Sabtu, 20 Desember 2014

True Love??

"oh my god miss you so much guys" ucap Hana dengan gaya lebay nya
"Biasa deh. Aku aja gak kangen sama situ" goda Yuni
"Jahat banget sih" sahutnya mendengus kesal
"Apasih Han, manja banget. Oya si Devi sama Arsyah dimana ya Sit?" Tanya Yuni mengalihkan pembicaraan
"Entah masih dijalan kali" sahutnya asal

Tiba-tiba suara motor Devi datang.

"Maaf telat macet banget" ucapnya sambil nyengir kuda "si Arsyah telat juga?" tanyanya menghampiri teman-temanya yang sedang menunggu di Pedagang Bakso langganan mereka semua.

10menit kemudian....

"Sorry guys telat, macet banget" ucap Arsyah yang tiba-tiba datang
"Eh eh kita pura-pura gak usah jawab yuk" bisik Yuni ke teman-temannya
"Hmmm" jawab mereka kompak
"Ah kalian itu pasti akting, lagu lama banget" ucap Arsyah melirik sinis kearah empat perempuan disana
"Ah kamu telat alasanmu juga pasti palsu" sahut Hana mengangkat alisnya 
"Ah pasti juga kamu tadi sms otw, paling juga otw mandi" sahut Sita menyipit kearah Arsyah

Arsyah langsung nyengir kuda seperti teman-temannya sudah hafal kebiasannya

"Ayo pesen sudah laper ini" ajak Sita

Mereka semua akhirnya memaafkan Arsyah, Arsyah adalah satu teman laki-laki diantara mereka. Dia jadi orang paling setia ketika teman perempuannya sedang ada masalah. Jika ada kesalahan diantara mereka baik besar ataupun kecil pasti selalu dimaafkan. Mereka pun memesan bakso langganan mereka dari SMA. Harganya masih tetap sama, hanya saja dikurangi porsinya, dan jangan salah untuk rasa masih seenak dulu yang mereka makan saat SMA.

"Sit tumben gak ngajak si Guntur?" tanya Devi
"Kenapa? Kangen?" sahut Sita seadanya
Devi hanya tertawa cekikikan.
"Ya kali masa iya aku ngajak dia mulu. Bosen keleeees" dengusnya sebal
"Tapi lucu kalau ada kalian berdua, berantem mulu" sahut Yuni ikut terkekeh
"Huuuus" ucap Arsyah mendiamkan mereka "mending ngomongin aku yang ganteng daripada si Guntur" lanjutnya dengan pede.

Merekapun melanjutkan makan kembali....

"Eh Dev bang Rizky buka cafe sushi loh, gak kesana?" tanya Hana menggoda
"Udah tau" sahutnya pendek
"Ih kok gitu doang sih jawabnya. Tumben?" Ucap Hana yang terus menggoda 
"Terus mau dijawab apa?" tanyanya balik dengan nada ketus
"Itu kan belahan jiwamu" celetuk Sita cekikikan.
"Sebentar ya, mas rizky itu siapa sih?" tanya Yuni polos
"Loh kamu gak tau Yun? Seriusan? Si Devi gak pernah cerita?" tanya Sita
"Oh ya ya aku inget, itu kan kakak kelas kita pas SMA, yang dulu katanya deket banget sama kamu terus gak ditembak-tembak padahal udah panggil sayang-sayang dan udah nama panggilan sayangnya itu kan?" Ujar Yuni mencoba mengingat.
Devi hanya menelan ludah melototi Hana dan Sita.
"Kalian itu loh ngomongin laki-laki mulu, orang disini ada aku cowok ganteng gini loh" ucap Arsyah mendamaikan.
"Nah bener sekali itu" jawab Devi lalu melakukan tos pada Arsyah "yang gak penting gak usah dibicarakan" lanjutnya

****

"Beb kamu praktek di RS haji kan? Lagi dines apa sekarang?" tanya Yuni lewat telpon kepada Devi
"siang jam 2 beb. Ada apa?"
"Si Islami kecelakaan beb, kamu temenin aku ya"
"Mau kesana jam berapa? Sekarang aja ya pumpung masih jam 10. Dia dirawat dimana? Kita entar ketemuan di parkiran aja ya"
"Iya. Nanti aku sms tanya temennya. Makasih ya beb mau nemenin"
"Iya samasama. Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"

Rumah Sakit Umum Haji Surabaya......
Devi sepertinya datang lebih awal dari Yuni, dia memarkirkan motornya dan melepas helm, masker dan sarung tangan. Lengkap dengan baju seragam praktiknya. Matanya terus melihat-melihat kearah parkiran. Sampai akhirnya matanya tertuju pada satu orang, sesosok laki-laki yang sudah lama tak ia temui.

Mata mereka bertemu seperti ada rasa yang dulu dipendam sangat dipendam kemuadian meluap.

"Itu mas rizky?" tanya Devi dalam hati tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Dek" sapa seseorang tersenyum kearahnya

"Sumpah demi apa dia nyapa aku duluan? Ini mimpi gak sih?" tanyanya terus dalam hati sambil mengucek matanya.

"Dek" sapanya lagi cukup keras

"Eh i...ya" sahutnya gugup
"Kamu cantik dan kelihatan dewasa kalau pakai seragam kayak gitu dek"

Devi hanya terdiam kaku, bertemu dengannya disini sudah membuatnya terkaget, dan ucapannya terakhir benar-benar membuatnya speechless. Dia tak bisa berkata apapun hanya senyum-senyum sendiri mematung.

"Yaudah dek, duluan ya" pamitnya sambil menuju pintu masuk RS
"Iya" sahutnya pendek masih sibuk dengan lamunannya.

Rasanya Devi ingin mengejar dia masuk, tapi rasa gengsi timbul dihatinya. Seakan kakinya tertancap di tanah dan tak bisa bergerak.

Akhirnya Yuni pun datang menghampirinya "Kenapa beb? Kok senyum-senyum sendiri?" tanyanya kebinggungan melihat temannya menatap kosong
"Ketemu bang Rizky beb" celetuknya begitu saja
"Ciyeeeeee" sekarang Yuni malah menggodanya

******

Keesokan harinya......
Hari ini Devi satu shift dengan Yanti, sahabat SMA nya yang satu universitas dan satu jurusan kebidanan di salah satu Universitas Ternama di Surabaya. Mereka menjejakkan kaki lewat pintu depan tepat 13.30 setengah jam sebelum jam dinas.

"Yan, kamu tau gak kemarin aku ketemu Mas Rizky di pintu utama Rumah Sakit" ucap Devi bercerita dengan mengebu-ngebu.
"Terus?" Sahut Yanti pendek dan malas.
"Ih kok gitu sih" sahutnya cemberut
"Haha jangan gitu dong mukanya, melas banget sih. Terus kamu mau cinta lagi sama dia? Gak cukup air mata yang kamu sia-siakan pas sma dulu?" Tanyanya dengan memeluk pundaknya dan menatap tajam mata sahabatnya itu.
"Ya enggak gitu juga. Tapi kalau ditembak ya mau kok haha" sahut Devi terkekeh sendiri "ih gak ding, males banget ngulang kesalahan yang sama" lanjutnya
"Ya gitu pinter. Yaudah yuk langsung naik aja ke ruangan" ajak Yanti menaiki tangga.

Mereka pun melanjutkan perjalanan menaiki anak tangga, karena memang ruangan mereka praktik berada di lantai 2.

DEKKK!!!!

Mereka berdua melihat beberapa orang yang tak asing dihadapannya, mereka semua adalah alumni SMA Al Jazair, SMA mereka dulu. Dalam hati mereka semoga tak ada yang kenal dan terus berjalan melewati mereka.

"Devi!" sapa seseorang

Suara itu adalah suara yang sangat dihafal oleh keduanya.

"I....ya?" jawabnya gugup sambil membalikkan badan "Bang Rizky?" tanyanya kaget "Ty...a?" serunya lirih

Ingatan yang dulu disimpan rapat-rapat sekarang kembali berputar. Tya teman sekelasnya waktu kelas 1 SMA yang sangat digilai oleh Rizky dan dapat feedback dari Tya. Sampai akhirnya Tya naik kelas 2 dan dengar berita tentang dia pacaran dengan teman sekelasnya. Disitulah Devi dan Rizky berkenalan lewat sosial media tak lama kemudian. Sebenarnya Devi tak ada niatan untuk mendekati Rizky karena dia sedang menyukai teman sekelasnya. 

"Aku mau ngasih sesuatu ke kamu" ucap Rizky

Devi terdiam, dia mencerna kata-kata itu sambil melihat kearah tangannya terdapat sebuah kaset dan kertas. Dia hanya bisa menelan ludah. Wajah Rizky tak ada senyum hanya datar, susah ditebak. Dan malu juga dilihat banyak orang. Dan melanjutkan jalannya menuju ruangan.

"Ayo Dev, nanti kita telat operan. Entar dimarahin sama mbak-mbak bidannya" ucap Yanti menarik kasar tangan Devi untuk menuju ke ruangan.

Devi menurut saja apa yang diperintahkan Yanti, sungguh dia binggung dengan yang terjadi seperti orang linglung.

"Gak usah khawatir dan gelisah gitu dong" ucap Yanti melihat wajah sahabatnya yang tampak linglung "Lupakan dia dan Buang ingatan tentang kalian berdua" lanjutnya

Devi hanya mengangguk melihat sahabatnya yang mengerti kekhawatirannya. Mereka berpisah ruangan Yanti menjaga di Ruang Nifas dan Devi dinas di ruang NICU (Neonatus ICU). Pikirannya memang masih melayang-layang tentang kejadian tadi. Tapi Yanti meyakinkan hatinya agar melupakannya dan tak memikirnya. Ternyata sugesti Yanti benar-benar masuk ke pikiran dan hatinya "LUPAKAN! BUANG!" dia menjalani praktik seadanya.

"Dek ada yang nyari kamu" ucap mbak Reni seorang PRS
"Siapa mbak? Bentar lagi ganti popok" tanyanya kerepotan karena ada bayi yang BAB
"Laki-laki dek" ucap mbak Reni

Devi melihat kearah luar yang dilihatnya adalah sosok laki-laki yang beberapa hari ini menganggu pikiran yang telah ia kubur lama sekali. "Itu Rizky ngapain kesini? Malu-maluin" Tanyanya kesal dalam hati. Untung bidan-bidan seniornya lagi istirahat makan, jadi hanya ada dia mahasiswa praktik di ruangan. 

Setelah melanjutkan tugasnya seorang diri mengganti popok, menyeka bayi, memberikan minum sesuai jadwal di status pasien. Tubuhnya benar-benar seakan mau patah mengerjakan semua sendiri, merasa terintimidasi.

"Dek ada titipan dari laki-laki tadi" ucap mbak Reni menghampirinya memberikan kertas dan kaset yang tadi dipegang Rizky.
"Makasih ya mbak" sahutnya mengambil barang itu dan berusaha tersenyum di depan Mbak Reni seakan tidak terjadi apa-apa.
"Pacarnya dek? Lagi berantem kah?" Tanya mbak Reni penasaran seakan menggodanya
"Bukan mbak, temen kok" sahutnya sebal
"Oh yasudah mbak Ren tinggal ya, mau makan. Kamu jangan lupa makan, nanti lemes lagi. Bayinya banyak baget" pamit mbak Reni 
"Tau aja nih mbak kalau laper, tapi tenang masih kuat kok haha" sahutnya membenarkan ucapan mbak Reni memang ada 10 bayi dengan keadaan gawat diruangan itu.

Dia melihat kearah kertas dan CD itu, dibenaknya entah harus berbuat apa. Dia ingin sekali melihat dan membacanya, tapi dia mengurungkan niatnya untuk membaca kertas itu dan membuangnya ke sampah. Karena yang dia tau pasti kata-katanya tak enak dan bikin sakit hati untuk tidak berharap banyak kepadanya. Dia memilih menyimpan cdnya dan akan melihatnya nanti dirumah.

Praktik pun selesai sepertinya Devi terlalu lama keluar ruangan, yang seharusnya jam 9malam dia baru keluar jam 10malam karena masih harus operan dengan temannya yang shift malam dan menulis laporan harian. Dia meraih hpnya ternyata sudah banyak notification di hpnya. Termasuk bbm dari Yanti dan teman-temannya yang lain. Sampai di garis paling bawah sendiri chat dari seseorang yang dulu sangat ia cintai. Yap! Itu bbm dari Rizky, jarang sekali rasanya mereka berdua saling chatting.

DEKKK!!!

"kenapa pergi?" 13.45
"gak mau ketemu aku dek?" 15.00
"masih marah sama aku? Muak liat aku?" 15.51
"Aku tadi nitipin sesuatu di mbak-mbak disana, sudah diterima?" 16.00
"Sudah dibaca?" 16.01
"PING!!!" 16.30
"Kalau gak sempet baca, kita ketemu di taman deket masjid RS Haji" 17.00
"Aku tunggu sampai kamu selesai praktik. Kamu selesai jam berapa?" 17.02
"Sibuk ya? Aku tunggu kamu. Berjanjilah datang. Aku mau bicara sebentar" 17.30
"Janji ini yang terakhir bbm, datanglah setelah kamu selesai melaksanakan tugasmu. Jangan lupa sholat" 17.45

Devi dengan cepat berjalan menuju taman dekat masjid. Alhasil tak ditemukan Rizky disana, dia berjalan mondar-mandir sambil memegang hpnya.

"Kamu dimana?" 22.00
"Kamu bohongin aku bang? Aku sudah disini dari tadi" 22.15
"Jangan becanda bang, ini aku mau pulang ini udah malem. Capek" 22.25
"PING!!!" 22.27
"Aku tinggal. Maaf" 22.30

Devi sangat marah terhadap Rizky seperti dipermainkan olehnya. Kursi taman yang basah terkena bekas hujan membuatnya berdiri ditaman sendirian selama setengah jam sudah membuatnya kesal. Dia memutuskan meninggal tempat itu karena rumahnya cukup jauh dari RS Haji.

"Mbak" teriak seseorang

Sontak Devi langsung memberhentikan langkahnya "iya pak?"

Rupanya bapak-bapak parubaya memanggilnya dan sekarang mendekat kearahnya.

"Lagi nunggu orang?" tanyanya 
"Iya pak. Tapi gpp saya mau pulang aja" ucapnya tenang
"Tadi ada pemuda disini juga kayak nunggu orang" ucapnya tersenyum kearah Devi
"Oh ya pak?" jawab Devi seperti tak ada masalah
"tadi saya ngobrol sama dia. Katanya lagi nunggu mahasiswa praktik" ujarnya lagi

Devi hanya menelan ludah "oh iya pak mungkin mahasiswa praktiknya bukan saya, kan banyak yang mahasiswa praktiknya disini" jelasnya menerka pasti itu dia yang sedang menunggunya

"Boleh saya liat foto orang yang ditunggu mbak? Barang kali bener" ucap bapak itu lembut.

Devi memberikan handphone nya.

"Oh ya bener ini mbak, dia sekarang lagi dirawat inap. Tadi saya yang bawa" ucapnya dengan perubahan wajah khawatir.
"Maksudnya pak?" Kagetnya
"Tadi kan saya ngobrol sama dia sampai jam setengah 8 terus gerimis, saya ajak dia ke masjid neduh gak mau, katanya mau tunggu orang" jelas bapak itu

Devi langsung mematung mendengar ucapannya.

"Saya sudah paksa, tapi dianya gak mau. Katanya mau nunggu orang. Mau menyelesaikan masalah. Kalian berantem mbak? Sepertinya dia seperti merasa bersalah gitu" jelasnya menunjukkan rasa iba
"Berantem? Haha ngak pak. Tapi kok bisa sampai ke rawat inap?" Sahutnya tenang
"Sepertinya kedinginan mbak, hujannya deres banget tadi. Pas sampai disana suhu tubuhnya tinggi keluar bintik-bintik merah. Saya panik mbak, kasihan. Makanya saya gak tega" 

Devi berfikir sejenak dia binggung apa yang akan dikatakan.

"Mbak gak mau liat?" tanya bapak-bapak
"Iya pak, tolong diantarkan" ucapnya sambil berjalan tak ada salahnya menjenguknya
"Sudah sampai mbak" ucap bapak itu lagi tepat di depan ruang kamar inap Rizky.
"Makasih pak, oh ya pak apa keluarganya sudah dihubungi?" Tanyanya
"Belum mbak, mbak saja yang telpon saya permisi dulu" ucapnya pergi meninggalkan Devi sendirian.

Dalam hati Devi "mana kenal gw sama keluarganya" dalam hatinya justru khawatir, sebesar itukah perjuangannya? Lalu untuk apa pengorbanan itu? Serasa laki-laki secuek Rizky tak akan pernah sebesar itu melakukan hal bodoh apalagi untuknya.

Devi memasuki kamar inap Rizky. Tampak disana ada seorang suster yang sedang melakukan observasi kepadanya. Pikirannya seakan tak percaya benar melihatnya terkulai lemas di kasur itu.

"Ada perlu apa mbak? Kamu praktek disini?" tanya Perawat itu melihat Devi sedang memperhatikan mereka berdua.
"Saya ingin bertemu pasien bernama Rizky" ucapnya tersenyum
"Tapi ini bukan jam besuk" ujarnya agak ketus
"Saya boleh jenguk sebentar?" ucapnya memelas
"Kamu mahasiswa praktik disini?" Tanyanya penuh selidik.
"Iya mbak saya dinas di ruang NICU, saya barusan pulang shift sore" ucapnya sedikit gugup
"Baiklah, saya tinggal yah. Kamu bisa jaga dia kan?" Tanyanya tersenyum dan pamit keluar dari ruangan.
"Iya mbak" jawabnya membalas senyuman itu.

Devi menoleh kearah Rizky dan duduk dikursi disamping bednya. Raut wajahnya benar-benar terlihat membiru kaku, badannya panas, tubuhnya kemerahan, dan dipasang infus. Hatinya tak tega melihat orang yang dulu dicintainya tergulai kaku karenanya. "Apa karenaku? Pikiran macam apa Dev, sadarlah" gumamnya dalam hati.

"Maafkan aku bang" ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Rasanya ingin sekali tangannya menyentuh tangan Rizky agar dia menjadi hangat. Tapi dia urungkan, rasanya itu tak pantas dilakukan.
Dia amat sangat bosan menunggu, karena Rizky tak kunjung siuman. Dia hanya melihatnya lalu memalingkan muka melihat kesana kemari. Kamar yang ditempati cukup bagus walaupun kelas 1 diisi hanya satu orang. Matanya tak kuat menahan kantuk dan tertidur disampingnya.

*****

Adzan subuh berkumandang diseluruh rumah sakit. Rizky menatap wajah teduh Devi saat tertidur, sangat tenang membuatnya tersenyum sendiri.

"Mbak-mbak bangun mbak udah subuh" ucap seseorang membangunkan Devi

Devi langsung terkesiap kaget mengucek matanya.

"Udah bangun bang?" Tanyanya tak sadar "astaga semaleman aku gak pulang, hp hp mana hp?" Lanjutnya sibuk mencari hpnya "10x telpon dan 5sms dari mama. Mati" ucapnya menepuk keningnya sendiri "aku dimana ya?" Tanyanya lagi-lagi tak sadar.
"Di rumah sakit neng" jawab Rizky tersenyum kearahnya.
"Loh bang kok disini?" Tanyanya masih tak sadar "Astaga maapin lupa kalau kamu lagi sakit" ucapnya melihat ruangan itu
"Mamanya nyariin ya? Maaf ya bilangin ke mamamu pasien bayi gedenya ada yang sakit" ucapnya tersenyum sangat manis.
"Yeeee apaan. Yaudah aku pulang ya bang. Kamu udah bangun dari tadi?" Tanyanya merapikan baju dan barang-barang
"Loh kok cepet pulangnya?" Tanyanya
"Iya bang nanti aku shift siang lagi. Nanti mampir lagi deh insyaallah kesini" jawab Devi pamit
"Kok insyaallah sih? Harus dateng, kamu kan perawatku gak mau dirawat orang lain selain kamu" godanya tersenyum sambil menyilangkan tangannya.
"Iya bang. Apa deh alay. Saya sih bidan bukan perawat. Beda keleus" sahutnya menjulurkan lidahnya dan membuka pintu kamar inap Rizky.
"Yaudah hati-hati, sholat subuh dulu baru pulang" teriak Rizky

Hari ini Devi masuk siang untuk ketiga kalinya. Dia berangkat lebih awal untuk menjenguk Rizky sebentar ke kamarnya lalu pergi menjalankan tugas praktiknya.

"Assalamualaikum" sapanya membuka pintu membawakan dia roti.
"Walaikumsalam. Asik dibawain makanan" sahutnya sumringah
"Iya dong kan aku orang baik. Gimana udah mendingan?" Tanyanya sedikit khawatir
"Alhamdulillah udah mendingan. Tadi anak-anak banyak yang kesini loh. Ada Tya juga tadi" jelasnya bangga
"Oh" sahutnya pendek
"Singkat banget jawabnya. Jealous ya?" Tanya Rizky menggodanya
"Gak lah. Enak dong tambah sembuh kalau dia dateng. Dia kan belahan jiwamu dan cinta sejatimu" lanjut Devi godanya
"Iyadong" sahutnya tersenyum"jauh lebih sembuh kalau liat kamu mah" lanjut Rizky terkekeh
"What?" Kagetnya lalu tertawa cekikikan.
"Ketawa. Eh tadi ada Ari kesini sama temen sekelasku yang lain. Kamu sih datengnya kesiangan. Jadi gak ketemu Tya sama Ari" ucapnya melirik kearah Devi
"Berarti aku beruntung gak ketemu mereka" ucap Devi sambil menjulurkan lidahnya
"Tadi aku ngomong ke Ari kalau kamu semaleman yang nungguin aku disini" ucap Rizky lagi-lagi dengan bangganya.

Devi langsung mengutuk dirinya sendiri mematung. Dia membelalakkan matanya tak percaya akan ucapan laki-laki di depannya ini.

"Dan kamu tau ekspresinya mirip kayak kamu sekarang" lanjutnya lalu tertawa terbahak-bahak.

Devi mendengus sebal, seandainya ini bukan Rumah Sakit pasti dia akan teriak kepada Rizky karena membuatnya malu.

"Tuhkan kalian pasti ada apa-apa. Curiga. Dari cara dia yang tiba-tiba nitipin salam dari kamu ke aku, dia coment semua social media kamu. Aku tau dia ada feel sama kamu. Sepertinya kamu ju....." Ucapnya terus menggoda Devi
"NGAK!" potongnya
"Cerita dong dek gimana bisa kenal, ayolah. Seru kayaknya. Kok aku gak tau ya kalian kenal" bujuknya
"Ngak ah" sahut Devi dengan menggelengkan kepalanya
"Ayo dong dek" paksanya

Devi berfikir sejenak "ya kenal di fb and bla bla mirip dikitlah kayak kenal kamu, terus dia nembak aku padahal ya belum ketemu aku langsung, eh dengan entengnya aku bilang 'aku masih suka sama mas Rizky, aku masih trauma' gitu aku balesnya" ucapnya dengan rasa sesal terdalam "asli langsung nangis abis menolak laki-laki baik seperti dia" lanjutnya dengan mata sedikit berkaca-kaca lalu tertawa cekikikan 
"Menang banyak aku hari ini" ucap Rizky bangga dengan dirinya lagi.

Devi mengernyitkan alis tak mengerti maksud Rizky dan dia juga tak ingin tahu.

"Yakin sekarang udah gak cinta lagi?" godanya tersenyum
"Yakin 100%. Tapi bang, kamu gak cerita ke Tya kan kalau aku yang jagain kamu semaleman?" Tanya sedikit ragu
"Ih. Gak lah. Kenapa?" Tanya selidik melihat raut muka Devi
"Syukurlah. Yaudah bang udah jam 1siang aku mau dines dulu. Rencana pulang kapan? Keluargamu mana bang? Kok gak keliatan?" Tanyanya sambil celingukan melihat isi kamarnya yang penuh dengan makanan tapi tak ada orang yang menemaninya.
"Katanya sih nanti malem kalau gak besok pagi. Adik-adikku masih menuntut ilmu lah, ayahku kan kerja di jakarta, tadi ada mamaku tapi mungkin kalau gak sholat ya cari makan" jawabnya tersenyum
"Oh yaudah. Aku tinggal ya. Jangan lama-lama dirumah sakit mahal bang. Sakit gini aja loh pake rawat inap segala" pamit Devi menuju pintu ruangan inap Rizky "Assalamualaikum" 
"Walaikumsalam. Nanti pulang mampir kan?" Tanyanya berharap.
Devi hanya mengangguk tersenyum

Pukul 22.00
Devi baru saja keluar dari ruangan tempat dia praktik dan langsung bergegas ke kamar inap Rizky untuk menjenguknya. Entah apa yang mendorongnya untuk terus menepati janjinya.

"Malam sus, pasien bernama Rizky udah KRS?" Tanyanya pada seseorang perawat yang ditemuinya kemarin.
"Belum dek, kamu yang kemarin kesini kan? Pacarnya ya dek? Masuk aja dek" ucap perawat itu tertawa cengigisan.
Devi hanya membalas dengan senyuman menahan malu.

Devi pun langsung ke kamarnya. Sangat hafal kamarnya walaupun cuma 2x jenguk.

"Kamu gak takut jalan sendirian malam-malam di rumah sakit?" tanya Rizky saat Devi membuka pintunya
"Belum salam udah dikasih pertanyaan. Assalamua...."
"Walaikumsalam" potongnya dengan cepat
"Ih belum selesai salamnya. Udah biasa kali orang kesehatan masa iya takut sama rumah sakit" sahutnya sedikit kesal 
Rizky hanya menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Sendirian lagi? Gak ada yang jaga?" Tanyanya celingukan diruangannya yang sepi sekali.
"Ada nanti si Marcel, tapi kayaknya dia lagi keluar bentar" jawabnya ikut celingukan.

Keduanya kini terdiam tak ada satu kata pun, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Devi tak bisa mengontrol debaran jantungnya, dan Rizky hanya bisa menatap gadis di depannya ini dan sesekali mengalihkan pandangan jika ketahuan sedang menatapnya.

"Bang" "dek" ucap keduanya bersamaan
"Kamu dulu aja dek" ucap Rizky tersenyum
"Hehe udah aff infus ya bang?" tanyanya membuat Rizky binggung "umm infusnya udah lepas ya?" Lanjutnya meringis.
"Iya kan mau pulang, kangen kasur rumah" ucapnya menengadahkan kepalanya
"Syukur deh. Oya waktu itu kamu kesini ngapain bang?" Tanyanya lagi teringat kejadian kemarin.
"Jengukin temen opname dek, si Ervant itu loh" jelasnya
"Anak mading itu kah? Oh pantes ada si Tya juga" sahutnya menganggukkan kepalanya.
"Jealous yes?" Tanya Rizky menggodanya
"NO!!!" Bantahnya cukup keras

Lagi-lagi mereka berdua terdiam. Rizky yang tertidur di bednya dan Devi yang matanya sibuk melihat acara tv.

"Dek, TV nya aku matikan ya?" Tanyanya sambil memegang remote TV.
Devi tersenyum mengangguk.
"Ada yang mau kamu sampaikan ke aku? Sampai gak mau ketemu aku" Tanya Rizky tiba-tiba.
Devi hanya menatap Rizky binggung.
"Kok diem dek?" tanya Rizky kembali "kamu cerita saja tidak apa-apa, supaya aku bisa mengoreksi diriku sendiri" lanjutnya tersenyum manis
"Mulai dari mana ya bang?" tanya Devi binggung
"Terserah. Sepertinya banyak ya salahku? Sampai gak tau mulai darimana?" Tanyanya sambil terkekeh.
"Kalau salah mungkin kamu juga banyak salah dan aku pun sama. Tapi intinya aku cuma minta maaf kalau dulu aku pernah bilang yang jelek-jelek tentang kamu, sampai teman-temanku ikutan. Aku merasa berdosa saat baca statusku sama notesku yang dulu ngejelek-jelekin kamu. Sepertinya aku salah menanggapinya, atau aku terlalu kenak-kanakkan sampai bicara kayak gitu ke kamu? Tapi kamu tau lah aku ngelakuin itu karena aku sayang dan kecewa sama kamu. Kadang aku juga sedih saat kalau kita chatingan via bbm atau path kamu jawabnya singkat banget, se dilupakan itu kah aku? Makanya kalau mau ngechat kamu males banget, jawabanmu singkat banget cuek" jelasnya lega dalam hati setelah sekian lama gak pernah ngomong sepanjang ini.
"Sudah?" Tanyanya lagi sambil tersenyum, Devi menganggukkan kepalanya. "Aku juga minta maaf kalau aku jawabnya cuek ke kamu, itu aku lakukan supaya kamu gak suka sama aku lagi. Ya alhasil sekarang kayaknya kamu benci banget sama aku kan? Ya pasti, itu yang aku mau memang. Dari dulu aku juga gak suka sama statusmu yang ngejelek-jelekin aku jujur aku sakit hati, itu keluar dari anak rumahan seperti kamu yang susah diajak keluar, takut sama orang tua, gak boleh pacaran. Tapi aku mikir aja, mungkin kamu masih belum bisa berpikir dewasa, sepertinya aku pun sama waktu itu. Aku juga minta maaf kalau ada salah sama kamu" lanjutnya merasa hatinya lega sekali.

Ucapan Rizky membuat bom dihati Devi meledak, dan binggung harus merespon apa. Rasanya ingin menangis, tapi tak akan pernah ada air mata lagi untuknya.

"Sepertinya kita sering ya maaf-maafan gini bang" celetuk Devi tertawa cekikikan.
"Iya tapi kayaknya ini yang paling ikhlas dan langsung kan?" Tanyanya sambil tersenyum.
Devi mengangguk setuju dengan ucapannya "pacarnya anak mana sekarang bang?" Tanyanya penasaran
"Udah putus dek, dari beberapa bulan yang lalu. Kamu sendiri?" Tanya Rizky balik
"Gak ada bang, menutup hati sejak patah hati sama kamu" ucap devi lalu tertawa terbahak-bahak "lagian kuliah sibuknya kayak gini gak mikir pacar-pacaran, dan juga gak boleh pacaran kan. Maunya langsung nikah aja abis lulus" lanjutnya lagi tertawa cekikikan "tapi gak tau sama siapa?" ucapnya tertawa cekikikan lagi
"Sama aku aja dek, nikah sama aku. Siap deh haha" goda Rizky sambil tersenyum, matanya terlihat tulus.
"Jangan bercanda lah" sahut Devi kesal
"Devi, serius!" ucapnya tegas kemudian memegang tangannya lembut.
"Kalau serius aku gak bisa bang maaf" sahutnya sambil melepaskan genggaman tangannya.
"Berarti kamu masih marah sama aku?" Tanyanya dengan wajah serius
"Enggak sama sekali. Seperti yang aku ucapkan ke bang Ari 'Trauma' yang disebabkan kamu sendiri kan?" Sahut Devi dengan perasaan yang sangat aneh, air di dalam matanya seakan mau keluar.
"Kamu gak percaya sama aku dek?" Tanyanya lagi
"Bukan begitu, tapi inget air mata yang aku keluarin buat kamu, kamu minta maaf diulangi lagi, padahal kita belum pacaran bang, kamu udah buat aku nangis sebegitu, ya mungkin aku yang lebay bisa sampai gitu" ucapnya tak terasa sambil meneteskan air mata menundukkan kepala
"Dek, jangan nangis dong. Apa segitu jahatnya aku sama kamu?" Ucapnya merasa sangat bersalah dan meraih tangan Devi kembali
"Jangan bang, jangan buat harapan lagi. Aku capek terus menangis. Aku capek selalu menangisi kamu setiap hari, doaku agar kamu dijauhkan. Maaf bang aku belum siap jatuh cinta lagi sama kamu" serunya sambil terisak
"Apakah kamu sekarang lagi suka sama orang lain?" Tanyanya lagi sambil memegang dagunya agar menengadahkan kepalanya.

Devi menggelengkan kepalanya "Sedih kalau lihat masa lalu, masa yang seakan aku ngemis-ngemis cinta ke kamu, jadi orang yang disembunyikan sama kamu, dulu aku gak pernah kan nanggepin kamu, kamu yang ngejar-ngejar aku dulu. Setelah kita berantem, temen-temenmu taunya kalau aku yang ngejar kamu, padahal mereka gak tau cerita awalnya bagaimana. Dan rasanya sampai sekarang kalau ada yang bahas kamu rasanya 'iweh' banget mau ngomong lebih baik diam" jelas Devi semakin terisak dengan ingatan yang kembali berputar diotaknya.

Rizky hanya tersenyum melihat Devi bercerita sebegitu panjang.

"Maaf ya dek, maaf banget" ucapnya sambil mengusap air mata Devi "aku janji ini air mata terakhir buat aku, liat mata aku" ucapnya kembali.

"Oy aku bawa nasi goreng" seru seseorang membuka pintu. Marcell adik Rizky datang langsung merasa canggung akan situasi yang dilihatnya "ehm. Aku mau ke toilet dulu" lanjutnya keluar dari ruangan.

"Udah malem bang, aku mau pulang. Gak enak juga kita berdua disini, sungkan sama perawat yang jaga" ucapnya berdiri merapikan barang-barangnya menghapus sisa air matanya
"Tunggu" genggaman tangan Rizky mencengkram pergelangan tangan Devi "kalau kamu memang gak suka sama aku, ngapain kamu nurutin waktu aku suruh kamu jenguk aku?" Tanya Rizky seakan hatinya dipermainkan juga.
"Entah. Beri aku waktu untuk menjawabnya. Aku besok masuk pagi. Kemungkinan jenguk kamu kesini pas pulangnya, tapi palingan kamu juga sudah pulang ke rumah. Cepet sembuh. Aku pamit. Lepasin tanganku!" suruhnya berusaha melepaskan genggaman tangan Rizky.
"iya aku tunggu kamu, Kalau aku besok pulang awal dari kamu pulang dinas. Aku tunggu kamu di tempat kita janjian kemarin" ucapnya melepas genggaman tangan itu, hatinya sungguh tak ikhlas.
"Ya. Insyallah. Pulang dulu. Assalamualaikum" ucapnya tak bersemangat keluar dari ruangan.
"Walaikumsalam. Hati-hati. Maaf gak bisa mengantar kamu pulang" sahutnya juga lesu

*****

Keesokkan harinya....
Mata Devi bekas menangis kemarin masih membekas dan menjadi ejekan teman-temannya. Hari ini dengan pasien yang begitu banyak, dia tampak lesu tak bersemangat. Sampai hampir melakukan kesalahan yang untungnya tidak fatal. Pikirannya tak konsentrasi, berkutat dengan ketakutannya sendiri.

Di Taman depan Masjid RSU Haji...
Rizky sudah menunggu Devi sejak sejam yang lalu. Dia sudah tidak menggunakan baju pasien lagi. Badannya mulai membaik, walaupun terkadang angin yang berhembus membuatnya kedinginan. Hatinya terasa sangat takut, tapi dengan ditemani mama disampingnya sudah membuat dia aman. Walaupun sebelumnya mama sudah menegur agar langsung pulang dan tak usah mampir kemana-mana. Tapi Rizky sudah terlanjur berjanji, dia tak akan mengecewakan Devi lagi.

"Halo bang" sapa Devi sungkan melihat perempuan paruh baya yang pernah ditemuinya saat dulu masuk ke kelas Rizky untuk mengambil rapor sekolah "assalamualaikum tante" sapanya lagi memberanikan bersalim dengan mama Rizky.
"Kamu kok gak salim gitu juga ke aku dek?" goda Rizky menyungingkan senyum

Devi hanya membalas senyum canggung sambil menoleh kearah mama Rizky sungkan.

Rizky langsung tertawa melihat gerak-gerik Devi yang canggung "Santai aja kali, tenang mamaku gak akan apa-apain kamu" godanya tertawa cekikikan
"Hissssh" dengus kesal Devi pelan
"Namanya siapa mbak? Jadi perawat disini?" tanya mama Rizky dengan tersenyum yang sangat mirip dengan anaknya.
"Devi tante, saya mahasiswa bidan yang praktik disini" ucapnya sungkan sambil menggaruk kepalanya tak gatal.
"Oh" jawab singkat mama Rizky "ayo ki kalau mau ngomong cepetan, kamu itu masih belum sembuh benar" lanjut mamanya

Rizky menganggukkan kepalanya "Oh ya ma, yakin disini gak mau pergi? Kita mau ngobrol berdua ini" godanya terhadap mamanya sendiri "Devi masih berdiri loh itu, mau duduk" lanjutnya mengulum senyum melihat ekspresi mamanya yang tampak kesal terhadapnya.

"Astaga mamanya sendiri di usir, gak sopan" sahut Devi kesal "gpp tante disini aja, lagian bukan mukrim juga toh berduaan" lanjutnya tersenyum sungkan kearah mama Rizky.
"Sini" sahut Rizky berdiri menarik tangan Devi dan mengarahkan ditempat duduknya tadi, disamping mamanya.

Mama Rizky hanya tersenyum melihat tindakan anaknya terhadap Devi. Dia tau raut perempuan di depannya ini tampak kesal dan terus tersenyum sungkan kearah mamanya.

"Iya tante disini kok, biar si kikik gak ngapa-ngapain kamu" lanjut goda mama Rizky tersenyum sinis
"Ah gak asik ini 2 orang perempuan" ucap asal Rizky
"Bang!" teriak pelan Devi "gini ini orang yang berjuang buat kamu, supaya kamu bisa melihat dunia dengan segera. Sakit yang kamu derita sekarang itu 9x lipat saat mama kamu melahirkan" jelasnya tak terima.
"Noh mah, calon mantu nya pinter kan?" Sahut Rizky langsung tertawa cekikikan.
"Iya kalau dia mau sama kamu kik, geer banget sih" goda mamanya ikut tertawa bersamanya.

"Jadi ngomong apa?" tanyanya tersadar akan niat kedatangannya kesini
"Gpp sih cuma mau ngenalin kamu sama mamaku aja" sahutnya sambil menyengir kuda.
"Astaga itu doang?" tanyanya lagi
"Iyalah kan kamu calon mantunya, masa iya gak kenal sama calon mertuanya sih?" Ucapnya menggoda tersenyum  lalu duduk berlutut di depan kedua orang perempuan itu, memegang lembut kedua tangan perempuan itu.
"Kik kamu ituloh kok pede banget sih, iya kalau Devi mau sama kamu, kayaknya dia biasa aja sama kamu" sahut mamanya kembali menggoda anaknya.
"Mama mah gitu, masa anaknya sendiri gak didukung, aslinya kan dibujuk Devi nya supaya mau sama aku" ucapnya dengan pede.
"Ya kamu dong yang usaha sendiri, kan kamu yang banyak salah sama dia dulu, kamu dong yang cari cara gimana bisa luluhin dia lagi seperti dulu" jelas Mama Rizky lagi.
"tante kok gitu ngomongnya?" tanya Devi sungkan
"Iya mamaku cantik" mengelus kepala Devi
"Whats?" tanya Devi terkaget
"Loh didepanku sekarang kan ada mama-mama yang paling terhebat didunia. Mama yang melahirkanku ke dunia hingga bertemu kamu yang akan menjadi mama dari anak-anakku kan" lanjutnya tersenyum sangat manis.

Devi merasa hatinya tak tau dengan apa yang diinginkan, antara bahagia dan binggung dengan keadaan ini. Suatu kebanggaan baginya mengenal orang tua dari orang yang dicintainya dulu. Benteng yang dulu dia buat untuk siapapun yang masuk kehatinya tiba-tiba runtuh oleh orang yang menyuruhnya membuat benteng. Hatinya seperti mendapat pengharapan baru dari kisah cintanya dulu.

Rabu, 19 November 2014

Teman Hidup

"Eh, eh, ayo ke malang nginep ke Villa gitu kan asik" ajak Okta saat didalam Babeh Street Cafe bersama dengan teman-temannya.

"Cuuuus" seru teman-temannya yang membuat semua pengunjung dan pegawai menoleh kearah mereka.

"Eh tapi aku mau izin apa ke orangtuaku?" Tanya Deta dengan wajah khawatir. Orang tua Deta sangat tidak setuju jika anaknya keluar kota dan harus menginap, walaupun dengan teman perempuannya.

"Ah bener sekali. Izin apa ya?" Tanya balik Tisya dan melihat khawatir kepada Deta.
"Kamu bohong seminar? Kayak dulu?" Celetuk Okta yang mengingat dulu seminar di Malang dan boleh menginap.

"Gak berani oy, kalau itu kan beneran seminar. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" Tanya Deta

"Wah iya parah nih, Okta" sahut Vita terkekeh "Apa kita nanti ke rumahnya Deta rame-rame terus izin ke orangtuanya?" Tanya Vita dengan wajah berbinar-binar berharap teman-temannya setuju dengan idenya.

"Oke setuju deh" sahut Okta "jangan lupa kasih tau Sila, abis gini kita kan liburan semester" lanjutnya

****

Mereka berlima Tisya, Deta, Okta, Sila dan Vita akhirnya bisa liburan ke Malang, walaupun dengan susah payah membujuk orangtua Deta. Kelimanya akan di Malang selama 3 hari atau mungkin lebih.

"Malang oy Malaaaaang" teriak semuanya di dalam Mobil Tisya saat sudah sampai di Lawang.

"Kita mau kemana ini?" Tanya Tisya yang sedang menyetir Mobil Jazz berwarna merahnya.

"Museum Angkut? Jatim Park 1 dan 2?" Tanya Sila yang duduk dibangku belakang diantara Deta dan Vita.

"Bukan itu maksudku, nginep dimana maksudnya?" Sahut Tisya.
"Villa yang aku tempati waktu SMA? Bagaimana?" Tanya Vita yang daritadi diam tak mengeluarkan suara sama sekali karena mabuk dalam perjalanan.

"Boleh, how much?" Tanya Okta
"Aku mau telfon Abi dulu" jawab Vita mengambil hpnya menelfon Abi-pacarnya, yang juga teman SMA nya.

"Bi? Inget aku kan di Malang ini sama anak-anak, Villa kita dulu pas SMA berapa ya?"

"....."

"Ah mahal banget itu Bi, sama aja kayak di hotel"

"....."

"Oh iya sih kan rumahnya besar, kayaknya juga kebesaran buat kita berlima doang"

"....."

"Yaudah nanti aku cari sendiri aja. Bye. Assalamualaikum"

Vita mematikan panggilan dan menghela nafas, kemudian menggeleng kearah teman-temannya.

"Bagaimana kalau di Villa Kinan?" Tanya Okta.
"How much?" Tanya balik Sila.

Okta mengedikkan bahunya dan mengambil telfon genggam di tasnya, menghubungi Kinan.

"Nan, Villa kamu disewain gak ya? Aku lagi di Malang ini. Rencananya mau nginep" 

"....."

"Aaaah gotchaa! Thankyou Nan! No Problem lah"

"....."

"Oke, nanti alamatnya sms-in aja ya. Bye"

Okta mengembangkan senyuman menandakan Villa Kinan siap pakai. "Tapi guys, kita harus berbagi gitu sama orang, Kinan nanti malam juga mau ke Villa sama temen-temennya" jelasnya

"Gak asik banget lah berbagi" celetuk Sila
"Tapi kita dikasih free loh" sahut Okta menyengir kuda.
"Waaaah ayo berangkat aja udah, berbagi gak masalah" seru Deta semangat. Semua teman-temannya mengangguk pasrah.

"Villa nya dimana Okta?" Tanya Tisya yang daritadi celingukan didaerah Batu.
"Gg Melon no.16 villa warna coklat gaya klasik pagernya warna ijo" jawab Okta

-

Sesampainya didepan Villa Kinan...

Mereka turun dari mobil disambut oleh penjaga rumah Kinan, seorang laki-laki dan perempuan. Mereka memperkenalkan diri, Bi Siti sebagai asisten rumah tangga dan Pak Diman sebagai keamanan. Mereka sepasang suami istri yang bekerja di villa itu sejak pertama kali dibangun hingga selesai dibangun sekitar 15tahun, mereka merawatnya cukup baik masih terlihat bagus dan asri penuh tumbuhan hijau.

"Terimakasih Pak Diman dan Bu Siti mohon kerjasamanya" ucap Okta tersenyum.
"Iya mbak" ucap Pak Diman dan Bu Siti ramah.

"Baik mbak, saya antar ke kamarnya" ucap Bi Siti sambil membuka pintu Villa Kinan.

"Mau dibawain barang-barangnya mbak?" Tanya Pak Diman
"Gak usah Pak, terimakasih gak usah repot-repot" sahut Vita tersenyum sungkan.

Pintu Villa terbuka, rumahnya bagus dengan cat warna putih tulang serta warna coklat muda tampak senada dengan perabotan klasik, tampak seperti bernostalgia ala rumah-rumah eropa jaman dulu.

"Gila bagus banget villanya Kinan" bisik Deta seperti dirinya berada diluar negeri.

"Ini kamarnya mbak-mbak silahkan dipilih yang mana, 2 kamar cukup kan?" Tanya Bi Siti membukakan 2 pintu kamar.

"Oh gausah repot-repot Bi, kita satu kamar sudah cukup, tapi yang bed bawahnya bisa ditarik ada?" tanya okta
"Tapi saya disuruh mas Kinan 2 kamar mbak" sahut Bi Siti.
"Gpp Bi, biar nanti saya yang ngomong ke Kinan. Kasihan Bi Siti juga nantinya" ucap Okta.
"Yasudah kamar ini saja, sepertinya cukup luas dan ada 2 kasur" ucap Bi Siti ramah.
"Terimakasih Bi Siti, maaf kalau kami merepotkan" ucap Tisya tersenyum.
"Sudah tugas saya mbak, permisi saya mau ke dapur. Mau dimasakin apa?" tanya Bi Siti.
"Oh gak usah, kita sudah sarapan tadi sebelum kesini. Bi Siti masaknya nanti malam saja pas Kinan dateng. Kita abis gini juga mau jalan-jalan disekitaran Malang" jelas Vita.

"Baiklah kalau begitu, permisi saya tinggal dulu" ucap bi Siti sambil tersenyum.

Mereka semua merapikan koper dan barang bawaan mereka masing-masing mulai alat makeup sampai perlengkapan mandi.

"Ayo museum angkut buka jam 12 loh nanti antri" ajak Deta
"Kamu tau jalan gak Tisya?" tanya Sila
"Smartphone sis, bisa pakai gps" sahut Vita tersenyum sinis kearah Sila kemudian terkekeh.

-

MUSEUM ANGKUT

Tempat dimana yang lagi ngetrend untuk warga jawa timur, tempat dimana kita bisa menemukan barang kuno yang dipoles menjadi apik kembali, tempat dimana kita bisa melihat indahnya sisi kecil negara lain, tempat kita belajar sejarah, indah dan bagus sekali.

Setelah mereka berpuas-puasan berfoto, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5sore lewat, saatnya untuk pulang, ini bukan kota mereka, tak baik bagi perempuan berjalan-jalan dimalam hari.

"Makan yuk, makan. Lapeeeeer" ajak Vita memelas.
"Yaudah ini ada spesialis sambel didepan kita makan itu aja" jawab Sila menunjuk Restaurant di depan.

Merekapun makan dengan lahap, selama di dalam Museum Angkut belum makan siang. Hanya minum untuk menghilangkan rasa dahaga ketika berputar mengelilingi museum angkut yang sebesar itu. Setelah menyelesaikan makannya merekapun kembali ke Villa Kinan.

Dua mobil terparkir di halaman Kinan, Okta tau itu mobil Kinan, lalu satunya? Mungkin itu punya temannya. Semuanya turun dari mobil setelah Tisya memarkirkan mobilnya disamping mobil Kinan, dengan langkah perlahan. Okta membuka pintu perlahan dan tampaklah segerumbulan anak muda sedang berada di ruang tamu. Ada satu orang laki-laki yang berdiri mendekat, ketika mengetahui ada orang yang datang.

"Okta!" Sapa laki-laki itu tersenyum.
"Hai, Nan" ucap Okta dengan nada pelan.
"Apa kabar?" Tanya Kinan.
"Ba...ik, kamu sendiri?" Tanya balik Okta gugup.
"Menurutmu?" Tanya Kinan lalu terkekeh "Selalu baik lah Okta, kalian kenapa sih?" Tanyanya lagi.

"Nan, temen kamu...." Ucap Okta
"Mereka anak Youtubers kan?" Tanya Vita tercengang memotong ucapan Okta.
"Gila fans banget sama mereka!" Seru pelan Deta
"Iya iya betul mereka kocak banget, foto-fotonya sama video mereka juga lucu" sahut Sila yang juga tak percaya melihat orang-orang yang biasa dilihatnya di Youtube.

"Kalian ngomongin apa sih? Mereka siapa? Kok aku kudet banget" tanya Tisya polos lalu menyengir.

"Wah kalian juga tau mereka?" Tanya Kinan tersenyum melihat kelima perempuan tak berhenti menatap tamunya. Sila, Deta, Vita dan Okta menganggukkan kepalanya.

"Kinan" ucap Kinan memperkenalkan diri terlebih dahulu mengulurkan tangannya.

"Deta"
"Vita"
"Sila"
"Tisya"

"Aku kenalin sama mereka" ucap Kinan berjalan mendahului mereka berlima "Halo guys, kenalin ini temen-temen aku dari Surabaya. Seperti yang aku ceritakan tadi berbagi kamar sama mereka. And Fyi, mereka fans kalian loh" jelas Kinan.

"Haloooo" ucap mereka berdelapan secara bersamaan. 3 orang perempuan dan 5 orang laki-laki. 

Mereka berlima hanya mangut-mangut tersenyum, speechless. Mereka sudah tak tahu akan berbicara apa.

"Nan, kita duluan ke kamar ya" bisik Okta pada Kinan.
"Loh kok cepet banget kenalannya?" tanya Kinan polos
"Gpp, besok aja" sahut Okta pelan lalu berjalan cepat, diikuti dengan keempat orang temannya menuju kamar.

****

Keesokan harinya mereka berlima bangun terlalu siang. Setelah sholat subuh berjamaah, mereka langsung tidur kembali. Kinan berjalan menuju kamar Okta dan teman-temannya.

Tok. Tok. Tok.

Tak ada respon dari dalam, Kinan mengetuk pintunya kembali. Lalu terdengar suara langkah kaki dan membuka kunci kamar dari dalam.

"Hm?" Gumam Okta dengan mata terpejam, seakan masih dirumahnya sendiri.
"Okta? Where you're hijab, huh?" Tanya Kinan yang melihat Okta keluar dengan baju tidur dengan rambut dikuncir asal.

Okta langsung tersadar dan membuka matanya "Kinan?" Kagetnya langsung menutup pintu dan mencari apapun untuk menutup rambutnya dengan setengah sadar. Lalu membuka pintu kamar kembali.

"Jam berapa sekarang? Maaf ya Nan, anak-anak semalaman begadang lihat drama korea yang dibawa Vita" ucap Okta meringis.

Kinan menahan tawanya, Okta menggunakan selimut untuk menutup rambutnya "Jam 8, yaudah mandi gih. Ditunggu di meja makan. Kita sarapan bareng" ucapnya sambil mengusap kepala Okta dan pergi menuju ke meja makan.

Saat di Meja makan....
Mereka berlima tampak canggung saat harus makan bersama dengan orang-orang yang biasanya mereka liat di youtube, instagram dan blog.

"Makan aja, gak usah gitu" ajak Kinan tersenyum melihat tingkah Okta dan teman-temannya. Kelima perempuan itu mengangguk.

"Makan aja, gpp silahkan ladies first" ucap salah satu, Ernest. Laki-laki berbehel ini merupakan yang paling banyak fans mau laki-laki atau perempuan, karena ketampanan dan kelucuan atau mungkin kebodohannya. Haha.

"Gila jantungku rasanya mau copot diajak ngomong mereka" bisik Sila pada Okta.
"Speechless" celetuk Deta dengan polosnya. Semua yang di meja makan langsung tertawa.

"Kalian ini kenapa sih? Biasa aja, kita bukan artis kok, bukan pejabat, manusia biasa kayak kalian" sahut Aryo. Laki-laki tampan lagi yang ikut berbicara, sayang dia kesini dengan pacarnya-Ardina.

"Iya. Santai aja sama kita, kayak nongkrong sama temen aja. Lumayan kalian bisa Meet And Greet sama kita semeja makan lagi" celetuk Lee. Dari nama saja bisa dilihat dia keturunan Cina dengan level Rap nya tidak diragukan lagi.

"Ayo makan" sahut Ardina kali ini, perempuan bertubuh mungil dengan lesung pipi. Manis sekali. Tak halnya Aryo menyukainya dan berpacaran sudah 4 tahun. Kalau keduanya membuat video tentang hubungan mereka pasti so sweet bikin yang nonton ikut baper.

"Iya" jawab mereka berlima kompak dan mengambil makan.

Mereka semua makan tanpa ada suara, hanya terdengar ketukan piring yang bertemu garpu dan sendok. Sesekali anak Youtubers membuat lelucon yang membuat suasana ceria, tapi lagi-lagi mereka berlima tersenyum seadanya.

"Kita gak lucu ya?" tanya Beki. Laki-laki berambut kribo yang sudah kenal lebih banyak orang lebih dulu ketimbang yang lainnya.

"Iya kalian cuma senyum-senyum aja, becandaan kita garing ya?" tanya Aurel pacarnya Beki.
"Ng...ngak kok kak" sahut Tisya menyengir kuda.
"Anggap kita sebagai teman kalian gitu apa keluarga juga gak papa. Terserah kalian" sahut Yasha tersenyum manis. Laki-laki ini memiliki karya yang bagus di setiap videonya, stop-motion. Dan itu keren!

"Kalian ini lucu ya, mau buat video gak bareng kita?" ajak Ernest lalu tersenyum memandang satu-persatu kelima perempuan itu.
"Ngak kak, kita malu gak ada bakat" ucap Okta polos.
"Foto bareng aja kak" celetuk Sila lalu tersenyum.
"Lumayan buat pamer ketemen-temen ketemu kalian" sahut Vita dengan polosnya

Para anak Youtubers mengiyakan permintaan mereka, bagi mereka berdelapan fans adalah teman yang terus mendukung dan mensupport terus mereka dengan karya-karyanya.

"Kak nanti aku upload love ya kak, lumayan buat pamer di love anak Youtubers terkenal" celetuk Deta nyengir
"Bereeees" ucap Para Youtubers bersamaan.
"Kak Lee nama instagramnya apa? Maaf lupa" tanya Sila polos.
"Jadi kamu gak follow instagramku? Sakitnya tuh disini" ucap Lee memegang dadanya lalu jatuh dengan ekspresi yang membuat semua orang tertawa.

Sila terkekeh "Maaf kak, aku follownya cuma kak Ardina sama kak Ernest" jelasnya.
"Me too! Kak Ardina sama kak Ernest" sahut Deta menyengir kuda.
"Aku juga follownya kak Ernest" sahut Okta
"Aku follow kak Aurel" sahut Vita.
"Aku gak follow siapa-siapa" celetuk Tisya tertawa cekikikan.

"Tuhkan terbukti gw paling ganteng banyak yang follow" ucap Ernest dengan gaya khasnya.

"Tapi kita follow akun official instagramnya kalian kok kak, maaf ya abis gini kita follow semua, tapi di follow back ya kak, kan lumayan di folbek artis" sahut Deta tertawa cekikikan.

Para Youtubers harus segera berangkat ke Matos (Malang Town Square) karena ada MnG dengan anak muda di Malang dan ketua koordinatornya sudah menjemput di depan Villa Kinan. Kinan tak ikut ke acara Meet And Greet karena dia sedang malas berpergian kemana-mana.

"Kalian rencana kemana?" tanya Kinan menghampiri Okta dan teman-temannya di ruang tamu yang sedang melihat drama korea.

"Hm... Mungkin malas-malasan disini" jawab Okta dengan mata menatap TV Plasma 42inc" di Villa Kinan.

"Oh yasudah kalau gitu, aku mau tidur-tiduran aja diatas" pamit Kinan dan pergi meninggalkan kelima perempuan itu.
"Oke selamat tidur" sahut Okta

"Eh kok aku ngantuk ya?" Ucap Sila sambil menguap dan tiduran di paha Deta.
"You're so slept in everytime and anytime" sahut Deta terkekeh.
"Abis gimana lagi, ngantuk berat aku ke kamar ya" pamit Sila lalu berdiri dan berjalan menuju kamar.
"Yuhuuuuuu" jawab semuanya

Ringtone Hp Tisya terus berdering.

Missed Call Pacar Nduuut💕 (5)

"Aduh ganggu banget sih, diangkat kek, kasian tuh anak orang khawatir" omel Vita yang sedang konsentrasi melihat drama korea yang sedang bermain.

"Duh dasar pacar rempong, nelpon mulu" sahut Tisya bete "aku kedepan dulu ya cari udara segar sambil telponan" lanjutnya lalu pergi meninggalkan Deta, Okta dan Vita di ruang tamu. Inilah 3 orang yang gemar melihat drama korea, sampai pagi pun mereka bisa tahan untuk episode selanjutnya.

"Yaaaah kok udah tamat sih? Oh My Ghostes nya" keluh Okta "eh bawa stok lagi gak Vit?" Tanyanya kearah Vita.
"Enggak, tapi aku bawa novel 3. Mau gak?" Tanya Vita menawari Okta dan Deta. Keduanya menggeleng "Yaudah aku mau tiduran juga deh di kamar sambil baca novel" pamit Vita beranjak pergi ke kamarnya.

"Eh bosen juga gak ngapa-ngapain, entar kalau keluar ngabisin duit" ucap Deta.
"Iya ya, enaknya gimana?" Tanya Okta.

"Oh ya Ta, mintain VN suaranya Nanda dong nyanyi lagu Teman Hidup nya Tulus dong" ucap Deta memelas. Nanda adalah mantan Okta yang masih berhubungan dengannya sampai sekarang. Okta sering kali di nyanyikan lagu oleh Nanda.

"Eh ada di bb, aku gak bawa. Abis gini aku mintain lagi aja ya" sahut Okta sinis, sebenarnya dia paling anti menghubungi Nanda dulu.

#LINE

Oktaviani : Nanda
Oktaviani : Oy!
Oktaviani : si Deta minta kirim VN Teman Hidupnya Tulus

NandaPras : oke, wait:)

Ting! #LINE

NandaPras sent you voice messages.

"Nih lagunya udah dikirim" ucap Okta memberikan hpnya ke Deta.

Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku.
Berdua kita arungi dunia.
Kau milikku, ku milikmu.
Kita satukan tuju, bersama arungi derasnya waktu.

Deta mendengarkan lagunya sampai habis "Suaranya bagus" celetuknya lalu melihat iseng chat dari Nanda yang berisi Voice Note dia menyanyi. "Dia masih sering kirim lagu ke kamu?" Tanya Deta menggodanya.

Okta menganggukan kepalanya "Tau tuh dia, ngirim mulu. Nanti kalau ketemu pasti yang dinyanyikan Teman Hidup mulu" ucapnya ketus

Deta tersenyum menggoda "Hm" gumamnya "bukannya aku sudah pernah bilang berhati-hatilah terhadap lagu itu. Kalian sahabatan dari SMA, udah pernah pacaran meskipun putus, ngerayu mulu tapi gak dijadiin pacar? See? Dia mikir kalau kamu tetap Teman Hidupnya walaupun nanti kalian bakal punya pasangan sendiri-sendiri" jelas Deta.

"Dih sumpah. Gak usah takut-takutin plis" ucap Okta ketus lalu melempar bantal kursi kearah Deta.

"Yaaa!" Teriak Deta tak terima dan membalas mengelitik tubuh Okta "kita buktikan saja, bagaimana?" Tanya Deta

"GILA LO SUMPAAAAH!!!" Teriak Okta dalam gelitikan Deta.

"Oy oy ada apa ini? Debatin apa kalian?" tanya Kinan yang tiba-tiba datang. Keduanya langsung merapikan pakaian mereka yang acak-acakan.

"Gpp kok" jawab Deta sambil memutar vn dari Nanda.
"Eh itu suara kayak pernah denger" ucap Kinan sambil berfikir "suara Nanda kan? Kalian masih ada something?" tanya Kinan melihat kearah Okta.

"Ngak Kinan, dia cuma kirim vn nya dia karena request dari Deta" jawab Okta gugup melihat ekspresi penasaran Kinan.

"Apaan kok bawa-bawa aku? Emang si Nanda sering banget kan nyanyiin lagu itu ke kamu" sahut Deta
"Ada apa-apa juga gpp kok" goda Kinan lalu tertawa.

Mereka bertiga jadi lebih akrab, walaupun sebelumnya Kinan dan Okta mereka lebih mengenal dulu.

"Oya Kinan, dulu si Okta pernah cerita kalau dia suka sama kamu, terus jadi berita heboh anak se sma, katanya kalian sering dikecengin sama temen-temen kalian, malah dijudge sama guru kalian udah pacaran. Ya gak sih Ok?" tanya Deta polos menyikut lengan Okta.

"Ih Deta mulutnyaaaaa" teriak manja Okta memukul pelan lengan Deta.
"Emang iya dan aku bangga" sahut Kinan tertawa terbahak-bahak.
"Apaan? Dulu waktu gembor-gembor gosip itu kamu diem aja, gak ada pembelaan. Cuma aku yang nyeloteh kita gak pacaran. Asli malu, suram banget" sahut Okta cemberut dan mengerucutkan bibirnya.

"Lah kamu ada yang belain gitu si Nanda, dulu kan dia pacar kamu" goda Kinan lalu tertawa kembali.
"Apaan itu anak-anak yang mojokin, gila banget. Nanda kan udah jadi mantan waktu itu. Dan pacaran kita juga becandaan gak beneran" sahut Okta melakukan pembelaan untuk dirinya sendiri.

"Sudah sudah kamu itu lucu banget" ucap Kinan sambil mencubit pipi Okta "sudah masa lalu juga dibahas aja" lanjutnya mengelus kepala Okta

Deta yang melihat Kinan memperlakukan itu pada Okta langsung berpura-pura batuk "Aku jadi kacang nih, kayaknya ada yang lagi yang bernostalgia. Pergi aaah" pamit Deta pergi mengambil hp yang di charge dekat TV dan duduk-duduk dipinggir kolam renang bersama dengan Tisya yang daritadi menelpon tak ada habisnya.

Ting! #LINE

Yasha added you as friends.

Deta : Kak Yasha anak Youtubers?
Deta : sumpah ini bukan hoax?
Deta : tau lineku darimana? - 14.30

Yasha : Iya bener:)
Yasha : dari ig kamu.
Yasha : lagi apa?

Deta langsung tersenyum "sumpah demi apa ini kak Yasha tanya lagi apa?" Tanyanya pada diri sendiri.

Deta : lagi di kolam renang belakang
Deta : liat Tisya telponan sama pacarnya
Deta : jadinya main air ini sm line hehe
Deta : sama dengerin lagunya tulus
Deta : kenapa chatnya jadi banyak?😂
Deta : acaranya gimana kak? Seru?
Deta : sudah selesai kah?

Yasha : detail amat neng
Yasha : suka Tulus? Same:)
Yasha : seru kok, sayang kalian gak ikut.
Yasha : kalian berenam ikut, rame dah.

Deta : Yeay!!!
Deta : Suaranya dan liriknya itu bagus.
Deta : apalagi lagu teman hidup😭
Deta : bikin baper😂
Deta : maaf aku spam huhu
Deta : pasti ke ganggu ya acaranya:(
Deta : selesai jam berapa acaranya?

Yasha : mau aku nyanyiin? *gakdeng *fals
Yasha : nanti abis magrib aku pulang
Yasha : jam 8 malem kita ketemuan ya:)

Deta langsung membelalakan matanya melihat chat dari Yasha yang mengajaknya ketemuan nanti malam.

Deta : WHAT?
Deta : ini bukan kak Yasha ya?
Deta : pasti ini penguntit ya?

Yasha yang melihat Deta yang tak percaya kalau chat itu memang darinya langsung melakukan video call.

"Ketemu jam 8 oke?" Ucap Yasha tersenyum sambil mengedipkan matanya satu. Dia melihat ekspresi tak percaya Deta 'she is so cute' dalam video callnya, matanya membelalak dan mulutnya membuka sedikit.

Shit! Deta tak percaya jika itu benar-benar Yasha. Dia orang yang mengajaknya ketemuan? Yasha tampak menunggu jawaban dari Deta dan terus tersenyum kepadanya. Deta menganggukkan kepalanya.

"Bye" pamit Yasha lalu mematikan video callnya.

Deta tak bisa berhenti tersenyum dan berlari ke kamarnya memeluk Sila yang sedang teridur pulas. Bahagia dalam hatinya, seperti ada kupu-kupu yang berwarna-warni di perutnya yang akan keluar.

-

Makan Malam....
Semuanya sibuk mengobrol dan bercanda satu sama lain. Yasha dan Deta saling melirik satu sama lain, setidaknya ada satu jam lagi waktu mereka akan bertemu.

Ting! #LINE

Yasha : aku sudah di kolam renang:)
Yasha : aku tunggu yah:)

Deta : oke, otw kak:)

Deta menghampiri Yasha yang sedang duduk dipinggir kolam renang, kakinya sudah masuk setengah di dalam air. Dia mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek hitam selutut.

"Hai" sapa Yasha tersenyum melihat Deta datang. Deta hanya mengangguk kikuk "Main air lagi? Mau?" Tanyanya

"Enggak ah kak, aku bawa celananya cuma sedikit" ucapnya terduduk di kursi panjang tak jauh dari Yasha.

Yasha langsung berdiri menghampiri Deta "Let me your hand" ucapnya mengulurkan tangannya.

Deta menelan ludahnya sendiri, tak percaya dengan keadaan ini. "Lo bodoh kalau nolak Det!" Makinya sendiri dalam hati. Dia mengikuti hatinya dan memegang telapak tangan Yasha.

Yasha membawanya kepinggir kolam renang dan terduduk bersampingan seperti posisinya tadi. Dilihatnya gadis yang disampingnya itu tak berhenti tersenyum, dia langsung tersenyum melihat tingkahnya itu. Keduanya mengobrol satu sama lain, membahas diri mereka masing-masing.

"Yasha? Deta?" Tanya Kinan yang tiba-tiba datang tak percaya keduanya sedang mengobrol sangat akrab "Apa yang kalian lakukan disini?" Tanyanya lagi
"Kita hanya menobrol Kinan, kalau mau ikutan juga gak dilarang kok" sahut Deta tersenyum malu, seperti ketahuan sedang pacaran.

Kinan langsung menyelusup duduk diantara keduanya "karena kalian berduaan, jadi aku harus jadi orang ketiga" ucapnya lalu tertawa

"Iya setan lu bro, ganggu aja" gumam Yasha. Kinan hanya menatap sinis Yasha dan tertawa kembali.

"Nan, jangan ngomong ke yang lain ya" bisik Deta memelas. Kinan tersenyum kearahnya dan menganggukkan kepalanya.

****

Hari ini hari terakhir Para Youtubers di Malang, mereka akan mengadakan Meet and Greet lebih intensif di Hotel Gajah Mada. Mereka mengajak Kinan dan teman-teman Okta ikut serta, masuk gratis eksklusif duduk paling depan.

Acara sudah separuh berjalan, tapi antusias fans mereka masih tinggi, mungkin tak banyak orang mengenal komunitas mereka, tapi banyak fans yang jauh-jauh dari tempat lain untuk ketemu mereka.

"Okta" sapa Deta
"Iya Deta?" Sahut Okta
"Keluar yuk, boring" ucap Deta memelas, disini mereka berlima tepatnya berenam sama Kinan hanya diam. Tak seperti fans lain, keenamnya hanya diam. Pertanyaan apa juga mereka sudah tahu jawabannya.

"Ke?" Tanya Okta
"Toilet apa dimana gitu, bentar doang panas juga disini" jawab Deta. Okta menganggukkan kepalanya dan berdiri berjalan keluaran ruangan.

Mata Yasha teralih ketika melihat Deta berdiri dari tempat duduk seakan mau pergi, sungguh hatinya berat melihat sosok itu pergi dari pandangannya. Apakah acaranya membosankan? Apakah dia kebelet? Matanya tak bisa berhenti menatap Deta yang berjalan keluar.

"Muter-muter aja sih ya" keluh Okta bosan
"Foto-foto aja yuk, lumayan daripada nganggur" sahut Deta mengambil beberapa angle foto untuk Okta, dan dengan cepat keduanya hanyut.

Setelah puas berkeliling dan berfoto-foto, mereka kembali menuju ruang hall tempat diadakan acara Meet and Great. Tiba-tiba suara nyanyian datang dari belakang.

Tetaplah bersamaku
Jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu
Kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

"Ok, serius demi apa ada yang nyanyiin lagu teman hidupnya tulus?" tanya Deta mukanya memerah senang.
"Lebih baik kamu liat belakang yang nyanyi siapa!" Seru Okta terkaget dan menoleh kebelakang.

Deta membalikkan tubuhnya "Kak Yasha?" Tanyanya terkaget. Tubuhnya tiba-tiba mendadak kaku, tak bisa bergerak.

"Hayoloh Det, kamu diiket juga sama nyanyian itu" bisik goda Okta lalu terkekeh melihat ekspresi bodoh Deta.

"Deta" sapa Yasha tersenyum kepadanya. Deta hanya mematung, mengutuk dirinya sendiri.

"I....ya" ucap Deta gugup sambil menelan ludahnya sendiri.
"Mau jadi teman hidupku?" tanya Yasha sambil memegang tangan Deta lembut.
"Whats?" ucap kaget Deta dan Okta bersamaan. Deta terdiam dengan pikiran diotaknya.

"Kenapa diam? Bicaralah" ucap Yasha tersenyum manis kearah Deta.

Deta memandangi detail wajah Yasha dan yang tampak adalah ketulusan. Hati Dera sendiri ragu apa yang akan dijawabnya, dia tak mau salah langkah.

"Kasih aku waktu buat jawab, kak. Ini terlalu cepat" ucap Deta berhati-hati agar ucapannya tak menyakiti Yasha.

"Waktu aku gak banyak, tinggal besok. Ya sudah aku juga tak ingin memaksamu. Pikirkan baik-baik" ucap Yasha dengan nada sedikit kecewa lalu berusaha tersenyum ikhlas di depan Deta dan mengusap lembut kepala Deta.

Yasha melepaskan tangan Deta, hatinya sungguh kecewa. Ternyata perhatian yang dia sampaikan lewat pesan dari Line masih belum bisa membuka hati Deta. Teman-temannya terus mensupport dirinya agar kuat.

****

Keesokan harinya....
Para Youtuber sudah sibuk berkemas-kemas untuk pulang kembali ke Jakarta. Sebenarnya hari ini Kinan akan mengajak mereka berjalan-jalan, tapi para Youtuber itu menolak karena ada masalah. Kinan sempat kecewa, tapi dia tau masalahnya adalah Yasha-Deta langsung terdiam.

Ting! #LINE
Hp Yasha berbunyi.

Deta : Kak
Deta : Marah kah sama aku?
Deta : aku minta maaf ya:(

Yasha : enggak kok:)
Yasha : dont be sad:)

Deta : tapi aku gak enak sama kakak:(
Deta : kakak batalin jalan" sm Kinan kan?
Deta : grgr aku kah? Maaf:(

Yasha : bukan kok:)
Yasha : aku gak akan maksa kamu
Yasha : maaf aku menyatakan terlalu cepat:)

Deta : kamu orang baik kak:)
Deta : aku suka sama kamu, tapi aku ragu
Deta : biarkan aku belajar mencintaimu juga:)

Yasha : aku akan berusaha berjuang
Yasha : buat buka hatimu buat aku:)

Deta : sama-sama berjuang ya:)
Deta : save flight kak✈️

Saat sarapan pagi semuanya tampak diam, hening tanpa ada suara. Biasanya para Youtubers akan membuat lelucon saat keadaan seperti ini. Okta khawatir terhadap Deta, dia mengelus punggungnya. Deta langsung tenang mendapat support dari Okta, walaupun teman-temannya masih belum tau ceritanya dengan Yasha. Satu orang mulai berdiri, Ernest menyelesaikan makannya terlebih dahulu kemudian disusul yang lainnya.

Kinan yang tersadar, memberikan kode kepada Okta agar membawa Deta untuk menenangkan dirinya. Okta membawa Deta jalan-jalan keluar tanpa ada suara, hanya berjalan menghirup udara sejuk di Malang.

Deta menghentikan langkahnya dan terduduk disebuah pohon. Dia menelungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya, sangat bersalah. Okta mendekat langsung memeluknya, memberi kekuatan.

Deta bosan kalau harus termenung seperti itu, dia membuka instagramnya. Melihat video-video yang dibuat Para Youtubers saat Meet and Greet kemarin. Sampai matanya tertuju pada sebuah video yang dikirim oleh Lee dengan mencamtumkan namanya. Matanya terus menuju kearah video yang akan diputar itu.

Video berdurasi 15 detik berputar dengan memperlihatkan para Youtubers  mensupport Yasha dengan memperlihatkan foto keduanya saat malam hari di kolam renang, saat Yasha menyatakan cinta padanya. Ini memalukan.

Hati Deta tiba-tiba memanas dan menjadikan orang yang paling jahat di dunia. Dan seketika itu akun istagramnya banyak notification dari fans mereka yang berbondong-bondong memfollow dia, dan beruntung instagramnya sudah ia private.

Tak halnya ucapan positif keluar dari fans Yasha yang ikut mensupport dan ada pula yang menghujat dengan mencamtumkan namanya di kolom coment.

#CommentIG

Resti95 Uuuuuuh so sweet ka Yashaaa😍
Sischaaaak Seandainya aku, seandainya
Teguhpo Sok jual mahal banget nih perempuan
Faridamuts Bukan jual mahal tapi dia hanya perlu pembuktian @Teguhpo
Garingzzz Ceweknya numpang tenar kali ini ah, settingan maybe ya.
Uswatunhm Iyoi. Ini cewek kali pengen terkenal. Deket sama artis yutubers. Kalau udah tenar pasti ditinggal.
Mhmmdharis Kenapa kalian tak lihat dari perjuangan @yashaAM ? Dan kenapa kalian gak liat dari sisi perempuan yang gak mau terima dengan gampang karena @yashaAM artis? Pikiran kalian itu pendek.

Deta melihat komentar itu langsung menangis, kenapa banyak sekali yang menghujatnya, dan beruntungnya banyak yang membelanya. Dia langsung berdiri menarik Okta untuk balik ke Villa Kinan.

"Kak Lee, apapun bentuk dukungan kalian. Saya mohon jangan pernah cantumkan nama saya" ucap Deta lemah saat melihat Para Youtubers berada diruang tengah.

Semua orang menatap lemah, Deta terlihat sangat menyedihkan. Matanya membengkak. Yasha berjalan pelan mendekati Deta.

"Berhenti kak!" Bentak Deta tanpa tersadar mengeluarkan air matanya saat melihat Yasha mendekat kearahnya "inilah sebab kenapa aku meminta waktu. Kak Yasha orang terkenal dan aku orang biasa pasti fansnya ada yang menerima ada juga yang haters" ucapnya lalu berjalan pergi mengusap air matanya sendiri.

Tangan Yasha menghentikan langkah Deta "Kamu bukan orang biasa, kamu orang luar biasa dalam hidupku" ucapnya ingin sekali memeluk Deta, menenangkan gadis itu. Tapi ia urungkan niatnya karena tak ada hak.

"Lepasin kak!" Bentaknya sambil berusaha melepas genggaman Yasha "Itu bagi kakak, bagi fans kakak enggak. Dan apakah segampang itu kakak mencintaiku secepat ini, huh?" Tanyanya dengan nada sarkatis

"Aku tak mencintaimu, aku cuma ingin jadi teman hidupmu" sahut Yasha pelan, dia merasa bersalah karena membuat perempuan yang dicintainya menangis.

"Berarti aku juga tak harus berusaha mencintaimu kan?" Tanya Deta sambil terisak. Air mata bodoh ini kenapa tak berhenti. Terlihat seperti dia orang paling menyedihkan didepan banyak orang.

"Terserah kamu" ucap Yasha sambil tersenyum melepas genggaman tangan Deta. Dia melihat perempuan itu langsung berlari ke kamarnya.

****

Bandara Juanda Surabaya....
Teman-teman Deta enggan mengantar para Youtubers ke Bandara. Tapi mereka dipaksa oleh Kinan harus mau menemaninya. Okta sudah memarahi Kinan, Deta pasti akan menderita melihat kepergian Yasha. Tapi Kinan meyakinkan mereka agar tetap ikut, Deta lah yang menganggukkan kepalanya terlebih dahulu. Kinan tersenyum kearahnya dan mengusap lembut kepala Deta "aku yakin kamu tak akan menangis lagi, aku akan biarkan Yasha menyelesaikan masalah kalian" bisiknya pelan pada telinga Deta.

Seorang laki-laki datang menghampiri Deta, itu Lee "Deta gue minta maaf ya" ucapnya merasa bersalah.

"Gpp kak, terimakasih sudah dihapus. Kakak gak perlu minta maaf, maaf juga kemarin udah marah sama kakak" ucap Deta tersenyum.

"Gak ada yang mau disampaikan ke Yasha?" Tanya Lee. Deta menggelengkan kepalanya. "Kita balik dulu ya kalau gitu" ucapnya mengelus kepala Deta lalu berlalu pergi.

Deta tersenyum kenapa elusan di kepalanya dari Lee dan Kinan menguatkan hatinya, seakan menghibur adiknya yang sedang terluka? Kenapa hatinya merasa tak enak? Kenapa dia tak mengucapkan salam perpisahan untuk Yasha? The stupid things.

"Deta" teriak Tisya dari dalam mobil yang menunggunya berbicara kepada Lee. Deta berjalan menuju mobil Tisya dan membuka pintu mobil Tisya.

"DETAAAAAA!!!" Teriak seseorang, Deta tau itu suara siapa, Yasha. Deta menoleh kearahnya melihat Yasha mendekat kearahnya.

Para Youtubers berjalan dibelakang Yasha, wajah mereka tersenyum bahagia dan gelisah. Yasha semakin dekat dengan Deta. Teman-teman Deta mendorong pelan Deta agar berjalan mendekat kearah Yasha. Yasha memegang tangan Deta.

"Ini memang tempat umum, tapi setidaknya ini bukan keramaian. Aku mau menyampaikan untuk terakhir kali ke kamu, kamu memang orang biasa, kita baru ketemu 3 hari, tapi kamu sudah buat aku jatuh hati ke kamu, ini hati yang mengaturnya bukan aku, aku juga gak tau kenapa bisa menetapkan hati padamu" ucap Yasha dengan wajah manis yang meneduhkan.

"DETAAA" seru Ernest.

Para Youtubers membuka jaketnya, dan mengenakan t-shirt " I LOVE YOU DETA" dengan penggalan kata. Asli ini romantis batin Deta, tapi ini hanya menyatakan cinta.

"Apalagi sih Yasha? Malu tau. Apa ini bakal masuk video kalian?" Tanya Deta dengan wajah cemberutnya.

Yasha tersenyum "Kali ini enggak, aku gak akan bikin kamu malu dan nangis lagi karena kamu dihujat fans aku" ucapnya mengusap lembut kepala Deta. Sudah 3x laki-laki dalam hari ini mengusap kepalanya. Deta tersenyum.

"Jadi apa?" Tanya Yasha
Deta mengernyitkan dahinya "terus aku harus jawab apa, hm?" Tanyanya menggoda Yasha sambil mengulum senyumnya.

"Deta kamu ini ya, aku sudah usaha buat ginian semalem sama temen-temenku malah responnya begitu doang" Sahutnya dengan nada sebal "nih" ucapnya lagi sambil memberikan bunga mawar merah yang telah dirangkai indah yang dibawah Kinan. Deta merasa air matanya akan keluar.

"Yaa! Deta! Padahal aku sudah bilang gak akan buat nangis gara-gara Yasha" seru Kinan kesal kemudian terkekeh setelah melihat Deta tertawa melihat dirinya mengomel.

Yasha langsung menyanyikan lagu Tulus yang berjudul Teman Hidup. Suaranya sangat enak di dengar, lalu Ernest membuat lagunya sedikit dangdut. Semua orang langsung tertawa melihat itu dan berjoget seperti orang gila.

"Terimalah" ucap Yasha tersenyum memberikan bunga mawar yang sedari tadi tak diambil oleh Deta. Deta mengambilnya dan memeluk Yasha sangat erat. Yasha mengelus belakang kepala dan punggung Deta lembut.

"Kak, kita LDR ya?" Tanya Deta polos menyengir kuda.
"Maybe. Tapi kamu belum menjawabku? Jadi apa jawabannya?" Tanya balik Yasha.
"Hm aku tidak mencintaimu kak" goda Deta terkekeh pelan "tapi aku mau jadi teman hidup kamu" lanjutnya mempererat pelukannya.

"Lepasin kali bro, kita kan envy" seru Lee. Keduanya langsung melepaskan pelukannya.

"Ini pertemuan terakhir kita?" Tanya Deta kembali khawatir.
"Enggak cenggeng, aku usahakan sebulan sekali kesini, kalau aku gak bisa kita bisa vcall oke?" Sahut Yasha mencubit pipi gemas Deta.

Deta langsung cemberut "oke, nanti aku juga sempatin kesana deh tiap libur semester" ucapnya tertawa "tapi siapa yang jamin kamu disana gak main belakang sama aku, huh?" Tanyanya dengan mata menyelidik.

Yasha menaikkan alisnya "Yaaa! Dengarkan aku ya cenggeng. Aku gak akan selingkuh. Kamu percaya aku, aku juga percaya kamu" ucapnya memegang kedua pundak Deta, meyakinkannya.

Deta mengangguk "Yaudah hati-hati dijalannya" ucapnya melambaikan tangan pada Yasha

"hati-hati kakak-kakak Youtubers semoga selamat sampai tujuan" sahut yang lainnya.

Minggu, 28 September 2014

Brother Zone

"Nes kamu jadi sie acara buat ospek univ" teriak Vina saat diparkiran setelah memarkirkan motornya.

"Ah gila pasti sibuk banget, kerja mati-matian. Lah kamu apaan?" tanya balik Nessa cemberut.
"Sie konsumsi" ujar Vina cengigisan.
"Enak banget dah, kerjanya nyante abis" sahut Nessa.
"Rejeki orang cantik, lagian kan gak ada kuliah sih. Acaranya juga baru bulan september pas krsan, jadi no problem dear haha" ucap Vina merangkul tangan merajuk kepada Nessa agar tak marah padanya.

"Iya enak kamu ngomong" ucap ketus Nessa.

"Eh tapi btw denger-denger uas kita di majuin tanggal 16juni" celetuk Vina menunjukkan WA grup kelas kepada Nessa.

"Serius? Pantes aja itu dosen-dosen ngasih tugas banyak banget, ngebut kuliah sampai full" gerutu Nessa yang bertambah kesal.

**** 

Uas hari terakhir selama 5hari ini membuat Nessa harus belajar lebih keras dan sering tidur larut malam. Alhasil hari ini Nessa terlambat bangun, dia harus berjalan cepat untuk menaiki tangga karena ruang ujian terdapat dilantai 3. 

BRUUUUK!! 

Nessa bertabrakan dengan seseorang karena takut terlambat. 

"Maaf kak" ucap orang yang menabraknya tadi. Nessa melihat seorang laki-laki didepannya sedang membereskan buku dan tasnya. 

"Saya yang minta maaf" ucap Nessa sambil melihat jam ditangannya. Terlambat. Laki-laki itu memberikan tas Nessa "makasih ya, maaf buru-buru mau ujian" pamit Nessa
"Sama-sama" ucap laki-laki itu.

Nessa berjalan cukup cepat, jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. "Gara-gara tadi bertemu laki-laki itu?" tanyanya dalam hati. Laki-laki yang ditemuinya adalah sosok tinggi, putih kekuningan, dengan paras tampan, kriteria yang pas.

**** 

Pra Ospek Universitas... 
Nessa dan Vina terlambat datang, sebab Nessa harus menjemput Vina terlebih dahulu. Mereka berdua berjalan melewati koridor untuk menuju aula universitas. Disana mereka melihat banyak sekali mahasiswa baru yang memakai celana hitam dan baju putih dan terdapat juga mahasiswa yang lain. 

Istirahat, sholat dan makan untuk para mahasiswa baru dan panitia sedang berlangsung. Tak halnya dengan Nessa dan Vina yang tak suka makanan box yang dipesan kampus. Mereka memilih untuk makan di kantin dan bergegas makan. Serta segera menuju aula yang cukup jauh dari kantin. 

"Kak Nessa" goda segurumbulan laki-laki yang terduduk-duduk didepan ruang komputer.

Nessa dan Vina langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Tapi yang ia lihat hanya segurumbulan laki-laki yang sibuk dengan dirinya masing-masing. Tapi ia pernah mengalami ini sebelumnya hampir setiap hari dengan melihat segurumbulan laki-laki itu juga. 

"Horor banget sih ini kampus" sindir Vina 
"Iya kali banyak SETANNYA" teriak Nessa seakan membuat para laki-laki itu tersinggung. Mereka melanjutkan untuk menuju aula.

**** 

Malam Pensi Penutupan Ospek Universitas...

"Shit!" Umpat Nessa di dalam kamarnya.

Begitu banyak notifications di telepon genggamnya, dia tertidur kecapekan karena harus mengurus Jadwal UKM yang dia geluti sebagai sekretaris. Dia langsung berlari ke kamar mandi mencuci wajahnya, memakai bedak dan lipglos. Dia sudah tak peduli dengan baju yang dia pakai dan langsung bergegas pergi ke kampusnya.

"Bajunya yang dipake itu mulu kak" suara laki-laki itu menghentikan langkah Nessa saat sedang berjalan di koridor.

"Maksud kamu apa, huh?" Tanya Nessa membalikkan badan. Semuanya terdiam, tak ada yang menjawab. 

"Oh aku ingat kalian siapa? Kalian yang biasanya manggil namaku terus sok cuek itu kan?" ucap ketus Nessa menyelidik satu persatu wajah mereka. Namun tak ada yang dikenalnya.

Satu laki-laki maju sambil menyilangkan tangannya "Iya bener kak. Kenapa emang?" Tanyanya yang membuat Nessa melangkah mundur pelan.

"Yaaa! Jangan goda dia!" Teriak seorang laki-laki dari gerumbulan itu maju kearah temannya tadi.

"Maksud kalian apa sih?" Tanya Nessa kebinggungan "Ah! aku inget kamu, sepertinya kita pernah bertemu!" ucapnya.

Laki-laki yang pertama maju langsung merangkul bahu laki-laki yang disampingnya "Ini teman kita, dia mau kenalan sama kakak, boleh gak?" Tanyanya dengan senyum smirk nya.

Laki-laki yang dirangkul hanya tersenyum tak enak pada Nessa dan menatap sinis temannya itu.

"Gak usah gengsi dong bro! Kaka inget gak? dia ini demi ketemu kakak rela masuk UKM Karya Tulis, terus dia juga adik kelas kakak pas SMA, terus inget gak pas kakak tabrakan sama dia pas kakak mau ujian, sebenernya dia sengaja dan pengen kenalan sama kakak, eh kakaknya buru-buru. Dia juga sering memperhatikan kakak tanpa disadari" jelas salah satu temannya ikut maju ke depan.

"Oya? Kamu dari SMA Al Islam? Tapi kok aku gak tau ya? Waw sampe segitunya" tanya Nessa speechless kemudian terkekeh.

"Ferdie" ucap laki-laki mengulurkan tangannya terlebih dahulu.
"Nessa" sahut Nessa menjabat tangan Ferdie.

"Boleh minta pin bb atau nomernya kak?" Tanya Ferdie meringis
"I feel you know my phone number and my pin bb" goda Nessa tersenyum menebak.
 
"Bener banget kak, dia basa-basi doang" celetuk salah satu temannya 
"Apaan sih lo? Malu-maluin" ucap Ferdie 
"Yaudah duluan ya, panitia ospek soalnya" 

-

Nessa mendaratkan kakinya di Backstage, dia sudah capek berlari karena harus menghindar dari omelan ketua panitia. Untung Vina bisa menghandle tugasnya, jadi masalah tak begitu banyak. Dia duduk dan meraih botol minuman disamping tas Vina kemudian meminumnya.

"Wooooy" teriak laki-laki itu mengagetkannya dan membuatnya tersedak "maaf maaf dek" ucapnya 

"Kak Deli ihhhhh" teriak Nessa.

"Salah sendiri minuman orang main disaut-saut aja tanpa permisi" celetuk Deli. Deli kakak tingkat kuliah Nessa, sama-sama sie acara, kakak kelas waktu SMA tapi tak saling kenal baru ketemu dan akrab di BEM. Dunia sempit sekali.

"Punya kakak? Ya maaf deh" ucap Nessa lalu melanjutkan minumnya sampai habis "udah habis nih kak, ikhlas kan?" Tanya Nessa lalu meringis

"Untung gue sayang sama lo. Apapun buat lo ikhlas deh gue" ucap asal Deli. Nessa sudah terbiasa dipanggil sayang-sayangan dengan Deli sama halnya dengan Vina. Nessa tersenyum tersenyum mengedipkan matanya berkali-kali.

"Nes, kamu dipanggil bu Anisa mau ngomongin soal UKM di B201 segera ya" ucap Syifa terengah-engah, seperti habis lari maraton. Dia tau Syifa ada wakil ketua panitia Ospek, pasti lebih sibuk.

"Elaaah kak Syifa, bisa nanti aja gak kak? Baru nyampe deh ini seriusan" rayu Nessa pada Syifa. Lalu Syifa memberi isyarat kepada Deli untuk memberi tahu. Nessa langsung kikuk saat mendapat tatapan tajam Deli "Ah oke! Oke!" Sahut Nessa

"Kalian berdua pacaran ya? Kok kak Deli mau aja disuruh kak Syifa?" Seru Nessa terkekeh kemudian berlari kabur. Keduanya hanya menggelengkan kepalanya.

-

Ruang B201... 
Nessa mengkonsultasikan karya tulis ukmnya kepada bu Anisa yang telah ia taruh di meja beliau seminggu yang lalu, dan baru kali ini di acc dan dia dipanggil. 

"Terimakasih bu" ucap Nessa kemudian bersalaman dengan bu Anisa.

Pintu terbuka, Nessa terkaget melihat sosok dihadapannya. Laki-laki dimasa lalunya, dia yang mencintainya sepenuh hati tapi tak ada balasan darinya. Mata mereka saling bertemu, mata yang tak pernah bertatap muka secara langsung 

"Firza" sapa bu Anisa. Dosen muda cantik yang dapat membuat semua mahasiswa jatuh cinta, jika tak memiliki suami.

"Iya bu?" Sahut Firza kemudian mendekat kearah bu Anisa.

"Oya nanti anak ukm Palang Merah jadi ngadain penelitian kan bareng sama anak ukm Karya Tulis Ilmiah, kan?" Tanya Bu Anisa.
"Jadi bu, bagaimana kelanjutannya?" Tanya balik Firza lalu menatap kearah Nessa.

Nessa mematung melihat percakapan bu Anisa dan Firza. "1, 2, 3 kabuuur" serunya dalam hati.

"Nessa!" ucap bu Annisa mengagetkan rencana Nessa yang sudah mundur jauh darinya.

"I...iya bu. Ada apa?" Tanya Nessa dengan gugup.

"Ini kenalin ya nama Firza ya Non" ucap bu Anisa dengan sapaan khasnya pada mahasiswi "terus kenalin Nessa anak UKM karya tulis yang akan bekerja sama dengan anak Palang Merah" jelas bu Anissa. Keduanya mengangguk paham.

"Iya bu. Terimakasih" ucap Firza tersenyum.
"Ngh. Saya pamit dulu ya bu. Ada acara ospek soalnya. Assalamualaikum" pamit Nessa kemudian segera berjalan secepat mungkin. 

"Sa!" teriak seseorang. Itu Firza.

Dia lantas menoleh kebelakang "i...iya bang Fir..za ada apa ya?" jawabnya gugup.

"Nomermu masih aktif kan?" Tanya Firza
"Masih" sahut Nessa berusaha tenang.
"Singkat amat, kita baru pertama ketemu loh dari SMA kamu ngehindar mulu ketemu aku, akhirnya sekarang dipertemukan" ucap Firza tersenyum.

Nessa hanya bisa menyengir kuda "Maaf ya bang. Aku permisi dulu, panitia ospek soalnya" pamitnya lalu berjalan secepat yang dia bisa.

"Kak Deli, Vina bagi minum. Haus! Capek!" teriak Nessa ngos-ngosan saat sampai di backstage.

"Apasih Nes? Kamu ambil tuh di dus" sahut Vina sibuk dengan HT yang digenggamnya.

"Ada apa dek? Kok ngos-ngosan gitu?" Tanya Deli mendekat memberikan botol minuman baru. Nessa langsung meminumnya sampai habis dan tanpa jeda.

"Habis lari dari masa lalu" celetuk Nessa lalu terkekeh.
"Lah dia dagel malah" sahut Firza.
"Serius kak. Tadi itu ya aku ketemu sama bang Firza alumni SMA kita, tau gak?" Ucap Nessa lalu duduk sembarangan dibawah. Deli duduk mengikutinya penasaran.

"Lah dia emang kuliah disini?  hubungannya apa? Kalian kok bisa kenal? Wah gitu gak cerita sekarang" Tanya Deli dengan tatapan yang dalam.

"Ih kan dia masa lalu makanya gak cerita. Gak usah maksa ya plis. Lagi capek dan malas" ucap Nessa meluruskan kakinya.

"Oh gitu! Oke traktiran gue abis sidang proposal batal! Cuma Vina yang gue traktir" ancam Deli melirik sinis kearah Nessa.

"Oh tidaaaaaak" seru Nessa "Oke! Aku cerita. Jadi aku kenalan sama dia di facebook, terus saling curhat begitulah setelah punya nomer masing-masing, terus dia nembak aku? Lah padahal aku gak pernah ketemu dia, kan aneh" jelasnya

"Hoaaaaams ngantuk denger dongeng" celetuk Deli menguap.
"Kak Deliiiiiiii!" teriak Nessa dengan manjanya. Hanya Deli yang tau dan hafal bagaimana caranya berfikir.

**** 

Pergantian semester ganjil ke semester genap pun berlangsung. Hubungan Nessa dengan Ferdie ataupun Nessa dengan Firza masih terjalin. Bukan maksud Nessa mempermainkan kedua orang itu, dia hanya menganggap semuanya itu teman. Kadang Firza juga mengajaknya keluar tapi dia sangat malas, apalagi dengan suruhan Deli yang tak membolehkannya keluar dengan Firza. Karena menurutnya Deli adalah kakaknya di kampus, dia hanya menuruti yang terbaik dari Deli. Itu lah sebabnya dia tak pernah bercerita tentang Ferdie ke Deli, takut dilarang juga olehnya. Dia kadang harus jalan secara sembunyi-bunyi dengan Ferdie. 

"Nes, kamu sama kak Deli punya hubungan apa sih? Kayaknya deket banget" tanya Ferdie saat keluar dengan Nessa di sebuah Cafe.

"Hm apa ya? Pacar!" goda Nessa lalu tertawa terbahak-bahak. Wajah Ferdie langsung down mendengar itu "eh gak lah, mukanya jangan sedih gitu dong. Kak Deli itu segalanya buat aku sama Vina dia itu bisa jadi orangtua, kakak, pacar, dan sahabat bagi kita berdua. Makanya dia suka ngelarang-ngelarang aku sama Vina kalau lagi deket sama cowok. Dan imbasnya dia gak punya-punya pacar sampai sekarang. Apalagi kita berdua yang nempel mulu sama dia, jadi cewek yang mau deket atau dideketin dia cemburu semua. Langsung bangga deh kita kalau tuh cewek-cewek pada kabur" jelasnya dengan gembira.

"Oh gitu, syukur deh kalau gak ada apa-apa" sahut Ferdie tersenyum kearah Nessa.

"Tapi si Vina udah punya pacar sih anak ukm pencinta alam temennya kak Deli. Makanya dia restuin, lah aku bagaimana? Gak ada stok yang ganteng cuma kak Deli sama pacarnya Vina" ucap Nessa.

"Alhamdulillah aku ganteng, jadi masih ada harapan" sahut Ferdie kemudian terkekeh.

"Wih pede amat masnya, modus lah ya" celetuk Nessa tersenyum.
"Ya gpp lah sekali-kali. Tapi kamu gak boleh gitu juga bilang standar, awas kecantol kamu" sahut Ferdie mengangkat alisnya satu.

"Eh dulu pernah kacantol sama temen sekelasnya dia, tapi diomelin abis-abisan gara-gara doi playboy sering ke club, padahal udah tukeran pin bb" jelas Nessa lalu terkekeh. Ferdie hanya membalas dengan mulut berbentuk 'o'.

Nessa langsung mengerucutkan bibirnya "gitu doang? Jeolous ya, hm?" Tanya Nessa menatap tajam Ferdie.

"Apasih Nessa sayang" goda Ferdie sambil mencubit pipinya.
"Ih manggil sayang, emang situ siapa?" 
"Calon pacar kamu, terus jadi calon kekasih halalmu, kemudian calon ayah dari anak-anak kita" ucap Ferdie kemudian tertawa. Nessa terdiam mendengar perkataan itu dari mulut Ferdie. Lalu tiba-tiba tersenyum dan pipinya memerah malu.

**** 

Kantin Pusat Universitas... 

"Kak Deli" teriak Nessa kemudian duduk didepannya.
"Apasih dek?" Tanya Deli ketus masih sibuk melihat kearah laptop.
"Sibuk kak? Mau KKN ya? Ya ditinggal deh sebulan" sahut Nessa kecewa dengan mengembungkan mukanya.

Deli yang melihat wajah Nessa rasanya ingin tertawa tapi ia tahan "Ah Dek, mukamu jangan gitu dong jadi berat banget KKN. Nanti deh inshaAllah kalau ada sinyal pasti dihubungi" ucapnya mengusap lembut kepala Nessa yang tertutup kerudung. Nessa tersenyum kearah Deli.

"Janji ya kak? Janji?" Tanya Nessa gembira sambil memegang erat tangan Deli dan mengoyangkannya.

"Hei? Maaf menganggu kalian kah?" Tanya seseorang mengagetkan keduanya.

"Bang Firza? Firza?" ucap keduanya bersamaan lalu melepaskan genggaman tangannya.

"Deli?" Tanya Firza kaget melihat Deli sedang berdua dengan Nessa.

"Iya bro, apa kabar? KKN dimana?" Tanya balik Deli dengan santainya.
"Probolinggo" sahut Firza pendek.

"Kalian berdua disini ngapain? Kalian pacaran?" tanya Firza lagi penuh tanya dan penasaran lalu menatap gantian Deli dan Nessa.

Nessa menganggukkan kepalanya tersenyum "betul sekali bang" celetuk Nessa menahan tawa. Deli reflek mengambil bulpoin didekatnya dan memukul pelan kepala Nessa.

"Ih kak Deli jahat amat ih, sakit tau. Iya iya kita gak ada apa-apa kok" sahut Nessa meringis sambil mengusap kepalanya. Deli merasa bersalah dan ikut mengusap lembut kepalanya.

Pandangan mata Firza tak lepas dari mereka berdua, seperti melihat orang pacaran batinnya "Boleh pinjem Nessa sebentar?" tanya Firza meminta izin.

"Silahkan. Gak ada hak buat ngelarang kan?" ucap Deli tersenyum tetap stay cool. Nessa menatapnya tajam seakan menandakan 'kenapa memperbolehkannya?'. Lalu Deli tertawa melihat ekspresi Nessa yang pergi menjauh bersama Firza. Hatinya juga tak ikhlas.

**** 

"Kak Deli, harusnya kemarin jangan dibolehin ngomong sama dia, aku sengaja gak balesin apapun dari dia sudah seminggu" seru Nessa yang menyelonong masuk ke kelas Deli dan duduk disebelahnya, tanpa memperdulikan lirikan teman-teman Deli yang berada di kelas.

"Lo gak bilang" ucap malas Deli melirik gadis disampingnya ini.
"Alhasil sekarang dia maksa ngajak keluar kan, aku mau bohong apalagi ke dia?" Tanya Nessa dengan wajah putus asa.
"Ya apa dek, dateng-dateng ke kelas orang cuma mau ngomong itu doang" sahut ketus Deli lalu membuka laptopnya.

"Abisnya si Vina nyuruh mau aja, yaudah lari kesini aja" ucap Nessa lalu menyengir ikut melihat laptop yang dibuka Deli.

"Gak ada kuliah?" Tanya Deli menatap sinis gadis disampingnya ini.
"Ada, tapi lagi males. Soalnya dia katanya mau nyusul ke kelas. Nanti bilang aja lagi kencan sama kak Deli, kali aja dia gak jadi ngajak keluar" sahut Nessa lalu terkekeh.

"Gak kasihan sama dia? Yaudah temuin saja sebentar. Nanti buru-buru ngajak pulang. Nanti gue telpon lo, pura-pura jadi bapak lo dah" ucap Deli yang masih sibuk dengan laptopnya.

"Kak Deli ngapain sih? Aku kok dicuekin mulu? Cemburu ya aku keluar sama bang Firza, hm?" Tanya Nessa menggoda Deli menahan tawanya.

Deli mendengar itu langsung hilang fokus mengetik "sana balik kelas!" Serunya ketus "Please ya gue mau sidang, jangan berisik, nanti gue cium baru tau rasa lo!" Lanjutnya menatap tajam Nessa.

Nessa langsung membelalakkan matanya "Yaaa! Emang berani di depan umum, huh?" Tanya Nessa menantang Deli yang menatapnya tajam dan mendekatkan wajahnya kearah Deli.

Deli mendekatkan wajahnya dengan senyum smirknya dia memegang leher Nessa. Nessa menelan ludahnya dan memundurkan wajahnya, dia sebenarnya juga takut apa Deli benar-benar akan melakukannya di depan umum.

Deli langsung memeluk Nessa "Bodoh banget sih, Dek" bisik Deli ditelingga Nessa lalu terkekeh "gue gak akan ngerusak lo! Tapi awas aja ya lo kalau punya pacar terus ciuman, gue cincang lo" lanjutnya lalu melepaskan pelukannya pada Nessa.

Nessa hanya menatap syok kearah Deli lalu menganggukkan kepalanya. "Yaaa! Bodoh! Hampir aja aku spot jantung!" Umpatnya pada Deli.

"Salah sendiri nantang, maaf ya" ucap Deli lalu mengusap lembut kepala Nessa.

"Woy! Jangan pacaran di kelas, bikin baper aja lo!" Teriak salah satu teman Deli. Keduanya hanya melirik sinis teman Deli, lalu tertawa bersamaan.

**** 

Deli dan beberapa teman seangkatannya sudah berangkat untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata di beberapa daerah. Kegiatan ini juga bisa menjadi ajang yang jomblo untuk mendapatkan pacar. Nessa sudah mengomel sejak mengantar Deli saat berangkat, bahkan memeluknya sangat erat takut benar-benar kehilangan. Dia melihat teman satu kelompok perempuan Deli yang 90% perempuan berjilbab dan cantik, tipe Deli sekali.

Vina memang tak sedekat intens lagi dengan Deli, takut membuat pacarnya cemburu. Tak halnya dengan Nessa yang seenaknya sendiri menempeli Deli tanpa memikirkan perasaan cewek-cewek yang naksir dengan Deli ataupun dengan Firza dan Ferdie. Ferdie cukup pengertian terhadapnya, dia sama sekali tak menuntut quality time saat sedang bersama Deli. Tak halnya dengan Firza yang marah-marah gak jelas, cuma gara-gara Nessa lebih memperhatikan Deli dibanding dirinya.

*****

Nessa terus menatap handphone nya namun tak ada sama sekali pesan atau chat dari sosial media yang lain.

To: Kak Deli 
Kak? Sudah 2minggu kakak gak ngirim kabar loh :( Kakak sibuk banget ya pasti? Atau kakak lagi kecantol sama temen-temen kelompok kakak?:( Ciyeee kak, aku cemburu loh:") Nanti perhatian kakak terbagi dua. Sepi banget kak gak ada kamu, Vina ajah masih bisa telpon si Dio, masa kakak sms aja gabisa? Sedih ya:( Rasanya kayak kehilangan kakak, pacar dan sahabat terbaik huhu kangeeen:'*

Akhirnya Nessa memberanikan diri mengirim pesan kepada Deli terlebih dahulu untuk menahan rasa rindunya. Dia selalu melihat handphonenya, sampai dirinya tertidur mengantuk di kasurnya menunggu balasan Deli.

Drrrrrt.

From: Kak Deli
Halo adik gue tersayang:* Maaf ya baru sempat bales sms lo:( Disini kalau malem gak ada sinyal, dan malem waktunya yang senggang. Ini aja bisa bales subuh-subuh. Pasti masih molor kan lo? Ciyeee cemburu, iya disini cewek-ceweknya cantik, berhijab, santun banget lah. Tapi mereka kaku banget. Gak kayak lo pakai jilbab tingkahnya gak karuan haha tenang dek;)) gak bakal kecantol palingan juga ntar abis wisuda langsung dilamar;ppp I miss you too sayang:* jangan sedih-sedih ya sudah dibales kan? Nanti kalau ada senggang, ditelpon deh pasti. Wait yaaa:*

To: Kak Deli
Weee menghina sudah bangun aku kok:p gak sempet apa sudah lupa sama aku, hm?:( Pasti sudah ada yang digebet kan?:( ikut bahagia deh:" ditunggu kak telfonyaaaaaa:* amisyuuuu so much much more:'*

10 menit
20 menit
30 menit

Pesan Nessa gak dibalas oleh Deli dia membanting handphonenya di kasur. Lalu berangkat ke kamar mandi untuk melaksanakan sholat shubuh dan melanjutkan tidur.

**** 

2minggu kemudian... 

"Nes, kita keluar yuk" ajak Ferdie berusaha merayu Nessa yang sedang sebal dengan Deli karena hanya menelponnya hanya 5 menit semalam.

"Kemana Fer?" Tanya Nessa dengan nada malas.
"Kemana yang kamu mau" jawab Ferdie tersenyum. Nessa memandangnya dengan tatapan malas. Dia langsung berfikir "Aku tau tempat yang bagus" lanjutnya sambil menarik pergelangan tangan Nessa.

Keduanya sampai di sebuah taman yang baru dibuat oleh pemerintah. Tak banyak orang yang tau tentang taman ini, mungkin hanya beberapa orang yang lewat dan tertarik mampir melihat bunga sakura buatan yang biasa dilihat di jepang.

"Disini enak, mata serasa indah banget liat bunga sama tumbuhan hijau" celetuk Nessa tersenyum memandangi sekeliling. Ferdie tersenyum akhirnya bisa membuat gadis yang dicintainya tersenyum.

"Eh nonton yuk, kayaknya ada film baru dibioskop horor bagus" celetuk Nessa.
"Emang kamu berani?" goda Ferdie.
"Ih ngehina, sorry ya gini-gini gak takut. Doyan liat film horor. Nanti aku yang bayarin, sekali-kali kan aku yang ngajak kamu" sahut Nessa tak terima.

"Beneran gak takut?" Tanya Ferdie lagi menggoda Nessa. Nessa melirik sinis kearahnya "Iya, iya bawel. Percaya deh kalau kesayangan aku orangnya berani" lanjutnya yang membuat pipi Nessa memerah. Ferdie tersenyum melihat pipi Nessa memerah dan berdiri memegang pergelangan tangannya.

Saat di Bioskop keduanya memilih baris ketiga dari atas, walaupun tadi harus antri panjang karena film 'Conjuring' menjadi film terlaris diseluruh dunia dan sedang diperbincangkan hangat karena seramnya.

"Ah gak nakutin gini sih, tapi rame banget" bisik Ferdie menggoda Nessa yang sudah was-was karena cerita teman-temannya.

Film sudah berjalan setengah, Nessa sudah berteriak 3x karena kaget dan menutupi matanya dengan kerudungnya. 

"Kamu kedinginan? Ini pake jaketku aja" ucap Ferdie melihat gadis disampingnya memeluk tangannya dan langsung menutupi tubuhnya dengan jaket miliknya.

Nessa tersenyum "Thanks, tapi kamu gak kedinginan?" Tanyanya
"Aku laki lah, pasti kuat, pakai aja lumayan nanti kalau ada adegan serem bisa buat tutup mata" goda Ferdie lalu terkekeh. Nessa langsung mengerucutkan bibirnya.

Adegan yang menakutkan sudah mulai, Nessa mulai bersandar dikursi dan mulai menyikap jaket Ferdie kearah wajahnya. Suara-suara yang yang dihasilkan benar-benar bagus, membuat jantung terasa berhenti berdetak. Ferdie masih tenang, dia melihat kearah Nessa dan sesekali tersenyum geli melihat ekspresi ketakutan Nessa yang kadang membuatnya harus menahan tawa. Terkadang dia harus menahan Nessa yang tiba-tiba menarik bajunya lalu minta maaf. 

"Katanya gak takut Sa?" Tanya Ferdie menahan senyumnya. Nessa hanya bergumam dan melirik sinis kearah Ferdie.

"Ih matanya merem, orang gak ada apa-apa" celetuk Ferdie menahan tawanya.
"Beneran? Nanti tiba-tiba muncul lagi" tanya Nessa memberanikan membuka matanya, namun dia terkaget dan langsung memeluk lengan Ferdie dan bersembunyi ketika melihat hantunya berada jelas dilayar. Ferdie tertawa geli. 

Nessa melirik pelan kearah layar dan tampak tenang, tapi dia tak tersadar tangannya masih merangkul lengan Ferdie. Ferdie bersiasat dia ingin tampak kedinginan agar Nessa peka terhadapnya. 

"Kamu kedinginan Fer?" Tanya Nessa melihat Ferdie berkali-kali menaik turunkan kakinya dengan sengaja.

Ferdie tersenyum "Sedikit" ucapnya "Gak usah, kamu yang pakai aja" lanjutnya saat melihat Nessa membuka jaketnya.

Nessa menutupi tubuh Ferdie dengan jaket yang dipakainya tadi "Aku udah hangatan kok, lagian itu kan punya kamu" ucap Nessa langsung menatap kembali ke layar bioskop.

"Masih ada 30 menit selesai loh, yakin gak mau pakai juga?" Tawar Ferdie. Nessa hanya menggeleng pelan "Kita pakai berdua" ucapnya lalu menyibak jaketnya yang berukuran XL milik kakaknya yang ia ambil asal, saat akan keluar Nessa "Jaketnya besar kan? Cukup lah buat badan kita yang kecil" lanjutnya mengusap-ngusap kepalanya.

"Ya asal kamu gak aneh-aneh aja" celetuk Nessa. Ferdie terkekeh membuat penonton disebelahnya menoleh kearah mereka.

Film ber genre horror itupun selesai. Lampu bioskop perlahan menyala. Kerumunan orang berbondong-berbondong menuju pintu keluar.

Suara ringtone handphone Nessa berdering.

Kak Deli is calling you home...

"Halo ada apa kak?"

"......"

"Loh pulang sekarang emang? Sudah sampai mana?"

"......"

"Oke 30 menit lagi aku ke kampus"

"......"

"I love you. Assalamualaikum"

Nessa menutup teleponnya dengan senyum mengembang. Seseorang akhirnya pulang dari penjelajahannya.

"Siapa? Kak Deli? Lagi?" tanya Ferdie dengan nada ketus.

Nessa menahan tawanya melihat laki-laki disampingnya ini cemburu "Boleh aku dianterin ke kampus? Mau nyusul kak Deli. Aku nanti mau ngenalin kamu sekalian" ajaknya sambil menyengir kuda.

Ferdie membelalakkan matanya "Hah? Ngenalin? Gak siap. Lebih takut ketemu kak Deli kebanding sama orangtuamu" sahutnya. Nessa langsung memasang tampang manisnya dan mengedipkan matanya mirip seperti tokoh kucing  garfield saat meminta makan. "Iya deh" jawabnya pasrah.

-

Parkiran Universitas....

Bus pengantar rombongan sudah menurunkan beberapa mahasiswa dilapangan. Harapan ia pertama tak bertemu dengan Firza dan langsung bertemu Deli. Matanya terus mencari keberadaan Deli. 

"Kak Deli" teriaknya sambil berlari dan memeluk erat Deli.
"Woy main peluk-peluk aja bukan mukhrim" celetuk teman laki-laki yang baru turun dari Bus.

"Tuh dek disindir, lepasin ya" sahut Deli melepas pelukannya terlebih dahulu. Lalu matanya tak diam melihat sosok dibelakang Nessa dan langsung mengalihkan pandangan kearah Nessa. 

"Oya kak kenalin ini Ferdie" ucap Nessa sedikit ragu menarik tangan Ferdie.

Ferdie menelan ludahnya berkali-kali menatap Deli "Feer...die kak" ucapnya terbata.

"Santai" ucap Deli sambil menepuk pundak Ferdie "Sepertinya gue pernah lihat lo ya? Tapi dimana ya?" lanjutnya tersenyum ramah.

"Iya kak, dulu satu SMA" sahut Ferdie.
"Lo jurusan apa Fer? Seangkatan sama Nessa?" Tanya Deli
"Multimedia dan Broadcasting, semester 4 kak" jawab Ferdie sedikit ragu.
"What? Kita perlu bicara berdua Nessa!" ucap Deli langsung menarik tangan Nessa, menjauh dari Ferdie.

"Apa sih kak?" tanya Nessa kesal 
"Lo itu apa-apaan sih dek?" Tanya balik Deli sedikit sarkatis.

Drrrrrt.
Handphone Nessa bergetar.

From: Ferdie
Aku puluang duluan ya:)

"Tuh kan kak, dia tersinggung" ucap Nessa sambil menunjukkan sms Ferdie.
"Tapi gue gak suka kalau lo sama dia" sahut Deli menatap tajam Nessa.
"Kapan kakak pernah nyetujuin aku punya pacar?" Tanya Nessa sedikit meninggikan suaranya.
"Tapi kan gak harus sama adek tingkat" jawab Deli dengan nada lebih pelan dari sebelumnya.

"Iya aku tau kak, tapi dia seumuran aku kok malah lebih tua dia, cuma dia aja yang telat sekolahnya" sahut Nessa masih dengan nada tingginya.
"Gakmau dengar alasan apapun!" tegas Deli. Nessa terdiam dan membalikkan tubuhnya. Dia kehabisan kata-kata untuk membela diri, bahkan dia ingin menangis tapi ia tahan.

"Dek maaf ya" ucap Deli sambil memegang pundak Nessa dari belakang. Nessa masih terdiam. "Dek jangan ngambek dong, ini udah malem loh nanti kesambet" lanjutnya menggoda gadis di depannya ini.

"Aaaaah kak Deli nakut-nakutin, padahal tadi abis nonton Conjuring" teriak Nessa keceplosan dan langsung menunduk.

"Oh gitu sekarang, mentang-mentang gue gak ada, film baru liatnya sama yang lain" sahut Deli menaikkan alisnya. Nessa membalas dengan sengiran di wajahnya.

"Liat sama Ferdie?" Tanya Deli. Nessa menganggukkan kepalanya ragu.

"Jadi dibolehin ya kak? Ayolah please kak. Nanti aku traktir kakak apa aja deh. Kali ini jangan dilarang-larang lagi ya. Aku udah jauhin bang Firza sesuai apa yang di mau kamu kan kak" Rayu Nessa memeluk lengan Deli lalu menggoyangkannya.

"Iya deh iya, tapi awas macem-macem!" Ancam Deli lalu tersenyum.
"Iya beres. Ayo pulang kak. Naik taksi. Sini  aku bantu bawa barang-barangnya" sahut Nessa tersenyum girang dan mengangkat barang-barang Deli yang ringan.

**** 

Skripsi Deli hari ini pun dimulai, Nessa dan Vina tak henti-hentinya berdoa untuk kelancaran sidang kakak tercintanya itu. Akhirnya setelah hampir 2 jam Deli pun keluar dengan wajah kusam. 

"Loh? Loh? Kak? Kenapa? Ada yang salah kak?" tanya Vina khawatir.
"Wajah kakak kok gitu? Kabar buruk ya kak?" sahut Nessa.

Deli terdiam masih dengan wajah tak enak, kemudian tertawa terbahak-bahak "Astaga muka kalian itu lucu sekali, bikin ngakak. Tenang ya adik-adikku cantik, lulus kok alhamdulillah sukses" ucapnya. Vina dan Nessa langsung memeluk Deli "Alhamdulillah rejeki anak soleh dipeluk 2 cewek" ucapnya sambil mengusap kepala kedua perempuan yang dianggap adiknya itu.

"Kak Deli ih" gerutu keduanya langsung melepaskan pelukannya dengan kasar.
"Oke abis gini kita makan-makan. Aku traktir!" Ucap Deli bahagia atas kemenangan setelah melaksanakan sidang skripsi.
"Yeaaaay!" Seru kedua perempuan itu.

Di Food Court Mall terdekat dari kampus, ketiganya pergi untuk makan untuk merayakan kelulusan Deli. Ketiganya duduk melingkar sambil menunggu pesanan.

"Dio gimana dek? Denger-denger dia langsung dibilang lulus tanpa ada pertanyaan ya?" tanya Deli.
"Iya kak, seminggu yang lalu aku nungguin dia was-was" jawab Vina.
"Gak sia-sia kan Dek, gue ngenalin lo sama dia, pinter, ganteng, pasti kumlot deh dia" goda Deli.
"Apaan nih? Nyindir?" celetuk Nessa yang langsung cemberut.

Deli langsung tertawa mendengar ucapan Nessa "Gitu aja ngambek, emang gue nyindir lo ya?" Tanya Deli. Nessa hanya melirik sinis kearahnya "Oh ya anak PA mau ke semeru seminggu lagi buat ngerayain pelepasan anak semester8, kalian boleh ikut" jelasnya.

"Asik" teriak girang Vina 
"Eh tapi kak, aku gak kuat dingin loh. Waktu ke bromo aja sampe ketiduran saking dinginnya, tau sendiri kalau nonton juga gimana" sahut Nessa langsung cemberut kembali.

"Lebay deh mulai, slow lah ada gue juga. Pasti gue jagain lo. Tenang aja" sahut Deli sambil mengusap lembut kepala Nessa.

"Aku izinin ya Vina? Kak Deli? Bagaiamana?" Tanya Nessa
"Wah siap-siap ketemu camer nih" celetuk Deli lalu terkekeh.

Vina langsung membulatkan matanya "What's kak? Curiga nih. Tuh kan punya firasat buruk sama hubungan kalian berdua, kayak ngelanggar janji" ujar Vina mendelik bergantian kearah keduanya.

Deli langsung tertawa "Bercanda kali" sahutnya kembali tertawa.

***** 

Pendakian Gunung Semeru. Tepat 10 orang 4 perempuan dan 6 laki-laki, yang terdiri dari beberapa anak inti UKM Pecinta Alam hanya 8 orang, sisanya adalah orang luar, Nessa dan Vina. Semua anggota PA sudah tau mereka berdua, karena sering menempel kepada Deli.

"Kak Deli haus bat dah ini" gerutu Nessa yang dari tadi mengeluh.

"Capeeeeek kak. Istirahat dong" lanjut Nessa terus mengeluh.

Deli yang melihat tingkah Nessa hanya bisa bersabar dan memaklumi. Kejadian saat di Bromo pasti akan terulang dan ini lebih parah mengeluhnya, karena medan jalan yang mereka lewati lebih susah. Nessa memang lebih manja dari Vina, takk henti-hentinya dia mengajak untuk sekedar duduk lanjut perjalanan kemudian duduk. Tak halnya teman-teman Deli merasa eram terhadapnya.

"Kak Deli maafin Nessa ya kak, tau gitu aku gak ikut kan? Aku tunggu disini aja ya. Kakak jalan terus aja sama temen-temennya. Maaf kak ngerepotin mulu daritadi" bisik Nessa kepada Deli, merasa tak enak pada teman-temannya.

"Kalau ngomong ini coba dipikir kenapa sih, Dek? Mana tega ninggal lo sendirian disini? Kalau ada apa-apa bagaimana, huh? Yang izinin ke orangtua lo siapa?" Tanya Deli sedikit membentak dan membuat orang yang berjalan didepannya menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah mereka.

Nessa langsung tersentak dibentak oleh Deli "Lah ini orang banyak yang lewat, gak sendiri kok. Atau nanti aku turun aja kebawah" jawabnya lalu meringis, kakinya sudah tak kuat untuk berjalan lagi. Dia capek.

"Dek, dek, ayo berdiri gak!" Bentak Deli lagi menarik kasar tangan Nessa "nanti kala kesasar gimana? Katanya mau liat negeri diatas awan?" Tanyanya lagi dengan nada yang lebih lembut. Nessa langsung tersenyum mendegar 'Negeri diatas Awan'.

"Kak tapi gak enak sumpah, 2 hari sudah gak mandi, gak enak tidur" ucap Nessa lagi mulai mengeluh dan duduk dengan seenaknya di jalan.

"Ya sama kan? Jangan mengeluh mulu kek. Coba liat Vina dia ajah masih kuat" sahut Deli ikut berduduk jongkok didepan Nessa.

"Yaiyalah dia kuat, orang ada kak Dio. Dijagain pasti. Tau gitu sama bang Firza atau Ferdie diajak kek" sahut Nessa lagi.

Deli langsung menghela nafas panjang dan berdiri "Yaudah kamu aku tinggal" ucapnya lalu melengos pergi.

"Tungguuuuu kaaaak" teriak Nessa berlari kearah Deli dan memegang tangannya. Deli hanya tersenyum melihatnya.

***** 

Hari ini adalah hari penting untuk Deli dan teman-teman seangkatannya untuk merayakan kelulusan mereka dengan gelar yang akan bertambah dibelakang namanya. Hari Wisuda Universitas.

"Happy Graduation kak Deli" ucap Nessa dan Vina bersamaan. Saking bahagianya Nessa langsung memeluk Deli sangat erat, hingga lupa dia datang dengan Ferdie dan Deli yang tersadar akan Ferdie melepaskan pelukannya.

"Nih kak" ucap Nessa sambil memberikan sebuket bunga mawar merah yang telah dirangkai indah.

"Ciyeeee gak sadar tuh kalau ada Pacarnya disini" sindir Vina lalu terkekeh.

Nessa hanya meringis "Sudah biasa kok ya. Oya happy graduation ya kak Dio" sahut Nessa mengulurkan tangan pada Dio.
"Makasih ya Nes" sahut Dio menjabat tangan Nessa.

"Halah kamu juga ngasih bunga aja ke kak Dio. Oya kak Deli nanti kalau aku wisuda tahun depan request ya kasih bunga mawar merah yang lebih banyak dari ini sama kasih boneka wisuda yang super duper gede kayak di instagram itu" jelas Nessa dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang meminta hadiah ulangtahun kepada orang tuanya.

"Oy sadar oy tuh ada Ferdie, pacar kamu" sahut Vina menoyor kepala Nessa.

"Lo aja gak ngasih boneka, mau minta boneka. Lagian tanpa gue kasih juga pasti ada yang ngasih" sindir Deli sambil menyikut lengan Ferdie. Ferdie hanya tersenyum mengiyakan.

"Gak mau. Maunya di kasih dobel" gerutu Nessa mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan tangannya.

"Iya iya ah adekku yang bawel" ucap Deli sambil mengusap kepala Nessa "eh Nes, kayaknya pangeran kamu satu lagi minta dikasih bunga tuh" bisik Deli ke telinga Nessa.

"Siapa kak?" Tanya Vina dan Nessa bersamaan. Lalu menoleh kearah yang ditunjuk Deli dengan gerakan matanya.

"Ya Tuhan, tolong hilangkan aku saat ini" ucap Nessa dalam hati menatap takut kearah Ferdie. Jantungnya seakan berhenti berdetak, pikirannya kemana-mana, entah jawaban apa yang muncul nanti. Ferdie masih tetap tenang tak bereaksi.

"Happy graduation ya Del, Yo" ucap Firza sambil menjabat tangan Deli dan Dio.
"Thanks ya" ucap keduanya tersenyum ramah.

"Del boleh minta izin ngomong sama Nessa?" Tanya Firza meminta izin.

Nessa reflek langsung memegang tangan Deli. Jantungnya benar-benar terasa terhenti. Lehernya terasa tercekik, dia terus memegang tangan Deli sampai keringat dingin.

"Temuin aja ya dek, insyaallah Ferdie ngerti kok. Buktinya dia tetap stay cool begitu" bisik Deli sambil mengusap lembut tangan Nessa "iya, jangan lama-lama" ucap Deli pada Firza melepaskan genggaman tangan Nessa.

"Kamu cantik Sa pake baju begini" ucap Firza tersenyum. Nessa hanya tersenyum mendengar ucapannya.

"Kayaknya kamu berubah, kamu udah pacaran sama Deli?" Tanya Firza.
"Bukannya aku sudah menjelaskan ya? Kak Deli itu segalanya buat aku, bisa pacar, kakak dan ayah juga" jelas Nessa.

"Berarti gak pacaran kan?" Tanya Firza lagi. Nessa sudah malas menjelaskan jadi dia hanya menganggukkan kepalanya. Firza kemudian memegang tangan Nessa "aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucapnya.

Hati Ferdie begitu sakit, melihat dari kejauhan tangan seseorang yang dicintainya dipegang laki-laki lain.

"Tenang Fer, Nessa tau kok yang terbaik buat dirinya" ucap Deli yang setidaknya membuat hati Ferdie lebih tenang.

Nessa sudah binggung dengan pikirannya, hatinya tak tenang. Kenapa Firza lama sekali mengucapkannya. Walaupun dia tau apa yang akan diucapkannya.

"Ngomong apa?" Tanya Nessa memulai pembicaraan.
"Kamu mau gak jadi pacarku? Abis kamu wisuda tahun depan aku lamar kamu. Bagaimana?" Tanya balik Firza tersenyum dan mengenggam erat tangan Nessa.

Nessa mengutuk dirinya sendiri, jantungnya berdetak sangat cepat. "Bolehkah aku langsung lari saja dari sini?" Tanyanya dalam hati dan menelan ludah berkali -kali "Maaf" ucapnya dengan cepat melepas genggaman Firza "aku sudah punya pacar, aku rasa kamu tau orangnya yang mana" ucap Nessa tersenyum sambil melihat kearah Ferdie.

Hati Firza sangat pilu rasanya, orang yang dicintainya sejak awal kuliah sampai sekarang, meskipun sebelumnya sudah ada 2 perempuan yang masuk kedalam hatinya. Seseorang yang dulu pernah ditembak lewat sms, dan diberi jawaban yang tidak mengenakan harus kembali terulang, sosok itu sudah memiliki kekasih. 

"Happy Graduation bang Firza" pamit Nessa tersenyum pergi meninggalkan Firza lagi. Firza menatap kosong Nessa yang semakin jauh melangkah.

"Gimana dek?" Tanya Kak Deli.
"Sudah beres kak. Sudah dijelasin. Agak gak tega juga sih kasihan" sahut Nessa lega.
"Kasihan? Maksudnya apaan? Kamu cinta juga sama dia? Yaudah sana gih berdua dilanjutin pegangan tangannya" Tanya ketus Ferdie.

"Apasih sayang? Ciyeee cemburu" goda Nessa langsung memeluk manja pinggang Ferdie.

"Dek dek kamu itu tetep aja gak berubah, orang pake jilbab kok sering banget meluk-meluk laki didepan umum" celetuk kak Deli. Nessa hanya membalas dengan menyengir kuda dan Ferdie tertawa kecil sambil mengelus kepala Nessa.

"Oya kakak mau ngenalin seseorang sama kalian berdua" ucap kak Deli 
"Siapa kak?" Sahut Vina dan Nessa 
"Ini Dia, namanya Zahra dia temen ospek dulu sama kelompok KKN. Nanti dia bakal jadi kakak ipar kalian?" Ucap Deli datang dengan seorang perempuan.
"What's?" Keduanya terkaget. 

Perempuan itu berjilbab panjang, dengan kebaya agak longgar namun dipakai sangat bagus sekali dibadannya. Kulitnya putih bersih walaupun tak terlihat oleh mata namun bisa dilihat dari wajah dan telapak tangannya. Wajahnya begitu meneduhkan hati. Berbeda jauh dengan Deli yang rambutnya gondrong, item gak karu-karuan, tapi masih terlihat keren. 

"Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Zahra Hasan Alawiyah. Saya tau kalian berdua Nessa dan Vina, Deli sering bercerita tentang kalian" ucap Zahra dengan suara lembut dan tenangnya.

"Halo kak Zahra" sahut keduanya 
"Oya kak? Pasti yang diceritain jelek-jelek ya?" Tanya Vina 
"Gak kok. Tenang rahasia kalian aman" jawab Zahra sambil tersenyum.

"Lah mulai sekarang kalian berdua, adik-adikku tersayang paling cantik yang idolanya banyak banget, mulai kali ini harus bisa menghargai kak Zahra, jangan seenaknya sendiri kalau kakak mau berdua sama kak Zahra kalian tiba-tiba muncul. Terus peluk-peluk, kalau kata kak Zahra bukan mukhrim haha" jelas Deli terkekeh.

"Lah emang kakak udah muhrim sama kak Zahra? Gimana mau berduaan? Yang ketiga setan loh. Makanya nanti aku datang sebagai setan tukang ngerecokin haha" sahut Nessa kemudian tertawa menggoda.

"Wah iya bener Nessa emang setan kok kak" celetuk Vina ikut tertawa.

"Ih enak aja. Abis gini resmi kok. Kita mau taarufan. Aku sama kedua orangtuaku sudah kerumahnya minta dia" jelas Deli.

"Oh gerak cepat bro?" Tanya Dio 
"Bukan begitu. Aslinya pacaran dalam agama kan gak ada. Makanya kalau ada perempuan dan laki-laki dipertemukan segeralah" jawabya dengan nada santai lalu tersenyum kearah Zahra.

"Terus kapan acaranya? Nanti aku gak ada temen curhat dong kak? Nanti kalau aku mau ngeluh ke siapa?" Tanya Nessa cemberut.

"Mungkin 3 bulan lagi lamaran langsung menikah. Kan ada Ferdie dek, dia pacar kamu. Pasti dia tau mana yang terbaik buat kamu. Jangan cemberut gitu dong" ucap Deli.

"Tuh kan Sa, makanya jangan ngikutin Deli mulu, ada saatnya dia punya seseorang yang dicintai, dan kamu harus siap melepaskan. Tugas jagain kamu dan yang mengerti kamu itu Ferdie, pacar kamu" sahut Dio

"Jadi malu diceramahin orang banyak hehe" celetuk Nessa pelan sambil meringis. Semua pun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi datar Nessa.