dari atas
"Iya tadi sih bisa jalan dia, eh pas berdiri pingsan. Hadeh nyusahin banget ini anak"
"Jangan gitu kak, gini ini temen kakak loh"
"Udah naik sekarang, kamu bantuin aku naik ya?"
"Siap kak" ucapnya sambil membantu Fajar naik
"Eh sudah, sekarang kamu bantu aku bopong dia berdiri aja ya. Btw kamu perawat kan?"
"Bukan perawat sih kak, lebih tepatnya bidan"
"Halah sama aja, tapi kamu sama Nafi sudah dibilangin kan jadi anak Medical"
"Sudah kak, ini gak ada baju ya kak kalian berdua, bisa kedinginan loh kalian"
"Gak ada tadi dibawa anak-anak, yaudah payung kamu masih muat kok"
"Oke kak"

Perasaan Diva luar biasa dag dig dug, ini pertama kalinya setelah sekian lama tak pernah bertemu dan sekarang berada didekatnya bahkan bisa menyentuhnya, sesuatu yang ia inginkan dari dulu. Meski hatinya sudah dimiliki Nafi, tapi rasa itu masih ada untuk Raka.

"Kita bawa ke ruang khusus ya, modelnya kayak UKS sih. Maaf ya jadi ngerepotin" ucap Fajar
"Apasih kak, sudah tugas dan tanggung jawabnya. Amanah"
Fajar hanya tersenyum kearah Diva.

Merekapun sampai ke sebuah kamar kosong yang dipersiapkan khusus. Tak ada yang tau Raka sedang sakit, karena kamar itu berada di depan sendiri tak masuk di dalam penginapan.

"Kak minta kotak p3k, minyak kayu putih, kalau ada selimut pinjemin ke siapapun, teh hangat, air hangat buat kompres, ajak temen-temen kakak buat bantuin" ucap Diva mulai panik

Diva yang panik membuat Fajar pun ikut panik dan segera keluar dari ruangan itu dan memberikan semua yang diucapkan Diva.

Pacar Raka datang membawakan teh hangat untuknya.

"Mbak ini ada minyak kayu putih, bisa dioleskan ke tubuh kak Raka" ucap Diva
"Terimakasih"

"Raka kamu cepet sembuh ya, lain kali jangan diulangi ya. Penyakit kamu ini gak boleh diremehin. Badan kamu ini lemah, aku gak mau kamu sakit" ucap perempuan itu dengan penuh perhatian mengoles minyak kayu putih keseluruh tubuh Raka
"Mbak boleh tanya? Air hangat buat kompresnya dan selimutnya mana ya?"
"Masih diambilkan sama temen-temen lain"

"Beb kamu gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Nafi panik "Baju kamu basah, jaket kamu mana?"
"Gpp beb, itu jaketnya tadi aku buat nutupin kak Raka disuruh sama Kak Fajar tadi pinjemin bentar"
"Yaudah balik yuk kan sudah ada pacarnya Raka" ajak Nafi memegang tangan Diva
"Ets tunggu dulu bos" ucap Fajar menarik tangan Diva yang satunya "lah kalau lu ambil cewek lu yang jaga Raka siapa?" Tanyanya
"Lah kan ada pacarnya Jar, dia bisa ngurusin Raka"
"Kan lu udah janji sama gw, kalau pacar lu gw sewa buat jadi medical disini"
"Tapi kan banyak medical disini Jar yang laki kek"
"Cuma 2 disini Naf, dan perempuan semua. Kalau lu cemburu buang dulu deh, ini nyawa"
"Tapi....."
"Beeb" ucap Diva memotong dan menenangkan Nafi "kamu percaya aku kan?" Tanyanya
Nafi hanya mengangguk.
"Aku petugas kesehatan, tugasku melayani pasien sepenuh hati dan sepenuh jiwa tanpa membandingkan ataupun membedakan. Semua sama, pahalanya sama. Biarkan aku merawatnya sampai sembuh"
"Tapi beb...."
"Percaya sama aku" ucap Diva tersenyum
"Ini air hangat dan handuknya buat kompres dan ini selimutnya" ucap Fajar
"Terimakasih"
"Lebih baik kita keluar, beri udara bebas buat Raka jangan terlalu banyak yang masuk, biar Diva yang nemenin"
"Lah Jar, aku pacarnya kamu kemanain?" Ucap perempuan itu
"Lia, kamu bisa mendoakan dia. Biar Diva yang jagain"
Diva hanya tersenyum sungkan terhadap Lia.

"Naf, lu patut bangga punya pacar kayak Diva" ucap Fajar
"Kenapa begitu?"
"Dia baik banget, lu harus jaga dia baik-baik. Dia gak kenal kita berdua tapi dia mau bantu kita, jarang anak jaman sekarang kayak gitu"
Nafi tersenyum bangga akan Diva.
"Alhamdulillah, pasti gw jaga baik-baik"
"Kalau dia jomblo pasti gw gebet haha" goda Fajar
"Iya gw hajar dulu lo haha"

Diva merawat Raka penuh dengan ketelatenan, walaupun hatinya bahagia karena bisa sedekat ini dengannya. Dia menggosok-gosok telapak tangannya untuk menghangatkan telapak tangan dan telapak kaki Raka.

"Ah ini juga dibilangin penyakitnya gitu mulu pas lagi ujan, selalu deh bikin susah orang" keluhnya pelan "ini dia kok gak sadar-sadar sih? Tubuhnya sudah mulai menghangat, biar bisa minum teh hangat dan obat masuk anginnya" ucapnya lirih

Diva mulai bosan dia mengantuk dan ingin bersandar di sofa, karena tak mungkin dia tidur bersama dengan Raka di kasur. Apalagi dengan tubuhnya yang hanya memakai kaos dan celana panjang. Jaket dan jilbabnya sudah dibuat untuk menutupi tubuh Raka, agak dingin juga.

Diva beranjak dari kasur itu, namun tak terduga Raka memeluknya dari belakang. Jantungnya terasa copot, denyut jantungnya terasa cepat dan pelukannya begitu hangat di tubuhnya.

"Jangan pergi" ucap pelan Raka
Diva hanya terdiam, dia binggung ingin merespon apa
"Tetap disini"
"Jangan kayak gini kak, kita harus jaga perasaan 2 orang yang sayang kita"
Raka masih diam tak merespon, dia tetap memeluk Diva erat
"Kak Raka aku minta tolong" ucapnya berusaha memberontak

"Diva..." Ucap Fajar yang tiba-tiba masuk "ini obat yang aku temuin di tas Raka" lanjutnya terbenggong
"Raka lepasin" bentaknya pelan
"Maaf maaf ganggu" ucap Fajar
Raka melepaskan pelukannya "eh lu Jar, makasih ya udah bantuin gw" ucapnya setengah sadar
"Bisa gantian jaga gak ya?" Tanya Diva gak enak
"Loh Div?" Kaget Fajar
"Aku ngantuk kak, capek. Oya kak apapun yang dilihat kakak, itu gak seperti apa yang kakak bayangin. Tolong jangan ngomong pada siapapun, apalagi Nafi"
Fajar hanya mengangguk.
"Diva" sapa Raka pelan
Diva rasanya tak ingin menoleh, tapi dia harus bisa bertahan.
"Terimakasih" ucapnya sambil tersenyum
Diva hanya mengangguk

****

Kejadian seminggu yang lalu saat Karantina cukup berbekas di hati Diva. Walaupun itu pertemuan terakhir dengan Raka. Dia selalu menghindar saat melihat Raka sampai acara karantina selesai.

#LINE Putri
"Diva Div ada TULUS di GC!"
"Sumpaaaah? Ayo liaaat"
"Tapi aku berangkat langsung aja ya, kita ketemu disana"
"Yaudah aku ngajak saudaraku ya, kalau berangkat sendiri pasti diomelin gw"
"Iyup. Ditunggu. Entar via message aja ya takut gak ada sinyal"
"Siap bos!"

Grand City
11.00wib

From: Diva
To: Putri
Kamu dimana cin? Aku sudah di hall bawah ini, rame banget

From: Putri
To: Diva
Ntar ini masih di pintu depan, kamu sebelah mana? Abis gini gw telpon kalau udah masuk ya

"Halo dimana Div?"
"Angkat tanganmu Put"
"Tanganmu juga, ntar gw samperin. Ketemu. Gw kesana"

Mereka berdua pun bertemu, dan asik mendengarkan suara merdu Tulus dengan tembang-tembangnya yang begitu bagus.

"Eh udah selesai kan ini acara?" Tanya Ranti, saudara Diva
"Kenapa kak Ranti?" Sahut Diva
"Mau ke kamar mandi ini, kebelet dari tadi"
"Sama aku aja kak" sahut Putri

10 menit berlalu....

"Kok lama banget sih, ini masa iya nunggu mereka berdua sendirian disini?" Tanyanya dalam hati

Tanpa pikir panjang, Diva pergi mencari Ranti dan Putri ke toilet terdekat. Namun hasilnya nihil. Tak ada satupun yang ada dia mencari-cari disetiap toilet yang ada dari lantai bawah sampai atas. Dia tak bisa menghubungi keduanya, karena tas mereka dititipkan kepadanya.

"Pak Satpam, liat cewek 2 gak ya? Tingginya sebahu saya, satu pake jilbab satunya gak pake jilbab"
"Coba hubungin aja mbak hpnya"
"Masalahnya tas mereka ada pada saya pak"
"Ciri-cirinya gimana mbak? Masa udah gede ilang mbak?"
"Makanya itu pak, saya tadi udah muter-muter nyari dari toilet bawah sampai atas tapi gak ada, bahkan saya barusan balik ke deket panggung juga gak ada"
"Mungkin mereka pulang mbak, atau nunggu di parkiran. Nanti coba saya sampaikan sama informasi center, atas nama siapa mbak temennya?"
"Putri dan Ranti. Terimakasih ya pak, nanti akan saya coba ke parkiran"

Diva putus asa sekali, dia menghubungi Nafi namun tak ada jawaban. Harus minta tolong ke siapa lagi dia, dia hanya bertiga dengan mereka disini.

"Kenapa aku tak ikut mereka aja sih tadi?" Ucapnya kesal
"Diva!!!!!" Teriak pelan Putri
"Syukurlah" dia mengelus dadanya tapi ada yang bikin heran "dimana kak Ranti?" Tanyanya dalam hati
"Gawat. Gawat. Gawat!!!" Nafasnya terengah-engah
"Gawat apasih? Kak Ranti mana?"
"Diculik!" Bisiknya pelan
"What? Jangan bercanda deh Put!"
"Demi apapun, tadi aku liat dia dibawa orang, aku sengaja gak ngejar takut dibawa juga, tapi aku ngikutin mereka sampai mereka bawa kak Ranti kemana, langsung aku kabur sebelum ketahuan, nyari kamu dari tadi gak nemu"
"Ngapain sih mereka culik-culik? Setauku kak Ranti gak pernah punya musuh deh"
"Nah aku gak tau, ayo mendingan kita kesana, lapor polisi atau satpam yuk"
"Jangan gila deh, kamu mau kak Ranti ntar malah dibunuh sama mereka?"
"Yaudah kita kesana, kita harus bisa lepasin kak Ranti"

Mereka berdua pergi ke ujung parkiran di Mall ini, dan anehnya parkiran mobil ini tak ada satupun mobil yang parkir. Kini mereka tepat di depan ruang Ranti yang terakhir dilihat Putri dibawa. Mereka melihat keluarga disana seorang bapak dan ibu beserta satu anak laki-laki kecil mereka sedang menikmati makan.

"Pak Buk permisi, mohon maaf mau tanya liat cewek rambut panjang, kulitnya sawo matang, tingginya sebahu saya gak ya?" Tanya Diva memberanikan diri

Keluarga itu pun menoleh kearahnya, muka mereka penuh darah.

"Apa yang mereka makan? Bangkai apa?"
"Ini mbak? Ini saya baru dapet bangkai manusia perempuan, mau?" Ucap bapak-bapak itu
"Kak Ranti? Benarkah?" Kakinya begitu lemas dan dia terus memegang erat tangan Putri yang ketakutan
"Oh bukan mbak itu yang kami makan, mbak itu masih didalam sana" ucap istrinya menunjukkan ke sebuah mobil 

Diva dan Putri berjalan menuju mobil rusak itu, mereka mengintip kesana-sini namun tak ditemukan olehnya.

"Kok gak ada bu?" Tanya Diva menguatkan diri
"Oya kak tadi dibawah sama bunda keatas, kakak perempuan tadi nangis-nangis pas ada bunda"
"Bunda? Siapa lagi dia?" Ucap lirih Putri
"Bunda baik banget loh orangnya kak, dia ngasih kita makan ini udah bersyukur banget"
"Mana ada makanan gak layak kayak gini dikasih ke orang" Ucap Diva dalam hati
Mereka berdua hanya tersenyum dengan ucap anak kecil tadi.
"Bisa bertemu bunda gak ya?" Ucap Diva
"Bisa dong kak, saya antar keatas"
"Terimakasih"

Mereka bertiga menaiki tangga kusam disana, anak kecil itu tangannya penuh darah dan masih ada sisa makanan yang menempel di wajahnya. Sesampainya diatas mereka terkaget saat melihat banyak sekumpulan orang benggong seperti orang gila tapi ada pula yang mengobrol satu sama lain.

"Adek ini tempat apa ya?" Tanya Putri
"Kata bunda ini tempat orang-orang tak berguna kak, dan nanti suatu saat ketika bunda bosan melihat mereka, mereka akan dibuat makan oleh kita" ucap polos anak kecil itu
"Ya Tuhan Diva, kita balik yuk jangan macem-macem di tempat ginian" ucap putri
"Sudah tenanglah"

Mereka menyusuri orang-orang itu baik yang dikamar ataupun diluar kamar. Jumlah mereka mungkin sekitar 20an orang.

"Sampai kak, ini kamar bunda" ucap anak itu lalu mengetuk pintunya "bunda. Bunda. Bunda ada nyariin tuh"

Dari balik pintu terbuka, seorang wanita cantik yang berusia 30 tahunan. Keduanya hanya tersenyum kearahnya.

"Bunda" ucap Wanita itu
"Di...va" "ppppuutri" ucap mereka gugup
"Santai. Kita duduk di meja makan. Maaf ya atas kelakuan mereka yang tidak sewajarnya, padahal saya sudah bilang itu tak baik tapi mereka lakukan saja"
Keduanya mengangguk.
"Oya kalian bidan kan? Kalian teman biasa kan? Bukan satu geng?"
Keduanya lagi-lagi mengangguk.
"Kenapa dia tau ya Put?" Bisik Diva
"Kalian heran ya kenapa saya tau tentang kalian?"
"Saya kesini hanya menanyakan tentang saudara perempuan saya yang dibawa kesini"
"Gak ada, kalian pasti dibohongi oleh keluarga anak kecil itu tadi"
"Whats?" Ucap keduanya
"Semua orang yang diculik gak kesini dulu, diruangan sebelah"
"Terus buat apa anda melakukan semua ini? Untungnya buat anda apa? Anda masih punya hati nurani kan? Kenapa anda setega itu melakukan mereka seperti itu?" Tanya Diva yang marah
"Santai mbak, ingat anak kecil itu tadi? Di bilang disini tempatnya orang-orang tak berguna. Kamu tau anak kecil itu dan keluarganya adalah keluarga orang kaya mereka tak pernah menghargai apa yang dimasakkan oleh pembantunya. Mereka selalu membuang makanan jika tak selera, begitu sebabnya saya taruh mereka dibawah"
"Dan untuk apa anda membunuh orang lalu diberikan untuk dikonsumsi oleh mereka?"
"Sadarlah itu daging sapi yang mereka makan, ternyata mereka berhasil menakuti kalian ya"
"Lalu kenapa saudara saya gak dibawa kesini?"
"Jadi mau saudara anda dijadikan orang tak berguna? di ruang sebelah nanti akan ada pertanyaan-pertanyaan yang menjadikan dia orang layak atau ngak. Kalau dia layak dia pasti dapat pulang dan ingatannya akan dilupakan tentang kejadian yang menimpanya" ucapnya "nah berhubung kalian datang kesini sendiri menemui saya, saya yang akan menanyakan pertanyaan untuk anda-anda. Jika kalian lulus kalian bebas, jika tidak ya menetaplah disini selamanya"
Keduanya hanya menelan ludah
"Oh kalian haus? Saya buatkan minum"
"Tidak terimakasih" ucap Putri
"Tidak apa-apa tidak ada racunnya kok" sahut Bunda

Keduanya pun akhirnya mau meminum minuman yang dibuatkan Bunda, walaupun hatinya was-was.

Bunda mulai bertanya kepada mereka tentang seputar wanita, kesehatan reproduksi, anak dsb. Otak mereka cukup cerdas hingga tak terasa pertanyaan itu habis untuk dijawab oleh mereka.

"Istirahatlah kalian, besok akan ada pertanyaan terakhir yang membuat kalian lolos. Ini sudah larut malam"
"Baiklah, terimakasih" ucap Putri
"Tapi apakah kamu bisa memastikan kalau saudaraku baik-baik saja?" Ucap Diva
Bunda hanya tersenyum.

Keduanya tak bisa tidur dengan nyenyak, hatinya ketakutan. Namun kelamaan mereka bisa tertidur. 

*****

Paginya....

"selamat pagi nona-nona cantik" ucap laki-laki yang nyelonong masuk ke kamar mereka
Keduanya terbangun dengan keheranan.
"Halo halo, Bunda Bund ada cewek-cewek disini kok gak bilang sih?" Ucapnya
"Sudah jangan ganggu mereka, pergi sana"
"Gak asik banget sih Bunda" ucapnya lalu pergi menutup pintu lagi

Keduanya sekarang merapikan tempat tidur dan bersiap untuk pertanyaan terakhir. Pertanyaan demi pertanyaan sudah terjawab, namun Putri yang ragu akan jawabannya membuat Bunda terus menanyainya.

"Oke baiklah, kamu Diva boleh keluar dulu"
"Gak bisa Bunda, aku harus keluar bareng Putri dan kak Ranti"
"Ranti sudah aman. Kamu pasti akan menemuinya diluar. Tinggal Putri yang bertahan disini"
"Negosiasi deh Bunda, aku bakal keluar kalau Putri juga keluar" ucap Diva memegang erat tangan Putri
"Oke baiklah, cuma satu kali kesempatan. Kalau Putri tak bisa menjawab kamu bisa keluar sendiri atau kalian berdua akan disini selamanya!"
"Baiklah, kalian bisa sahut-sahutan tentang pertanyaan ini"
"Siap" ucap keduanya
"Apa arti sahabat buat kalian?"

Keduanya menjawab cukup baik dan bijak.

"Yang pasti Bun, sahabat gak akan pergi ketika sahabatnya sedang kesusahan" ucap Putri
"Kalian boleh pergi sekarang!" Ucap Bunda tersenyum
"Kita pergi!" Ucap Diva
"Terimakasih Bun" ucap Putri

Mereka berdua berlari kecil menyusuri kerumunan orang kembali. Namun mata Diva terhenti saat melihat seseorang. Laki-laki itu adik tingkatnya kuliah, mereka pernah deket sebelum Diva pacaran dengan Nafi.

"Ya Tuhan dia kurus sekali" ucapnya lemas
"Kenapa Div?" Tanya Putri
"Cepat pergi mbak, sebelum Bunda berubah pikiran" ucap wanita disebelah laki-laki yang jadi perhatian Diva
"Ryan!" Sapa Diva
Ryan tak menoleh sama sekali.
"Kamu tak ingat sama sekali denganku Ryan?"
"Cepat pergi Nona, saya tidak punya nama. Ryan bagus juga untuk saya" ucap Ryan yang lugu
"Ryaaaan" ucapnya sambil memeluk Ryan
"Mbak ini siapa kok peluk-peluk saya? Lebih baik mbak pergi sebelum terlambat. Terimakasih sudah memberi nama saya Ryan"
"Siapa yang tega bawa kamu kesini yan?" Ucapnya tersedu
Ryan hanya tersenyum, dia seperti tak ingat hal apapun

Mereka berdua bebas dan mereka melihat Ranti jatuh tergeletak di bawah tembok tak sadarkan diri.

"Kak Ranti" ucap Diva khawatir "bangun dong kak"

Akhirnya setelah menunggu cukup lama, Ranti pun menyadarkan diri. Ketiganya langsung berpelukan erat sangat erat.

******

2 minggu berlalu....
Bisik-bisik kabar teman-teman perempuan di karantina kemarin kalau Raka dan pacarnya bertengkar hebat dan hubungan mereka diambang keakhiran.

Begitu pula Nafi dan Diva masih adem ayem, walaupun Nafi bersikap agak aneh dari biasanya.

#BBM
"Kamu dimana?" Tanya Raka
"Ada apa?" Tanya Diva balik
"Kamu dimana?"
"Lagi sama Nafi ini di mall, ada apa kak?"
"Oh kebetulan. Aku abis ini kesitu sama Lia"

Chat mereka di bbm berakhir sebatas itu, sebenarnya mereka sudah punya contact satu sama lain sejak sma. Diva masih terheran kenapa Raka tiba-tiba menghubunginya.

"Diva!" Sapa seseorang dengan nafas terengah-engah
"Raka? Kak Lia?" Ucap Diva
Wajah Lia sangat ketakutan, dan ketakutan itu pun terlihat di wajah Nafi.
"Ada apa kak?" Tanya Diva kembali
"Semoga Tuhan mengampuni perbuatan kalian berdua!" Ucap Raka
"Loh ada apa kak?" Tanyanya semakin binggung
"Silahkan ada yang mau ngomong duluan?" Tanya geram Raka
"Jangan disini Raka, kita ke parkiran mobil" ucap Nafi gugup
"Baiklah"
Diva semakin binggung dengan apa yang terjadi.

Parkiran mobil...
Keempat orang itu hening. Terlihat dari wajah Lia dan Nafi ketakutan, wajah Raka yang penuh dengan amarah, dan wajah Diva yang penuh tanda tanya.

"Gak ada yang mau mulai juga? Apa aku sendiri yang ngomong?" Ucap Raka
Semuanya berdiam diri. Hening.
"Ba.....iklah" ucap Raka
"Aku aja Ka, yang ngomong" ucap Nafi
Nafi meraih tangan Diva.
"Entah beb aku harus bilang apa, yang pasti aku minta maaf yang sangat besar terhadapmu, janji gak akan marah?"
Diva hanya mengangguk.
"Aku minta maaf telah membawa saudaramu ke tempat itu hanya untuk memberi kamu pelajaran, sebelumnya aku gak mau tapi dipaksa oleh dia" ucapnya menunjuk Lia "dia cemburu saat Raka memelukmu, aku pun sama, tapi aku percaya sama kamu, tapi dia ngak beb, dia berusaha mengompor-ngomporiku supaya aku juga merasakan hal yang sama sepertimu"
Diva rasanya ingin marah, tapi dia hanya menarik nafas panjang.
"Sudah? Ada lagi? Ucap Diva menenangkan diri
Keduanya menggeleng.
"Aku kecewa sama kalian berdua! Kalian gak tau apa yang dirasain sama kak Ranti dan Putri, mereka seperti orang ketakutan, kak Ranti udah gak mau keluar rumah lagi dan Putri pun sama takutnya. Mereka berdua bukan aku, jadi jangan libatkan orang lain dalam urusan kalian ini, harusnya kalian berdua mikir akibatnya gimana, dan harusnya kalian juga mikir harus minta maaf ke siapa dulu!" Ucapnya pergi meninggalkan 3 orang itu
"Diva!" Teriak Lia
"Kalian aku maafkan!" Ucapnya terisak, dia tak menyangka pacarnya sendiri yang menyakitinya
"Beb beb tunggu beb" kejar Nafi
Diva menghentikan langkahnya "berhenti panggil aku beb! Kita break dulu, aku gak bisa liat kamu! Aku gak kuat!" Ucapnya kemudian melangkah cepat
"Kita juga Break!" Ucap Raka pada Lia dan meninggalkan Lia kemudian mengejar Diva "Diva mau aku anter pulang?"
"Ngak terimakasih" ucapnya melangkah cepat