Rabu, 19 November 2014

Teman Hidup

"Eh, eh, ayo ke malang nginep ke Villa gitu kan asik" ajak Okta saat didalam Babeh Street Cafe bersama dengan teman-temannya.

"Cuuuus" seru teman-temannya yang membuat semua pengunjung dan pegawai menoleh kearah mereka.

"Eh tapi aku mau izin apa ke orangtuaku?" Tanya Deta dengan wajah khawatir. Orang tua Deta sangat tidak setuju jika anaknya keluar kota dan harus menginap, walaupun dengan teman perempuannya.

"Ah bener sekali. Izin apa ya?" Tanya balik Tisya dan melihat khawatir kepada Deta.
"Kamu bohong seminar? Kayak dulu?" Celetuk Okta yang mengingat dulu seminar di Malang dan boleh menginap.

"Gak berani oy, kalau itu kan beneran seminar. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" Tanya Deta

"Wah iya parah nih, Okta" sahut Vita terkekeh "Apa kita nanti ke rumahnya Deta rame-rame terus izin ke orangtuanya?" Tanya Vita dengan wajah berbinar-binar berharap teman-temannya setuju dengan idenya.

"Oke setuju deh" sahut Okta "jangan lupa kasih tau Sila, abis gini kita kan liburan semester" lanjutnya

****

Mereka berlima Tisya, Deta, Okta, Sila dan Vita akhirnya bisa liburan ke Malang, walaupun dengan susah payah membujuk orangtua Deta. Kelimanya akan di Malang selama 3 hari atau mungkin lebih.

"Malang oy Malaaaaang" teriak semuanya di dalam Mobil Tisya saat sudah sampai di Lawang.

"Kita mau kemana ini?" Tanya Tisya yang sedang menyetir Mobil Jazz berwarna merahnya.

"Museum Angkut? Jatim Park 1 dan 2?" Tanya Sila yang duduk dibangku belakang diantara Deta dan Vita.

"Bukan itu maksudku, nginep dimana maksudnya?" Sahut Tisya.
"Villa yang aku tempati waktu SMA? Bagaimana?" Tanya Vita yang daritadi diam tak mengeluarkan suara sama sekali karena mabuk dalam perjalanan.

"Boleh, how much?" Tanya Okta
"Aku mau telfon Abi dulu" jawab Vita mengambil hpnya menelfon Abi-pacarnya, yang juga teman SMA nya.

"Bi? Inget aku kan di Malang ini sama anak-anak, Villa kita dulu pas SMA berapa ya?"

"....."

"Ah mahal banget itu Bi, sama aja kayak di hotel"

"....."

"Oh iya sih kan rumahnya besar, kayaknya juga kebesaran buat kita berlima doang"

"....."

"Yaudah nanti aku cari sendiri aja. Bye. Assalamualaikum"

Vita mematikan panggilan dan menghela nafas, kemudian menggeleng kearah teman-temannya.

"Bagaimana kalau di Villa Kinan?" Tanya Okta.
"How much?" Tanya balik Sila.

Okta mengedikkan bahunya dan mengambil telfon genggam di tasnya, menghubungi Kinan.

"Nan, Villa kamu disewain gak ya? Aku lagi di Malang ini. Rencananya mau nginep" 

"....."

"Aaaah gotchaa! Thankyou Nan! No Problem lah"

"....."

"Oke, nanti alamatnya sms-in aja ya. Bye"

Okta mengembangkan senyuman menandakan Villa Kinan siap pakai. "Tapi guys, kita harus berbagi gitu sama orang, Kinan nanti malam juga mau ke Villa sama temen-temennya" jelasnya

"Gak asik banget lah berbagi" celetuk Sila
"Tapi kita dikasih free loh" sahut Okta menyengir kuda.
"Waaaah ayo berangkat aja udah, berbagi gak masalah" seru Deta semangat. Semua teman-temannya mengangguk pasrah.

"Villa nya dimana Okta?" Tanya Tisya yang daritadi celingukan didaerah Batu.
"Gg Melon no.16 villa warna coklat gaya klasik pagernya warna ijo" jawab Okta

-

Sesampainya didepan Villa Kinan...

Mereka turun dari mobil disambut oleh penjaga rumah Kinan, seorang laki-laki dan perempuan. Mereka memperkenalkan diri, Bi Siti sebagai asisten rumah tangga dan Pak Diman sebagai keamanan. Mereka sepasang suami istri yang bekerja di villa itu sejak pertama kali dibangun hingga selesai dibangun sekitar 15tahun, mereka merawatnya cukup baik masih terlihat bagus dan asri penuh tumbuhan hijau.

"Terimakasih Pak Diman dan Bu Siti mohon kerjasamanya" ucap Okta tersenyum.
"Iya mbak" ucap Pak Diman dan Bu Siti ramah.

"Baik mbak, saya antar ke kamarnya" ucap Bi Siti sambil membuka pintu Villa Kinan.

"Mau dibawain barang-barangnya mbak?" Tanya Pak Diman
"Gak usah Pak, terimakasih gak usah repot-repot" sahut Vita tersenyum sungkan.

Pintu Villa terbuka, rumahnya bagus dengan cat warna putih tulang serta warna coklat muda tampak senada dengan perabotan klasik, tampak seperti bernostalgia ala rumah-rumah eropa jaman dulu.

"Gila bagus banget villanya Kinan" bisik Deta seperti dirinya berada diluar negeri.

"Ini kamarnya mbak-mbak silahkan dipilih yang mana, 2 kamar cukup kan?" Tanya Bi Siti membukakan 2 pintu kamar.

"Oh gausah repot-repot Bi, kita satu kamar sudah cukup, tapi yang bed bawahnya bisa ditarik ada?" tanya okta
"Tapi saya disuruh mas Kinan 2 kamar mbak" sahut Bi Siti.
"Gpp Bi, biar nanti saya yang ngomong ke Kinan. Kasihan Bi Siti juga nantinya" ucap Okta.
"Yasudah kamar ini saja, sepertinya cukup luas dan ada 2 kasur" ucap Bi Siti ramah.
"Terimakasih Bi Siti, maaf kalau kami merepotkan" ucap Tisya tersenyum.
"Sudah tugas saya mbak, permisi saya mau ke dapur. Mau dimasakin apa?" tanya Bi Siti.
"Oh gak usah, kita sudah sarapan tadi sebelum kesini. Bi Siti masaknya nanti malam saja pas Kinan dateng. Kita abis gini juga mau jalan-jalan disekitaran Malang" jelas Vita.

"Baiklah kalau begitu, permisi saya tinggal dulu" ucap bi Siti sambil tersenyum.

Mereka semua merapikan koper dan barang bawaan mereka masing-masing mulai alat makeup sampai perlengkapan mandi.

"Ayo museum angkut buka jam 12 loh nanti antri" ajak Deta
"Kamu tau jalan gak Tisya?" tanya Sila
"Smartphone sis, bisa pakai gps" sahut Vita tersenyum sinis kearah Sila kemudian terkekeh.

-

MUSEUM ANGKUT

Tempat dimana yang lagi ngetrend untuk warga jawa timur, tempat dimana kita bisa menemukan barang kuno yang dipoles menjadi apik kembali, tempat dimana kita bisa melihat indahnya sisi kecil negara lain, tempat kita belajar sejarah, indah dan bagus sekali.

Setelah mereka berpuas-puasan berfoto, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5sore lewat, saatnya untuk pulang, ini bukan kota mereka, tak baik bagi perempuan berjalan-jalan dimalam hari.

"Makan yuk, makan. Lapeeeeer" ajak Vita memelas.
"Yaudah ini ada spesialis sambel didepan kita makan itu aja" jawab Sila menunjuk Restaurant di depan.

Merekapun makan dengan lahap, selama di dalam Museum Angkut belum makan siang. Hanya minum untuk menghilangkan rasa dahaga ketika berputar mengelilingi museum angkut yang sebesar itu. Setelah menyelesaikan makannya merekapun kembali ke Villa Kinan.

Dua mobil terparkir di halaman Kinan, Okta tau itu mobil Kinan, lalu satunya? Mungkin itu punya temannya. Semuanya turun dari mobil setelah Tisya memarkirkan mobilnya disamping mobil Kinan, dengan langkah perlahan. Okta membuka pintu perlahan dan tampaklah segerumbulan anak muda sedang berada di ruang tamu. Ada satu orang laki-laki yang berdiri mendekat, ketika mengetahui ada orang yang datang.

"Okta!" Sapa laki-laki itu tersenyum.
"Hai, Nan" ucap Okta dengan nada pelan.
"Apa kabar?" Tanya Kinan.
"Ba...ik, kamu sendiri?" Tanya balik Okta gugup.
"Menurutmu?" Tanya Kinan lalu terkekeh "Selalu baik lah Okta, kalian kenapa sih?" Tanyanya lagi.

"Nan, temen kamu...." Ucap Okta
"Mereka anak Youtubers kan?" Tanya Vita tercengang memotong ucapan Okta.
"Gila fans banget sama mereka!" Seru pelan Deta
"Iya iya betul mereka kocak banget, foto-fotonya sama video mereka juga lucu" sahut Sila yang juga tak percaya melihat orang-orang yang biasa dilihatnya di Youtube.

"Kalian ngomongin apa sih? Mereka siapa? Kok aku kudet banget" tanya Tisya polos lalu menyengir.

"Wah kalian juga tau mereka?" Tanya Kinan tersenyum melihat kelima perempuan tak berhenti menatap tamunya. Sila, Deta, Vita dan Okta menganggukkan kepalanya.

"Kinan" ucap Kinan memperkenalkan diri terlebih dahulu mengulurkan tangannya.

"Deta"
"Vita"
"Sila"
"Tisya"

"Aku kenalin sama mereka" ucap Kinan berjalan mendahului mereka berlima "Halo guys, kenalin ini temen-temen aku dari Surabaya. Seperti yang aku ceritakan tadi berbagi kamar sama mereka. And Fyi, mereka fans kalian loh" jelas Kinan.

"Haloooo" ucap mereka berdelapan secara bersamaan. 3 orang perempuan dan 5 orang laki-laki. 

Mereka berlima hanya mangut-mangut tersenyum, speechless. Mereka sudah tak tahu akan berbicara apa.

"Nan, kita duluan ke kamar ya" bisik Okta pada Kinan.
"Loh kok cepet banget kenalannya?" tanya Kinan polos
"Gpp, besok aja" sahut Okta pelan lalu berjalan cepat, diikuti dengan keempat orang temannya menuju kamar.

****

Keesokan harinya mereka berlima bangun terlalu siang. Setelah sholat subuh berjamaah, mereka langsung tidur kembali. Kinan berjalan menuju kamar Okta dan teman-temannya.

Tok. Tok. Tok.

Tak ada respon dari dalam, Kinan mengetuk pintunya kembali. Lalu terdengar suara langkah kaki dan membuka kunci kamar dari dalam.

"Hm?" Gumam Okta dengan mata terpejam, seakan masih dirumahnya sendiri.
"Okta? Where you're hijab, huh?" Tanya Kinan yang melihat Okta keluar dengan baju tidur dengan rambut dikuncir asal.

Okta langsung tersadar dan membuka matanya "Kinan?" Kagetnya langsung menutup pintu dan mencari apapun untuk menutup rambutnya dengan setengah sadar. Lalu membuka pintu kamar kembali.

"Jam berapa sekarang? Maaf ya Nan, anak-anak semalaman begadang lihat drama korea yang dibawa Vita" ucap Okta meringis.

Kinan menahan tawanya, Okta menggunakan selimut untuk menutup rambutnya "Jam 8, yaudah mandi gih. Ditunggu di meja makan. Kita sarapan bareng" ucapnya sambil mengusap kepala Okta dan pergi menuju ke meja makan.

Saat di Meja makan....
Mereka berlima tampak canggung saat harus makan bersama dengan orang-orang yang biasanya mereka liat di youtube, instagram dan blog.

"Makan aja, gak usah gitu" ajak Kinan tersenyum melihat tingkah Okta dan teman-temannya. Kelima perempuan itu mengangguk.

"Makan aja, gpp silahkan ladies first" ucap salah satu, Ernest. Laki-laki berbehel ini merupakan yang paling banyak fans mau laki-laki atau perempuan, karena ketampanan dan kelucuan atau mungkin kebodohannya. Haha.

"Gila jantungku rasanya mau copot diajak ngomong mereka" bisik Sila pada Okta.
"Speechless" celetuk Deta dengan polosnya. Semua yang di meja makan langsung tertawa.

"Kalian ini kenapa sih? Biasa aja, kita bukan artis kok, bukan pejabat, manusia biasa kayak kalian" sahut Aryo. Laki-laki tampan lagi yang ikut berbicara, sayang dia kesini dengan pacarnya-Ardina.

"Iya. Santai aja sama kita, kayak nongkrong sama temen aja. Lumayan kalian bisa Meet And Greet sama kita semeja makan lagi" celetuk Lee. Dari nama saja bisa dilihat dia keturunan Cina dengan level Rap nya tidak diragukan lagi.

"Ayo makan" sahut Ardina kali ini, perempuan bertubuh mungil dengan lesung pipi. Manis sekali. Tak halnya Aryo menyukainya dan berpacaran sudah 4 tahun. Kalau keduanya membuat video tentang hubungan mereka pasti so sweet bikin yang nonton ikut baper.

"Iya" jawab mereka berlima kompak dan mengambil makan.

Mereka semua makan tanpa ada suara, hanya terdengar ketukan piring yang bertemu garpu dan sendok. Sesekali anak Youtubers membuat lelucon yang membuat suasana ceria, tapi lagi-lagi mereka berlima tersenyum seadanya.

"Kita gak lucu ya?" tanya Beki. Laki-laki berambut kribo yang sudah kenal lebih banyak orang lebih dulu ketimbang yang lainnya.

"Iya kalian cuma senyum-senyum aja, becandaan kita garing ya?" tanya Aurel pacarnya Beki.
"Ng...ngak kok kak" sahut Tisya menyengir kuda.
"Anggap kita sebagai teman kalian gitu apa keluarga juga gak papa. Terserah kalian" sahut Yasha tersenyum manis. Laki-laki ini memiliki karya yang bagus di setiap videonya, stop-motion. Dan itu keren!

"Kalian ini lucu ya, mau buat video gak bareng kita?" ajak Ernest lalu tersenyum memandang satu-persatu kelima perempuan itu.
"Ngak kak, kita malu gak ada bakat" ucap Okta polos.
"Foto bareng aja kak" celetuk Sila lalu tersenyum.
"Lumayan buat pamer ketemen-temen ketemu kalian" sahut Vita dengan polosnya

Para anak Youtubers mengiyakan permintaan mereka, bagi mereka berdelapan fans adalah teman yang terus mendukung dan mensupport terus mereka dengan karya-karyanya.

"Kak nanti aku upload love ya kak, lumayan buat pamer di love anak Youtubers terkenal" celetuk Deta nyengir
"Bereeees" ucap Para Youtubers bersamaan.
"Kak Lee nama instagramnya apa? Maaf lupa" tanya Sila polos.
"Jadi kamu gak follow instagramku? Sakitnya tuh disini" ucap Lee memegang dadanya lalu jatuh dengan ekspresi yang membuat semua orang tertawa.

Sila terkekeh "Maaf kak, aku follownya cuma kak Ardina sama kak Ernest" jelasnya.
"Me too! Kak Ardina sama kak Ernest" sahut Deta menyengir kuda.
"Aku juga follownya kak Ernest" sahut Okta
"Aku follow kak Aurel" sahut Vita.
"Aku gak follow siapa-siapa" celetuk Tisya tertawa cekikikan.

"Tuhkan terbukti gw paling ganteng banyak yang follow" ucap Ernest dengan gaya khasnya.

"Tapi kita follow akun official instagramnya kalian kok kak, maaf ya abis gini kita follow semua, tapi di follow back ya kak, kan lumayan di folbek artis" sahut Deta tertawa cekikikan.

Para Youtubers harus segera berangkat ke Matos (Malang Town Square) karena ada MnG dengan anak muda di Malang dan ketua koordinatornya sudah menjemput di depan Villa Kinan. Kinan tak ikut ke acara Meet And Greet karena dia sedang malas berpergian kemana-mana.

"Kalian rencana kemana?" tanya Kinan menghampiri Okta dan teman-temannya di ruang tamu yang sedang melihat drama korea.

"Hm... Mungkin malas-malasan disini" jawab Okta dengan mata menatap TV Plasma 42inc" di Villa Kinan.

"Oh yasudah kalau gitu, aku mau tidur-tiduran aja diatas" pamit Kinan dan pergi meninggalkan kelima perempuan itu.
"Oke selamat tidur" sahut Okta

"Eh kok aku ngantuk ya?" Ucap Sila sambil menguap dan tiduran di paha Deta.
"You're so slept in everytime and anytime" sahut Deta terkekeh.
"Abis gimana lagi, ngantuk berat aku ke kamar ya" pamit Sila lalu berdiri dan berjalan menuju kamar.
"Yuhuuuuuu" jawab semuanya

Ringtone Hp Tisya terus berdering.

Missed Call Pacar Nduuut💕 (5)

"Aduh ganggu banget sih, diangkat kek, kasian tuh anak orang khawatir" omel Vita yang sedang konsentrasi melihat drama korea yang sedang bermain.

"Duh dasar pacar rempong, nelpon mulu" sahut Tisya bete "aku kedepan dulu ya cari udara segar sambil telponan" lanjutnya lalu pergi meninggalkan Deta, Okta dan Vita di ruang tamu. Inilah 3 orang yang gemar melihat drama korea, sampai pagi pun mereka bisa tahan untuk episode selanjutnya.

"Yaaaah kok udah tamat sih? Oh My Ghostes nya" keluh Okta "eh bawa stok lagi gak Vit?" Tanyanya kearah Vita.
"Enggak, tapi aku bawa novel 3. Mau gak?" Tanya Vita menawari Okta dan Deta. Keduanya menggeleng "Yaudah aku mau tiduran juga deh di kamar sambil baca novel" pamit Vita beranjak pergi ke kamarnya.

"Eh bosen juga gak ngapa-ngapain, entar kalau keluar ngabisin duit" ucap Deta.
"Iya ya, enaknya gimana?" Tanya Okta.

"Oh ya Ta, mintain VN suaranya Nanda dong nyanyi lagu Teman Hidup nya Tulus dong" ucap Deta memelas. Nanda adalah mantan Okta yang masih berhubungan dengannya sampai sekarang. Okta sering kali di nyanyikan lagu oleh Nanda.

"Eh ada di bb, aku gak bawa. Abis gini aku mintain lagi aja ya" sahut Okta sinis, sebenarnya dia paling anti menghubungi Nanda dulu.

#LINE

Oktaviani : Nanda
Oktaviani : Oy!
Oktaviani : si Deta minta kirim VN Teman Hidupnya Tulus

NandaPras : oke, wait:)

Ting! #LINE

NandaPras sent you voice messages.

"Nih lagunya udah dikirim" ucap Okta memberikan hpnya ke Deta.

Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku.
Berdua kita arungi dunia.
Kau milikku, ku milikmu.
Kita satukan tuju, bersama arungi derasnya waktu.

Deta mendengarkan lagunya sampai habis "Suaranya bagus" celetuknya lalu melihat iseng chat dari Nanda yang berisi Voice Note dia menyanyi. "Dia masih sering kirim lagu ke kamu?" Tanya Deta menggodanya.

Okta menganggukan kepalanya "Tau tuh dia, ngirim mulu. Nanti kalau ketemu pasti yang dinyanyikan Teman Hidup mulu" ucapnya ketus

Deta tersenyum menggoda "Hm" gumamnya "bukannya aku sudah pernah bilang berhati-hatilah terhadap lagu itu. Kalian sahabatan dari SMA, udah pernah pacaran meskipun putus, ngerayu mulu tapi gak dijadiin pacar? See? Dia mikir kalau kamu tetap Teman Hidupnya walaupun nanti kalian bakal punya pasangan sendiri-sendiri" jelas Deta.

"Dih sumpah. Gak usah takut-takutin plis" ucap Okta ketus lalu melempar bantal kursi kearah Deta.

"Yaaa!" Teriak Deta tak terima dan membalas mengelitik tubuh Okta "kita buktikan saja, bagaimana?" Tanya Deta

"GILA LO SUMPAAAAH!!!" Teriak Okta dalam gelitikan Deta.

"Oy oy ada apa ini? Debatin apa kalian?" tanya Kinan yang tiba-tiba datang. Keduanya langsung merapikan pakaian mereka yang acak-acakan.

"Gpp kok" jawab Deta sambil memutar vn dari Nanda.
"Eh itu suara kayak pernah denger" ucap Kinan sambil berfikir "suara Nanda kan? Kalian masih ada something?" tanya Kinan melihat kearah Okta.

"Ngak Kinan, dia cuma kirim vn nya dia karena request dari Deta" jawab Okta gugup melihat ekspresi penasaran Kinan.

"Apaan kok bawa-bawa aku? Emang si Nanda sering banget kan nyanyiin lagu itu ke kamu" sahut Deta
"Ada apa-apa juga gpp kok" goda Kinan lalu tertawa.

Mereka bertiga jadi lebih akrab, walaupun sebelumnya Kinan dan Okta mereka lebih mengenal dulu.

"Oya Kinan, dulu si Okta pernah cerita kalau dia suka sama kamu, terus jadi berita heboh anak se sma, katanya kalian sering dikecengin sama temen-temen kalian, malah dijudge sama guru kalian udah pacaran. Ya gak sih Ok?" tanya Deta polos menyikut lengan Okta.

"Ih Deta mulutnyaaaaa" teriak manja Okta memukul pelan lengan Deta.
"Emang iya dan aku bangga" sahut Kinan tertawa terbahak-bahak.
"Apaan? Dulu waktu gembor-gembor gosip itu kamu diem aja, gak ada pembelaan. Cuma aku yang nyeloteh kita gak pacaran. Asli malu, suram banget" sahut Okta cemberut dan mengerucutkan bibirnya.

"Lah kamu ada yang belain gitu si Nanda, dulu kan dia pacar kamu" goda Kinan lalu tertawa kembali.
"Apaan itu anak-anak yang mojokin, gila banget. Nanda kan udah jadi mantan waktu itu. Dan pacaran kita juga becandaan gak beneran" sahut Okta melakukan pembelaan untuk dirinya sendiri.

"Sudah sudah kamu itu lucu banget" ucap Kinan sambil mencubit pipi Okta "sudah masa lalu juga dibahas aja" lanjutnya mengelus kepala Okta

Deta yang melihat Kinan memperlakukan itu pada Okta langsung berpura-pura batuk "Aku jadi kacang nih, kayaknya ada yang lagi yang bernostalgia. Pergi aaah" pamit Deta pergi mengambil hp yang di charge dekat TV dan duduk-duduk dipinggir kolam renang bersama dengan Tisya yang daritadi menelpon tak ada habisnya.

Ting! #LINE

Yasha added you as friends.

Deta : Kak Yasha anak Youtubers?
Deta : sumpah ini bukan hoax?
Deta : tau lineku darimana? - 14.30

Yasha : Iya bener:)
Yasha : dari ig kamu.
Yasha : lagi apa?

Deta langsung tersenyum "sumpah demi apa ini kak Yasha tanya lagi apa?" Tanyanya pada diri sendiri.

Deta : lagi di kolam renang belakang
Deta : liat Tisya telponan sama pacarnya
Deta : jadinya main air ini sm line hehe
Deta : sama dengerin lagunya tulus
Deta : kenapa chatnya jadi banyak?😂
Deta : acaranya gimana kak? Seru?
Deta : sudah selesai kah?

Yasha : detail amat neng
Yasha : suka Tulus? Same:)
Yasha : seru kok, sayang kalian gak ikut.
Yasha : kalian berenam ikut, rame dah.

Deta : Yeay!!!
Deta : Suaranya dan liriknya itu bagus.
Deta : apalagi lagu teman hidup😭
Deta : bikin baper😂
Deta : maaf aku spam huhu
Deta : pasti ke ganggu ya acaranya:(
Deta : selesai jam berapa acaranya?

Yasha : mau aku nyanyiin? *gakdeng *fals
Yasha : nanti abis magrib aku pulang
Yasha : jam 8 malem kita ketemuan ya:)

Deta langsung membelalakan matanya melihat chat dari Yasha yang mengajaknya ketemuan nanti malam.

Deta : WHAT?
Deta : ini bukan kak Yasha ya?
Deta : pasti ini penguntit ya?

Yasha yang melihat Deta yang tak percaya kalau chat itu memang darinya langsung melakukan video call.

"Ketemu jam 8 oke?" Ucap Yasha tersenyum sambil mengedipkan matanya satu. Dia melihat ekspresi tak percaya Deta 'she is so cute' dalam video callnya, matanya membelalak dan mulutnya membuka sedikit.

Shit! Deta tak percaya jika itu benar-benar Yasha. Dia orang yang mengajaknya ketemuan? Yasha tampak menunggu jawaban dari Deta dan terus tersenyum kepadanya. Deta menganggukkan kepalanya.

"Bye" pamit Yasha lalu mematikan video callnya.

Deta tak bisa berhenti tersenyum dan berlari ke kamarnya memeluk Sila yang sedang teridur pulas. Bahagia dalam hatinya, seperti ada kupu-kupu yang berwarna-warni di perutnya yang akan keluar.

-

Makan Malam....
Semuanya sibuk mengobrol dan bercanda satu sama lain. Yasha dan Deta saling melirik satu sama lain, setidaknya ada satu jam lagi waktu mereka akan bertemu.

Ting! #LINE

Yasha : aku sudah di kolam renang:)
Yasha : aku tunggu yah:)

Deta : oke, otw kak:)

Deta menghampiri Yasha yang sedang duduk dipinggir kolam renang, kakinya sudah masuk setengah di dalam air. Dia mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek hitam selutut.

"Hai" sapa Yasha tersenyum melihat Deta datang. Deta hanya mengangguk kikuk "Main air lagi? Mau?" Tanyanya

"Enggak ah kak, aku bawa celananya cuma sedikit" ucapnya terduduk di kursi panjang tak jauh dari Yasha.

Yasha langsung berdiri menghampiri Deta "Let me your hand" ucapnya mengulurkan tangannya.

Deta menelan ludahnya sendiri, tak percaya dengan keadaan ini. "Lo bodoh kalau nolak Det!" Makinya sendiri dalam hati. Dia mengikuti hatinya dan memegang telapak tangan Yasha.

Yasha membawanya kepinggir kolam renang dan terduduk bersampingan seperti posisinya tadi. Dilihatnya gadis yang disampingnya itu tak berhenti tersenyum, dia langsung tersenyum melihat tingkahnya itu. Keduanya mengobrol satu sama lain, membahas diri mereka masing-masing.

"Yasha? Deta?" Tanya Kinan yang tiba-tiba datang tak percaya keduanya sedang mengobrol sangat akrab "Apa yang kalian lakukan disini?" Tanyanya lagi
"Kita hanya menobrol Kinan, kalau mau ikutan juga gak dilarang kok" sahut Deta tersenyum malu, seperti ketahuan sedang pacaran.

Kinan langsung menyelusup duduk diantara keduanya "karena kalian berduaan, jadi aku harus jadi orang ketiga" ucapnya lalu tertawa

"Iya setan lu bro, ganggu aja" gumam Yasha. Kinan hanya menatap sinis Yasha dan tertawa kembali.

"Nan, jangan ngomong ke yang lain ya" bisik Deta memelas. Kinan tersenyum kearahnya dan menganggukkan kepalanya.

****

Hari ini hari terakhir Para Youtubers di Malang, mereka akan mengadakan Meet and Greet lebih intensif di Hotel Gajah Mada. Mereka mengajak Kinan dan teman-teman Okta ikut serta, masuk gratis eksklusif duduk paling depan.

Acara sudah separuh berjalan, tapi antusias fans mereka masih tinggi, mungkin tak banyak orang mengenal komunitas mereka, tapi banyak fans yang jauh-jauh dari tempat lain untuk ketemu mereka.

"Okta" sapa Deta
"Iya Deta?" Sahut Okta
"Keluar yuk, boring" ucap Deta memelas, disini mereka berlima tepatnya berenam sama Kinan hanya diam. Tak seperti fans lain, keenamnya hanya diam. Pertanyaan apa juga mereka sudah tahu jawabannya.

"Ke?" Tanya Okta
"Toilet apa dimana gitu, bentar doang panas juga disini" jawab Deta. Okta menganggukkan kepalanya dan berdiri berjalan keluaran ruangan.

Mata Yasha teralih ketika melihat Deta berdiri dari tempat duduk seakan mau pergi, sungguh hatinya berat melihat sosok itu pergi dari pandangannya. Apakah acaranya membosankan? Apakah dia kebelet? Matanya tak bisa berhenti menatap Deta yang berjalan keluar.

"Muter-muter aja sih ya" keluh Okta bosan
"Foto-foto aja yuk, lumayan daripada nganggur" sahut Deta mengambil beberapa angle foto untuk Okta, dan dengan cepat keduanya hanyut.

Setelah puas berkeliling dan berfoto-foto, mereka kembali menuju ruang hall tempat diadakan acara Meet and Great. Tiba-tiba suara nyanyian datang dari belakang.

Tetaplah bersamaku
Jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu
Kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

"Ok, serius demi apa ada yang nyanyiin lagu teman hidupnya tulus?" tanya Deta mukanya memerah senang.
"Lebih baik kamu liat belakang yang nyanyi siapa!" Seru Okta terkaget dan menoleh kebelakang.

Deta membalikkan tubuhnya "Kak Yasha?" Tanyanya terkaget. Tubuhnya tiba-tiba mendadak kaku, tak bisa bergerak.

"Hayoloh Det, kamu diiket juga sama nyanyian itu" bisik goda Okta lalu terkekeh melihat ekspresi bodoh Deta.

"Deta" sapa Yasha tersenyum kepadanya. Deta hanya mematung, mengutuk dirinya sendiri.

"I....ya" ucap Deta gugup sambil menelan ludahnya sendiri.
"Mau jadi teman hidupku?" tanya Yasha sambil memegang tangan Deta lembut.
"Whats?" ucap kaget Deta dan Okta bersamaan. Deta terdiam dengan pikiran diotaknya.

"Kenapa diam? Bicaralah" ucap Yasha tersenyum manis kearah Deta.

Deta memandangi detail wajah Yasha dan yang tampak adalah ketulusan. Hati Dera sendiri ragu apa yang akan dijawabnya, dia tak mau salah langkah.

"Kasih aku waktu buat jawab, kak. Ini terlalu cepat" ucap Deta berhati-hati agar ucapannya tak menyakiti Yasha.

"Waktu aku gak banyak, tinggal besok. Ya sudah aku juga tak ingin memaksamu. Pikirkan baik-baik" ucap Yasha dengan nada sedikit kecewa lalu berusaha tersenyum ikhlas di depan Deta dan mengusap lembut kepala Deta.

Yasha melepaskan tangan Deta, hatinya sungguh kecewa. Ternyata perhatian yang dia sampaikan lewat pesan dari Line masih belum bisa membuka hati Deta. Teman-temannya terus mensupport dirinya agar kuat.

****

Keesokan harinya....
Para Youtuber sudah sibuk berkemas-kemas untuk pulang kembali ke Jakarta. Sebenarnya hari ini Kinan akan mengajak mereka berjalan-jalan, tapi para Youtuber itu menolak karena ada masalah. Kinan sempat kecewa, tapi dia tau masalahnya adalah Yasha-Deta langsung terdiam.

Ting! #LINE
Hp Yasha berbunyi.

Deta : Kak
Deta : Marah kah sama aku?
Deta : aku minta maaf ya:(

Yasha : enggak kok:)
Yasha : dont be sad:)

Deta : tapi aku gak enak sama kakak:(
Deta : kakak batalin jalan" sm Kinan kan?
Deta : grgr aku kah? Maaf:(

Yasha : bukan kok:)
Yasha : aku gak akan maksa kamu
Yasha : maaf aku menyatakan terlalu cepat:)

Deta : kamu orang baik kak:)
Deta : aku suka sama kamu, tapi aku ragu
Deta : biarkan aku belajar mencintaimu juga:)

Yasha : aku akan berusaha berjuang
Yasha : buat buka hatimu buat aku:)

Deta : sama-sama berjuang ya:)
Deta : save flight kak✈️

Saat sarapan pagi semuanya tampak diam, hening tanpa ada suara. Biasanya para Youtubers akan membuat lelucon saat keadaan seperti ini. Okta khawatir terhadap Deta, dia mengelus punggungnya. Deta langsung tenang mendapat support dari Okta, walaupun teman-temannya masih belum tau ceritanya dengan Yasha. Satu orang mulai berdiri, Ernest menyelesaikan makannya terlebih dahulu kemudian disusul yang lainnya.

Kinan yang tersadar, memberikan kode kepada Okta agar membawa Deta untuk menenangkan dirinya. Okta membawa Deta jalan-jalan keluar tanpa ada suara, hanya berjalan menghirup udara sejuk di Malang.

Deta menghentikan langkahnya dan terduduk disebuah pohon. Dia menelungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya, sangat bersalah. Okta mendekat langsung memeluknya, memberi kekuatan.

Deta bosan kalau harus termenung seperti itu, dia membuka instagramnya. Melihat video-video yang dibuat Para Youtubers saat Meet and Greet kemarin. Sampai matanya tertuju pada sebuah video yang dikirim oleh Lee dengan mencamtumkan namanya. Matanya terus menuju kearah video yang akan diputar itu.

Video berdurasi 15 detik berputar dengan memperlihatkan para Youtubers  mensupport Yasha dengan memperlihatkan foto keduanya saat malam hari di kolam renang, saat Yasha menyatakan cinta padanya. Ini memalukan.

Hati Deta tiba-tiba memanas dan menjadikan orang yang paling jahat di dunia. Dan seketika itu akun istagramnya banyak notification dari fans mereka yang berbondong-bondong memfollow dia, dan beruntung instagramnya sudah ia private.

Tak halnya ucapan positif keluar dari fans Yasha yang ikut mensupport dan ada pula yang menghujat dengan mencamtumkan namanya di kolom coment.

#CommentIG

Resti95 Uuuuuuh so sweet ka Yashaaa😍
Sischaaaak Seandainya aku, seandainya
Teguhpo Sok jual mahal banget nih perempuan
Faridamuts Bukan jual mahal tapi dia hanya perlu pembuktian @Teguhpo
Garingzzz Ceweknya numpang tenar kali ini ah, settingan maybe ya.
Uswatunhm Iyoi. Ini cewek kali pengen terkenal. Deket sama artis yutubers. Kalau udah tenar pasti ditinggal.
Mhmmdharis Kenapa kalian tak lihat dari perjuangan @yashaAM ? Dan kenapa kalian gak liat dari sisi perempuan yang gak mau terima dengan gampang karena @yashaAM artis? Pikiran kalian itu pendek.

Deta melihat komentar itu langsung menangis, kenapa banyak sekali yang menghujatnya, dan beruntungnya banyak yang membelanya. Dia langsung berdiri menarik Okta untuk balik ke Villa Kinan.

"Kak Lee, apapun bentuk dukungan kalian. Saya mohon jangan pernah cantumkan nama saya" ucap Deta lemah saat melihat Para Youtubers berada diruang tengah.

Semua orang menatap lemah, Deta terlihat sangat menyedihkan. Matanya membengkak. Yasha berjalan pelan mendekati Deta.

"Berhenti kak!" Bentak Deta tanpa tersadar mengeluarkan air matanya saat melihat Yasha mendekat kearahnya "inilah sebab kenapa aku meminta waktu. Kak Yasha orang terkenal dan aku orang biasa pasti fansnya ada yang menerima ada juga yang haters" ucapnya lalu berjalan pergi mengusap air matanya sendiri.

Tangan Yasha menghentikan langkah Deta "Kamu bukan orang biasa, kamu orang luar biasa dalam hidupku" ucapnya ingin sekali memeluk Deta, menenangkan gadis itu. Tapi ia urungkan niatnya karena tak ada hak.

"Lepasin kak!" Bentaknya sambil berusaha melepas genggaman Yasha "Itu bagi kakak, bagi fans kakak enggak. Dan apakah segampang itu kakak mencintaiku secepat ini, huh?" Tanyanya dengan nada sarkatis

"Aku tak mencintaimu, aku cuma ingin jadi teman hidupmu" sahut Yasha pelan, dia merasa bersalah karena membuat perempuan yang dicintainya menangis.

"Berarti aku juga tak harus berusaha mencintaimu kan?" Tanya Deta sambil terisak. Air mata bodoh ini kenapa tak berhenti. Terlihat seperti dia orang paling menyedihkan didepan banyak orang.

"Terserah kamu" ucap Yasha sambil tersenyum melepas genggaman tangan Deta. Dia melihat perempuan itu langsung berlari ke kamarnya.

****

Bandara Juanda Surabaya....
Teman-teman Deta enggan mengantar para Youtubers ke Bandara. Tapi mereka dipaksa oleh Kinan harus mau menemaninya. Okta sudah memarahi Kinan, Deta pasti akan menderita melihat kepergian Yasha. Tapi Kinan meyakinkan mereka agar tetap ikut, Deta lah yang menganggukkan kepalanya terlebih dahulu. Kinan tersenyum kearahnya dan mengusap lembut kepala Deta "aku yakin kamu tak akan menangis lagi, aku akan biarkan Yasha menyelesaikan masalah kalian" bisiknya pelan pada telinga Deta.

Seorang laki-laki datang menghampiri Deta, itu Lee "Deta gue minta maaf ya" ucapnya merasa bersalah.

"Gpp kak, terimakasih sudah dihapus. Kakak gak perlu minta maaf, maaf juga kemarin udah marah sama kakak" ucap Deta tersenyum.

"Gak ada yang mau disampaikan ke Yasha?" Tanya Lee. Deta menggelengkan kepalanya. "Kita balik dulu ya kalau gitu" ucapnya mengelus kepala Deta lalu berlalu pergi.

Deta tersenyum kenapa elusan di kepalanya dari Lee dan Kinan menguatkan hatinya, seakan menghibur adiknya yang sedang terluka? Kenapa hatinya merasa tak enak? Kenapa dia tak mengucapkan salam perpisahan untuk Yasha? The stupid things.

"Deta" teriak Tisya dari dalam mobil yang menunggunya berbicara kepada Lee. Deta berjalan menuju mobil Tisya dan membuka pintu mobil Tisya.

"DETAAAAAA!!!" Teriak seseorang, Deta tau itu suara siapa, Yasha. Deta menoleh kearahnya melihat Yasha mendekat kearahnya.

Para Youtubers berjalan dibelakang Yasha, wajah mereka tersenyum bahagia dan gelisah. Yasha semakin dekat dengan Deta. Teman-teman Deta mendorong pelan Deta agar berjalan mendekat kearah Yasha. Yasha memegang tangan Deta.

"Ini memang tempat umum, tapi setidaknya ini bukan keramaian. Aku mau menyampaikan untuk terakhir kali ke kamu, kamu memang orang biasa, kita baru ketemu 3 hari, tapi kamu sudah buat aku jatuh hati ke kamu, ini hati yang mengaturnya bukan aku, aku juga gak tau kenapa bisa menetapkan hati padamu" ucap Yasha dengan wajah manis yang meneduhkan.

"DETAAA" seru Ernest.

Para Youtubers membuka jaketnya, dan mengenakan t-shirt " I LOVE YOU DETA" dengan penggalan kata. Asli ini romantis batin Deta, tapi ini hanya menyatakan cinta.

"Apalagi sih Yasha? Malu tau. Apa ini bakal masuk video kalian?" Tanya Deta dengan wajah cemberutnya.

Yasha tersenyum "Kali ini enggak, aku gak akan bikin kamu malu dan nangis lagi karena kamu dihujat fans aku" ucapnya mengusap lembut kepala Deta. Sudah 3x laki-laki dalam hari ini mengusap kepalanya. Deta tersenyum.

"Jadi apa?" Tanya Yasha
Deta mengernyitkan dahinya "terus aku harus jawab apa, hm?" Tanyanya menggoda Yasha sambil mengulum senyumnya.

"Deta kamu ini ya, aku sudah usaha buat ginian semalem sama temen-temenku malah responnya begitu doang" Sahutnya dengan nada sebal "nih" ucapnya lagi sambil memberikan bunga mawar merah yang telah dirangkai indah yang dibawah Kinan. Deta merasa air matanya akan keluar.

"Yaa! Deta! Padahal aku sudah bilang gak akan buat nangis gara-gara Yasha" seru Kinan kesal kemudian terkekeh setelah melihat Deta tertawa melihat dirinya mengomel.

Yasha langsung menyanyikan lagu Tulus yang berjudul Teman Hidup. Suaranya sangat enak di dengar, lalu Ernest membuat lagunya sedikit dangdut. Semua orang langsung tertawa melihat itu dan berjoget seperti orang gila.

"Terimalah" ucap Yasha tersenyum memberikan bunga mawar yang sedari tadi tak diambil oleh Deta. Deta mengambilnya dan memeluk Yasha sangat erat. Yasha mengelus belakang kepala dan punggung Deta lembut.

"Kak, kita LDR ya?" Tanya Deta polos menyengir kuda.
"Maybe. Tapi kamu belum menjawabku? Jadi apa jawabannya?" Tanya balik Yasha.
"Hm aku tidak mencintaimu kak" goda Deta terkekeh pelan "tapi aku mau jadi teman hidup kamu" lanjutnya mempererat pelukannya.

"Lepasin kali bro, kita kan envy" seru Lee. Keduanya langsung melepaskan pelukannya.

"Ini pertemuan terakhir kita?" Tanya Deta kembali khawatir.
"Enggak cenggeng, aku usahakan sebulan sekali kesini, kalau aku gak bisa kita bisa vcall oke?" Sahut Yasha mencubit pipi gemas Deta.

Deta langsung cemberut "oke, nanti aku juga sempatin kesana deh tiap libur semester" ucapnya tertawa "tapi siapa yang jamin kamu disana gak main belakang sama aku, huh?" Tanyanya dengan mata menyelidik.

Yasha menaikkan alisnya "Yaaa! Dengarkan aku ya cenggeng. Aku gak akan selingkuh. Kamu percaya aku, aku juga percaya kamu" ucapnya memegang kedua pundak Deta, meyakinkannya.

Deta mengangguk "Yaudah hati-hati dijalannya" ucapnya melambaikan tangan pada Yasha

"hati-hati kakak-kakak Youtubers semoga selamat sampai tujuan" sahut yang lainnya.

Minggu, 28 September 2014

Brother Zone

"Nes kamu jadi sie acara buat ospek univ" teriak Vina saat diparkiran setelah memarkirkan motornya.

"Ah gila pasti sibuk banget, kerja mati-matian. Lah kamu apaan?" tanya balik Nessa cemberut.
"Sie konsumsi" ujar Vina cengigisan.
"Enak banget dah, kerjanya nyante abis" sahut Nessa.
"Rejeki orang cantik, lagian kan gak ada kuliah sih. Acaranya juga baru bulan september pas krsan, jadi no problem dear haha" ucap Vina merangkul tangan merajuk kepada Nessa agar tak marah padanya.

"Iya enak kamu ngomong" ucap ketus Nessa.

"Eh tapi btw denger-denger uas kita di majuin tanggal 16juni" celetuk Vina menunjukkan WA grup kelas kepada Nessa.

"Serius? Pantes aja itu dosen-dosen ngasih tugas banyak banget, ngebut kuliah sampai full" gerutu Nessa yang bertambah kesal.

**** 

Uas hari terakhir selama 5hari ini membuat Nessa harus belajar lebih keras dan sering tidur larut malam. Alhasil hari ini Nessa terlambat bangun, dia harus berjalan cepat untuk menaiki tangga karena ruang ujian terdapat dilantai 3. 

BRUUUUK!! 

Nessa bertabrakan dengan seseorang karena takut terlambat. 

"Maaf kak" ucap orang yang menabraknya tadi. Nessa melihat seorang laki-laki didepannya sedang membereskan buku dan tasnya. 

"Saya yang minta maaf" ucap Nessa sambil melihat jam ditangannya. Terlambat. Laki-laki itu memberikan tas Nessa "makasih ya, maaf buru-buru mau ujian" pamit Nessa
"Sama-sama" ucap laki-laki itu.

Nessa berjalan cukup cepat, jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. "Gara-gara tadi bertemu laki-laki itu?" tanyanya dalam hati. Laki-laki yang ditemuinya adalah sosok tinggi, putih kekuningan, dengan paras tampan, kriteria yang pas.

**** 

Pra Ospek Universitas... 
Nessa dan Vina terlambat datang, sebab Nessa harus menjemput Vina terlebih dahulu. Mereka berdua berjalan melewati koridor untuk menuju aula universitas. Disana mereka melihat banyak sekali mahasiswa baru yang memakai celana hitam dan baju putih dan terdapat juga mahasiswa yang lain. 

Istirahat, sholat dan makan untuk para mahasiswa baru dan panitia sedang berlangsung. Tak halnya dengan Nessa dan Vina yang tak suka makanan box yang dipesan kampus. Mereka memilih untuk makan di kantin dan bergegas makan. Serta segera menuju aula yang cukup jauh dari kantin. 

"Kak Nessa" goda segurumbulan laki-laki yang terduduk-duduk didepan ruang komputer.

Nessa dan Vina langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Tapi yang ia lihat hanya segurumbulan laki-laki yang sibuk dengan dirinya masing-masing. Tapi ia pernah mengalami ini sebelumnya hampir setiap hari dengan melihat segurumbulan laki-laki itu juga. 

"Horor banget sih ini kampus" sindir Vina 
"Iya kali banyak SETANNYA" teriak Nessa seakan membuat para laki-laki itu tersinggung. Mereka melanjutkan untuk menuju aula.

**** 

Malam Pensi Penutupan Ospek Universitas...

"Shit!" Umpat Nessa di dalam kamarnya.

Begitu banyak notifications di telepon genggamnya, dia tertidur kecapekan karena harus mengurus Jadwal UKM yang dia geluti sebagai sekretaris. Dia langsung berlari ke kamar mandi mencuci wajahnya, memakai bedak dan lipglos. Dia sudah tak peduli dengan baju yang dia pakai dan langsung bergegas pergi ke kampusnya.

"Bajunya yang dipake itu mulu kak" suara laki-laki itu menghentikan langkah Nessa saat sedang berjalan di koridor.

"Maksud kamu apa, huh?" Tanya Nessa membalikkan badan. Semuanya terdiam, tak ada yang menjawab. 

"Oh aku ingat kalian siapa? Kalian yang biasanya manggil namaku terus sok cuek itu kan?" ucap ketus Nessa menyelidik satu persatu wajah mereka. Namun tak ada yang dikenalnya.

Satu laki-laki maju sambil menyilangkan tangannya "Iya bener kak. Kenapa emang?" Tanyanya yang membuat Nessa melangkah mundur pelan.

"Yaaa! Jangan goda dia!" Teriak seorang laki-laki dari gerumbulan itu maju kearah temannya tadi.

"Maksud kalian apa sih?" Tanya Nessa kebinggungan "Ah! aku inget kamu, sepertinya kita pernah bertemu!" ucapnya.

Laki-laki yang pertama maju langsung merangkul bahu laki-laki yang disampingnya "Ini teman kita, dia mau kenalan sama kakak, boleh gak?" Tanyanya dengan senyum smirk nya.

Laki-laki yang dirangkul hanya tersenyum tak enak pada Nessa dan menatap sinis temannya itu.

"Gak usah gengsi dong bro! Kaka inget gak? dia ini demi ketemu kakak rela masuk UKM Karya Tulis, terus dia juga adik kelas kakak pas SMA, terus inget gak pas kakak tabrakan sama dia pas kakak mau ujian, sebenernya dia sengaja dan pengen kenalan sama kakak, eh kakaknya buru-buru. Dia juga sering memperhatikan kakak tanpa disadari" jelas salah satu temannya ikut maju ke depan.

"Oya? Kamu dari SMA Al Islam? Tapi kok aku gak tau ya? Waw sampe segitunya" tanya Nessa speechless kemudian terkekeh.

"Ferdie" ucap laki-laki mengulurkan tangannya terlebih dahulu.
"Nessa" sahut Nessa menjabat tangan Ferdie.

"Boleh minta pin bb atau nomernya kak?" Tanya Ferdie meringis
"I feel you know my phone number and my pin bb" goda Nessa tersenyum menebak.
 
"Bener banget kak, dia basa-basi doang" celetuk salah satu temannya 
"Apaan sih lo? Malu-maluin" ucap Ferdie 
"Yaudah duluan ya, panitia ospek soalnya" 

-

Nessa mendaratkan kakinya di Backstage, dia sudah capek berlari karena harus menghindar dari omelan ketua panitia. Untung Vina bisa menghandle tugasnya, jadi masalah tak begitu banyak. Dia duduk dan meraih botol minuman disamping tas Vina kemudian meminumnya.

"Wooooy" teriak laki-laki itu mengagetkannya dan membuatnya tersedak "maaf maaf dek" ucapnya 

"Kak Deli ihhhhh" teriak Nessa.

"Salah sendiri minuman orang main disaut-saut aja tanpa permisi" celetuk Deli. Deli kakak tingkat kuliah Nessa, sama-sama sie acara, kakak kelas waktu SMA tapi tak saling kenal baru ketemu dan akrab di BEM. Dunia sempit sekali.

"Punya kakak? Ya maaf deh" ucap Nessa lalu melanjutkan minumnya sampai habis "udah habis nih kak, ikhlas kan?" Tanya Nessa lalu meringis

"Untung gue sayang sama lo. Apapun buat lo ikhlas deh gue" ucap asal Deli. Nessa sudah terbiasa dipanggil sayang-sayangan dengan Deli sama halnya dengan Vina. Nessa tersenyum tersenyum mengedipkan matanya berkali-kali.

"Nes, kamu dipanggil bu Anisa mau ngomongin soal UKM di B201 segera ya" ucap Syifa terengah-engah, seperti habis lari maraton. Dia tau Syifa ada wakil ketua panitia Ospek, pasti lebih sibuk.

"Elaaah kak Syifa, bisa nanti aja gak kak? Baru nyampe deh ini seriusan" rayu Nessa pada Syifa. Lalu Syifa memberi isyarat kepada Deli untuk memberi tahu. Nessa langsung kikuk saat mendapat tatapan tajam Deli "Ah oke! Oke!" Sahut Nessa

"Kalian berdua pacaran ya? Kok kak Deli mau aja disuruh kak Syifa?" Seru Nessa terkekeh kemudian berlari kabur. Keduanya hanya menggelengkan kepalanya.

-

Ruang B201... 
Nessa mengkonsultasikan karya tulis ukmnya kepada bu Anisa yang telah ia taruh di meja beliau seminggu yang lalu, dan baru kali ini di acc dan dia dipanggil. 

"Terimakasih bu" ucap Nessa kemudian bersalaman dengan bu Anisa.

Pintu terbuka, Nessa terkaget melihat sosok dihadapannya. Laki-laki dimasa lalunya, dia yang mencintainya sepenuh hati tapi tak ada balasan darinya. Mata mereka saling bertemu, mata yang tak pernah bertatap muka secara langsung 

"Firza" sapa bu Anisa. Dosen muda cantik yang dapat membuat semua mahasiswa jatuh cinta, jika tak memiliki suami.

"Iya bu?" Sahut Firza kemudian mendekat kearah bu Anisa.

"Oya nanti anak ukm Palang Merah jadi ngadain penelitian kan bareng sama anak ukm Karya Tulis Ilmiah, kan?" Tanya Bu Anisa.
"Jadi bu, bagaimana kelanjutannya?" Tanya balik Firza lalu menatap kearah Nessa.

Nessa mematung melihat percakapan bu Anisa dan Firza. "1, 2, 3 kabuuur" serunya dalam hati.

"Nessa!" ucap bu Annisa mengagetkan rencana Nessa yang sudah mundur jauh darinya.

"I...iya bu. Ada apa?" Tanya Nessa dengan gugup.

"Ini kenalin ya nama Firza ya Non" ucap bu Anisa dengan sapaan khasnya pada mahasiswi "terus kenalin Nessa anak UKM karya tulis yang akan bekerja sama dengan anak Palang Merah" jelas bu Anissa. Keduanya mengangguk paham.

"Iya bu. Terimakasih" ucap Firza tersenyum.
"Ngh. Saya pamit dulu ya bu. Ada acara ospek soalnya. Assalamualaikum" pamit Nessa kemudian segera berjalan secepat mungkin. 

"Sa!" teriak seseorang. Itu Firza.

Dia lantas menoleh kebelakang "i...iya bang Fir..za ada apa ya?" jawabnya gugup.

"Nomermu masih aktif kan?" Tanya Firza
"Masih" sahut Nessa berusaha tenang.
"Singkat amat, kita baru pertama ketemu loh dari SMA kamu ngehindar mulu ketemu aku, akhirnya sekarang dipertemukan" ucap Firza tersenyum.

Nessa hanya bisa menyengir kuda "Maaf ya bang. Aku permisi dulu, panitia ospek soalnya" pamitnya lalu berjalan secepat yang dia bisa.

"Kak Deli, Vina bagi minum. Haus! Capek!" teriak Nessa ngos-ngosan saat sampai di backstage.

"Apasih Nes? Kamu ambil tuh di dus" sahut Vina sibuk dengan HT yang digenggamnya.

"Ada apa dek? Kok ngos-ngosan gitu?" Tanya Deli mendekat memberikan botol minuman baru. Nessa langsung meminumnya sampai habis dan tanpa jeda.

"Habis lari dari masa lalu" celetuk Nessa lalu terkekeh.
"Lah dia dagel malah" sahut Firza.
"Serius kak. Tadi itu ya aku ketemu sama bang Firza alumni SMA kita, tau gak?" Ucap Nessa lalu duduk sembarangan dibawah. Deli duduk mengikutinya penasaran.

"Lah dia emang kuliah disini?  hubungannya apa? Kalian kok bisa kenal? Wah gitu gak cerita sekarang" Tanya Deli dengan tatapan yang dalam.

"Ih kan dia masa lalu makanya gak cerita. Gak usah maksa ya plis. Lagi capek dan malas" ucap Nessa meluruskan kakinya.

"Oh gitu! Oke traktiran gue abis sidang proposal batal! Cuma Vina yang gue traktir" ancam Deli melirik sinis kearah Nessa.

"Oh tidaaaaaak" seru Nessa "Oke! Aku cerita. Jadi aku kenalan sama dia di facebook, terus saling curhat begitulah setelah punya nomer masing-masing, terus dia nembak aku? Lah padahal aku gak pernah ketemu dia, kan aneh" jelasnya

"Hoaaaaams ngantuk denger dongeng" celetuk Deli menguap.
"Kak Deliiiiiiii!" teriak Nessa dengan manjanya. Hanya Deli yang tau dan hafal bagaimana caranya berfikir.

**** 

Pergantian semester ganjil ke semester genap pun berlangsung. Hubungan Nessa dengan Ferdie ataupun Nessa dengan Firza masih terjalin. Bukan maksud Nessa mempermainkan kedua orang itu, dia hanya menganggap semuanya itu teman. Kadang Firza juga mengajaknya keluar tapi dia sangat malas, apalagi dengan suruhan Deli yang tak membolehkannya keluar dengan Firza. Karena menurutnya Deli adalah kakaknya di kampus, dia hanya menuruti yang terbaik dari Deli. Itu lah sebabnya dia tak pernah bercerita tentang Ferdie ke Deli, takut dilarang juga olehnya. Dia kadang harus jalan secara sembunyi-bunyi dengan Ferdie. 

"Nes, kamu sama kak Deli punya hubungan apa sih? Kayaknya deket banget" tanya Ferdie saat keluar dengan Nessa di sebuah Cafe.

"Hm apa ya? Pacar!" goda Nessa lalu tertawa terbahak-bahak. Wajah Ferdie langsung down mendengar itu "eh gak lah, mukanya jangan sedih gitu dong. Kak Deli itu segalanya buat aku sama Vina dia itu bisa jadi orangtua, kakak, pacar, dan sahabat bagi kita berdua. Makanya dia suka ngelarang-ngelarang aku sama Vina kalau lagi deket sama cowok. Dan imbasnya dia gak punya-punya pacar sampai sekarang. Apalagi kita berdua yang nempel mulu sama dia, jadi cewek yang mau deket atau dideketin dia cemburu semua. Langsung bangga deh kita kalau tuh cewek-cewek pada kabur" jelasnya dengan gembira.

"Oh gitu, syukur deh kalau gak ada apa-apa" sahut Ferdie tersenyum kearah Nessa.

"Tapi si Vina udah punya pacar sih anak ukm pencinta alam temennya kak Deli. Makanya dia restuin, lah aku bagaimana? Gak ada stok yang ganteng cuma kak Deli sama pacarnya Vina" ucap Nessa.

"Alhamdulillah aku ganteng, jadi masih ada harapan" sahut Ferdie kemudian terkekeh.

"Wih pede amat masnya, modus lah ya" celetuk Nessa tersenyum.
"Ya gpp lah sekali-kali. Tapi kamu gak boleh gitu juga bilang standar, awas kecantol kamu" sahut Ferdie mengangkat alisnya satu.

"Eh dulu pernah kacantol sama temen sekelasnya dia, tapi diomelin abis-abisan gara-gara doi playboy sering ke club, padahal udah tukeran pin bb" jelas Nessa lalu terkekeh. Ferdie hanya membalas dengan mulut berbentuk 'o'.

Nessa langsung mengerucutkan bibirnya "gitu doang? Jeolous ya, hm?" Tanya Nessa menatap tajam Ferdie.

"Apasih Nessa sayang" goda Ferdie sambil mencubit pipinya.
"Ih manggil sayang, emang situ siapa?" 
"Calon pacar kamu, terus jadi calon kekasih halalmu, kemudian calon ayah dari anak-anak kita" ucap Ferdie kemudian tertawa. Nessa terdiam mendengar perkataan itu dari mulut Ferdie. Lalu tiba-tiba tersenyum dan pipinya memerah malu.

**** 

Kantin Pusat Universitas... 

"Kak Deli" teriak Nessa kemudian duduk didepannya.
"Apasih dek?" Tanya Deli ketus masih sibuk melihat kearah laptop.
"Sibuk kak? Mau KKN ya? Ya ditinggal deh sebulan" sahut Nessa kecewa dengan mengembungkan mukanya.

Deli yang melihat wajah Nessa rasanya ingin tertawa tapi ia tahan "Ah Dek, mukamu jangan gitu dong jadi berat banget KKN. Nanti deh inshaAllah kalau ada sinyal pasti dihubungi" ucapnya mengusap lembut kepala Nessa yang tertutup kerudung. Nessa tersenyum kearah Deli.

"Janji ya kak? Janji?" Tanya Nessa gembira sambil memegang erat tangan Deli dan mengoyangkannya.

"Hei? Maaf menganggu kalian kah?" Tanya seseorang mengagetkan keduanya.

"Bang Firza? Firza?" ucap keduanya bersamaan lalu melepaskan genggaman tangannya.

"Deli?" Tanya Firza kaget melihat Deli sedang berdua dengan Nessa.

"Iya bro, apa kabar? KKN dimana?" Tanya balik Deli dengan santainya.
"Probolinggo" sahut Firza pendek.

"Kalian berdua disini ngapain? Kalian pacaran?" tanya Firza lagi penuh tanya dan penasaran lalu menatap gantian Deli dan Nessa.

Nessa menganggukkan kepalanya tersenyum "betul sekali bang" celetuk Nessa menahan tawa. Deli reflek mengambil bulpoin didekatnya dan memukul pelan kepala Nessa.

"Ih kak Deli jahat amat ih, sakit tau. Iya iya kita gak ada apa-apa kok" sahut Nessa meringis sambil mengusap kepalanya. Deli merasa bersalah dan ikut mengusap lembut kepalanya.

Pandangan mata Firza tak lepas dari mereka berdua, seperti melihat orang pacaran batinnya "Boleh pinjem Nessa sebentar?" tanya Firza meminta izin.

"Silahkan. Gak ada hak buat ngelarang kan?" ucap Deli tersenyum tetap stay cool. Nessa menatapnya tajam seakan menandakan 'kenapa memperbolehkannya?'. Lalu Deli tertawa melihat ekspresi Nessa yang pergi menjauh bersama Firza. Hatinya juga tak ikhlas.

**** 

"Kak Deli, harusnya kemarin jangan dibolehin ngomong sama dia, aku sengaja gak balesin apapun dari dia sudah seminggu" seru Nessa yang menyelonong masuk ke kelas Deli dan duduk disebelahnya, tanpa memperdulikan lirikan teman-teman Deli yang berada di kelas.

"Lo gak bilang" ucap malas Deli melirik gadis disampingnya ini.
"Alhasil sekarang dia maksa ngajak keluar kan, aku mau bohong apalagi ke dia?" Tanya Nessa dengan wajah putus asa.
"Ya apa dek, dateng-dateng ke kelas orang cuma mau ngomong itu doang" sahut ketus Deli lalu membuka laptopnya.

"Abisnya si Vina nyuruh mau aja, yaudah lari kesini aja" ucap Nessa lalu menyengir ikut melihat laptop yang dibuka Deli.

"Gak ada kuliah?" Tanya Deli menatap sinis gadis disampingnya ini.
"Ada, tapi lagi males. Soalnya dia katanya mau nyusul ke kelas. Nanti bilang aja lagi kencan sama kak Deli, kali aja dia gak jadi ngajak keluar" sahut Nessa lalu terkekeh.

"Gak kasihan sama dia? Yaudah temuin saja sebentar. Nanti buru-buru ngajak pulang. Nanti gue telpon lo, pura-pura jadi bapak lo dah" ucap Deli yang masih sibuk dengan laptopnya.

"Kak Deli ngapain sih? Aku kok dicuekin mulu? Cemburu ya aku keluar sama bang Firza, hm?" Tanya Nessa menggoda Deli menahan tawanya.

Deli mendengar itu langsung hilang fokus mengetik "sana balik kelas!" Serunya ketus "Please ya gue mau sidang, jangan berisik, nanti gue cium baru tau rasa lo!" Lanjutnya menatap tajam Nessa.

Nessa langsung membelalakkan matanya "Yaaa! Emang berani di depan umum, huh?" Tanya Nessa menantang Deli yang menatapnya tajam dan mendekatkan wajahnya kearah Deli.

Deli mendekatkan wajahnya dengan senyum smirknya dia memegang leher Nessa. Nessa menelan ludahnya dan memundurkan wajahnya, dia sebenarnya juga takut apa Deli benar-benar akan melakukannya di depan umum.

Deli langsung memeluk Nessa "Bodoh banget sih, Dek" bisik Deli ditelingga Nessa lalu terkekeh "gue gak akan ngerusak lo! Tapi awas aja ya lo kalau punya pacar terus ciuman, gue cincang lo" lanjutnya lalu melepaskan pelukannya pada Nessa.

Nessa hanya menatap syok kearah Deli lalu menganggukkan kepalanya. "Yaaa! Bodoh! Hampir aja aku spot jantung!" Umpatnya pada Deli.

"Salah sendiri nantang, maaf ya" ucap Deli lalu mengusap lembut kepala Nessa.

"Woy! Jangan pacaran di kelas, bikin baper aja lo!" Teriak salah satu teman Deli. Keduanya hanya melirik sinis teman Deli, lalu tertawa bersamaan.

**** 

Deli dan beberapa teman seangkatannya sudah berangkat untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata di beberapa daerah. Kegiatan ini juga bisa menjadi ajang yang jomblo untuk mendapatkan pacar. Nessa sudah mengomel sejak mengantar Deli saat berangkat, bahkan memeluknya sangat erat takut benar-benar kehilangan. Dia melihat teman satu kelompok perempuan Deli yang 90% perempuan berjilbab dan cantik, tipe Deli sekali.

Vina memang tak sedekat intens lagi dengan Deli, takut membuat pacarnya cemburu. Tak halnya dengan Nessa yang seenaknya sendiri menempeli Deli tanpa memikirkan perasaan cewek-cewek yang naksir dengan Deli ataupun dengan Firza dan Ferdie. Ferdie cukup pengertian terhadapnya, dia sama sekali tak menuntut quality time saat sedang bersama Deli. Tak halnya dengan Firza yang marah-marah gak jelas, cuma gara-gara Nessa lebih memperhatikan Deli dibanding dirinya.

*****

Nessa terus menatap handphone nya namun tak ada sama sekali pesan atau chat dari sosial media yang lain.

To: Kak Deli 
Kak? Sudah 2minggu kakak gak ngirim kabar loh :( Kakak sibuk banget ya pasti? Atau kakak lagi kecantol sama temen-temen kelompok kakak?:( Ciyeee kak, aku cemburu loh:") Nanti perhatian kakak terbagi dua. Sepi banget kak gak ada kamu, Vina ajah masih bisa telpon si Dio, masa kakak sms aja gabisa? Sedih ya:( Rasanya kayak kehilangan kakak, pacar dan sahabat terbaik huhu kangeeen:'*

Akhirnya Nessa memberanikan diri mengirim pesan kepada Deli terlebih dahulu untuk menahan rasa rindunya. Dia selalu melihat handphonenya, sampai dirinya tertidur mengantuk di kasurnya menunggu balasan Deli.

Drrrrrt.

From: Kak Deli
Halo adik gue tersayang:* Maaf ya baru sempat bales sms lo:( Disini kalau malem gak ada sinyal, dan malem waktunya yang senggang. Ini aja bisa bales subuh-subuh. Pasti masih molor kan lo? Ciyeee cemburu, iya disini cewek-ceweknya cantik, berhijab, santun banget lah. Tapi mereka kaku banget. Gak kayak lo pakai jilbab tingkahnya gak karuan haha tenang dek;)) gak bakal kecantol palingan juga ntar abis wisuda langsung dilamar;ppp I miss you too sayang:* jangan sedih-sedih ya sudah dibales kan? Nanti kalau ada senggang, ditelpon deh pasti. Wait yaaa:*

To: Kak Deli
Weee menghina sudah bangun aku kok:p gak sempet apa sudah lupa sama aku, hm?:( Pasti sudah ada yang digebet kan?:( ikut bahagia deh:" ditunggu kak telfonyaaaaaa:* amisyuuuu so much much more:'*

10 menit
20 menit
30 menit

Pesan Nessa gak dibalas oleh Deli dia membanting handphonenya di kasur. Lalu berangkat ke kamar mandi untuk melaksanakan sholat shubuh dan melanjutkan tidur.

**** 

2minggu kemudian... 

"Nes, kita keluar yuk" ajak Ferdie berusaha merayu Nessa yang sedang sebal dengan Deli karena hanya menelponnya hanya 5 menit semalam.

"Kemana Fer?" Tanya Nessa dengan nada malas.
"Kemana yang kamu mau" jawab Ferdie tersenyum. Nessa memandangnya dengan tatapan malas. Dia langsung berfikir "Aku tau tempat yang bagus" lanjutnya sambil menarik pergelangan tangan Nessa.

Keduanya sampai di sebuah taman yang baru dibuat oleh pemerintah. Tak banyak orang yang tau tentang taman ini, mungkin hanya beberapa orang yang lewat dan tertarik mampir melihat bunga sakura buatan yang biasa dilihat di jepang.

"Disini enak, mata serasa indah banget liat bunga sama tumbuhan hijau" celetuk Nessa tersenyum memandangi sekeliling. Ferdie tersenyum akhirnya bisa membuat gadis yang dicintainya tersenyum.

"Eh nonton yuk, kayaknya ada film baru dibioskop horor bagus" celetuk Nessa.
"Emang kamu berani?" goda Ferdie.
"Ih ngehina, sorry ya gini-gini gak takut. Doyan liat film horor. Nanti aku yang bayarin, sekali-kali kan aku yang ngajak kamu" sahut Nessa tak terima.

"Beneran gak takut?" Tanya Ferdie lagi menggoda Nessa. Nessa melirik sinis kearahnya "Iya, iya bawel. Percaya deh kalau kesayangan aku orangnya berani" lanjutnya yang membuat pipi Nessa memerah. Ferdie tersenyum melihat pipi Nessa memerah dan berdiri memegang pergelangan tangannya.

Saat di Bioskop keduanya memilih baris ketiga dari atas, walaupun tadi harus antri panjang karena film 'Conjuring' menjadi film terlaris diseluruh dunia dan sedang diperbincangkan hangat karena seramnya.

"Ah gak nakutin gini sih, tapi rame banget" bisik Ferdie menggoda Nessa yang sudah was-was karena cerita teman-temannya.

Film sudah berjalan setengah, Nessa sudah berteriak 3x karena kaget dan menutupi matanya dengan kerudungnya. 

"Kamu kedinginan? Ini pake jaketku aja" ucap Ferdie melihat gadis disampingnya memeluk tangannya dan langsung menutupi tubuhnya dengan jaket miliknya.

Nessa tersenyum "Thanks, tapi kamu gak kedinginan?" Tanyanya
"Aku laki lah, pasti kuat, pakai aja lumayan nanti kalau ada adegan serem bisa buat tutup mata" goda Ferdie lalu terkekeh. Nessa langsung mengerucutkan bibirnya.

Adegan yang menakutkan sudah mulai, Nessa mulai bersandar dikursi dan mulai menyikap jaket Ferdie kearah wajahnya. Suara-suara yang yang dihasilkan benar-benar bagus, membuat jantung terasa berhenti berdetak. Ferdie masih tenang, dia melihat kearah Nessa dan sesekali tersenyum geli melihat ekspresi ketakutan Nessa yang kadang membuatnya harus menahan tawa. Terkadang dia harus menahan Nessa yang tiba-tiba menarik bajunya lalu minta maaf. 

"Katanya gak takut Sa?" Tanya Ferdie menahan senyumnya. Nessa hanya bergumam dan melirik sinis kearah Ferdie.

"Ih matanya merem, orang gak ada apa-apa" celetuk Ferdie menahan tawanya.
"Beneran? Nanti tiba-tiba muncul lagi" tanya Nessa memberanikan membuka matanya, namun dia terkaget dan langsung memeluk lengan Ferdie dan bersembunyi ketika melihat hantunya berada jelas dilayar. Ferdie tertawa geli. 

Nessa melirik pelan kearah layar dan tampak tenang, tapi dia tak tersadar tangannya masih merangkul lengan Ferdie. Ferdie bersiasat dia ingin tampak kedinginan agar Nessa peka terhadapnya. 

"Kamu kedinginan Fer?" Tanya Nessa melihat Ferdie berkali-kali menaik turunkan kakinya dengan sengaja.

Ferdie tersenyum "Sedikit" ucapnya "Gak usah, kamu yang pakai aja" lanjutnya saat melihat Nessa membuka jaketnya.

Nessa menutupi tubuh Ferdie dengan jaket yang dipakainya tadi "Aku udah hangatan kok, lagian itu kan punya kamu" ucap Nessa langsung menatap kembali ke layar bioskop.

"Masih ada 30 menit selesai loh, yakin gak mau pakai juga?" Tawar Ferdie. Nessa hanya menggeleng pelan "Kita pakai berdua" ucapnya lalu menyibak jaketnya yang berukuran XL milik kakaknya yang ia ambil asal, saat akan keluar Nessa "Jaketnya besar kan? Cukup lah buat badan kita yang kecil" lanjutnya mengusap-ngusap kepalanya.

"Ya asal kamu gak aneh-aneh aja" celetuk Nessa. Ferdie terkekeh membuat penonton disebelahnya menoleh kearah mereka.

Film ber genre horror itupun selesai. Lampu bioskop perlahan menyala. Kerumunan orang berbondong-berbondong menuju pintu keluar.

Suara ringtone handphone Nessa berdering.

Kak Deli is calling you home...

"Halo ada apa kak?"

"......"

"Loh pulang sekarang emang? Sudah sampai mana?"

"......"

"Oke 30 menit lagi aku ke kampus"

"......"

"I love you. Assalamualaikum"

Nessa menutup teleponnya dengan senyum mengembang. Seseorang akhirnya pulang dari penjelajahannya.

"Siapa? Kak Deli? Lagi?" tanya Ferdie dengan nada ketus.

Nessa menahan tawanya melihat laki-laki disampingnya ini cemburu "Boleh aku dianterin ke kampus? Mau nyusul kak Deli. Aku nanti mau ngenalin kamu sekalian" ajaknya sambil menyengir kuda.

Ferdie membelalakkan matanya "Hah? Ngenalin? Gak siap. Lebih takut ketemu kak Deli kebanding sama orangtuamu" sahutnya. Nessa langsung memasang tampang manisnya dan mengedipkan matanya mirip seperti tokoh kucing  garfield saat meminta makan. "Iya deh" jawabnya pasrah.

-

Parkiran Universitas....

Bus pengantar rombongan sudah menurunkan beberapa mahasiswa dilapangan. Harapan ia pertama tak bertemu dengan Firza dan langsung bertemu Deli. Matanya terus mencari keberadaan Deli. 

"Kak Deli" teriaknya sambil berlari dan memeluk erat Deli.
"Woy main peluk-peluk aja bukan mukhrim" celetuk teman laki-laki yang baru turun dari Bus.

"Tuh dek disindir, lepasin ya" sahut Deli melepas pelukannya terlebih dahulu. Lalu matanya tak diam melihat sosok dibelakang Nessa dan langsung mengalihkan pandangan kearah Nessa. 

"Oya kak kenalin ini Ferdie" ucap Nessa sedikit ragu menarik tangan Ferdie.

Ferdie menelan ludahnya berkali-kali menatap Deli "Feer...die kak" ucapnya terbata.

"Santai" ucap Deli sambil menepuk pundak Ferdie "Sepertinya gue pernah lihat lo ya? Tapi dimana ya?" lanjutnya tersenyum ramah.

"Iya kak, dulu satu SMA" sahut Ferdie.
"Lo jurusan apa Fer? Seangkatan sama Nessa?" Tanya Deli
"Multimedia dan Broadcasting, semester 4 kak" jawab Ferdie sedikit ragu.
"What? Kita perlu bicara berdua Nessa!" ucap Deli langsung menarik tangan Nessa, menjauh dari Ferdie.

"Apa sih kak?" tanya Nessa kesal 
"Lo itu apa-apaan sih dek?" Tanya balik Deli sedikit sarkatis.

Drrrrrt.
Handphone Nessa bergetar.

From: Ferdie
Aku puluang duluan ya:)

"Tuh kan kak, dia tersinggung" ucap Nessa sambil menunjukkan sms Ferdie.
"Tapi gue gak suka kalau lo sama dia" sahut Deli menatap tajam Nessa.
"Kapan kakak pernah nyetujuin aku punya pacar?" Tanya Nessa sedikit meninggikan suaranya.
"Tapi kan gak harus sama adek tingkat" jawab Deli dengan nada lebih pelan dari sebelumnya.

"Iya aku tau kak, tapi dia seumuran aku kok malah lebih tua dia, cuma dia aja yang telat sekolahnya" sahut Nessa masih dengan nada tingginya.
"Gakmau dengar alasan apapun!" tegas Deli. Nessa terdiam dan membalikkan tubuhnya. Dia kehabisan kata-kata untuk membela diri, bahkan dia ingin menangis tapi ia tahan.

"Dek maaf ya" ucap Deli sambil memegang pundak Nessa dari belakang. Nessa masih terdiam. "Dek jangan ngambek dong, ini udah malem loh nanti kesambet" lanjutnya menggoda gadis di depannya ini.

"Aaaaah kak Deli nakut-nakutin, padahal tadi abis nonton Conjuring" teriak Nessa keceplosan dan langsung menunduk.

"Oh gitu sekarang, mentang-mentang gue gak ada, film baru liatnya sama yang lain" sahut Deli menaikkan alisnya. Nessa membalas dengan sengiran di wajahnya.

"Liat sama Ferdie?" Tanya Deli. Nessa menganggukkan kepalanya ragu.

"Jadi dibolehin ya kak? Ayolah please kak. Nanti aku traktir kakak apa aja deh. Kali ini jangan dilarang-larang lagi ya. Aku udah jauhin bang Firza sesuai apa yang di mau kamu kan kak" Rayu Nessa memeluk lengan Deli lalu menggoyangkannya.

"Iya deh iya, tapi awas macem-macem!" Ancam Deli lalu tersenyum.
"Iya beres. Ayo pulang kak. Naik taksi. Sini  aku bantu bawa barang-barangnya" sahut Nessa tersenyum girang dan mengangkat barang-barang Deli yang ringan.

**** 

Skripsi Deli hari ini pun dimulai, Nessa dan Vina tak henti-hentinya berdoa untuk kelancaran sidang kakak tercintanya itu. Akhirnya setelah hampir 2 jam Deli pun keluar dengan wajah kusam. 

"Loh? Loh? Kak? Kenapa? Ada yang salah kak?" tanya Vina khawatir.
"Wajah kakak kok gitu? Kabar buruk ya kak?" sahut Nessa.

Deli terdiam masih dengan wajah tak enak, kemudian tertawa terbahak-bahak "Astaga muka kalian itu lucu sekali, bikin ngakak. Tenang ya adik-adikku cantik, lulus kok alhamdulillah sukses" ucapnya. Vina dan Nessa langsung memeluk Deli "Alhamdulillah rejeki anak soleh dipeluk 2 cewek" ucapnya sambil mengusap kepala kedua perempuan yang dianggap adiknya itu.

"Kak Deli ih" gerutu keduanya langsung melepaskan pelukannya dengan kasar.
"Oke abis gini kita makan-makan. Aku traktir!" Ucap Deli bahagia atas kemenangan setelah melaksanakan sidang skripsi.
"Yeaaaay!" Seru kedua perempuan itu.

Di Food Court Mall terdekat dari kampus, ketiganya pergi untuk makan untuk merayakan kelulusan Deli. Ketiganya duduk melingkar sambil menunggu pesanan.

"Dio gimana dek? Denger-denger dia langsung dibilang lulus tanpa ada pertanyaan ya?" tanya Deli.
"Iya kak, seminggu yang lalu aku nungguin dia was-was" jawab Vina.
"Gak sia-sia kan Dek, gue ngenalin lo sama dia, pinter, ganteng, pasti kumlot deh dia" goda Deli.
"Apaan nih? Nyindir?" celetuk Nessa yang langsung cemberut.

Deli langsung tertawa mendengar ucapan Nessa "Gitu aja ngambek, emang gue nyindir lo ya?" Tanya Deli. Nessa hanya melirik sinis kearahnya "Oh ya anak PA mau ke semeru seminggu lagi buat ngerayain pelepasan anak semester8, kalian boleh ikut" jelasnya.

"Asik" teriak girang Vina 
"Eh tapi kak, aku gak kuat dingin loh. Waktu ke bromo aja sampe ketiduran saking dinginnya, tau sendiri kalau nonton juga gimana" sahut Nessa langsung cemberut kembali.

"Lebay deh mulai, slow lah ada gue juga. Pasti gue jagain lo. Tenang aja" sahut Deli sambil mengusap lembut kepala Nessa.

"Aku izinin ya Vina? Kak Deli? Bagaiamana?" Tanya Nessa
"Wah siap-siap ketemu camer nih" celetuk Deli lalu terkekeh.

Vina langsung membulatkan matanya "What's kak? Curiga nih. Tuh kan punya firasat buruk sama hubungan kalian berdua, kayak ngelanggar janji" ujar Vina mendelik bergantian kearah keduanya.

Deli langsung tertawa "Bercanda kali" sahutnya kembali tertawa.

***** 

Pendakian Gunung Semeru. Tepat 10 orang 4 perempuan dan 6 laki-laki, yang terdiri dari beberapa anak inti UKM Pecinta Alam hanya 8 orang, sisanya adalah orang luar, Nessa dan Vina. Semua anggota PA sudah tau mereka berdua, karena sering menempel kepada Deli.

"Kak Deli haus bat dah ini" gerutu Nessa yang dari tadi mengeluh.

"Capeeeeek kak. Istirahat dong" lanjut Nessa terus mengeluh.

Deli yang melihat tingkah Nessa hanya bisa bersabar dan memaklumi. Kejadian saat di Bromo pasti akan terulang dan ini lebih parah mengeluhnya, karena medan jalan yang mereka lewati lebih susah. Nessa memang lebih manja dari Vina, takk henti-hentinya dia mengajak untuk sekedar duduk lanjut perjalanan kemudian duduk. Tak halnya teman-teman Deli merasa eram terhadapnya.

"Kak Deli maafin Nessa ya kak, tau gitu aku gak ikut kan? Aku tunggu disini aja ya. Kakak jalan terus aja sama temen-temennya. Maaf kak ngerepotin mulu daritadi" bisik Nessa kepada Deli, merasa tak enak pada teman-temannya.

"Kalau ngomong ini coba dipikir kenapa sih, Dek? Mana tega ninggal lo sendirian disini? Kalau ada apa-apa bagaimana, huh? Yang izinin ke orangtua lo siapa?" Tanya Deli sedikit membentak dan membuat orang yang berjalan didepannya menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah mereka.

Nessa langsung tersentak dibentak oleh Deli "Lah ini orang banyak yang lewat, gak sendiri kok. Atau nanti aku turun aja kebawah" jawabnya lalu meringis, kakinya sudah tak kuat untuk berjalan lagi. Dia capek.

"Dek, dek, ayo berdiri gak!" Bentak Deli lagi menarik kasar tangan Nessa "nanti kala kesasar gimana? Katanya mau liat negeri diatas awan?" Tanyanya lagi dengan nada yang lebih lembut. Nessa langsung tersenyum mendegar 'Negeri diatas Awan'.

"Kak tapi gak enak sumpah, 2 hari sudah gak mandi, gak enak tidur" ucap Nessa lagi mulai mengeluh dan duduk dengan seenaknya di jalan.

"Ya sama kan? Jangan mengeluh mulu kek. Coba liat Vina dia ajah masih kuat" sahut Deli ikut berduduk jongkok didepan Nessa.

"Yaiyalah dia kuat, orang ada kak Dio. Dijagain pasti. Tau gitu sama bang Firza atau Ferdie diajak kek" sahut Nessa lagi.

Deli langsung menghela nafas panjang dan berdiri "Yaudah kamu aku tinggal" ucapnya lalu melengos pergi.

"Tungguuuuu kaaaak" teriak Nessa berlari kearah Deli dan memegang tangannya. Deli hanya tersenyum melihatnya.

***** 

Hari ini adalah hari penting untuk Deli dan teman-teman seangkatannya untuk merayakan kelulusan mereka dengan gelar yang akan bertambah dibelakang namanya. Hari Wisuda Universitas.

"Happy Graduation kak Deli" ucap Nessa dan Vina bersamaan. Saking bahagianya Nessa langsung memeluk Deli sangat erat, hingga lupa dia datang dengan Ferdie dan Deli yang tersadar akan Ferdie melepaskan pelukannya.

"Nih kak" ucap Nessa sambil memberikan sebuket bunga mawar merah yang telah dirangkai indah.

"Ciyeeee gak sadar tuh kalau ada Pacarnya disini" sindir Vina lalu terkekeh.

Nessa hanya meringis "Sudah biasa kok ya. Oya happy graduation ya kak Dio" sahut Nessa mengulurkan tangan pada Dio.
"Makasih ya Nes" sahut Dio menjabat tangan Nessa.

"Halah kamu juga ngasih bunga aja ke kak Dio. Oya kak Deli nanti kalau aku wisuda tahun depan request ya kasih bunga mawar merah yang lebih banyak dari ini sama kasih boneka wisuda yang super duper gede kayak di instagram itu" jelas Nessa dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang meminta hadiah ulangtahun kepada orang tuanya.

"Oy sadar oy tuh ada Ferdie, pacar kamu" sahut Vina menoyor kepala Nessa.

"Lo aja gak ngasih boneka, mau minta boneka. Lagian tanpa gue kasih juga pasti ada yang ngasih" sindir Deli sambil menyikut lengan Ferdie. Ferdie hanya tersenyum mengiyakan.

"Gak mau. Maunya di kasih dobel" gerutu Nessa mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan tangannya.

"Iya iya ah adekku yang bawel" ucap Deli sambil mengusap kepala Nessa "eh Nes, kayaknya pangeran kamu satu lagi minta dikasih bunga tuh" bisik Deli ke telinga Nessa.

"Siapa kak?" Tanya Vina dan Nessa bersamaan. Lalu menoleh kearah yang ditunjuk Deli dengan gerakan matanya.

"Ya Tuhan, tolong hilangkan aku saat ini" ucap Nessa dalam hati menatap takut kearah Ferdie. Jantungnya seakan berhenti berdetak, pikirannya kemana-mana, entah jawaban apa yang muncul nanti. Ferdie masih tetap tenang tak bereaksi.

"Happy graduation ya Del, Yo" ucap Firza sambil menjabat tangan Deli dan Dio.
"Thanks ya" ucap keduanya tersenyum ramah.

"Del boleh minta izin ngomong sama Nessa?" Tanya Firza meminta izin.

Nessa reflek langsung memegang tangan Deli. Jantungnya benar-benar terasa terhenti. Lehernya terasa tercekik, dia terus memegang tangan Deli sampai keringat dingin.

"Temuin aja ya dek, insyaallah Ferdie ngerti kok. Buktinya dia tetap stay cool begitu" bisik Deli sambil mengusap lembut tangan Nessa "iya, jangan lama-lama" ucap Deli pada Firza melepaskan genggaman tangan Nessa.

"Kamu cantik Sa pake baju begini" ucap Firza tersenyum. Nessa hanya tersenyum mendengar ucapannya.

"Kayaknya kamu berubah, kamu udah pacaran sama Deli?" Tanya Firza.
"Bukannya aku sudah menjelaskan ya? Kak Deli itu segalanya buat aku, bisa pacar, kakak dan ayah juga" jelas Nessa.

"Berarti gak pacaran kan?" Tanya Firza lagi. Nessa sudah malas menjelaskan jadi dia hanya menganggukkan kepalanya. Firza kemudian memegang tangan Nessa "aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucapnya.

Hati Ferdie begitu sakit, melihat dari kejauhan tangan seseorang yang dicintainya dipegang laki-laki lain.

"Tenang Fer, Nessa tau kok yang terbaik buat dirinya" ucap Deli yang setidaknya membuat hati Ferdie lebih tenang.

Nessa sudah binggung dengan pikirannya, hatinya tak tenang. Kenapa Firza lama sekali mengucapkannya. Walaupun dia tau apa yang akan diucapkannya.

"Ngomong apa?" Tanya Nessa memulai pembicaraan.
"Kamu mau gak jadi pacarku? Abis kamu wisuda tahun depan aku lamar kamu. Bagaimana?" Tanya balik Firza tersenyum dan mengenggam erat tangan Nessa.

Nessa mengutuk dirinya sendiri, jantungnya berdetak sangat cepat. "Bolehkah aku langsung lari saja dari sini?" Tanyanya dalam hati dan menelan ludah berkali -kali "Maaf" ucapnya dengan cepat melepas genggaman Firza "aku sudah punya pacar, aku rasa kamu tau orangnya yang mana" ucap Nessa tersenyum sambil melihat kearah Ferdie.

Hati Firza sangat pilu rasanya, orang yang dicintainya sejak awal kuliah sampai sekarang, meskipun sebelumnya sudah ada 2 perempuan yang masuk kedalam hatinya. Seseorang yang dulu pernah ditembak lewat sms, dan diberi jawaban yang tidak mengenakan harus kembali terulang, sosok itu sudah memiliki kekasih. 

"Happy Graduation bang Firza" pamit Nessa tersenyum pergi meninggalkan Firza lagi. Firza menatap kosong Nessa yang semakin jauh melangkah.

"Gimana dek?" Tanya Kak Deli.
"Sudah beres kak. Sudah dijelasin. Agak gak tega juga sih kasihan" sahut Nessa lega.
"Kasihan? Maksudnya apaan? Kamu cinta juga sama dia? Yaudah sana gih berdua dilanjutin pegangan tangannya" Tanya ketus Ferdie.

"Apasih sayang? Ciyeee cemburu" goda Nessa langsung memeluk manja pinggang Ferdie.

"Dek dek kamu itu tetep aja gak berubah, orang pake jilbab kok sering banget meluk-meluk laki didepan umum" celetuk kak Deli. Nessa hanya membalas dengan menyengir kuda dan Ferdie tertawa kecil sambil mengelus kepala Nessa.

"Oya kakak mau ngenalin seseorang sama kalian berdua" ucap kak Deli 
"Siapa kak?" Sahut Vina dan Nessa 
"Ini Dia, namanya Zahra dia temen ospek dulu sama kelompok KKN. Nanti dia bakal jadi kakak ipar kalian?" Ucap Deli datang dengan seorang perempuan.
"What's?" Keduanya terkaget. 

Perempuan itu berjilbab panjang, dengan kebaya agak longgar namun dipakai sangat bagus sekali dibadannya. Kulitnya putih bersih walaupun tak terlihat oleh mata namun bisa dilihat dari wajah dan telapak tangannya. Wajahnya begitu meneduhkan hati. Berbeda jauh dengan Deli yang rambutnya gondrong, item gak karu-karuan, tapi masih terlihat keren. 

"Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Zahra Hasan Alawiyah. Saya tau kalian berdua Nessa dan Vina, Deli sering bercerita tentang kalian" ucap Zahra dengan suara lembut dan tenangnya.

"Halo kak Zahra" sahut keduanya 
"Oya kak? Pasti yang diceritain jelek-jelek ya?" Tanya Vina 
"Gak kok. Tenang rahasia kalian aman" jawab Zahra sambil tersenyum.

"Lah mulai sekarang kalian berdua, adik-adikku tersayang paling cantik yang idolanya banyak banget, mulai kali ini harus bisa menghargai kak Zahra, jangan seenaknya sendiri kalau kakak mau berdua sama kak Zahra kalian tiba-tiba muncul. Terus peluk-peluk, kalau kata kak Zahra bukan mukhrim haha" jelas Deli terkekeh.

"Lah emang kakak udah muhrim sama kak Zahra? Gimana mau berduaan? Yang ketiga setan loh. Makanya nanti aku datang sebagai setan tukang ngerecokin haha" sahut Nessa kemudian tertawa menggoda.

"Wah iya bener Nessa emang setan kok kak" celetuk Vina ikut tertawa.

"Ih enak aja. Abis gini resmi kok. Kita mau taarufan. Aku sama kedua orangtuaku sudah kerumahnya minta dia" jelas Deli.

"Oh gerak cepat bro?" Tanya Dio 
"Bukan begitu. Aslinya pacaran dalam agama kan gak ada. Makanya kalau ada perempuan dan laki-laki dipertemukan segeralah" jawabya dengan nada santai lalu tersenyum kearah Zahra.

"Terus kapan acaranya? Nanti aku gak ada temen curhat dong kak? Nanti kalau aku mau ngeluh ke siapa?" Tanya Nessa cemberut.

"Mungkin 3 bulan lagi lamaran langsung menikah. Kan ada Ferdie dek, dia pacar kamu. Pasti dia tau mana yang terbaik buat kamu. Jangan cemberut gitu dong" ucap Deli.

"Tuh kan Sa, makanya jangan ngikutin Deli mulu, ada saatnya dia punya seseorang yang dicintai, dan kamu harus siap melepaskan. Tugas jagain kamu dan yang mengerti kamu itu Ferdie, pacar kamu" sahut Dio

"Jadi malu diceramahin orang banyak hehe" celetuk Nessa pelan sambil meringis. Semua pun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi datar Nessa.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Pernikahan Dini

"Shenna kita nanti makan malam buat ngerayain kelulusan SMA kamu" ujar Papa Shenna.
"Iya pa" jawab Shenna kegirangan.

Malamnya keluarga Shenna mengunjungi sebuah Restoran yang terbilang cukup mewah dan terkenal. Formasi lengkap, Papa, Mama, Shenna dan kakaknya-Daffa. Semuanya pun bercanda satu sama lain, memberi hadiah kepada Shenna atas kelulusannya. Yap! Sebuah tas merek terkenal diberikan oleh papanya, mamanya memberi hadiah sepatu converse warna navy kesukaannya dan kakaknya memberinya sebuah ipod versi kelima.

"Aww thankyou semuanya, gak nyangka bakal dikado sebagus ini" ucap Shenna dengan mata berkaca-kaca. Semuanya membalas dengan senyum.

Sampai akhirnya ada sepasang parubaya dan seorang lelaki muda menghampiri mereka. Berjalan mendekat kearah meja mereka berempat.

"Eh sorry jeng telat, maklum anak saya gak mau diajak" ujar wanita parubaya tadi sambil cipaka cipiki ke mama Shenna.
"Iya jeng gpp, sini duduk" ucap mama Shenna.
"Mau pesen apa pak Gunawan bu Gunawan? Silahkan pesan" sahut papa Shenna.

Keluarga Gunawan akhirnya duduk, Pak Gunawan dan istrinya duduk disamping papa dan mama Shenna, sedangkan anaknya duduk disamping Daffa.

"Selamat makan" ucap Bu Gunawan saat makanan pesanan keluarga Gunawan datanya. Semuanya membalas dengan senyuman.

Shenna masih binggung kenapa harus mengundang orang asing diacara pentingnya ini dan tak berbicara dulu kepadanya kalau harus mengundang kolega papanya. Dia sangat kesal terhadap orang tuanya dan kehilangan nafsu makannya, lalu beralih ke kotak ipod yang diberi kakaknya dan langsung melakukan unboxing sekaligus mengotak-atiknya.

"Dek jangan mainan ipod mulu, makan dulu dihabisin. Gak sopan kan" bisik Daffa pelan. Shenna sedang tidak dalam mood baik jadi dia mengabaikan ucapan kakaknya dan sibuk dengan yang ada ditangannya.

"Shenna!" Bentak pelan dari Papa Shenna yang mengagetkannya.
"Iya pa, maaf" ucapnya lalu menaruh kembali ipodnya kedalam tas yang dibawahnya tadi.

"Oke Pak Gunawan ini kenalkan anak saya Daffa lulusan S2 di singapore, sekarang kerja di perusahaan di Batam. Terus ini Shenna anak gadis saya yang baru lulus SMA" jelas papanya
"Hai Daf, hai Shenna" sapa Pak Gunawan. Mereka berdua mengangguk lalu bergantian saliman ke Pak Gunawan dan istrinya.

"Oya ini anak om namanya Farrel. Ayo rel jabat tangan mereka" Ucap Pak Gunawan.

"Farrel"
"Daffa"
"Shenna"

Farrel memang tampan, wajahnya bisa membuat seribu wanita bakal bertekuk lutut kepadanya. Kharisma yang ia miliki sungguh luar biasa. Tak halnya bagi Shenna yang hampir terhipnotis. Tipe lelaki idamannya berada pada Farrel, tapi semua ia tepis karena dia mencintai lelaki di sekolahnya, Willy.

"Oke langsung ke topik aja ya? Udah kenalan kan?" Tanya mama Shenna yang sedikit ragu.
"Shenna, Farrel!" Seru Bu Gunawan.

"Iya?" jawab keduanya berbarengan. Sama halnya dengan mama Shenna tampak diraut muka mamanya Farrel gelisah.

"Jadi pumpung kalian sudah lulus SMA, kalian mau kita jodohin" ucap bu Gunawan memandang 2 remaja di depannya.

"Dan kalian akan tunangan 2bulan lagi" sambung mama Shenna.

"Ma!" bentak Shenna "Aku masih muda Ma, aku ingin kuliah, masa depanku masih panjang, kenapa tak membicarakannya saat aku sudah wisuda kuliah saja?" Tanyanya dengan suara yang semakin melemah.

"Tenang Nak, kamu masih bisa kuliah dan seneng-seneng. Nanti kalian akan kuliah di universitas yang sama, kalau perlu jurusan yang sama, nanti Papa yang akan atur" ucap Papa Shenna.

"Aku mohon Ma" sahut Shenna memelas.
"Ini gak bisa ma, pa!" Seru Farrel yang mulai protes "aku gak siap buat nikah, dan aku juga pengen kuliah, seneng-seneng. Mau aku kasih makan apa keluargaku nanti" lanjutnya.

"Kalian berdua ini kompak banget, tenanglah kalian berdua itu masih bisa seneng-seneng dan kuliah kan sudah di bilang tadi" sahut Bu Gunawan.
"Nanti setelah pertunangan, sebulannya lagi kalian harus menikah" lanjut Pak Gunawan.

"Ini gila pa! Aku gak mau! Berhenti bicara omong kosong ini!" seru Farrel menahan emosinya.

"Kalian harus mau. Nanti Papa akan belikan kalian rumah lengkap sama pembantunya" ujar Pak Gunawan bersuara lebih pelan dari anaknya.

Shenna sudah kehilangan kata-katanya, dia sudah binggung akan membela dirinya seperti apalagi. Dia tau orangtuanya jika mengatakan harus A, dan tak akan pernah berubah menjadi B. Air mata yang ia tahan daritadi mulai keluar dan langsung menundukkan kepalanya.

"Kita masih muda, apa kalian pernah berfikir kebahagiaan kami? Apa kalian hanya berfikir tentang diri kalian sendiri?" Tanya Farrel dengan nada sarkatis.

Daffa merangkul bahu Shenna menenangkannya "Berhenti menangis ya? Kalau kakak tau ada acara seperti ini pasti gak akan biarin mama sama papa adain makan malam seperti ini" ujar pelan Daffa tak tega melihat adiknya menangis. "Kita pulang" ajaknya berdiri lalu diikuti Shenna.

"Kalian mau kemana?" tanya Papanya
"Mau pulang Pa, kasihan Shenna dia capek" sahut Daffa dengan tenang, melangkah pergi menjauh kearah pintu keluar restoran dan mencari taksi untuk pulang.

****

Sudah sebulan ini Shenna menjadi orang yang pendiam, jarang keluar kamarnya. Dia hanya keluar kamar untuk mengambil makan dan minum. Kegiatannya hanya termurung, menangis, dan berusaha untuk bahagia dengan melihat TV, Film atau menyetel lagu sekeras mungkin.

Hari ini adalah hari yang paling ingin ia hindari untuk bertemu teman-temannya. Wisuda akan dilaksanakan hari ini. Dia sama sekali tak berselera mengikutinya, tapi kakaknya selalu bilang 'buat apa sih dipikirin? Kamu harus nunjukin kalau seorang Shenna lagi gak ada masalah. Dan mungkin kali ini bisa jadi hari terakhir kamu sama temen-temenmu'. Shenna selalu mencerna kata-kata kakaknya, ada benarnya mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir dengan teman-temannya.

"Kak, janji ya jangan tinggalin Shenna, Shenna takut kalau harus melawan mama sama papa" ucap Shenna memelas saat masuk ke dalam gedung tempat wisuda SMA-nya. Daffa tersenyum menganggukkan kepalanya melihat adiknya yang begitu merasa tertekan.

Suasana tampak hikmat dan berjalan lancar. Shenna terduduk disamping sahabat-sahabatnya, Olivia, Luna, Sahila. Acara wisuda pun sudah selesai.

"Guys, berjanjilah akan jadi sahabatku yang paling setia" ucap Shenna sambil memegang ketiga tangan sahabatnya.

"Pastilah Shen! Kita semua tak akan terpisahkan!" Sahut Olivia tersenyum.
"Aku sayang kalian semua" ujar Luna. Keempatnya lalu berpelukan erat sangat erat.

Shenna tak bisa menahan tangisannya, dia tak mungkin menceritakan masalahnya kepada teman-temannya. Itu aib menurutnya menikah di usia muda.

"Jangan nangis dong Shen, kayak kita gak akan pernah ketemu lagi" ucap Sahila memeluk Shenna menenangkannya.

"Aku takut gak bisa ketemu kalian lagi" ucap Shenna semakin terisak dalam pelukan Sahila.

"Uh Shenna cup cup cup" ucap ketiga sahabatnya lalu memeluk Shenna.

"Hai" suara laki-laki mendekati mereka.
"Willy?" Tanya Shenna terkaget langsung menghapus air matanya.

"Tuh pangerannya dateng" goda Olivia
"Ciye ciyeeeee" sahut Sahila dan Luna

"Boleh pinjem Shenna nya bentar?" Tanya Willy meminta izin kepada teman-teman Shenna. Ketiganya mengangguk dengan senyum smirknya menggoda Shenna.

Perasaan Shenna semakin tak karuan meninggalkan sahabat-sahabatnya sudah menyakiti hatinya, apalagi orang yang tepat didepannya adalah orang yang dicintainya. "Ya tuhan kuatkan aku" seru Shenna dalam hati

"Hai Shen apa kabar?" tanya Willy yang membawanya ke taman dekat gedung
"Baik, kamu?" Sahut Shenna pendek
"Baik juga. Kenapa kamu berubah? Kenapa kamu mengabaikanku Shen? Apa aku ada salah sama kamu?" Tanya Willy.
"Ngak kok, ngak berubah. Masih tetap seperti dulu" jawab Nessa sudah tak bisa berbicara lagi. "Apapun yang terjadi kepadaku Willy, aku tetap mencintaimu!" tegasnya sambil menangis.

"Shenna aku minta maaf, aku sama sekali gak ingin membuatmu menangis" Ucap Willy mengusap air matanya "Kamu mau jadi pacarku?" Lanjutnya menyatakan cinta kepada Shenna. Shenna masih dilema akan menjawab apa, dia mendiamkan Willy.

"Dek ayo pulang sudah ditunggu sama Mama dan Papa di mobil" seru Daffa sambil menarik tangan Shenna.

"Iya sebentar kak" sahut Shenna "maaf ya" lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Willy tanpa jawaban yang jelas.

Merekapun pergi menuju parkiran dan segera masuk mobil. Sampai akhirnya mereka sampai di Restoran Primarasa untuk makan siang. Tampaknya Shenna sudah menduga rencana yang akan terjadi, dia melihat Farrel dan kedua orangtuanya. Dan benar sekali keluarganya duduk didepan mereka. Sepertinya Farrel juga telah melaksanakan acara wisuda. Seperti sebelumnya Shenna selalu kagum terhadap Farrel, tak sengaja mata mereka berpandangan cukup lama, kemudian Shenna tersadar dan mengalihkan pandangannya.

Mereka semua makan tak ada obrolan, hanya suara piring, sendok dan garpu yang bersentuhan. Suara meja sebelah yang makan sambil mengobrol, suara langkah sepatu pelayan yang membawa makan ke meja satu dan lainnya. Suara Handphone Farrel, Shenna dan Daffa yang terus berbunyi.

"Baiklah kita bahas pertunangan kalian bulan depan" ucap Bu Gunawan memulai pembicaraan.
"Harus disini ya, Ma?" Protes Farrel melirik malas kearah mamanya.

"Terus mau dimana, hm? Kamu bisa gak sih nurut aja?" Tanya Bu Gunawan yang sibuk membuka majalah weeding. "Kalian mau konsep pernikahan apa? Bajunya?" Lanjutnya bertanya dengan girang sendiri.

"Terserah" ucap Shenna pasrah
"Oh bagus kalau jawabnya gitu Shen" sahut Mama Shenna yang daritadi khawatir jadi ikut bahagia sama halnya dengan Bu Gunawan.

Shenna menatap kearah Daffa, kakaknya hanya tersenyum kepadanya seperti tau ia sedang ingin mengadu kepadanya. 'Ah benarkah aku sudah pasrah setelah renunganku? Hanya kak Daffa yang benar-benar mengerti perasaanku' ucapnya dalam hati. Dia memegang erat tangan kakaknya itu. Usianya dengan kakaknya memang terpaut 8tahun tapi mereka saling menyanyangi.

***

Hari pertunangan. Semua keluarga besar Farrel dan Shenna berkumpul menyaksikan acara sakral mereka. "Ya tuhan kuatkan aku sekali lagi" ucap Shenna dalam hati. Dia melihat kearah Farrel yang sepertinya sudah bisa menerima keadaan ini, tak seperti dirinya.

Pertukaran cincin pun terjadi, semuanya bertepuk tangan tertawa bergembira. Mereka tak melihat begitu rapuhnya hati kedua orang itu. Farrel dan Shenna menjawab senyum seadanya ketika ada tersenyum kearah mereka.

Akhirnya acarapun selesai. Shenna langsung naik ke kamarnya kemudian mengunci pintunya dan merenung kembali.

***

Shenna sangat senang sekali ketika acara pernikahannya di tunda karena Pak Gunawan, Papa Farrel harus berangkat keluar negeri untuk bisnis selama satu bulan lebih. Hatinya terasa lega, setidaknya dia masih bisa menikmati masa kuliah selama 1 bulan dengan keadaan belum menikah.

Hari ini tepat sekali berbarengan dengan kegiatan Pra Ospek masuk Universitas. Shenna dan Farrel memilih Universitas yang tidak dijadikan teman-teman SMA-nya dulu untuk kuliah. Keduanya satu Universitas, tapi berbeda jurusan.

"Shenna" teriak seorang perempuan berlari kearahnya.

"Sial!" Umpatnya dalam hati "kenapa ada yang kenal sama aku sih?" Tanyanya pelan dan membalikkan badannya. Dilihatnya seorang perempuan yang tampak asing dimatanya.

"Shenna kan? Masih ingat aku?" Tanyanya perempuan itu.

Shenna melihat sejenak penampilan perempuan itu dari atas sampai bawah "Sheryl kan?" Tanyanya. Sheryl menganggukkan kepalanya "Ah sumpah, kangen banget sama kamu, tega banget dulu ninggalin aku, terus lanjutin SMA ke Jakarta" seru Shenna memeluk erat sahabatnya waktu sekolah menengah pertama.

"Alhamdulillah ternyata lo masih inget gue. Apa kabar lo? Kanget banget gue sama lo! Nyari kontak lo susah amat dah" ucap Sheryl berbicara khas orang jakarta.

"Gaya banget sih ngomongnya lo gue lo gue, surabaya ini mbaknya bukan jakarta" celetuk Shenna lalu terkekeh "Dalam keadaan baik banget, aku juga cari kontak kamu juga susah, anak SMP gak ada yang tau masa" jelasnya.

Mereka berduapun mengobrol bersama, membahas diri masing-masing. Sampai akhirnya suara ketua panitia ospek menghentikan mereka berbicara agar segera ke lapangan.

"Untuk semua mahasiswa baru untuk kelompok bisa dilihat dipapan pengumuman dan segera berkumpul di kelompok masing-masing. Nanti ada penanggung jawab kelompok yang memegang nomer kelompok" ucap salah satu panitia menggunakan toak.

Ratusan mahasiswa berbondong-bondong kearah 4 papan pengumuman yang berisi nama kelompok. Adapula yang masih duduk-duduk menunggu hingga mulai sepi baru maju, seperti Sheryl dan Shenna.

"Lo masih sama, Shen! Lo besties gue banget lah" ucap Sheryl lalu melakukan high five dengan Shenna.

"Iyalah males banget, desek-desekkan gitu" sahut Shenna kemudian terkekeh.

Acara Pra Ospek yang berlangsung 8 jam, akhirnya selesai juga. Walaupun Shenna dan Sheryl beda kelompok tapi setidaknya mereka bisa berdekatan karena satu jurusan Teknik Lingkungan. Keduanya menyempatkan makan bersama di mall dekat kampus mereka lalu pulang ke rumah masing-masing untuk persiapan ospek besok, dengan tugas yang diluar nalar alias gak jelas. Ya itulah ospek.

****

Ospek sudah berjalan selama 3 hari, hari ini hari keempat yang merupakan akhir dari masa orientasi masuk perguruan tinggi. Beberapa panitia sudah mengumumkan akan ada pameran di lapangan dari beberapa UKM yang ada di Universitas.

"Ikut apa kamu Sher?" Tanya Shenna celingukan, dia sendiri juga tak tau akan ikut apa.

"Entahlah. Males gue" sahutnya yang sibuk menyeruput minuman kaleng yang dibelinya di kantin tadi.

"Hey kalian berdua!" bentak salah satu panitia laki-laki dari belakang Shenna dan Sheryl.

"Iya mas?" Sahut keduanya bersamaan.

"Mas, mas, panggil kak disini! Kenapa kalian gak muter-muter liat ukm?" Tanyanya dengan nada yang cukup keras.

"Ya gpp sih, lagi gak pengen ikutan. Ada masalah?" sahut Sheryl seenaknya lalu menyeruput kembali minumannya.

"Sheeeryyyl" bisik pelan Shenna mengingatkan.

"Ah sayang ya kalian terlalu cantik buat dihukum" ucap laki-laki itu "hmm hukuman apa ya buat kalian enaknya? Kayaknya berjemur ditiang bendera seru nih" lanjutnya tersenyum smirk melihat Sheryl dan Shenna.

"Ih songong ya ini panitia, emang situ siapa main nyuruh-nyuruh aja? Caper ya sama maba?" Tanya balik Sheryl dengan nada ketus dan berdiri dihadapan laki-laki itu seakan ingin menantangnya.

"Wohooooo cantik-cantik berani juga ya kamu" ujarnya sambil memegang dagu Sheryl. Sheryl reflek dan melawan dengan gerakan karatenya.

"Yatuhan. Sheryl kamu cari masalah, kita jadi pusat perhatian tau gak sih" ucap Shenna yang mulai was-was.

Beberapa anggota panitia membotong laki-laki itu yang kesakitan. Sheryl yakin yang dilakukannya itu hanya gerakan karate biasa tak akan menyakiti lawannya, palingan laki-laki itu hanya alibi sehingga dia akan mendapat hukuman karena melawan panitia.

"Eh kalian berdua!" Teriak ketua panitia yang super duper tampan, Edgar. "Kalian berdua sudah membuat kesalahan karena memukul panitia Ospek" lanjutnya

"Maaf ya Kak Edgar, saya sebenarnya gak ingin buat masalah sama itu anak, tapi karena dia sudah gak sopan sama saya, saya terpaksa melakukannya. Dan menurut saya gerakan karate saya tidak berlebihan, mungkin dia aja yang berlebihan" jelas Sheryl membela dirinya sendiri.

Edgar yang mendengar itu lalu tersenyum smirk "Ck, berani ya ini perempuan. Inget ya kamu masih mahasiswa baru! Disini kita itu melatih kalian" ucapnya "Oke kamu lari muter 3x lapangan" lanjutnya menunjuk Sheryl "dan kamu! Berdiri ditengah lapangan sampai teman kamu selesai!" Serunya.

"Duh mati kan Sher!" gerutu Shenna.

"Maaf, teman saya gak salah, biar saya aja yang dapet hukuman" ujar Sheryl
"Yatuhan ini anak" ucap Shenna dalam hati "gak kak, saya salah juga kok. Saya siap menerima hukuman" lanjutnya.

"Shenna" bentak Sheryl
"Gpp Sher, kasian kamu dihukum sendirian" sahut Shenna tersenyum kearah Sheryl. Edgar pun pergi meninggalkan mereka berdua.

Matahari sudah mulai condong ke barat, keduanya berlari pelan sambil bercanda satu sama lain. Menjadi tontonan orang banyak? Jelas, tapi tak hanya mereka berdua yang berlari adapula yang berjalan jongkok, push up. Pembully-an saat Ospek memang benar-benar ada.

"Gila ya, udah dihukum jadi pusat perhatian sekampus. Haanjir" desah Shenna yang mulai ngos-ngosan.

Sheryl terkekeh mendengar nafas Shenna yang mulai berat "Jarang olahraga sih lo, ngos-ngosan gitu" ucapnya "Semangat satu putaran lagi" lanjutnya kemudian berlari kembali.

Setelah menyelesaikan putaran terakhir, mereka mencari Edgar untuk melapor kalau sudah selesai melakukan hukuman. Edgar juga meminta maaf atas perilaku tidak sopan anggotanya. Shenna dan Sheryl langsung terpikat oleh pesona Edgar. Keduanya saling pandang senyum kemudian terkekeh meninggalkan Edgar yang sedang berbicara dengan anggota lain dan mencari gazebo untuk berteduh.

"Gilaaa panas banget, gerah banget" gerutu Shenna sambil mengoyangkan telapak tangannya agar mendapat angin dari getakan tangannya.

"Ya ampun Shen, masih segini aja udah lemes" ucap Sheryl yang mengusap keringatnya sendiri. Nafasnya masih normal, dia sudah terbiasa berlari bahkan 10x memutari lapangan pernah ia lakukan.

"Haus banget sumpah" ucap Shenna menengadahkan kepalanya dan memejamkan matanya. Capek.

"Nih!" Ucap seseorang menyodorkan air mineral kepada keduanya. Shenna mendengar suara yang tak asing baginya lalu membuka matanya dan melihat sosok itu. Farrel!

"Ambil kali, tadi aku lihat kalian berdua dihukum, jadi sekalian aku belikan tadi di kantin" ucap Farrel. Shenna dan Sheryl mengambil minuman dingin yang ada ditangannya.

"Thanks" sahut Shenna malu.
"Eh siapa tuh? Ganteng bener. Pacar lo ya?" Tanya Sheryl menggoda.

"Saudara" jawab Farrel dan Shenna kompak. Sheryl hanya tersenyum melihat keduanya.

"E....mmm iya dia ini saudara tapi saudara jauh, jadi agak canggung maklum gak pernah ketemu 6 tahun" jawab Shenna mengelak, dia tak ingin ada yang tau hubungannya dengan Farrel. Farrel juga tersenyum seperti meyakinkan Sheryl supaya percaya akan ucapan Shenna.

"Nanti ada yang mau aku omongin sama kamu Shen" ucap Farrel "ketemu disini ya abis ospek" lanjutnya.
"Oke" sahut Shenna pendek. Dia menjadi salah tingkah sendiri, baru pertama kali mereka mengobrol seperti ini.

Setelah selesai melaksanakan kegiatan penutupan Ospek, sesuai dengan janji tadi Shenna dan Farrel akan bertemu di Gazebo.

"Kamu pulang naik apa?" Tanya Farrel
"Dijemput abangku kalau gak biasanya papa yang jemput" sahut Shenna.

"Oke nanti naik mobilku aja, telpon orangtuamu aja dulu, nanti khawatir. Bilang kalau kamu ada perlu sama temenmu"
"Tapi kayaknya gak boleh deh keluar sama temen, masih belum pada kenal soalnya"
"Yaudah bilang keluar sama aku, pasti dibolehin"
"Ah seneng banget mereka pasti, kita akur" celetuk Shenna. Farrel langsung tertawa mendengar ucapan Shenna.

Setelah menelpon dan mendapat izin dari orang tua Shenna. Keduanya berjalan menuju gedung sebelah, Farrel bersusah payah mencari parkiran mobil karena mahasiswa baru tak diperbolehkan membawa kendaraan pribadi. Farrel melajukan mobilnya menuju ke Roftbar Cafe.

"Shen, kenapa tiba-tiba kamu pasrah kita dijodohin?" Tanya Farrel dengan wajah yang berubah dari sebelumnya, terlihat sangat menyedihkan.

"Apa kita bisa menolak mereka?" Tanya balik Shenna kesal.

"Jujur. Aku kaget kamu mengiyakan apa yang mereka inginkan" sahut Farrel sambil memijat keningnya, frustasi.

"Aku justru yang kaget pas kamu di pertunangan kita, seperti tak ada beban" sahut balik Shenna.

"Ya masa aku harus nangis Shen? Kan gak mungkin juga? Aku seneng aja melihat seluruh keluargaku datang, itu yang membuatku lebih kuat" jelas Farrel. Shenna hanya terkekeh sekaligus kagum padanya.

"Oya terus kamu mau ngomong apa?" Tanya Shenna.

"Gini, kita bilang aja pernikahan kita private party jadi hanya orang tertentu yang boleh dateng, kalau ada temen orang tua kita dan anaknya itu temen kita jangan diundang, bagaimana?" Tanya Farrel dengan ide yang ia pikirkan selama sebulanan ini.

"Boleh tuh. Kita cari tempat yang jauh ajah sekalian. Biar pada gak bisa dateng yang dateng biar keluarga besar aja" sahut Shenna menyetujui ide Farrel.

"Setuju! Tapi dimana?" Tanya Farrel.

"BALI!" jawab keduanya bersamaan lalu saling tersenyum.

"Eh tapi kayaknya kemewahan deh disana, pasti dikiranya kita udah ikhlas dan udah terima kenyataan" ujar Shenna
"Iya ya. Tapi gpp lah"
"Oke setuju!" 
"Kita kalau ditanya orang hubungan kita apa, kamu jawab ajah seperti yang kamu bilang ke temenmu tadi"
"Baiklah. Kamu juga ya. Oke deal?"
"Deal!" merekapun berjabat tangan.

*****

Sehari setelah penutupan ospek akan diadakan malam Pentas Seni di Universitas menyambut mahasiswa baru. Akan ada artis ibu kota, ada pula artis lokal dan beberapa sumbangan dari mahasiswa baru maupun panitia ospek.

Drrrrrt.
Handphone Farrel bergetar.

From: Shenna
Gawat! aku gak dibolehin ke acara pentas seni kampus kalau gak sama kamu.

To: Shenna
Iya aku juga. Katanya mereka harus liat aku jemput kamu dulu dirumahmu baru boleh ke kampus. Yaudah aku jemput kamu ya. Sepertinya mama dan papaku akan mengikuti dari belakang.

Farrel merasa benar-benar dipermainkan orangtuanya, ia ingin sekali mengakhiri permainan ini. Namun dia tak ingin menyakiti hati kedua orangtuanya. Dia berjalan menuju motor Ninja hitam 250tag nya. Mamanya sudah berdiri dibelakangnya siap dengan supir yang akan mengantarnya membuntuti Farrel.

Shenna menghampiri Farrel yang sedang menunggu didepan rumahnya dan sempat melihat kearah belakang tak jauh mobil yaris hitam berada dibelakangnya, pasti Mamanya. Farrel sengaja membawa motor supaya bisa melaju lebih cepat agar tak diikuti oleh mamanya lagi.

Sesampainya dikampus...
Mereka memisahkan diri, Farrel kembali ke teman-temannya. Dan Shenna mencari keberadaan Sheryl. Acara pun sudah dimulai dengan penampilan beberapa kelompok mulai menyanyi, stand up comedy sampai menari.

"Shen, itu Farrel? Gila ganteng amat yak? Makin kena cahaya panggung makin ganteng tuh" celetuk Sheryl melihat Farrel menjadi pengisi acara memegang gitar bersama teman-temannya.

Shenna masih terpukau melihat Farrel "iya Sher" jawabnya innocent "gila itu calon suamiku. Astaga ganteng banget" teriaknya dalam hati.

"Selamat malam semua" seru Farrel diatas panggung "ini lagu buat kalian semua" dia mengerlingkan mata kepada Shenna.

"Eh eh itu buat lo? Gila saudara macam apaan kalian?" tanya Sheryl menggodanya. Shenna hanya tersenyum malu.

Farrel dan teman-temannya memainkan lagu John Legend 'All Of Me' secara akustik dengan gitar. Suara dia dan teman-temannya memang merdu, bagai harmonisasi yang indah.

"Shen, aku ke kamar mandi dulu ya, kebelet" ucap Sheryl dengan wajah yang begitu lucu menahan buang air kecil.

"Cepet ya. Gila masa iya aku sendirian disini" seru Shenna yang melihat Sheryl berlari menjauh.

Shenna sangat bahagia karena dia bisa memandangi bebas Farrel tanpa ada yang tau kalau dia sedang memandangi laki-laki tampan dengan suara merdunya. Bahkan kalau dibilang ia jatuh cinta, siapa yang tak akan jatuh cinta pada Farrel jika seperti saat ini. Sampai dia tak tersadar ada laki-laki yang sedang duduk disampingnya.

"Hai dek" sapa laki-laki itu membuyarkan lamunan Shenna.

Shenna terkaget melihat sosok itu adalah sosok yang membuat dia dan Sheryl dihukum keliling lapangan, masih ada amarah yang tersimpan dihatinya.

"Hai hai" sapanya lagi
"Iya? Ada apa ya?" Tanya Shenna tak peduli dan kembali memandang Farrel yang di panggung.

"Aku minta maaf ya udah buat kalian dihukum, aku Dika" ucapnya sambil menyodorkan tangannya.
"Ya. sudah di maafkan" sahut Shenna menerima jabatan tangannya.
"Temenmu mana? Aku juga minta maaf ya sama dia. Gak enak" ujar Dika terlihat tulus.
"Nanti disampein" sahut Shenna cuek.

"Nama kamu siapa?"
"Harus?"
"Ya kalo boleh sih"
"Shenna"
"Nama temenmu?"
"Sheryl"

"Boleh minta nomer kalian gak?" Tanya Dika memberanikan dirinya ingin mengenal perempuan yang telah membuatnya dihukum.

Shenna tercengang mendengar itu "Dih modus ya kak? Pantes sih nyari gara-gara buat ngecengin maba" celetuk Shenna melirik sinis kearah Dika.

Dika membelalakan matanya mendengar ucapan Shenna. Dika tampan, style nya anak muda jaman sekarang "kamu kok mikir gitu sih dek?" tanyanya sedikit membentak.

"Kebetulan aja. Tapi kok dari ekspresi kakak seperti membenarkan apa yang saya ucapkan ya?" Ketus Shenna malas memandang kearah Dika dan bangkit dari tempat duduknya ingin menjauh dari Dika.

"Mau kemana?" Tanya Dika sambil mengcengkram erat tangan Shenna.
"Woy lepasin gak!" teriak pelan Shenna.
"Kasih dulu nomer kalian, baru aku lepasin" ucap Dika tersenyum smirk.

"Kurang ajar nih anak, gak sopan banget! Pantes si Sheryl ngehajar kamu waktu itu" ucap Shenna membalas senyum smirk Dika.

"Ya ya sebenernya gak seberapa sakit dipukul sama temenmu cuma alesan aja biar kalian dihukum" sahutnya lalu tertawa, gengamannya semakin erat mencengkram pergelangan tangan Shenna.

"Ah otak lo gesrek ya? Banyak orang woy! Lepasin gak!" Bentak Shenna berusaha melepaskan tangannya.

"Hei bro lepasin bisa kali" suara laki-laki itu menghampiri Shenna dan Dika, suara yang sangat mereka kenali.

"Wooooh Farrel, teman lama" ucap Dika seperti ada dendam diantara mereka. Mereka satu SMA, keduanya sama-sama mantan ketua osis dan pernah berebut menjadi ketua Ekskul Paskibraka.

"Lepasin tangannya gak!" Ancam Farrel dengan wajah yang malas berantam dengan Dika.

"Kalau gak mau?" Tanya Dika seakan menantang Farrel.

"Lagi males berantem, jangan cari gara-gara mentang-mentang situ panitia ospek ya" bentak Farrel cukup keras sambil berusaha melepaskan tangannya Shenna dari Dika.

"Oh sok pahlawan. Oke aku lepasin" Sahut Dika langsung melepas genggaman tangannya, dan Shenna langsung bersembunyi dibalik punggung Farrel "siapa lo sih dia?" Lanjutnya bertanya.

"Pacarku dan calon tunanganku, kenapa?"  Ucap Farrel tersenyum smirk.

"Oh jadi cewek cantik ini pacar kamu, ya ya untuk kali ini ngalah lagi sama lo! Tapi gue masih bisa gebet temennya" sahut Dika lalu pergi meninggalkan keduanya. Farrel tak merespon ucapan Dika, dia sudah malas berhubungan dengannya.

Shenna kemudian langsung terduduk lega dan masih terlihat syok atas perlakuan kasar Dika. Dia memegang tangannya yang kemerahan karena dicengkram terlalu kuat oleh Dika.

"Sialan banget tau gak sih itu orang!" Umpat Shenna melihat tangannya yang memar dan nyeri.

Farrel tersenyum "Tangan kamu gpp kan?" Tanya Farrel khawatir sambil memegang tangan Shenna "sakit ya?" Tanyanya kembali.

"Dikit sih" sahut Shenna menyengir.

"Whooooa ada apaan nih kok pegangan tangan? Romantis banget kalian. Gak percaya kalau kalian saudara" seru Sheryl yang tiba-tiba datang dan duduk didepan mereka berdua.

"Ini nih liat tanganku. Akibat fans terlalu fanatik" ucap Shenna menunjukkan tangannya pada Sheryl.

"Siapa yang ngelakuin ini sama lo? Kurang ajar banget!" Sahut Sheryl.
"Itu loh yang kemaren kamu hajar" celetuk Farrel.

"Dia lagi? Sekarang dia dimana? Sini gue hajar lagi tuh anak. Emosi banget liat songongnya itu anak" ucap Sheryl kemudian berdiri dari tempat duduknya.

"Ets, kemana Sher?" Tanya Shenna menarik tangan Sheryl "santai ya santai, jangan cari masalah. Udah gpp kok" lanjutnya tersenyum kepada Sheryl.

"Maaf ya gara-gara gue tinggal, manusia sialan itu bikin gara-gara sama lo!" Umpat Sheryl.

"Udah gak papa kok, untung tadi ada Farrel yang dateng" ucap Shenna tersenyum.

"Saudara hebat kamu rel, salut!" Ujar Sheryl menepuk pundak Farrel. Keduanya hanya menelan ludah dan tersenyum palsu kearah Sheryl.

-

Drrrrrrt.
Handphone Shenna berbunyi saat dia baru selesai mencuci mukanya, persiapan untuk tidurnya setelah pulang dari acara penutupan ospek.

From: kak Daffa
Halo adekku cantik, lagi apa? Baru pulang dianterin Farrel ya? Sudah ikhlas nih ceritanya? Semangat ya sayang, maaf ya kakak gak bisa tepati janji selalu ada buat kamu. Ini kakak sudah 2minggu di Batam gak sempet bales email atau social media yang lain. Katanya pernikahanmu diundur ya bulan november? Syukur deh, biar kamu siap-siap. Good night my beautiful sister:*

To: kak Daffa
Haha tau darimana kak? Pasti mama yang ngomong ya? Kita satu universitas kak, pasti mereka yang udah ngerencanain ini semua. Dan baru ketemu dia lagi itu kemarin kak setelah pertunangan. Ternyata dia orangnya baik kak, tadi dia ngebelain aku dari cowok gak jelas yang suka caper sama maba:( good night too My Beautiful Bro:3:*:p

From: kak Daffa
Ciyeeee. Yaudah ndang tidur gih. Selamat mimpiin dia ya haha

Setelah membalas sms kakaknya dia langsung tertidur dalam senyum yang lebih ikhlas dibanding beberapa hari sebelumnya.

*****

Sudah dua bulan berlalu, Shenna dan Farrel jarang sekali bertemu, hanya bertemu ketika mengobrol tentang urusan pernikahan atau sesekali bertemu saat kuliah dan saling menyapa beberapa menit. Pernikahan mereka jatuh pada tanggal 11 November tinggal menghitung hari lagi. Semua rencana dari gaun pengantin dsb sudah dirancang oleh kedua orangtua mereka, mereka menyetujui apa saja yang diucapkan oleh kedua orangtuanya. Seperti yang mereka inginkan, pernikahan mereka bertempat di Bali dengan tema Private Party.

"Kita harus cari rumah yang jauh dari peradaban manusia, jangan deket kampus ataupun jangan deket rumah orangtua kita berdua" ucap Farrel kepada Shenna saat keduanya duduk berdua di taman Universitas yang sepi.

"Sempet terpikir gitu sih. Tapi meskipun begitu mereka pasti akan berkunjung ke rumah kita" sahut Shenna menghela nafas panjang.

Farrel berfikir panjang "Hm, bagaimana kalau kita bilang mau hidup mandiri?" Tanyanya. Shenna menganggukkan kepalanya semangat.

***

Ubud, Bali
11 November jam 10.00 WIB
"Saya nikahkan kamu Muhammad Farrel Wijaya bin Gunawan Wijaya dengan anak saya Shenna Clarissa Bramantyo binti Muhammad Bramantyo dengan seperangkat alat sholat dan perhiasan 11,1gr dibayar tunai" suara papa Shenna terdengar sangat sakral.

"Silahkan nak Farrel" ucap penghulu

"Bismillahirrohmanirrohim. Dengan ini saya terima nikahnya Shenna Clarissa Bramantyo binti Muhammad Bramantyo dengan seperangkat alat sholat dan perhiasan 11,1gr dibayar tunai" ucap Farrel perlahan.

"Sah?" Tanya Penghulu.

"SAAAAAHHHHH!" Sahut semua tamu.

Farrel meminta izin dengan matanya ingin mencium kening Shenna, terlihat Shenna menganggukkan kepalanya. Dia mencium kening Shenna dengan lembut dan hangat. Shenna merasa ciumannya terasa tulus, dia juga mencium telapak tangan Farrel. Keduanya dihinggapi perasaan aneh yang mereka sendiri gak tau apa artinya.

Suasana memang tak seramai resepsi pada umumnya. Acara resepsi pernikahan bagi pasangan pengantin yang menginginkan pernikahan sungguh sakral, tapi bagi Shenna dan Farrel ingin keadaan ini segera selesai. Mereka capek ketika ditanya ini-itu dan harus tersenyum palsu ke semua orang yang mengucapkan selamat.

***

31 Desember, 21.00 WIB.

Semenjak pernikahan mereka 1 bulan yang lalu, keduanya hanya saling bersapa seadanya. Jadwal kuliah yang padat dan jarang bertemu di jam yang sama saat berangkat ataupun pulang kuliah. Farrel lebih menutupi dirinya, setelah pulang kuliah dia langsung istirahat ke rumah, ya rumah Farrel dan Shenna yang tidur terpisah kamar. Lain lagi dengan Shenna yang semenjak bertemu Sheryl lebih sering menghabiskan waktunya senang-senang dengan Sheryl.

Hari ini hari ulang tahun keduanya, namun mereka tetap acuh. Lagipula mereka tak ada dirumah mereka dulu, tak akan ada kado special yang diberikan orang tua atau dari orang-orang terdekat. Hanya beberapa sahabat mereka yang mengucapkan via social media.

Shenna sangat sedih untuk pertama kali dalam hidupnya dia akan merayakan ulang tahunnya sendiri. Dia duduk di meja makan dekat dapur, menatap kue tart yang ia beli tadi dengan Sheryl saat pulang mampir ke Dapur Coklat. 

"Kamu ulang tahun hari ini?" Tanya Farrel tiba-tiba datang membangunkan lamunan Shenna. Shenna terkaget melihat Farrel sudah duduk tepat dihadapannya.

"Besok" jawabnya lemas.

"Kamu tau kita di jodohin kenapa?" Tanya Farrel menatap iba kearah Shenna. Dia merasakan hal yang sama dengan Shenna. Dia juga merasa sedih tapi ia berusaha menutupinya.

"Ngak tuh males tanya. Kenapa?" Tanya balik Shenna menatap malas kearah Farrel. Bukan malas melihat Farrel, tapi dia malas karena hari ulang tahunnya akan menyedihkan seperti ini.

"Papa kita berdua itu temenan SD, terus mamaku sama papamu dulu itu pernah pacaran pas SMP. Nah pas gak sengaja mama kita berdua bertemu di Rumah Sakit. Disitulah mama kita berjuang untuk melahirkan kita berdua. Sayang mamaku tak dapat bersalin normal dia memilih sesar jadi aku lahir tepat jam 1pagi, dan setelah itu mamamu masih bersikukuh ingin bersalin normal akhirnya kamu lahir pas saat adzan subuh. Pada saat dipindah ke kamar inap, disitulah papa kita berdua ketemu dan mengobrol. Di tempat sanalah kita juga dijodohin" jelas Farrel

"Ck, bahkan kita belum umur 1 hari aja sudah dijodohin" sahut Shenna terkekeh.

"Kita juga pernah ketemu di rumahmu pas kecil dulu umur 3tahun, mungkin kamu sudah lupa dan akupun juga lupa, sama sekali tak ingat. Kita bermain rumah-rumahan aku jadi suami kamu jadi istrinya. Dan disitulah juga orangtua kita semakin yakin mau ngejodohin" jelas Farrel kembali.

"Aku lupa. Emang kita pernah begitu ya?" Tanya balik Shenna lalu terkekeh. Farrel pun juga ikut tertawa melihat ekspresi Shenna yang tak percaya, hal sepele seperti itu bisa terjadi sekarang.

Dor Dor Dor🎉
Suara kembang api pergantian tahun mulai meramaikan langit-langit dan suara terompet yang ditiup saling sahut menyahut.

"Kita ulang tahun bareng kan? Yaudah kita rayain bareng aja" ucap Shenna sambil tersenyum. Mereka berdua memejamkan matanya, dan memanjatkan doa.

"Sudah make a wishnya?" tanya Farrel tersenyum.
"Sudah, kita tiup bareng-bareng ya" jawab Shenna. Keduanya pun meniup lilin bersama-sama.

"Happy birthday ya Shen" ucap Farrel reflek memeluk Shenna.

Shenna terkaget akan reaksi Farrel yang memeluknya "Hm, Rel?" Tanya Shenna. Farrel langsung melepaskan pelukannya dan meringis kearah Shenna. "Happy birthday juga ya Rel!" Seru Shenna menutupi rasa gugupnya setelah dipeluk Farrel.

Mereka berdua bercanda untuk pertama kalinya di rumah itu setelah pernikahan. Setidaknya mereka masih bisa bahagia disaat hari kelahiran keduanya, dan tak merasa sendirian.

***

3bulan kemudian...
Drama dan drama terus terjadi, setiap kali teman Farrel atau teman Shenna yang datang untuk berkunjung atau mengerjakan tugas kelompok di rumah mereka dan salah satu dari mereka tiba-tiba ada yang datang selalu bersembunyi atau terpaksa bersapa dengan teman-temannya.

"Oya kenalin, ini saudaraku. Papanya lagi luar negeri setahun. Jadi dia nginep disini" ucapan yang selalu mereka katakan pada teman-temannya.

Farrel melirik jamnya, sudah pukul sepuluh malam tapi Shenna belum juga pulang. Ada rasa khawatir di dalam hatinya, karena Shenna masih berstatus sebagai istrinya. 

Suara pintu depan terbuka, Farrel mencoba menguping dari kamarnya. Terdengar percakapan dari Shenna yang meminta dibuatkan susu putih kepada bi Sumi, pembantu mereka.

Tok tok tok.
Suara pintu kamar Farrel diketuk dari luar.

"Siapa?" Tanya Farrel dari kamar.
"Shenna rel" jawabnya dengan nada suara yang berbeda.

Farrel langsung membuka pintu kamarnya dan tercengang melihat Shenna yang seperti orang mabuk? Dia merasa Shenna tadi baik-baik saja saat mengobrol dengan bi Sumi meminta minuman. Shenna berjalan lemah, dan menjatuhkan tubuhnya kearah Farrel.

"Kamu mabuk Shen?" Tanya Farrel dengan sigap menopang tubuh Shenna seperti berpelukan "tapi kau sama sekali tak berbau alkohol" lanjutnya mengendus didaerah wajah Shenna.

Farrel binggung harus melakukan apa, dia menggendong Shenna ala bride dan dibaringkan dikasurnya. Membenarkan posisi tidurnya, melepas sepatunya dan menutupi tubuhnya dengan selimut miliknya.

"Yaudah Shen, kamu tidur disini aku tidur di sofa aja ya" ucap Farrel kemudian pergi. Namun tangan Shenna memberhentikan langkahnya dan membuat badannya menjatuhi badan Shenna, dia langsung buru-buru berdiri dan berjalan menuju pintu.

Farrel merasa nafasnya terengah-engah saat berjalan, sedikit lagi sudah mencapai pintu. Sebuah tangan meraih pergelangan tangannya, Shenna berhasil membuatnya berbalik badan dan bibir mereka saling bertemu. Blush. Farrel yang masih fokus langsung mendorong Shenna kasar.

"Shenna aku minta maaf" Ucap Farrel "Kamu kenapa? Apa yang kamu lakukan? Lebih baik kamu tidur" lanjutnya lalu menggendong Shenna lagi kearah kasurnya.

Farrel melihat sebuah air keluar dari mata Shenna "aku menginginkanmu" ucapnya lirih. Farrel menelan ludahnya tak percaya akan ucapan Shenna. Dia kembali membenarkan tidur Shenna dan meraih air minum yang ada di meja sebelah kasurnya karena merasa gugup.

Farrel merasa kepalanya pusing, dia memandangi tubuh Shenna yang tak tertutupi selimut karena diacak-acak oleh Shenna sendiri. Farrel menelan ludahnya, nafsunya tiba-tiba bangkit melihat tubuh Shenna yang hanya menggunakan dress selutut berwarna peach. Manis sekali.

Farrel mencium kening Shenna lembut dan membuatnya terbangun membuka matanya. Dia tepat berada diatas Shenna, Shenna tersenyum kearahnya dan meraih pipinya mendekatkan wajah mereka. Bibir mereka kembali bertemu, hangat. Shenna menjadi dominan, dia yang memulai terlebih dahulu dan melumat habis bibir Farrel. Farrel juga tak mau kalah dengan Shenna yang bermain dengan bibirnya, tangannya sudah bergeriliya ditubuh Shenna.

Tanpa mereka sadar malam ini adalah malam penyatuan mereka.

*****

Adzan subuh berkumandang cukup keras, sehingga membangunkan Farrel dari tidurnya. Dia merasa berat di lengan tangannya, saat membuka mata dia melihat Shenna yang sedang tidur. Cantik sekali batinnya. 

"Tunggu" ucapnya lalu melihat detail tubuh Shenna yang tak tertutup kain sehelai benang pun, sama hal dengannya yang tak tertutup sama sekali "Ya Tuhan, apa yang aku lakukan?" Teriaknya histeris lalu dengan memakai semua pakaian dalam dan bajunya yang tadi ia kenakan.

"kalau dia hamil bagaimana? Tambah runyam ini ceritanya?" Gerutu Farrel berjalan mondar-mandir "aku kan sudah berjanji tak akan menyentuhnya sedikitpun" lanjutnya.

Dengan rasa bersalah dan ketakutan, akhirnya dia berinisiatif memakaikan baju Shenna kembali dan memindahkan ke kamarnya. Supaya ketika Shenna bangun anggap tak pernah terjadi apa-apa.

Jam 07.00
Shenna dan Farrel bersamaan keluar dari kamar masing-masing. Kamar mereka berdua berdampingan.

"Pagi Rel" sapa Shenna. Farrel tersenyum seadanya, dia merasa sangat bersalah karena telah merusak harga diri Shenna.

"Badanku kok pegel semua ya rasanya?" Tanya Shenna langsung kearah dapur dan mengambil botol minuman didalam kulkas.

Farrel terdiam binggung menjawab apa "hm, kamu lupa tadi malam pulang jam 10?" Tanyanya balik seakan tak pernah terjadi apa-apa.

"Oya kenapa aku gak ingat apa-apa ya?" Tanya Shenna lagi masih sibuk dengan botol minumannya.

"Gak tau deh. Yaudah pergi mandi gih! Keramas juga sekalian biar seger, kali aja badannya nanti enakan" ucap Farrel memberikan saran kepada Shenna seakan benar-benar harus mensucikan diri setelah berbuat itu. Shenna mengangguk-anggukan kepalanya.

Farrel masuk kedalam kamarnya kembali, disusul dengan Shenna. Keduanya sibuk di kamar masing-masing setelah membersihkan diri.

"Hari ini kuliah jam berapa?" Teriak Farrel dari ruang tamu. Rumah mereka memang tak cukup besar, layaknya apartement yang hanya ada 2 kamar, 1 dapur, 1 gudang yang disulap jadi tempat tidur bi Sumi. 

"Jam 9" sahut Shenna dari dalam kamar.

"Bareng aja gimana? Aku ada kuliah jam 10" Teriak Farrel kembali dan sibuk memakai sepatu vans hitamnya.

"Enggak deh, nanti kalau kita ketahuan berangkat bareng gimana? Nanti banyak yang mikir aneh-aneh lagi" sahut Shenna keluar dari kamar dan duduk bersebelahan dengan Farrel memasang sepatu converse navy-nya.

"Justru yang aneh kita serumah, tapi gak pernah berangkat bareng kan? Dikira kita saudara yang gak akrab lagi" ucap Farrel dengan setengah hati mengatakan 'saudara'. Bahkan yang tadi malam mereka lakukan adalah hubungan suami-istri selayaknya.

Shenna langsung tertawa "Benar juga ya, udah 2 semester ini kita gak pernah berangkat bareng" ucapnya kembali tertawa "Saik banget lah, badan sakit semua, tumpangan gratis" lanjutnya kemudian berdiri. Farrel hanya tersenyum.

*****

Sebulan lagi akan diadakan UAS tepatnya awal bulan juni, Shenna dan Farrel sudah mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dan untuk ketemu dirumah pun jarang, kecuali saat malam hari. Sekedar bercanda, nonton TV atau berkutat dengan laptop masing-masing di Ruang Tamu atau di kamar masing-masing.

Tok tok tok

Suara pintu rumah mereka terketuk, Shenna dan Farrel yang sedang sibuk dengan laptop masing-masing di Ruang Tamu terkaget. 'Ada yang datang malam-malam begini?' Batin keduanya. Farrel berdiri dan membukakan pintu.

"Maaf cari siapa ya?" Tanya Farrel melihat sosok laki-laki dihadapannya.
"Ini rumah Shenna kan mas?" Tanya seorang laki-laki itu. 
"Iya betul. Ada keperluan apa ya?" Tanya balik Farrel mengangkat alisnya bagaimana bisa mengenal Shenna, dia tak pernah melihatnya sama sekali.

"Saya teman SMA nya Willy, boleh dipanggilkan orangnya?" Ucap Willy dengan sopan.

"Sebentar. Shen ada yang nyariin kamu nih. Namanya Willy" teriak Farrel. Shenna mendengar nama itu langsung terperanjak dan lari menuju pintu. Tampak diwajahnya terlihat sangat bahagia dan gelisah.

Shenna menatap Willy tak percaya, dia berubah sangat drastis, rambutnya jauh lebih berantakan dari sebelumnya, tubuhnya juga kurus. Willy langsung memegang kedua tangan Shenna dan menatapnya penuh harap. Farrel yang melihat itu merasa ada yang salah dengan hatinya, dia tak ikhlas istrinya diperlakukan seperti itu oleh laki-laki lain.

Shenna langsung melepas genggaman tangan Willy saat melihat ekspresi wajah Farrel yang tak enak.

"Boleh ngomong sesuatu? Berdua?" Tanya Willy. Ucapan Willy tersebut membuat Farrel sadar, saatnya untuk pergi.

"Penampilanmu berubah ya wil?" Tanya Shenna melihat Willy yang dulunya super perfect tapi sekarang sudah tak tau seperti apa.

"Gara-gara mikirin kamu Shen" celetuk Willy lalu tersenyum.

Shennan langsung membelalakan matanya "Aku?" Tanyanya.

"Kamu ingat belum menjawab perasaanku dan main tinggal aku gitu aja, sakit Shen. Aku hampir stres cuma mikirin kamu. Aku kabur dari rumah setelah tau alamat kamu dari Olivia" jelas Willy dengan mata berkaca-kaca. Shenna tau ini seperti apa yang dibicarakan kakaknya dulu. Dia tersenyum mendengar itu, tau bagaimana rasanya.

"Lalu kenapa kamu meninggalkanku begitu saja?" Tanya Willy kembali.
"Maaf aku tak bisa cerita" ucap Shenna berusaha menutupi rahasianya.

"Boleh aku menumpang dirumahmu sementara waktu sampai aku menemukan pekerjaan?" Tanya Willy meminta izin.
"Boleh" jawab Shenna dengan senang hati, cinta pertamanya saat SMA berada dalam satu rumah dengannya.

****

Ujian Akhir Semester sudah berakhir beberapa hari yang lalu. Tinggal menunggu hasil dan remidian jika nilainya belum sesuai target.

"Eh itu pacar kamu kemana?" Tanya Farrel saat keduanya makan siang di meja makan.

"Pacar apaan? Bukan lagi. Dia itu gebetan aku dulu waktu SMA" jawab Shenna malu-malu.

"Ah mukamu merah gitu. Masih cinta ya?" Tanya Farrel menggoda Shenna. Shenna mengulum senyumnya dan menggeleng "Jangan bohong. Cara natap kamu ke dia itu beda" lanjutnya terus menggoda Shenna meskipun hatinya tersakiti.

"Kamu kok kepo sih rel? Cemburu ya ciyeee. Inget ya kita nikah bohongan, jangan sampai ada main perasaan" goda balik Shenna lalu terkekeh.

"Wooooaa apaan. Mengada-ada nih anak. Ingetlah tinggal sebulan lagi kita selesai" berat bagi Farrel mengucapkan kata terakhir itu, setelah apa yang mereka lakukan 3bulan yang lalu.

Huuuueeek
Shenna merasakan perutnya yang tak enak, dia langsung pergi ke kamar mandi.

"Kenapa Shen?" Tanya Farrel ketakutan, inilah yang ditakutkan olehnya "gpp kan?" Tanyanya dari luar kamar mandi.

"Gatau nih, mungkin kecapekan semalem abis keluar sama Willy" sahut Shenna dari dalam dan membuka pintu.

Farrel membantu mendudukkan Shenna di kursi ruang tamu "masuk angin kali kamu" ucapnya. "Mau aku belikan obat?" Tanyanya sedikit khawatir. Shenna menganggukkan kepalanya.

*****

Shenna merasa tubuhnya masih sama dengan sebulan yang lalu, selalu merasa lemas, rasa mual-muntahnya di pagi hari masih ada, padahal nafsu makannya bertambah. Teman-temannya sering mengejeknya 'pipi lo chuby banget sih, kayakk babi' celetuk teman-temannya saat di kampus.

Karena merasa ada yang aneh pada tubuhnya, dia pergi ke dokter untuk memeriksakan keadaannya.

"Selamat mbak, dari hasil pemeriksaan urine anda dinyatakan hamil. Tes anda posirif dan usia kehamilan anda 10 minggu" ucap dr. Susiana tersenyum ramah.

Shenna merasa lemas mendengar ucapan dr. Susiana, pikiran berkecamuk jadi satu. Antara bahagia atau sedih, mempertahankan atau menggugurkannya. Pernikahan bohongan ini seakan menjadi pernikahan sungguhan. Dia terus bertanya pada dirinya 'Apa Farrel yang melakukannya? Tapi kapan?' Tanyanya terus dalam hati.

dr. Susiana yang melihat ekspresi kaget Shenna bisa mengerti "Tidak apa-apa mbak, maklum masih muda agak kaget saat tahu hamil, bulan depan kontrol sama suami mbak, nanti saya kasih tau jadi suami siaga ya" jelasnya tersenyum. Shenna membalas senyuman itu lemah lalu keluar dari ruangan dr. Susiana.

-

Sesampainya di rumah...

"Darimana Shen?" Tanya Farrel gelisah.
"Dari dokter" sahut Shenna lemas.

"Bagaiamana? Kamu sakit apa?" Tanya lagi Farrel yang merasa Shenna sedang sakit. Shenna terdiam masih asik dengan lamunannya. "Shenna?" Tanyanya lagi.

Shenna langsung tersentak "Maaf Rel, lagi banyak pikiran. Kata dokter cuma kecapekan biasa dan sering keluar malem katanya. Virus yang masuk lebih kuat dari siatem imun" ucapnya menutupi kalau dia sedang hamil.

"Syukurlah kamu gpp" ucap Farrel sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut Shenna.

"Boleh tanya sesuatu rel?" Tanya Shenna menatap lemah kearah Farrel.
"Apa?" Sahut Farrel tenang. Shenna menarik nafas dan menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan menuju kamarnya.

"Yaudah ke kamar dulu ya" pamit Shenna. Farrel hanya membalas senyum dan anggukan.

*****

Libur semester untuk 2,5 bulan sudah dapat terasa. Farrel lebih sering dirumah semenjak Shenna sakit. Walaupun Shenna menyuruhnya untuk keluar dari rumah jika ada janji dengan temannya.

Lain dengan Willy yang memang pekerja keras, dia dari pagi sudah bekerja di perusahaan kecil hanya dengan ijazah SMA. Dia memutus kuliah hanya untuk mencari keberadaan Shenna. Hari liburnya adalah hari minggu, biasanya dibuat untuk pulang ke rumahnya. Dia sendiri saat di rumah Shenna tidur di sofa atau kalau Farrel lagi baik hati tidur dikamarnya.

Shenna menjadi kebih pendiam dan sering melamun, pikirannya kacau mengetahui kehamilannya. Perutnya memang tak menunjukkan perubahan secara signifikan karena diimbangi dengan berat badannya yang juga naik. Dia terduduk melamun di teras depan rumahnya.

"Shen berangkat dulu ya" pamit Willy. Shenna berdiri dan merapikan baju dan dasi Willy. "Duh calon istri yang baik, inget ya sebulan lagi aku akan melamar kamu seperti yang aku bilang ke kamu waktu itu" lanjut Willy tersenyum.

Shenna hanya tersenyum seadanya, hatinya binggung harus membalas apa. Willy pun pergi dengan sepeda motornya.

"Shen, aku digituin juga dong kayak Willy sekali-kali" goda Farrel mengagetkan lamunan Shenna.

"Apasih Rel? Kamu itu pake baju apa? Mau digituin juga?" Tanya Shenna dengan malu-malu.

"Yah padahal aku juga mau pergi loh" sahut Farrel mengerucutkan bibirnya.

"Yaudah sana pergi-pergi hus hus" usir Shenna mengoyangkan tangannya seperti mengusir kucing.

"Jahat amat neng, sama calon suaminya aja gitu. Masa sama aku yang suami sahnya meskipun bohongan kayak gini" celetuk Farrel menahan tawanya dengan pernyataan awkaward ini,

"Iya Farrel" ucap Pasrah Shenna sambil membenarkan jaket dan menepuk-nepuk wajah Farrel.

Farrel tertawa saat Shenna menepuk pipinya "Dont touch my face! Dilarang tepuk-tepuk wajah saya" seru Farrel masih tertawa.
"Maaf reflek" sahut Shenna tertawa kecil.

"Akhirnya ketawa juga. Aku perhatiin akhir-akhir ini kamu banyak ngelamun. Ada sesuatu yang mau diceritakan?" Tanya Farrel penasaran sambil memegang pundak Shenna.

Shenna langsung menelan ludah "Enggak Rel, cuma binggung aja si Willy mau ngelamar aku, tapi kita dalam posisi masih menikah dan untuk ceraipun gatau masalahnya apa" ucapnya menatap lemah Farrel.

Farrel tersenyum kearah Shenna "Yaudah jangan dipikirin, nanti kita cari solusinya bareng-bareng. Aku buru-buru nih" ujarnya.

"Iya" singkat Shenna tersenyum. Kali ini senyumnya lebih ikhlas daripada sebelumnya, hatinya terasa lega setelah berbicara sedikit dengan Farrel.

"Bye Shen" pamit Farrel sambil mengusap lembut rambut Shenna dan mencium kening Shenna untuk kedua kalinya. Lalu dia lari menuju mobilnya.

"Rel? Nakal yaa!" Teriak Shenna "main cium-cium aja" serunya lagi tak bisa menahan senyumnya, pipinya merona merah.

"Ciye senyum-senyum sendiri, mukanya merah tuh, seneng ya dapet ciuman dari aku" teriak Farrel dari dalam mobilnya tersenyum melihat tingkah Shenna.

Shenna menutupi wajahnya "Pergi sana!" Teriaknya lalu masuk ke dalam rumah.

*****

Besok adalah hari terpenting dalam hidup Shenna dan Willy, Willy akan melamarnya. Suasana hatinya sedang tak menentu, apalagi ada janin yang dikandungnya. Dia binggung harus berbuat apa. Willy sudah tak dirumahnya sejak tiga hari yang lalu, dia kembali kerumahnya untuk mengajak kedua orangtuanya melamar. Dia takut menyakiti Farrel, walaupun Farrel terlihat biasa saja tapi di tau Farrel tak senang dengan kedatangan Willy dirumah mereka dan Shenna juga tak akan memisahkan ayah dan anaknya begitu saja. Shenna berpikir keras sampai membuatnya setres yang seharusnya tak boleh ibu hamil lakukan.

Farrel melihat Shenna yang sedang melamun di Taman belakang rumahnya dan terlihat sedih dari matanya beberapa hari ini. Bahkan bulan dan bintang tau Shenna sedang memikirkan banyak hal yang tidak diketahui olehnya. 

"Mikirin apa Shen? Besok hari bahagia kamu kan? Kok sedih?" Tanya Farrel menghampiri Shenna dan duduk diatas rumput disampingnya.

Shenna menatap lemah Farrel "Entahlah binggung aja. Kita masih status menikah. Tapi aku mau dilamar orang. Aneh gak sih?" Tanyanya dengan nada bersalah.

Farrel tersenyum dan merangkul bahu Shenna "Yaudah sih gpp, jangan dipikirin. Besok setelah pertunangan kalian. Kita pasti akan cerai setelah pertunangan kalian" ucapnya dengan nada bergetar. Sungguh hatinya tak ikhlas melepas Shenna.

"Husss omongannya. Gak segampang itu" celetuk Shenna lalu tanpa sadar dia tertidur di paha Farrel mencari kenyamanan dan memejamkan matanya. Farrel tersenyum melihat tingkah Shenna dan mengusap lembut rambut Shenna.

Keduanya hening sama-sama memejamkan matanya, sibuk dengan pikiran masing-masing. Angin yang berhembus dan suara jangkrik di malam hari seperti tahu hati kedua orang ini sedang menangis.

"Boleh aku minta satu permintaan terakhir?" Tanya Farrel. Shenna membuka matanya dan melihat Farrel menatapnya tulus. Dia menganggukkan kepalanya.

"Mau dansa? Kita nikah gak dansa kan? Aku mohon untuk pertama dan terakhir kalinya" ucap Farrel memelas sambil memegang tangan Shenna.

"Yuk" ucap Shenna tersenyum, setidaknya ini yang bisa ia lakukan terakhir untuk Farrel. "Tapi aku gak bisa dansa" lanjutnya meringis.

Farrel tersenyum "aku juga gak bisa, nikmati aja lagunya" ucapnya.

Farrel mengeluarkan hp dan headsetnya, lalu memasangkan satu headset untuk telinganya, satu lagi untuk Shenna. Alunan musik instrumental terdengar di telinga mereka. Tangan Farrel melingkar ke pinggang Shenna dan tak ada penolakan. Shenna pun membalas perlakuan yang sama, tangannya melingkar ke pinggang Farrel juga. Jarak mereka sangat dekat, mata mereka saling bertemu untuk pertama kalinya dalam jarak yang dekat. Mereka memulai dansa dengan langit yang gelap diterangi sinar bulan dan bintang, membuat suasana semakin indah dan romantis.

"Ternyata kita gak jelek-jelek amat kok rel dansanya" ucap Shenna tersenyum. Farrel membalas senyumannya.

Dengan alunan yang begitu indah, Shenna semakin menikmati kenyamanan yang ia rasakan hampir setahun ini bersama Farrel. Kepala Shenna dan Farrel bersentuhan, tatapan mereka semakin dekat. Farrel mencium kening Shenna untuk ketiga kalinya, cukup lama dan hangat rasanya pada kening Shenna. Lagu instrumental nan romantis tersebut membuat Farrel tak bisa menahan ingin memiliki Shenna seutuhnya, dia kemudian menciumi mata, hidung, pipi, dan berakhir pada kecupan indah pada bibir Shenna.

De javu. Shenna merasa pernah merasakan kejadian seperti ini. Tangannya pindah kearah leher Farrel mendorongnya supaya memperdalam ciuman mereka. Farrel juga melakukan hal yang sama, tanggannya memegang leher Shenna memperdalam ciumannya dan membuat tubuh Shenna mendekat ketubuhhnya.

Farrel tersenyum disela-sela ciumannya. Mereka merasa bahagia bisa mengungkapkan perasaan mereka seperti ini. Shenna meneteskan air matanya dan membuat Farrel terkaget, memberhentikan ciuman mereka.

"Kamu kenapa?" Tanya Farrel khawatir melihat Shenna mengeluarkan air mata. Shenna menggelengkan kepalanya. Farrel memeluk Shenna erat dan menenangkannya.

"Aku binggung Rel" ucap Shenna terisak dalam pelukan Farrel "Aku ingin kita tetap seperti ini, meskipun tau pernikahan ini bohong tapi aku gak mau berpisah sama kamu" ucapnya semakin terisak.

"Tidak papa-papa. Pilihlah mana yang terbaik buat kamu" ucap Farrel menahan air matanya "Aku tau Shenna gadis yang pintar, dia pasti tau bagaimana mengatasi masalah ini" lanjutnya mengusap lembut rambut Shenna.

Mereka berdua terus berdansa dan saling memeluk, lagu instrumental itu terus beralun. Sampai mereka lupa bahwa jam sudah menunjukkan tengah malam.

*****

Keesokkan harinya...
Willy dan keluarganya datang ke rumah Shenna, tak hanya itu sahabat-sahabatnya pun ikut datang. Shenna merasakan kesedihan yang tak bisa ia sampaikan ke siapapun. Hatinya terasa sakit saat dihias di meja rias, lebih sakit dari yang ia rasakan saat hari pertunangannya dengan Farrel. Dia bisa tersenyum saat mengingat kejadian semalam bersama Farrel.

"Are you okay Shen?" Tanya Farrel masuk kedalam kamar Shenna. Shenna mengedikkan bahunya dan berusaha tersenyum melihat Farrel. "No problem Shen. Is gonna be alright okay?" Lanjutnya bertanya kembali menyakinkan kegundahan Shenna.

Jujur Shenna akan lebih tenang jika ada Farrel yang ada terus disampingnya.

Shenna pun keluar, semua pasang mata melihatnya. Acarapun dimulai satu persatu. Dan acara yang ditunggu pemasangan cincin. Bayangan Farrel datang dihadapan Shenna saat memasang cincin pada saat itu, keduanya melihatkan senyum palsu mereka kepada semua yang hadir. Shenna memasang cincin kepada jari manis Willy. Matanya sudah melihat kemana-mana berharap Farrel tak melihatnya. Sungguh hatinya terasa hancur atas kejadian ini. Willy memegang tangan Shenna dan berniat memasangkan cincin kepada jarinya.

"Stop" ucap Shenna melemah menjauhkan tangannya.
"Ada apa Shen?" Tanya Willy terkaget akan sikap Shenna.

Shenna kembali terisak "Maaf Willy, maaf aku gak bisa meneruskan ini. Aku minta maaf" ucapnya lalu pergi meninggalkan rumahnya dan keluar dari rumahnya berlari mencari Farrel. Mata Shenna berhenti saat melihat Farrel terduduk di depan pintu dan langsung memeluknya.

"Ada apa Shen?" tanya Farrel terkaget dan berdiri sambil menopang tubuh Shenna. Shenna semakin menangis terseduh-seduh.

Shenna menggeleng dalam pelukan Farrel "aku gak bisa Rel, aku gak bisa" ucapnya. Farrel hanya tersenyum dan memeluknya erat sangat erat.

"Shenna!" teriak Willy "apa-apaan ini?" Tanya Willy melihat Shenna memeluk Farrel.

"Maafkan aku Willy, aku tak bisa melanjutkan pertunangan ini" sahut Shenna.

"Kenapa Shen? Kenapa?" Tanya Willy berteriak dengan nada sarkatis.

"Karena ini" ucap Shenna meraih tangan Farrel yang terdapat cincin pernikahannya "dan kamu bisa lihat ini" lanjutnya lalu memasang cincin yang selama ini ia simpan "ini cincin pernikahanku dengan Farrel" serunya menunjukkan cincin di jari mereka kepada semua orang.

"Hah?" Seru semua tamu bersamaan yang melihat kejadian ini.

"Aku sudah menikah dengannya sejak november lalu karena dijodohkan. Awalnya kami berdua tak mau dan mengatur siasat nikah bohongan selama setahun. Tapi maaf cintaku ke kamu sudah mulai luntur semenjak aku hidup bersama Farrel" jelas Shenna.

"Jadi kamu berbohong kalau dia saudaramu?" Tanya Willy dengan nada tinggi.

Shenna menganggukkan kepalanya "Maafkan aku Willy, maaf harus merusak acara hari ini. Tapi aku gak bisa menyakitinya" ucap Shenna merasa bersalah pada Willy.

Willy mendekat kearah Shenna "Shenna aku tak suka dipermainkan seperti ini, pasti kamu bercanda kan? Kita lanjutkan pertunangan kita" ucapnya meraih tangan Shenna dengan kasar.

"Lepaskan Willy! Aku sedang hamil tiga bulan" teriak Shenna. Setidaknya itu cara supaya Willy tak memaksanya untuk melanjutkan acara ini.

Willy merasa tubuhnya lemas, dia perlahan melepas genggaman tangan Shenna. Hatinya hancur ketika mengetahui fakta gadis yang dicintainya, yang membuatnya frustasi seperti orang gila telah menjadi milik orang lain dan sedang mengandung benih anak mereka.

Shenna langsung berjalan menuju Farrel, dan memegang tangannya. Farrel dengan lembut mengusap air mata Shenna, dia tak tega melihat Shenna menangis. Lalu Farrel membawa Shenna masuk ke dalam rumah. Dan membawanya menuju ke kamar Shenna. 

Suara kegaduhan terdengar dari luar, bahkan sahabat-sahabat Shenna dari SMA tak berani masuk. Bi Sumi, pembantu mereka mengusir semua tamu agar segera pergi.

"Kenapa mereka bodoh sekali? Mana ada pertunangan tanpa mendapat izin orang tua si perempuan?" Ucap ketus bi Sumi.

Tok. Tok. Tok.
Suara pintu kamar Shenna diketuk oleh bi Sumi.

"Tamunya sudah pulang semua Non, Den" seru bi Sumi dari luar.
"Iya bi" jawab Farrel membukakan pintu.

"Non Shenna beneran hamil?" Tanya bi Sumi.
"Iya bi, sudah tiga bulan. Makanya tubuhku agak melar" sahut Shenna tersenyum mengelus perutnya.

Farrel menelan ludahnya "Jadi tadi bukan bercanda?" Tanyanya. Shenna menggelengkan kepalanya tersenyum.

"Alhamdulillah ya non" sahut bi Sumi tersenyum ikut bahagia.

"Oya Rel, Kapan kita melakukannya? Apa yang pas aku tanya kenapa badanku nyilu itu semua kah?" Tanya Shenna penasaran. Farrel hanya terdiam, rahasia yang dia simpan rapat-rapat akhirnya terkuak.

"Kenapa diam Rel? Aku tak akan memarahimu. Yang kamu bilang aku pulang jam 10malam itu kah?" Tanya Shenna kembali.

"Maaf sebelumnya Non, untuk pulang jam 10 itu benar Den Farrel tidak berbohong, tapi untuk yang melakukan hubungan suami istri itu sudah bibi dan keluarga kalian yang mengatur. Ingat saat saya kasih Non susu hangat? Itu sudah saya campur dengan obat perangsang. Nah disitulah Non seperti orang mabuk, jadi saya bawa Non ke kamar Den Farrel, yang ngetuk pintu saya" jelas Bi Sumi sambil menyengir.

"Nah apakah bi Sumi juga melakukan itu kepada saya? Karena saya juga tak ingat sama sekali apa yang saya lakukakan tiba-tiba bangun dan melihat kami berdua telanjang?" Tanya Farrel.

Bi Sumi menganggukkan kepalanya "Maafkan saya. Saya hanya disuruh. Semua skenario sudah diatur oleh keluarga kalian. Karena yang merasakan efek Non Shenna duluan, jadi si Non lebih agresif dan pemulai duluan, karena orangtua kalian tau kalian berdua berniat nikah bohongan, pasti Den Farrel gak akan menyentuh Non Shenna, inget air putih yang dimeja itu juga sudah saya campurkan obat perangsang, jadi ketika Den gugup pasti akan meminum air itu. Jadi rencana keluarga kalian berhasil" jelasnya lagi.

"Tapi kenapa kita berdua tak ingat apa-apa bi?" tanya Shenna.

"Itu efeknya bertahan cuma 4jam dan selama itu kalian pasti sudah menggila, entah apa yang kalian lakukan" sahut bi Sumi terkekeh "jadi tugas saya sudah selesai, saya mau pamit dulu mau beres-beres rumah" pamitnya kemudian keluar dari kamar Shenna.

"Tapi kenapa aku bisa dikamarku, padahal kita berbuatnya di kamar kamu?" tanya Shenna.

Farrel meringis menggaruk belakang lehernya "Itu karena aku panik, dan aku sudah berjanji tak akan menyentuhmu jadi kupakaikan bajumu kembali. Maaf ya aku tak berterus terang, aku takut kamu marah" ucapnya memegang tangan Shenna.

"Iyah gpp Rel, sudah terlanjur. Disini diperutku ada buah kita yang akan tumbuh. Kita harus berjanji akan merawatnya dengan baik sampai tumbuh dewasa" sahut Shenna tersenyum langsung memeluk Farrel.

Farrel tersenyum dan mengusap lembut kepala Shenna "Iya Shenna sayang, mau berjanji akan mencintaiku?" Tanyanya. Shenna menganggukkan kepalanya dan memeluk Farrel sangat erat.

"Semoga kita jadi keluarga Sakinah, Mawadah, Warrahmah" ucap Farrel kemudian mencium kening Shenna lalu menuju perut Shenna yang berisi buah cintanya.

"Amin. Nanti aku mau cuti kuliah, mau ngurus baby" celetuk Shenna membayangkan bagaimana bahagiannya.

"Iya mama Shenna, terserah mama aja. I love you mama Shenna" ucap Farrel tersenyum kepada Shenna.

"I love you too Papa Farrel" sahut Shenna lalu mengecup singkat bibir Farrel.

Farrel tersenyum "ah kamu selalu jadi dominan ya? Selalu kamu yang menggodaku lebih dulu" ucap Farrel terkekeh.

Shenna membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Farrel "Dan kamu! Curang! Sekarang telanjanglah! Kamu sudah melihat tubuhku dalam keadaan sadar, sedangkan aku lupa!" Ucapnya mengancam.

Farrel terkekeh "Jangan ya sayang, kalau aku telanjang, terus gak kuat liat muka kamu yang memerah, nanti aku nafsu bisa kuserang kamu. Tapi aku gak mau menyakiti kamu sama anak kita" ucap Farrel tersenyum.

Shenna merasa melting mendengar ucapan Farrel. Dia tersenyum dan langsung memeluk Farrel menyembunyikan pipinya yang memanas dan merah. Dan tak ada lagi pernikahan bohongan, pernikahan ini sudah sah sejak awal. Bahwa kenyamanan yang membawa mereka bisa menyatu.